Bisnis.com, JAKARTA — Investor institusi asing Blackrock terpantau agresif menambah kepemilikan saham PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel secara tahunan hingga periode kuartal IV/2025.
Aksi tersebut justru dilakukan saat harga saham MTEL menunjukkan penurunan harga sepanjang year to date (ytd). Mengutip Terminal Bloomberg, Selasa (21/10/2025), sejumlah investor tercatat menambah saham emiten telekomunikasi itu, salah satunya adalah Blackrock.
Hingga pekan 20 Oktober 2025, investor institusi Blackrock terpantau menambah sebanyak 18,4 juta saham MTEL, secara tahunan (year-on-year/yoy). Dengan akumulasi secara bertahap itu, total kepemilikan Blackrock di MTEL per kuartal IV/2025 bertambah menjadi 43,8 juta saham.
Pengamat pasar modal Redy Octa, mengatakan langkah agresif institusi asing menambah saham di MTEL didukung sejumlah faktor, seperti Mitratel merupakan emiten infrastruktur telekomunikasi terbesar di Indonesia dengan kepemilikan aset yang tersebar merata di luar Pulau Jawa.
"Kondisi ini menguntungkan perseroan karena sejalan dengan rencana ekspansi operator telekomunikasi yang mengincar pertumbuhan di Sumatra, Sulawesi, dan Indonesia Timur," kata Redy dalam keterangannya, Selasa (21/10/2025).
Faktor lainnya adalah jumlah kas dan setara kas paling besar yakni Rp2,76 triliun. Jumlah ini mengalahkan TBIG senilai Rp798 miliar dan TOWR bernilai Rp782,29 miliar hingga semester I/2025.
Dia menambahkan dukungan induk usaha operator telekomunikasi, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), dengan pangsa pasar terbesar di Indonesia, juga menjadi pertimbangan menarik. Terutama di saat industri telekomunikasi melakukan konsolidasi bisnis.
MTEL, lanjutnya, memiliki sejumlah sentimen positif yang bisa menopang pergerakan harga sahamnya ke depan. Di antaranya, anak usaha PT Telkom Indonesia Tbk, (TLKM) ini tengah menggelar pembelian kembali (buyback) saham dengan target dana Rp1 triliun.
“Buyback merupakan sentimen positif bagi suatu emiten dengan ekspektasi bisa memberikan dorongan untuk investor meyakini bahwa manajemen internal yakin akan kinerja perusahaan kedepan secara fundamental dan momentum, sehingga hal ini dapat menguatkan harga sahamnya,” ujarnya.
Mengutip data Bloomberg, saat ini Telkom tercatat sebagai pengendali MTEL dengan porsi saham mencapai 71,8%. Pemegang saham lain dengan porsi di atas 5% yakni PT Maleo Investasi Indonesia sebesar 5,97% dan Government of Singapore sebanyak 5,32%. Sementara porsi publik tersisa 14,4%.
Sentimen positif MTEL lainnya adalah tren penurunan suku bunga ke depan baik dari The Fed maupun BI Rate yang diharapkan menjadi katalis positif bagi MTEL. Penurunan suku bunga akan membuat beban bunga perseroan lebih rendah, memperkuat arus kas, dan membuka potensi untuk melakukan ekspansi.
Di lantai Bursa, saham MTEL ditutup melemah di level Rp560 pada penutupan perdagangan Rabu (15/10/2025). Dengan harga tersebut, saham MTEL telah melemah 16,4% sepanjang tahun berjalan. Penurunan tersebut berbanding terbalik dengan kinerja yang terus menunjukkan peningkatan.
Laba tahun berjalan MTEL berhasil naik dari Rp1,06 triliun menjadi Rp1,09 triliun, sehingga laba per saham emiten ini mencapai Rp13 hingga semester I/2025. Pendapatan perseroan juga konsisten meningkat dari Rp4,49 triliun menjadi Rp4,59 triliun untuk periode sama.
Sejumlah sekuritas merekomendasikan beli dengan rata rata target harga saham di level Rp750-Rp800.
Mengutip data Bloomberg, mayoritas analis merekomendasikan saham MTEL dengan Buy Ratio 85,7%. Tercatat sebanyak 24 analis merekomendasikan beli dan 4 analis memilih hold.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.