JAKARTA, KOMPAS.com - Mantan Presiden Amerika Serikat (AS) Barack Obama memberikan secuplik tips karier untuk Gen Z.
Menurut Obama, rahasia membangun karier yang sukses adalah menjadi pemecah masalah yang baik.
Dikutip dari CNBC, Selasa (25/11/2025), dalam siniar This Is Working, Obama mengatakan, apa pun gangguan yang mengguncang perekonomian, entah itu pandemi, AI, atau perubahan iklim, menjadi karyawan yang cerdas dan adaptif akan membuat Anda sangat dibutuhkan.
AP/My Brother's Keeper Alliance and The Obama Foundation Dalam gambar ini dari video yang disediakan oleh My Brother's Keeper Alliance dan The Obama Foundation, mantan Presiden AS Barack Obama berbicara pada Rabu, 3 Juni 2020, selama acara virtual di balai kota dengan kaum muda untuk membahas kerusuhan sipil yang terjadi setelah pembunuhan George Floyd oleh polisi di Minneapolis.Hal ini terutama berlaku bagi Gen Z, yang banyak di antaranya memulai karier mereka di lingkungan kerja hybrid atau jarak jauh yang terpecah-pecah di puncak pandemi.
"Saran terpenting yang saya berikan kepada kaum muda adalah belajarlah bagaimana menyelesaikan sesuatu," jelas Obama.
"Saya telah melihat orang-orang di setiap level yang sangat pandai menjelaskan masalah, orang-orang yang sangat canggih dalam menjelaskan mengapa sesuatu berjalan salah atau mengapa sesuatu tidak dapat diperbaiki, tetapi yang selalu saya cari adalah, sekecil atau sebesar apa pun masalahnya, seseorang yang berkata, 'Biarkan saya yang mengurusnya.'," tutur Obama.
Menunjukkan sikap "apa pun yang dibutuhkan, saya bisa menanganinya" di tempat kerja, imbuh Obama, akan membantu Anda membangun hubungan yang kuat dengan rekan kerja dan atasan Anda.
"Siapa pun yang memimpin organisasi itu akan menyadarinya, saya janji," katanya.
Rekomendasi Obama serupa dengan nasihat karier yang diberikan pendiri Microsoft Bill Gates pada tahun 2023 lalu, kepada para lulusan baru alias fresh graduate.
"Gemarilah pekerjaan yang memecahkan masalah," kata Gates kepada para mahasiswa di upacara wisuda Northern Arizona University.
AFP / GETTY IMAGES / JUSSI NUKARI Mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama."Ketika Anda menghabiskan hari-hari Anda melakukan sesuatu yang memecahkan masalah besar, hal itu memberi Anda energi untuk melakukan pekerjaan terbaik Anda. Hal itu memaksa Anda untuk menjadi lebih kreatif, dan memberi hidup Anda tujuan yang lebih kuat," ungkap Gates.
"Cara terbaik untuk menonjol di pekerjaan baru dan memposisikan diri Anda sebagai karyawan yang berharga adalah dengan mengerjakan apa pun yang ditugaskan kepada Anda," tutur Obama.
"Anda hebat karena orang-orang akan memperhatikan, bahwa Anda adalah seseorang yang mampu menyelesaikan sesuatu," imbuh dia.
Profil Barack Obama dan perjalanan kariernya
Barack Hussein Obama II lahir pada 4 Agustus 1961 di Honolulu, Hawaii.
Ia adalah anak dari Barack Obama Sr., seorang ekonom Kenya, dan Stanley Ann Dunham, seorang antropolog asal Kansas, AS.
Di masa kecilnya, Obama pernah tinggal di Indonesia bersama ibunya dan ayah tirinya, Lolo Soetoro, lalu kembali ke Hawaii untuk pendidikan menengahnya.
Ia memperoleh gelar sarjana dari Columbia University pada 1983, kemudian melanjutkan ke Harvard Law School, di mana ia menjadi presiden kulit hitam pertama dari Harvard Law Review.
Karier politiknya berpuncak ketika ia menjadi Presiden ke-44 Amerika Serikat dari Januari 2009 hingga Januari 2017.
Perjalanan karier Obama
Setelah kuliah di Columbia University, Obama bekerja singkat sebagai analis keuangan di New York.
