Bisnis.com, CIREBON —Produksi mangga di Kabupaten Cirebon mengalami penurunan tajam. Data Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon menunjukkan produksi komoditas unggulan tersebut hanya mencapai 37.922,01 ton pada 2025, turun sekira 15% dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 44.776,96 ton.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cirebon Deni Nurcahya mengatakan penurunan produksi tidak dapat dipandang sebagai fluktuasi musiman semata.
Menurut dia, terdapat sejumlah faktor yang memengaruhi, mulai dari perubahan iklim, serangan organisme pengganggu tanaman, hingga persoalan teknis budi daya di tingkat petani.
“Penurunan ini tidak bisa dilihat sebagai siklus biasa. Ada indikasi tekanan, baik dari faktor cuaca, serangan hama penyakit, maupun aspek teknis budi daya di tingkat petani,” kata Deni dikutip Selasa (2/6/2026).
Data Dinas Pertanian mencatat produksi mangga Kabupaten Cirebon pada 2022 mencapai 43.351,50 ton. Angka tersebut turun tipis menjadi 43.099,74 ton pada 2023. Produksi kemudian meningkat menjadi 44.776,96 ton pada 2024 sebelum akhirnya merosot menjadi 37.922,01 ton pada 2025.
Secara kumulatif, produksi mangga tahun lalu lebih rendah sekitar 6.854 ton dibandingkan 2024. Jika dibandingkan dengan 2022, penurunannya mencapai lebih dari 5.400 ton.
Deni menjelaskan, salah satu persoalan yang masih dihadapi sektor mangga adalah belum meratanya penerapan standar budidaya di kalangan petani.
Praktik pemangkasan, pemupukan, hingga sanitasi kebun dinilai belum dilakukan secara konsisten sehingga memengaruhi produktivitas tanaman.
Menurut dia, perbedaan perlakuan budi daya menyebabkan hasil panen antarwilayah dan antarmusim menjadi tidak seragam. Kondisi tersebut berdampak terhadap jumlah maupun kualitas buah yang dihasilkan.“Standar budidaya belum seragam. Ini berdampak langsung pada jumlah dan kualitas produksi,” ujarnya.
Selain aspek budidaya, faktor cuaca juga memberikan tekanan terhadap produksi. Curah hujan yang berubah-ubah dan periode kemarau yang lebih panjang dibandingkan kondisi normal dapat mengganggu fase pembungaan dan pembentukan buah.
Ketidakpastian iklim tersebut membuat petani menghadapi risiko penurunan hasil panen yang lebih tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Persoalan tidak berhenti pada tahap produksi. Dinas Pertanian menilai sistem pascapanen masih menjadi titik lemah dalam rantai pasok mangga di Kabupaten Cirebon.
Kerusakan buah saat panen dan distribusi masih cukup tinggi. Di sisi lain, sebagian besar petani belum memiliki akses terhadap fasilitas penyimpanan dingin ataucold storageyang memadai untuk memperpanjang umur simpan buah.
Akibatnya, ketika panen raya berlangsung, petani cenderung segera menjual hasil panen untuk menghindari kerusakan produk. Kondisi tersebut membuat pasokan melimpah dalam waktu singkat dan berpotensi menekan harga di tingkat petani.
“Ketika panen raya, petani cenderung menjual cepat karena tidak memiliki fasilitas penyimpanan yang memadai. Ini membuat harga mudah jatuh,” kata Deni.
Situasi tersebut juga berdampak pada posisi tawar petani yang relatif lemah terhadap pedagang maupun pembeli besar.
Deni menambahkan, pengembangan industri pengolahan mangga masih menjadi pekerjaan rumah yang belum terselesaikan. Buah yang tidak memenuhi standar pasar premium belum sepenuhnya terserap oleh industri sehingga nilai tambah yang diterima petani masih terbatas.
Padahal, menurut dia, peluang pengembangan produk olahan seperti jus, puree/pasta, hingga mangga kering masih terbuka lebar. Penguatan industri hilir dinilai dapat menjadi solusi untuk menyerap hasil panen sekaligus menjaga stabilitas harga saat produksi melimpah.
Oleh karena itu, pemerintah daerah menilai perbaikan sektor mangga harus dilakukan secara menyeluruh, mulai dari peningkatan kualitas budi daya, penguatan fasilitas pascapanen, hingga pembentukan kelembagaan ekonomi petani.
“Masalah utama bukan hanya produksi, tetapi efisiensi sistem secara keseluruhan. Jika ini diperbaiki, bukan hanya produksi yang naik, tetapi juga pendapatan petani,” ujar Deni.