Bisnis.com, JAKARTA — Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Dharma Jaya terus berupaya melakukan transformasi, termasuk memperluas distribusi, untuk menjangkau pasar yang lebih luas.
Direktur Bisnis Dharma Jaya Irwan Nusyirwan mengatakan perusahaan terus melakukan transformasi dan terobosan untuk meningkatkan kinerja. Perusahaan juga tak memungkiri pandemi Covid-19 sempat menghantam kinerja pada 2021–2022.
“Performanya memang sedikit terganggu ketika Covid-19, memang Covid semua lini vital terdampak. Tetapi semenjak tahun 2022–2023 itu ada lonjakan dan letupan yang mana penjualannya bagus,” kata Irwan dalam kunjungan media ke Wisma Bisnis Indonesia, Jakarta, Kamis (16/10/2025).
Pada 2024–2025, Dharma Jaya mencatatkan tren laba yang berlanjut dengan kinerja yang semakin stabil, termasuk dengan kembali menggerakan importasi sapi.
“[Kinerja pada kuartal II] 2025 hampir ada peningkatan 200% di B2B2C. Banyak program yang sifatnya bukan baru tetapi sudah lama dilakukan,” bebernya.
Data perusahaan menunjukkan, pendapatan telah mencapai 63% sampai dengan Agustus 2025. Adapun, laba bersih perusahaan sudah mencapai 71% dari target rencana kerja dan anggaran (RKA) 2025.
Adapun, Dharma Jaya mendapatkan mandat berupa komersial dan penugasan. Dalam hal komersial, perusahaan melakukan penjualan produk komersial melalui jaringan distribusi pasar modern, bulk sales, hotel, restoran, dan kafe (horeka), bazar, hingga e-commerce.
Perusahaan juga mendapatkan penugasan dengan menyediakan daging ayam, daging sapi, dan ikan. Serta, mendistribusikan produk pangan murah subsidi.
Dari sisi jaringan distribusi, Irwan mengungkap penjualan tertinggi masih didominasi di pasar modern sebesar 35%. Namun, dia menyebut penjualan di platform e-commerce juga mengalami pertumbuhan hingga 400%.
“Di e-commerce naik, itu driver peningkatan pertumbuhan. Faktor utama itu konsumen menerima kami,” ujarnya.
Jika dilihat lebih jauh, jaringan distribusi komersial Dharma Jaya tersebar di berbagai ritel, yakni Mitra Swalayan, Hero Supermarket, e-commerce, hingga mitra horeka.
Di samping itu, Dharma Jaya juga telah melakukan penandatanganan kerja sama dengan Asosiasi Pedagang Kaki Lima Indonesia (APKLI) Perjuangan pada Agustus 2025. Perusahaan juga telah menggandeng 66 UMKM aktif dan 72 reseller aktif.
Sebelumnya, Direktur Utama Dharma Jaya Raditya Endra Budiman mengatakan perusahaan mengalami peningkatan penjualan sebesar 191,9% pada kuartal II/2025 daripada periode yang sama 2024. Adapun, realisasi sapi impor mencapai 1.300 ekor.
Bahkan ke depan, Dharma Jaya yang merupakan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dan dimiliki 100% oleh pemerintah provinsi Jakarta itu akan melakukan impor 2.000 ekor sampai dengan Desember 2025.
“Dulu kami dikenal sebagai rumah jagal Cakung tahun 1966 karena satu satunya rumah potong hewan resmi sapi di Jakarta,” kata Raditya.
Raditya memastikan perusahaan telah mengantongi halal di semua lini bisnis, ISO SNI 37001:2016, hingga ISO SNI 45001:2018. Dia menjelaskan sertifikasi ini merupakan sertifikasi standar yg yang suatu perusahaan untuk dapat beroperasi.
“Kami sudah memiliki sertifikasi halal, jadi jangan khawatir, beli apapun di Dharma Jaya sudah terbukti ada kehalalannya,” ujarnya.
Selain itu, Dharma Jaya juga menyatakan akan berkontribusi pada program Presiden Prabowo Subianto, yakni 1 juta ekor sapi. Saat ini, perusahaan tengah mempelajari mekanisme untuk mendukung program tersebut.
Adapun, salah satu sumber pendanaan Dharma Jaya adalah Bank DKI. Namun, Raditya menyatakan bahwa perusahaan harus mengubah pola pikir dengan menjadi bisnis komersial.
“Kami harus berani [mendapatkan] pinjaman dibandingkan minta [pendanaan]. Memang mindset kami ingin mengubah BUMD menjadi komersial,” tambahnya.