Pada 1985 ia pindah ke Chicago untuk menjadi pengorganisir komunitas di Developing Communities Project.
WIKIMEDIA COMMONS/STEVE JURVETSON Mantan Presiden Amerika Serikat Barack Obama.Tahun 1988 ia masuk Harvard Law School. Selepas itu ia bergabung dengan firma hukum di Chicago yang menangani hak-sipil, dan juga menjadi dosen konstitusi di University of Chicago Law School sejak 1993.
Pada 1996 Obama terpilih sebagai anggota Senat Negara Bagian Illinois.
Tahun 2004, setelah pidato kunci di Konvensi Nasional Demokrat, ia memenangkan kursi Senat Amerika Serikat sebagai Senator dari Illinois.
Pada 10 Februari 2007 ia secara resmi mengumumkan pencalonannya sebagai Presiden AS.
Pada 20 Januari 2009, Obama dilantik sebagai Presiden ke-44 dan menjadi presiden kulit hitam pertama dalam sejarah AS.
Saat itu, ia mengatakan, "Hari ini saya sampaikan kepada Anda bahwa tantangan yang kita hadapi itu nyata. Tantangannya serius dan banyak. Tantangan-tantangan itu tidak akan mudah diatasi atau dalam waktu singkat."
Kepemimpinannya berlangsung di tengah krisis ekonomi dan dua perang besar, serta misi-tinggi dalam hubungan luar negeri dan reformasi kebijakan dalam negeri.
Sebagai orator, Obama dikenal karena pidatonya yang mengangkat tema persatuan.
Profil Barack Obama mencerminkan perjalanan dari latar belakang yang relatif sederhana dan multikultural menuju puncak kekuasaan politik AS.
Kariernya tidak hanya menonjol karena prestasi formal (pendidikan, jabatan), tetapi juga karena elemen-narasi pribadi, yakni tentang identitas, mobilitas sosial, dan harapan perubahan, yang menurut banyak pengamat, membantu mengubah lanskap politik AS.
Seputar Gen Z dan karier
Generasi Z atau Gen Z, yang umumnya lahir antara 1997 hingga 2012, kini mulai memasuki atau sudah berada dalam dunia kerja secara signifikan.
freepik.com Ilustrasi Gen ZMereka membawa sikap, nilai, dan ekspektasi berbeda dibanding generasi sebelumnya dan dunia kerja pun harus mulai beradaptasi.
Gen Z dilaporkan lebih mengutamakan fleksibilitas, pembelajaran terus-menerus, dan makna dalam pekerjaan daripada sekadar jenjang karier tradisional.
Sebagai contoh, dikutip dari Forbes, Selasa, data dari Deloitte menunjukkan bahwa hanya sekitar 6 pesen Gen Z pekerja yang bercita?cita menduduki posisi kepemimpinan puncak.
Selain itu, “engagement” atau keterikatan kerja Gen Z masih dilaporkan lebih rendah dibanding generasi sebelumnya. Survei dari Gallup menunjukkan tingkat engagement Gen Z adalah 35 persen, dibanding milenial 42 persen, dan Gen X 48 persen.
Sebagai generasi “digital native”, Gen Z memiliki keunggulan dalam adaptasi teknologi dan pembelajaran.
Sebuah laporan menyebut bahwa sekitar 70 persen pekerja Gen Z meluangkan waktu setiap minggu untuk mengembangkan keterampilannya, dibanding 59 persen pada generasi milenial.
Mereka juga cenderung menyambut kehadiran AI sebagai alat bantu kerja, misalnya dalam riset yang menyoroti tren “micro-shift” dimana Gen Z mendominasi dan punya sikap positif terhadap penggunaan AI (63 persen di antaranya).
Tantangan yang mesti dihadapi
Meski membawa potensi, Gen Z juga menghadapi tantangan nyata di tempat kerja. Menurut Forbes, di AS saja, pengangguran Gen Z di AS sudah berada di kisaran 8,2 persen, lebih dari dua kali rata-rata nasional.
Selain itu, banyak perusahaan melaporkan bahwa pekerja Gen Z sering diberhentikan karena belum “siap” menghadapi tekanan dunia kerja tradisional. Ini adalah sinyal bahwa adaptasi dua arah (perusahaan dan pekerja) penting.
