Bisnis.com, JAKARTA - Indonesia merupakan salah satu negara dengan keragaman pangan lokal terbesar di dunia. Setiap daerah punya makanan khas yang kaya nutrisi sekaligus nilai budaya yang kuat.
Namun, perubahan gaya hidup dan pola konsumsi membuat banyak pangan lokal seperti talas, singkong, jagung, sukun, hingga sagu jarang hadir di meja makan. Masyarakat kian bergantung pada produk olahan, makanan instan, dan pangan impor yang dianggap lebih praktis dan modern.
Menengok kembali sejarahnya, keberagaman pangan Nusantara lahir melalui perjalanan panjang yang dipengaruhi oleh sejarah, budaya, hingga politik global.
Repa Kustipia, Research Director Center for Study Indonesian Food Anthropology (CS-IFA), memaparkan bahwa jejak pangan Nusantara dimulai dari fase etnopangan, yakni pangan asli yang berkembang di komunitas etnis. Pada fase paling awal, masyarakat hidup sebagai pemburu dan peramu.
"Jejak pangan dari masa itu masih dapat ditemukan sampai sekarang, salah satunya Colocasia esculenta atau talas," ujarnya.
Seiring waktu, manusia memasuki fase Neolitik, ketika mereka mulai mengenal pertanian secara lebih maju lalu menerapkan sistem irigasi besar dalam fase Hydraulic.
Perjalanan pangan Nusantara memasuki fase kolonialisme alias medieval maritime exchange. Ditandai dengan munculnya jalur rempah-rempah, penjelajahan, serta sistem monopoli perdagangan global.
Akulturasi pun terjadi, tidak hanya pada jenis pangan, tetapi juga pada cara produksi dan konsumsi. Dampaknya masih terasa hingga hari ini, terutama melalui dominasi komoditas tertentu seperti gandum.
Repa menjelaskan bahwa Revolusi Industri di Eropa mempercepat perkembangan teknologi pangan dan memperkuat posisi gandum sebagai komoditas global. Sementara itu, di Indonesia, beras menjadi pangan utama. Namun modernisme ini tidak berjalan tanpa perlawanan.
Dia menyoroti munculnya gerakan Regenerative Food, yakni upaya kembali pada pangan tradisional dan teknik pengolahan lama, seperti metode kukus yang kini kembali diminati masyarakat sebagai respons terhadap pola konsumsi modern.
Kini pada era teknologi dan digital, pangan Nusantara hadir dalam bentuk baru melalui Tekno Food dan Digital Food Economy. Masyarakat menikmati makanan tradisional lewat layanan daring, mulai dari nasi kuning hingga sate Padang. Inilah yang disebut sebagai gastronomi kontemporer.
Selanjutnya masuk ke fase post-human dan glokalisasi, yaitu pertemuan antara praktik lokal dan sistem global. Tempe menjadi contoh nyata, di mana teknik fermentasi bersifat lokal, tetapi bahan bakunya, yakni kedelai, masih bergantung pada impor.
Ke depannya menuju pada fase fabrikasi pangan alami, space food, dan closed-loop life support food system yang merepresentasikan arah inovasi pangan masa depan.
Mulai dari penciptaan pangan fungsional berbasis senyawa alami, pengembangan pangan berdaya tahan tinggi untuk kehidupan di luar angkasa, sampai sistem pangan sirkular tanpa limbah yang ramah lingkungan.