Indonesia menjadi pasar terbesar kedua untuk AI Nano Banana dari Google di Asia Pasifik, menghasilkan 18 juta gambar per hari. Google fokus pada keamanan dan privasi pengguna. [356] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Indonesia menjadi negara kedua dengan penggunaan Nano Banana (AI generatif pembuat gambar dari Google) se Asia Pasifik. Belasan juta gambar dihasilkan dalam sehari.
Communication Manager Google Indonesia Feliciana Wienathan mengatakan penggunaan AI Gemini di Indonesia sangat besar. Indonesia bahkan menempati urutan kedua di Asia Pasifik sebagai negara yang menggunakan fitur AI Nano Banana terbanyak.
Selain itu, Felicia juga memaparkan data tahun lalu dari kuartal keempat, tercatat fitur AI Nano Banana dalam sehari dapat membuat 18 juta gambar.
“Satu fitur visual dari teks ke hasil gambar segitu minatnya, dan kita adalah negara kedua terbesar,” kata Feliciana di acara Google Gebrakan Ramadan 2026, Jumat (27/2/2026).
Feliciana juga mengatakan Gemini sendiri tidak mempunyai target tertentu di tahun ini, namun Gemini berkomitmen untuk menjadikan asisten AI Gemini semakin powerful, personal, dan proaktif.
Tiga hal ini menjadi penting karena masyarakat akan terbantu sesuai minat, keinginan, ide, dan inspirasi mereka. Google pun terus meluncurkan berbagai kecanggihan yang mumpuni untuk memudahkan keseharian, mulai dari fitur Deep Research untuk mempelajari informasi secara lebih mendalam dan terfokus, hingga Nano Banana yang membantu membuat gambar dengan cepat.
Google baru-baru ini juga meluncurkan fitur baru Lyria 3 di Gemini. Lyria 3 adalah fitur yang dapat membuat lagu dan musik. Teknologi ini dapat menciptakan musik, instrumental, genre, hingga vokal hanya dengan perintah teks atau gambar dengan durasi 30 detik.
Penggunaan AI juga melibatkan data dari pengguna. Menanggapi hal ini, Feliciana menyampaikan keamanan dan privasi pengguna menjadi nomor satu.
“Prinsip dasar dari seluruh produk Google terlepas dari Gemini adalah selalu safety by default dan private by design,” jelas Feliciana.
Artinya, Google juga memperhatikan keamanan secara alamiah. Selain itu, sebelum membuat atau mendesain sesuatu, Google sudah memikirkan bagaimana keamanan privasinya dari awal.
“Hal ini juga kita pikirkan dari awal, bukan saat produknya sudah jadi baru kita pikirkan,” tegas Feliciana.
Selain itu, Feliciana juga menyampaikan tantangan yang ada saat ini adalah eksekusi dan kreativitas dalam memanfaatkan AI untuk solusi nyata di Indonesia.
Gemini sudah tersedia untuk developer dan punya kemampuan multimodal. Namun di sini yang perlu diperhatikan adalah bagaimana masyarakat Indonesia bisa menggunakan dan memanfaatkan teknologi AI, khususnya Gemini, dengan baik dan benar. (Nur Amalina)
Google merilis Lyria 3 Gemini AI yang memungkinkan pengguna membuat lagu dan sampul album dengan cepat. Fitur ini mendukung berbagai bahasa dan tersedia di Gemini dan YouTube. [423] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Google baru-baru ini menambahkan kemampuan membuat musik langsung di aplikasi Gemini. Fitur ini memanfaatkan model musik Lyria 3 dari DeepMind dan saat ini masih dalam tahap beta.
Dengan fitur baru ini, pengguna cukup menuliskan deskripsi lagu yang ingin dibuat, dan Gemini akan menghasilkan trek musik beserta liriknya.
Contoh, kamu bisa meminta aplikasi membuat “Nuansa Synth-Pop era 80-an yang jenaka tentang momen "tercyduk" batal puasa,” dan Gemini akan menciptakan trek sekitar 30 detik lengkap dengan sampul album yang dihasilkan oleh Nano Banana.
Tidak hanya itu, kamu juga bisa mengunggah foto atau video, dan Gemini akan membuat lagu yang menyesuaikan suasana dari file media tersebut.
Mengutip dari Tech Crunch Kamis (19/2/2026), Google mengatkan Lyria 3 merupakan penyempurnaan dari versi sebelumnya, mampu menciptakan musik yang lebih kompleks dan realistis. Pengguna juga bisa mengatur elemen lain, seperti gaya musik, vokal, hingga tempo lagu sesuai keinginan.
Fitur pembuatan musik AI Gemini yang menggunakan model Lyra 3 dari DeepMind saat dicoba membuat musik dengan bahasa Indonesia
Selain di Gemini, model ini juga diperkenalkan di YouTube melalui fitur Dream Track, yang membantu kreator membuat lagu AI untuk konten mereka. Sebelumnya, Dream Track hanya tersedia untuk kreator di AS, tetapi kini telah diperluas secara global.
Dengan kemampuan AI yang bisa membuat lagu dengan cepat, hal ini membuat keresahan bagi para seniman musik. Muncul banyak pertanyaan apakah hal ini akan mengancam para seniman, atau bagaimana jika fitur ini melanggar hak cipta dengan meniru karya-karya artis tertentu?
Google menegaskan Lyria 3 tidak dibuat untuk meniru artis tertentu. Jika pengguna menyebut nama artis, aplikasi hanya akan menjadikan gaya atau suasana musik sebagai inspirasi, bukan menyalin karya yang sebenarnya.
“Pembuatan musik dengan Lyria 3 dirancang untuk ekspresi orisinal, bukan untuk meniru artis yang sudah ada,” tulis Google di blog resminya.
Setiap lagu yang dihasilkan Lyria 3 akan memiliki tanda air digital SynthID, yang memungkinkan konten AI dikenali. Pengguna juga bisa mengunggah lagu dan memeriksa apakah musik tersebut dibuat oleh AI melalui Gemini.
Fitur ini tersedia untuk semua pengguna Gemini berusia 18 tahun ke atas, dengan dukungan bahasa Inggris, Jerman, Spanyol, Prancis, Hindi, Jepang, Korea, dan Portugis. Saat dicoba, fitur ini juga sudah mendukung bahasa Indonesia.
Musik yang dihasilkan AI kini menjadi sorotan di industri. Platform seperti YouTube dan Spotify telah memanfaatkan AI untuk membuat konten baru dan menandatangani kerja sama dengan label musik.
Namun, ada juga tantangan hukum, terutama terkait hak cipta materi pelatihan yang digunakan untuk melatih AI. Beberapa platform seperti Deezer bahkan membuat alat khusus untuk menandai musik AI agar mencegah streaming ilegal. (Nur Amalina)
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56