Generasi Z di pasar kerja Indonesia: peluang, tantangan, dan implikasi
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), untuk kelompok usia 15 sampai 24 tahun di Indonesia pada 2023 tercatat tingkat pengangguran terbuka sebesar 42,62 persen.
ANTARA FOTO/Nirza Pencari kerja antre memasuki aula saat Job Fair Kudus 2025 di Gedung Hraha Mustika, Desa Getas Pejaten, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Jumat (10/10/2025). Pemerintah Kabupaten Kudus menggelar bursa kerja yang menghadirkan 20 perusahaan dengan total 1.401 lowongan pekerjaan bagi penyandang disibilitas, lulusan perguruan tinggi dan SMA sebagai upaya penyerapan tenaga kerja serta menekan angka pengangguran.Dari populasi Gen Z sebanyak 44.495.300 orang usia 15-24 tahun, tercatat 4.303.938 orang sebagai pengangguran terbuka pada 2023.
Survei menunjukkan bahwa sekitar 48 persen dari Gen Z Indonesia mengutamakan pekerjaan dengan jam kerja fleksibel.
Karakteristik dan nilai kerja Gen Z Indonesia
Gen Z dikenal sebagai “digital natives” yang sejak kecil akrab dengan teknologi dan media sosial. D Indonesia, hal ini menjadikan mereka cepat adaptasi terhadap tools digital dan kerja hybrid/remote.
Di sisi nilai kerja, Gen Z di Indonesia cenderung mencari keseimbangan antara kehidupan pribadi dan pekerjaan. Misalnya, survei menunjukkan jam kerja fleksibel menjadi faktor penting.
Namun, di satu sisi juga muncul persepsi bahwa Gen Z “mudah berpindah kerja” atau kurang tahan dalam struktur kerja tradisional. Survei internasional menunjukkan bahwa perpindahan kerja Gen Z salah satunya karena keseimbangan dan pencarian makna.
Tantangan utama di dunia kerja Indonesia
Berikut beberapa tantangan utama bagi Gen Z di dunia kerja di Indonesia.
1. Pengangguran dan NEET
Meskipun jumlah Gen Z yang bekerja bertambah, banyak juga yang belum terintegrasi ke angkatan kerja formal atau pelatihan. Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara pendidikan/keahlian dan kebutuhan pasar.
FREEPIK Ilustrasi Gen Z.2. Mismatch keterampilan
Sejumlah pengamat menyebut Gen Z memiliki keahlian yang belum selalu sesuai dengan kebutuhan kerja di industri, terutama kebutuhan teknologi, digital, dan soft skills.
3. Ekspektasi kerja yang berbeda
Ketika Gen Z mengutamakan fleksibilitas, makna, dan budaya kerja yang suportif, banyak struktur organisasi masih beroperasi dengan model lama. Ini bisa menimbulkan ketegangan atau ketidakcocokan lingkungan kerja.
4. Stigma atau persepsi negatif
Ada potensi terjadinya mis-persepsi bahwa Gen Z lebih sulit diajak kerja sama, mudah berpindah kerja, atau kurang sabar dengan struktur tradisional.
Dengan jumlah yang besar, Gen Z bisa menjadi gelombang produktivitas utama Indonesia, termasuk sebagai bagian dari bonus demografi. Mereka bisa memperkuat sektor teknologi digital, startup, ekonomi kreatif, dan kerja hybrid.
Perusahaan yang mampu menyesuaikan budaya kerja (seperti fleksibel, kolaboratif, digital?first) akan lebih mampu menarik dan mempertahankan talenta Gen Z.
Sebagai salah satu contoh, bila perusahaan mampu menyediakan peluang pengembangan, mentoring, maupun fleksibilitas kerja, maka nilai yang dicari oleh Gen Z akan terpenuhi.
Bagi Gen Z sendiri, penting untuk mengembangkan keterampilan teknis dan non?teknis (digital literacy, komunikasi, kolaborasi lintas generasi) agar bisa tampil kompetitif.
Selain itu, adaptasi terhadap nilai dan tuntutan organisasi (seperti kedisiplinan, tanggung jawab, dan kerjasama tim) tetap penting.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih. Berikan apresiasi sekarang