Bisnis.com, JAKARTA - Penyakit hati berlemak telah menjadi masalah kesehatan global yang semakin meningkat, terutama dipengaruhi oleh gaya hidup terkait pola makan dan minuman. Meskipun makanan seringkali menjadi sorotan utama, jenis minuman yang dikonsumsi seseorang dapat sangat memengaruhi kesehatan hati.
Dilansir dari timesofindia, beberapa minuman diketahui dapat memperburuk perlemakan hati dengan mendorong penumpukan lemak, peradangan, dan perkembangan menuju kondisi hati yang lebih serius.
Oleh karena itu, memahami minuman tersebut akan menjadi sangat penting bagi siapa pun yang ingin memperbaiki kondisi hati dan meningkatkan fungsinya.
Oleh karena itu, minuman manis, baik jus buah, es teh, maupun minuman berenergi, semuanya memperburuk penyakit hati berlemak.
Mengurangi atau menghindari minuman manis seminimal mungkin dapat mengurangi penumpukan lemak di hati, mengurangi peradangan, dan menghambat perkembangan penyakit hati yang lebih parah. Untuk keseimbangan metabolisme secara umum, disarankan untuk minum air putih, teh tanpa gula, dan kopi tawar.
Berikut adalah lima minuman terburuk, sebagaimana diidentifikasi oleh studi mendalam dan hasil konsisten yang menunjukkan dampaknya terhadap kondisi hati berlemak.
1. Minuman Ringan Bergula
Minuman ringan bergula berada di urutan teratas daftar minuman yang dapat berdampak buruk pada hati. Minuman bersoda tersebut mengandung fruktosa dalam jumlah besar, sebagian besar berasal dari sirup jagung fruktosa tinggi, yang kemudian dengan cepat diubah oleh hati menjadi lemak.
Science Direct menerbitkan studi yang menunjukkan bahwa konsumsi soda manis setiap hari meningkatkan lemak dan peradangan di hati, sehingga menggandakan risiko NAFLD.
Karena hati memetabolisme gula dengan sangat cepat, jalur metabolismenya menjadi kewalahan oleh gula-gula ini, yang seiring waktu, akan menumpuk lemak di hati, yang menyebabkan kerusakan hati kronis.
2. Jus buah
Jus buah kemasan mungkin terlihat sehat, tetapi kandungan gulanya justru menyesatkan. Jus buah kemasan umumnya tidak mengandung serat pelindung seperti buah utuh, sehingga menyebabkan peningkatan kadar gula darah dan insulin secara cepat.
Penelitian menunjukkan bahwa minuman ini mendorong penumpukan lemak di hati dan memperburuk NAFLD melalui peningkatan lipogenesis, yaitu produksi lemak dari gula di dalam hati.
Sebaiknya batasi konsumsi jus buah kemasan untuk mengurangi beban pada hati. Orang yang mengonsumsi jus buah lebih mungkin menderita NAFLD (penyakit hati berlemak non-alkohol) sebagaimana didefinisikan oleh Indeks Hati Berlemak (FLI).
3. Minuman Energi
Minuman energi kini menjadi perhatian yang berkembang bagi kesehatan hati. Kombinasi kadar gula, kafein, dan stimulan yang tinggi dalam minuman energi memberikan tekanan metabolik pada hati, sebagaimana diidentifikasi dalam studi hewan dan klinis terbaru.
Studi menunjukkan bahwa konsumsi minuman energi secara signifikan meningkatkan enzim hati indikator umum kerusakan hati serta peningkatan penumpukan lemak dan peradangan yang menghambat fungsi hati. Tidak seperti soda, minuman energi juga meningkatkan tekanan metabolik sistemik, sehingga sangat berbahaya bagi mereka yang memiliki atau rentan terhadap perlemakan hati.
4. Es Teh
Es teh manis, meskipun kurang dikenal, memiliki kandungan gula yang setara dengan minuman ringan. Kebanyakan es teh yang dijual di toko mengandung gula tambahan, yang akan menyebabkan pelepasan insulin dan pada akhirnya penyimpanan lemak di hati.
Studi menunjukkan bahwa sering minum teh manis seperti itu dapat mengakibatkan dampak negatif yang sama seperti soda dan jus buah komersial. Judul "alami" atau "sehat" pada minuman tersebut cenderung cukup menyesatkan; Oleh karena itu, konsumsi minuman ini secara rutin merupakan ancaman serius bagi kesehatan hati.
5. Alkohol
Alkohol dikenal luas sebagai racun bagi hati, dengan efek yang berkisar dari perlemakan hati hingga sirosis dan kanker hati. Penelitian terbaru dari Mayo Clinic menggarisbawahi bagaimana konsumsi alkohol dalam jumlah sedang sekalipun dapat mengganggu enzim-enzim penting untuk metabolisme lemak di hati, yang menyebabkan akumulasi protein, stres oksidatif, peradangan, dan penumpukan lemak, sehingga mempercepat perkembangan penyakit hati berlemak alkoholik maupun non-alkohol.
Konsensus medis menggarisbawahi bahwa penderita perlemakan hati harus menghindari atau sangat membatasi konsumsi alkohol untuk mencegah kerusakan hati yang ireversibel.