Bisnis.com, JAKARTA - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyampaikan informasi terkini terkait dengan rencana penggabungan usaha atau merger antara PT Bank Nationalnobu Tbk. (NOBU) dan PT Bank MNC Internasional Tbk. (BABP) atau MNC Bank.
Dalam jawaban tertulis yang disampaikan pada Sabtu (22/11/2025), Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae menyatakan kedua bank telah memutuskan untuk mengakhiri rencana penggabungan usaha sebagaimana laporan yang disampaikan kepada pihak regulator.
"Harapannya agar masing-masing bank dapat lebih fokus pada target-target pertumbuhan yang telah direncanakan sebelumnya, sehingga mampu memberikan kontribusi lebih pada pertumbuhan ekonomi nasional," ujar Dian.
Selanjutnya, sebagai pengganti komitmen merger, dalam rangka penguatan struktur, ketahanan, dan daya saing serta sejalan dengan kebijakan strategis pengembangan industri perbankan, OJK telah meminta pemegang saham pengendali (PSP) kedua untuk tetap melakukan penguatan permodalan bank secara berkelanjutan melalui tambahan setoran modal dan/atau mengundang masuknya investor strategis.
"Hal tersebut diharapkan dapat meningkatkan skala usaha dan daya saing masing-masing bank guna mendukung pengembangan bisnis bank ke depan secara sehat dan berkelanjutan," lanjut Dian.
Sebelumnya, terdapat sinyal berakhirnya rencana merger kedua bank saat PT MNC Kapital Indonesia Tbk. (BCAP) pada 26 Agustus 2025 memperkuat posisinya di MNC Bank dengan menambah 4,4 miliar saham. Tambahan setara 9,99% dari saham beredar itu membuat porsi BCAP di BABP kembali meningkat hingga 48,83%.
Sebaliknya, Grup Lippo melalui PT Prima Cakrawala Sentosa melepas seluruh porsi 10% sahamnya di MNC Bank. Entitas ini justru menambah kepemilikan di Bank Nobu dengan mengakuisisi 747,8 juta saham milik PT MNC Land Tbk. (KPIG).
Merujuk data KSEI, nama Prima Cakrawala kini tidak lagi tercatat dalam jajaran pemegang saham BABP, tetapi menguat di NOBU.
Manuver silang ini kian mempertegas bahwa proyek merger dua bank yang sebelumnya diproyeksikan menjadi tonggak konsolidasi industri perbankan, kini berjalan mundur bahkan berpotensi batal.
Hal itu diperkuat setelah Hanwha Life Insurance Co., Ltd., perusahaan asuransi jiwa terbesar asal Korea Selatan, resmi masuk sebagai pemegang saham signifikan di Bank Nobu.
Adapun, Hanwha mengakuisisi 2,99 miliar saham atau setara 40% modal ditempatkan dan disetor, yang dinilai akan mengubah arah strategi jangka panjang NOBU.
Menilik lebih jauh ke belakang, rencana merger Bank Nobu dan MNC Bank ini muncul pada akhir 2022 saat OJK memberikan sinyal akan ada dua bank yang merger. Nama kedua bank baru terkuak pada awal 2023.
Pada awalnya, ditargetkan kedua bank, yang saat itu masih dikuasai oleh dua konglomerat Tanah Air, akan rampung pada Agustus 2023. Namun, dua tahun dari target tersebut keduanya resmi mengakhiri rencana penggabungan usaha.