Bisnis.com, BANDUNG — Bupati Sumedang meresmikan teknologi pengolahan sampah mutakhir hasil inovasi putra daerah guna menuntaskan persoalan limbah secara berkelanjutan.
Kawasan Pengolahan Sampah Akhir tersebut yakni pengolahan sampah berbasis teknologi N30 Turbocyclon (SIMPATI-1).
Dony menegaskan pengelolaan sampah pada dasarnya dapat dilakukan secara sederhana dengan dukungan infrastruktur dan kemauan yang kuat. Ia menekankan prinsip utama bahwa volume sampah harian harus tuntas pada hari yang sama dengan penyelesaian langsung di sumbernya.
Sistem pengolahan yang diterapkan dalam teknologi ini menitikberatkan pada proses pemilahan sejak dini, yakni memisahkan limbah menjadi kategori organik dan anorganik untuk mengoptimalkan nilai tambahnya.
"Sampah anorganik seperti plastik, kertas, kardus, botol, dan kaca memiliki nilai ekonomi dan dapat dijual. Sementara sampah organik diolah menjadi kompos yang bermanfaat bagi pertanian," ungkap Dony.
Ia merinci, residu atau sisa sampah yang benar-benar tidak dapat dimanfaatkan kembali akan diproses melalui mesin insinerator. Meskipun menggunakan proses pembakaran, volume residu yang dihasilkan sangat minim dan operasionalnya dipastikan tetap mematuhi regulasi lingkungan.
“Anorganik jadi uang, organik jadi pupuk. Sisanya yang benar-benar tidak terpakai baru dimasukkan ke insinerator. Ini adalah ikhtiar kita untuk menyelesaikan sampah dari hulunya,” ujarnya.
Lebih lanjut, Bupati mendorong agar budaya pemilahan ini diimplementasikan secara luas, termasuk di lingkungan pendidikan. Ia menargetkan setiap Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) memiliki fasilitas pemilahan sampah mandiri sebagai bagian dari gerakan edukasi dan keberlanjutan lingkungan di Sumedang.
Dalam kesempatan tersebut, perwakilan pengembang teknologi dari PT New Energy Integrasi, Muhammad Budi Fauzi, memaparkan keunggulan teknis mesin N30 Turbocyclon.
Alat ini memiliki kapasitas awal 30 kilogram per jam, namun dapat ditingkatkan hingga 60 kilogram, bahkan menyentuh angka 100 kilogram per jam untuk pengolahan sampah kering.
“Yang paling penting adalah proses pemilahan di awal. Sampah yang masih bernilai ekonomi dipisahkan, organik bisa dijadikan kompos, dan sisanya baru dibakar,” jelas Budi.
Ia menambahkan bahwa teknologi ini menawarkan efisiensi tinggi dengan residu akhir hanya sekitar 0,3%. Inovasi ini juga menonjol karena menggunakan air sebagai komponen utama operasional insinerator, sehingga mampu menekan biaya operasional secara signifikan.
“Ini hasil pengembangan sejak 2012. Teknologi ini merupakan karya anak asli Sumedang,” pungkasnya.