Bisnis.com, JAKARTA – Prospek kinerja emiten rokok, PT Hanjaya Mandala Sampoerna Tbk. (HMSP) dalam jangka panjang tetap akan dihantui oleh fenomena downtrading. Di sisi lain, produk rokok bebas asap atau IQOS disebut-sebut akan jadi game changer jangka panjang.
Dalam 9 bulan pertama 2025, penjualan bersih HMSP mengalami koreksi 5,434% year on year (YoY) menjadi Rp83,74 triliun. Bila dibedah, kontributor pendapatan terbesar penjualan dengan pangsa 54,25%, sigaret kretek mesin (SKM) menyusut 10,06% YoY menjadi Rp45,43 triliun.
Sementara itu, segmen produk bebas asap melejit hampir 50% YoY menjadi Rp1,79 triliun. Hanya saja, pangsanya atas total penjualan baru berkontribusi 2,14%.
Dari kelas yang lebih rendah, sigaret kretek tangan (SKT) berkontribusi sebesar 34,44% dari total penjualan HMSP per kuartal III/2025. Namun, nilainya juga menyusut 2,12% YoY menjadi Rp28,84 triliun.
Presiden Direktur H.M Sampoerna Ivan Cahyadi mengatakan secara pangsa pasar nasional, ketiga segmen produk HMSP tersebut pada kuartal III/2025 meningkat, sejalan dengan siklus tahunan industri tembakau yang cenderung membaik memasuki semester kedua.
"Masalahnya memang masih ada rokok ilegal dan downtrading. Makannya kami sangat mengapresiasi pemerintah yang sangat serius menangani hal-hal yang mengganggu perbaikan di industri ini," ujarnya dalam public expose di Jakarta, Rabu (3/12/2025).
Ivan optimis pemerintah akan serius memberantas rokok ilegal karena industri ini punya kontribusi besar menyumbang pendapatan negara. Optimisme juga datang dari faktor makro, di mana pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) diperkirakan akan terus membaik. Selain itu, keputusan pemerintah yang tidak menaikkan cukai rokok pada 2025 dan 2026 nanti turut menjadi katalis positif.
Sementara itu, Analis Panin Sekuritas, Sarkia Adelia melihat kondisi industri tembakau tahun depan akan membaik seiring dengan keseriusan pemerintah memberantas perdagangan rokok ilegal. Hal ini akan berdampak pada peningkatan volume penjualan HMSP.
"Dampaknya dari banyak regulasi saat ini belum signifikan dari sisi struktural, karena tarif [cukai] meski tidak naik, tapi masih tinggi. Kecuali diturunkan, itu dampaknya signifikan sekali di pemain rokok," ujar Sarkia.
Asal tahu saja, volume penjualan rokok di Indonesia per kuartal III/2025 turun secara tahunan. Berdasarkan data Philip Morris International, volume penjualan rokok pada periode ini mencapai 192,3 miliar batang, susut dibanding periode yang sama 2024 sebesar 199,7 miliar batang.
Khusus bagi HMSP, volume penjualan perseroan juga turun dari 60,5 miliar batang menjadi 59,4 miliar batang per akhir September 2025. Bila dibedah, angka itu terdiri dari 58,4 miliar batang segmen rokok (turun dari 59,7 miliar), serta 1,1 miliar heated tobacco unit (HTU) atau produk rokok bebas asap (naik dari 0,8 miliar).
"Produk rokok bebas asap ini menjadi game changer buat HMSP dalam 5-10 tahun ke depan. Angkanya memang belum bisa kita lihat, dampak yang signifikan belum. Tapi kami percaya ini akan bertumbuh seiring dengan preferensi konsumen yang berubah ke produk bebas asap," tandasnya.
Menilik posisi HMSP di industri rokok nasional, pangsa pasar penjualan perseroan berada di level 30,9% per akhir September 2025. Meskipun volume penjualan perseroan turun, pangsa HMSP di pasar domestik tersebut membaik dari level 30,3% pada periode yang sama 2024.
Sementara itu, khusus pangsa pasar HTU HMSP memang turut membesar, walau persentasenya minim. Tepatnya, meningkat dari 0,4% menjadi 0,5%.
"Angkanya [volume penjualan IQOS] kami lihat angkanya akan turus tumbuh, tapi kontribusinya belum. Karena pangsa paling besar itu masih di SKM," pungkasnya.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.