Bisnis.com, JAKARTA - Lembaga pemeringkat S&P Global menurunkan rating Prancis satu tingkat dan memberikan peringatan bahwa ketidakstabilan politik dapat membahayakan upaya pemerintah untuk memperbaiki kondisi keuangan.
Dilansir Reuters, Sabtu (18/10/2025), lembaga pemeringkat kredit jarang menurunkan peringkat di luar jadwal yang telah diatur, tetapi S&P memangkas peringkat Prancis menjadi A+/A-1 dari AA-/A-1+, usai seminggu penuh terjadi ketegangan, di mana Perdana Menteri Sebastien Lecornu berjanji untuk menangguhkan reformasi pensiun tahun 2023 yang sangat tidak populer dan menghadapi dua mosi tidak percaya.
"Kami memperkirakan ketidakpastian kebijakan akan memengaruhi perekonomian Prancis dengan menghambat aktivitas investasi dan konsumsi swasta, dan dengan demikian juga pertumbuhan ekonomi," kata lembaga pemeringkat kredit tersebut dalam sebuah pernyataan.
Lecornu berhasil melewati dua mosi tidak percaya di parlemen pada hari Kamis, tetapi penangguhan pemerintahannya yang baru berjalan beberapa hari ini harus dibayar dengan mengorbankan reformasi pensiun Presiden Emmanuel Macron demi mendapatkan dukungan dari anggota parlemen Sosialis.
Penangguhan ini hanya akan berumur pendek karena anggaran Lecornu untuk tahun 2026 akan menghadapi tantangan berat di parlemen Prancis yang terpecah belah ketika mereka mulai meninjau RUU tersebut pada hari Senin.
Menanggapi penurunan peringkat tersebut, Menteri Keuangan Roland Lescure mengatakan bahwa menjadi tanggung jawab bersama pemerintah dan parlemen untuk mengesahkan anggaran pada akhir tahun, memastikan defisit fiskal berada di jalur menuju pagu Uni Eropa sebesar 3% dari PDB pada 2029.
Menurut S&P, pengesahan anggaran pada akhir tahun akan membantu memberikan kejelasan yang lebih baik tentang bagaimana Prancis mengelola beban utangnya yang terus meningkat, yang diproyeksikan akan naik menjadi 121% dari PDB pada 2028 dibandingkan dengan 112% dari PDB pada akhir 2024.
"Meskipun demikian, menurut pandangan kami, ketidakpastian keuangan publik tetap tinggi menjelang pemilihan presiden 2027," kata S&P.
Lembaga tersebut merevisi prospek negara dari 'negatif', dengan mengatakan bahwa prospek 'stabil' tersebut menyeimbangkan peningkatan utang pemerintah dan konsensus politik yang lemah mengenai laju konsolidasi anggaran dengan kekuatan kredit Prancis.