Bisnis.com, JAKARTA — Harga beras terus menunjukkan tren kenaikan meski pemerintah saat ini menguasai cadangan beras dalam jumlah terbesar sepanjang sejarah. Kondisi tersebut dinilai mencerminkan kuatnya tekanan dari pasar domestik, terutama akibat tingginya harga gabah dan belum optimalnya distribusi beras pemerintah ke pasar.
Pengamat pertanian Khudori mengatakan kenaikan harga beras sebenarnya telah berlangsung sejak awal tahun dan terjadi secara konsisten di berbagai level perdagangan, mulai dari penggilingan, grosir, hingga eceran.
Menurutnya, fenomena tersebut menarik karena berlangsung di tengah periode panen raya dan peningkatan stok beras nasional yang signifikan.
“Kalau ada narasi ke publik bahwa beras stabil itu tidak salah, tapi baru separuh benar. Yang benar adalah harga beras stabil tinggi dan terus naik,” ujarnya dalam keterangan tertulis, dikutip Rabu (24/6/2026).
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan harga rata-rata nasional beras medium pada pekan ketiga Juni 2026 mencapai Rp14.402 per kilogram atau naik 0,38% dibandingkan Mei 2026. Sementara itu, harga beras premium mencapai Rp16.230 per kilogram atau meningkat 0,46% secara bulanan.
Harga tersebut telah melampaui Harga Eceran Tertinggi (HET) zona I yang ditetapkan pemerintah, yakni Rp13.500 per kilogram untuk beras medium dan Rp14.900 per kilogram untuk beras premium.
Khudori menilai faktor utama yang mendorong kenaikan harga beras berasal dari tingginya harga gabah di tingkat petani.
Berdasarkan data BPS, harga gabah nasional pada 20 Juni 2026 mencapai Rp6.993 per kilogram atau berada di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) sebesar Rp6.500 per kilogram.
Bahkan di sejumlah sentra produksi seperti Lampung dan Jawa Timur, harga gabah dilaporkan telah mencapai Rp7.500 hingga Rp8.000 per kilogram.
Menurutnya, kenaikan harga gabah secara langsung meningkatkan biaya produksi beras karena gabah merupakan komponen utama dalam proses penggilingan.
“Bahan baku beras adalah gabah. Ketika harga gabah makin mahal alias di atas HPP, beras hasil giling pun akan semakin mahal,” katanya.
Di sisi lain, produksi gabah mulai menurun setelah berakhirnya masa panen raya. BPS memperkirakan produksi gabah kering giling pada Juni 2026 mencapai 4,05 juta ton atau turun sekitar 18% dibandingkan Mei 2026 yang mencapai 4,94 juta ton.
Meski produksi diproyeksikan meningkat kembali pada Juli, volumenya masih jauh di bawah capaian puncak panen raya Maret 2026 yang mencapai 8,71 juta ton.
Khudori menilai kondisi tersebut membuat persaingan memperoleh gabah semakin ketat. Tidak hanya antar-penggilingan, persaingan juga melibatkan Perum Bulog yang masih aktif melakukan penyerapan gabah dan beras untuk memenuhi target pengadaan Cadangan Beras Pemerintah (CBP).
Hingga pertengahan Juni 2026, realisasi pengadaan Bulog tercatat telah mencapai sekitar 3,14 juta ton beras dari target 4 juta ton.
Selain faktor harga gabah, Khudori menilai penyaluran beras melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) belum cukup besar untuk memberikan dampak signifikan terhadap harga pasar.
Data Bulog menunjukkan realisasi penyaluran beras SPHP sejak Maret hingga 20 Juni 2026 baru mencapai 361.667 ton atau sekitar 3.229 ton per hari.
Menurutnya, volume tersebut relatif kecil dibandingkan kebutuhan pasar sehingga efek stabilisasinya terbatas.
“Karena volumenya kecil, dampaknya terhadap harga di pasar pun kecil. Istilah anak muda sekarang, tidak nendang,” ujarnya.
Padahal, stok beras yang saat ini dikelola Bulog telah mencapai sekitar 5,2 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah.
Khudori menilai pemerintah perlu mempercepat pelepasan cadangan beras pemerintah ke pasar untuk memperkuat stabilisasi harga sekaligus mengurangi risiko penurunan kualitas beras akibat penyimpanan yang terlalu lama.
“Dengan stok beras di gudang Bulog sebesar 5,2 juta ton, ada keperluan mendesak untuk mengeluarkan cadangan beras pemerintah yang dikelola Bulog,” katanya.
Menurut dia, langkah tersebut penting agar melimpahnya stok beras nasional dapat benar-benar dirasakan masyarakat melalui harga yang lebih terjangkau dan tidak sekadar tersimpan di gudang.