Bisnis.com, JAKARTA — Pembekalan calon penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) tengah menjadi sorotan publik setelah melibatkan prajurit TNI sebagai pemateri dalam rangkaian persiapan keberangkatan.
Kegiatan tersebut digelar di Lanud Halim Perdanakusuma pada 4–9 Mei 2026 sebagai bagian dari program persiapan keberangkatan (PK) penerima beasiswa LPDP.
Kepala Dinas Penerangan TNI AU (Kadispenau) Marsekal Pertama TNI I Nyoman Suadnyana mengatakan materi dalam program tersebut difokuskan pada pembentukan karakter, kedisiplinan, serta penguatan nasionalisme.
Dia menegaskan bahwa pemateri tidak hanya berasal dari unsur TNI, tetapi juga dari instansi pemerintah lainnya.
"Materi yang diberikan difokuskan pada penguatan kesiapan mental, kedisiplinan, kepemimpinan, cinta tanah air, serta pembentukan karakter," ujar Nyoman saat dihubungi, Senin (4/5/2025).
Kepala Divisi Hukum dan Komunikasi LPDP Lukmanul Hakim menjelaskan bahwa keterlibatan TNI dalam program PK bukanlah hal baru.
Ia menyebut PK dilakukan melalui kombinasi materi dari narasumber relevan serta kegiatan luar ruang yang dirancang untuk melatih disiplin, ketangguhan, dan kemampuan adaptasi menghadapi tantangan studi di luar negeri.
"Terkait lokasi pelaksanaan, PK yang diselenggarakan di Lanud Halim Perdanakusuma bukan merupakan yang pertama kali dilakukan dalam kerja sama dengan TNI," ujar Lukmanul kepada Bisnis, Selasa (5/5/2026).
Ia menambahkan bahwa PK bertujuan memperkuat karakter, nilai kebangsaan, kepemimpinan, etika, serta kesiapan mental dan sosial penerima beasiswa.
Harapannya, para awardee dapat menjalani studi secara optimal dan bertanggung jawab sebagai penerima dana negara.
"Kegiatan PK ini telah dilaksanakan sejak awal program beasiswa LPDP digulirkan dan menjadi bagian penting dalam memastikan kesiapan penerima beasiswa, baik secara akademik maupun non akademik," pungkasnya.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pelibatan TNI bertujuan memperkuat nasionalisme dan mental para penerima beasiswa.
Ia juga menyinggung adanya kasus penerima LPDP yang dinilai tidak mencerminkan nilai kebangsaan.
"Jadi utamanya itu. Biar mentalnya kuat, cinta negara, dan bisa balik lagi ke sini, dan nyumbang ilmunya di sini," ujar Purbaya di kantornya, dikutip Selasa (5/5/2026).
Ia menambahkan bahwa penambahan anggaran dalam kegiatan tersebut tidak menjadi persoalan karena dianggap sebagai investasi jangka panjang.
"Di Halim kan? Ya enggak apa-apa. Itu investasi. Kalau nambah sedikit, enggak banyak kan pasti. Dibanding biaya mereka bertahun-tahun di luar negeri. Terus kalau enggak balik, ruginya banyak saya," pungkasnya.
Pro-Kontra di Kalangan Pengamat
Keterlibatan TNI dalam pembekalan LPDP memunculkan perdebatan di kalangan pengamat pendidikan.
Pengamat pendidikan Ina Liem menilai keterlibatan TNI dapat menjadi bagian dari penguatan karakter, terutama dalam hal disiplin, resiliensi, dan kepemimpinan.
"Dalam konteks pembekalan peserta LPDP, jika tujuannya adalah pembentukan karakter seperti disiplin, resiliensi, dan kepemimpinan, maka pendekatan semi-militer bisa menjadi titik awal yang baik," ujar Ina kepada Bisnis.
Namun ia menekankan bahwa yang lebih krusial bukan siapa pematerinya, melainkan desain pembelajaran yang diberikan agar relevan dengan kebutuhan kompetensi masa depan.
Sebaliknya, pengamat pendidikan Edi Subkhan menilai pelibatan TNI dalam ruang pembekalan sipil berpotensi tidak tepat sasaran.
Ia menyoroti perbedaan makna “cinta tanah air” dalam perspektif militer dan akademik.
"Karakteristik tersebut berbeda dibanding cinta tanah air dan disiplin bagi awardee LPDP, yakni cinta tanah air ya dimaknai sebagai berkontribusi sesuai bidang keilmuan yang dipelajari untuk bangsa dan negara, bahkan dunia," ujar Edi.
Ia menilai pendekatan etika melalui diskusi dan simulasi akan lebih efektif dibanding pendekatan disiplin militer.
"Menurut saya lebih ditekankan ke soal etika saja, dengan diskusi, simulasi, dan sebagainya. Ini akan lebih efektif menurut saya ketimbang diminta baris-berbaris dan menghafal jargon atau yel-yel. Mengapa? Karena awardee LPDP ini calon ilmuwan, minimal pakar di bidangnya, bukan tenaga teknis lapangan," pungkasnya.