Bisnis.com, JAKARTA — Emiten penghiliran produk kelapa sawit, PT Citra Borneo Utama Tbk. (CBUT) menargetkan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih pada 2026 seiring dengan rampungnya pabrik Refinery & Fractionation II yang memiliki kapasitas 1.500 Tons Per Day (TPD) pada Juli 2026.
Mengutip paparan perseroan, pada 2026 CBUT menargetkan volume produksi 1,16 juta ton, naik 51,79% dari realisasi 603.670 ton pada 2025. Dari sisi kinerja keuangan, pendapatan diharapkan naik 59,60% menjadi Rp23,43 triliun pada 2026 dari sebelumnya Rp13,97 triliun, dan laba bersih Rp240,31 miliar, meningkat 44,18% dari Rp106,17 miliar pada 2025.
Direktur Utama CBUT Rorry Christian Tobing menyampaikan perseroan tengah menyiapkan motor pertumbuhan baru melalui penyelesaian pabrik Refinery & Fractionation II yang memiliki kapasitas 1.500 Tons Per Day (TPD). Saat ini, fasilitas produksi tersebut sedang memasuki tahap commissioning yang dijadwalkan rampung pada Juli 2026.
Kehadiran pabrik baru ini akan memperkuat fasilitas existing perseroan dengan kapasitas produksi Refinery sebesar 2.500 TPD, Kernel Crushing Plant 600 TPD, dan Molding & Filling Plant sebesar 200 TPD.
"Adanya pabrik baru akan meningkatkan volume penjualan olein dan stearin sehingga mendorong pendapatan CBUT. Kami berharap dapat mencapai target yang sudah dicanangkan," ujarnya dalam Paparan Publik, Kamis (11/6/2026).
Pabrik baru ini akan menambah kapasitas refinery dan fraksinasi secara signifikan di atas kapasitas existing 2.500 TPD. Dengan tambahan kapasitas 1.500 TPD, Perseroan dapat meningkatkan volume produksi produk turunan seperti RBDPO, Olein, dan Stearin, sekaligus memperkuat posisi sebagai pemain hilir terintegrasi.
Momentum ekspansi sejalan dengan agenda pemerintah melalui Kementerian ESDM yang akan memberlakukan kebijakan mandatori Biodiesel B50 mulai 1 Juli 2026. Kebijakan ini diprediksi menjadi game changer yang akan mendongkrak ketahanan pasar domestik.
"Program B50 kami nilai sebagai katalis positif. Kebijakan ini menciptakan tambahan permintaan minyak sawit di dalam negeri dan menjaga stabilitas harga, yang sangat menguntungkan bagi CBUT sebagai pemain hilir terintegrasi," tambah Rorry.
CBUT pun optimistis dukungan dari induk usaha, yakni PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk. (SSMS) dapat menjaga kestabilan pasokan CPO seiring dengan peningkatan kebutuhan penghiliran perseroan.
Di sisi lain, ketegangan geopolitik global yang masih berlangsung menjaga harga minyak mentah tetap tinggi sehingga mendukung daya saing biodiesel sebagai alternatif energi. Namun, industri sawit tetap menghadapi tantangan dari ketidakpastian permintaan global.
Tingginya harga bahan baku dan biaya logistik berpotensi menekan volume impor dari negara-negara konsumen utama seperti China, India, Pakistan, dan Bangladesh. Selain itu, fluktuasi harga minyak dunia dapat memengaruhi tingkat adopsi biodiesel di berbagai negara.
Ke depan, prospek industri juga akan ditentukan oleh perkembangan produksi sawit nasional, risiko cuaca seperti El Niño yang dapat mengganggu hasil panen, serta kebijakan pemerintah terkait pungutan ekspor (levy) untuk mendukung pendanaan program biodiesel.
Secara umum, kombinasi kebijakan B50 dan harga energi yang tinggi masih menjadi faktor utama yang menjaga prospek industri sawit tetap positif pada paruh kedua 2026.
Direktur CBUT Ronny Hertantyo Raharjo menyampaikan perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp45 miliar pada kuartal I/2026, meningkat 9,76% dibandingkan Rp41 miliar pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Di sisi lain, pendapatan CBUT tercatat turun tipis 0,53% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp3,38 triliun pada 3 bulan 2026. Meski demikian, perseroan berhasil menjaga profitabilitas melalui peningkatan efisiensi dan optimalisasi produk bernilai tambah.
"Penurunan tipis penjualan pada kuartal I/2026 lebih disebabkan oleh fluktuasi harga komoditas global dan ketidakpastian pasar akibat situasi geopolitik. Namun, efisiensi operasional yang ketat dan fokus kami pada produk hilir bernilai tambah tinggi membuat margin laba usaha tumbuh 19,02% menjadi Rp89 miliar," ujarnya.
Kinerja pada awal tahun ini melanjutkan tren pertumbuhan yang dicatatkan perseroan sepanjang 2025. Pada tahun lalu, penjualan CBUT meningkat 43,05% menjadi Rp13,97 triliun.
Seiring dengan perbaikan refining margin serta kontribusi kuat dari produk minyak goreng kemasan merek Hanau, laba usaha perseroan pada 2025 melonjak 255,16% menjadi Rp366 miliar. Minyak goreng Hanau baru dijual komersil pada 2025.
Selain fokus pada pertumbuhan bisnis, CBUT juga mengeklaim terus memperkuat implementasi prinsip environmental, social, and governance (ESG). Hingga akhir 2025, perseroan mencatatkan zero fatal accident di seluruh area operasionalnya.
Dari sisi lingkungan, CBUT telah memanfaatkan energi terbarukan sebesar 16,9 juta kWh serta mengantongi sejumlah sertifikasi keberlanjutan internasional, antara lain RSPO Supply Chain Certification Standard (RSPO-SCCS), Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO), dan International Sustainability and Carbon Certification (ISCC).
Perseroan juga memastikan ketertelusuran rantai pasok kelapa sawit dengan capaian traceability to mill sebesar 100% dan traceability to plantation lebih dari 97%. Menurut manajemen, capaian tersebut menjadi modal penting untuk memperluas akses ke pasar global yang semakin menuntut standar keberlanjutan yang ketat.