Bisnis.com, BANDUNG— Banyak pelaku wirausaha muda yang bermimpi ingin produk bisa dijual hingga ke pasar internasional dan juga dapat menembus pasar global.
Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Telkom University, Akhmad Yunani, mengatakan ada empat persoalan utama yang kerap dihadapi entrepreneur muda. Seringkali, entrepreneur muda pula menghadapi sejumlah tantangan dalam mengembangkan usahanya.
“Yang pertama berkaitan dengan akses permodalan. Mereka sulit mendapatkan modal karena keterbatasan agunan,” katanya dalam acara Indonesia Eximbank Goes To Campus 2025 di Telkom University baru-baru ini.
Yunan melanjutkan literasi bisnis di kalangan wirausahawan muda juga tergolong rendah. Hal tersebut tercermin dari kurangnya pemahaman tentang aspek keuangan, hukum usaha hingga kewajiban pajak.Selain itu, kata dia, persaingan digital juga menjadi tantangan tersendiri untuk entrepreneur muda.
“Kompetisi yang ketat dengan pelaku usaha besar di e-commerce. Mereka harus memenuhi standar internasional dan regulasi negara tujuan, seperti sertifikasi halal, organik atau ramah lingkungan,” paparnya.
Terkait bisnis yang berorientasi ekspor, Yunan menambahkan, wirausahawan muda juga harus berhadapan dengan regulasi dan standar nasional.
Oleh karena itu, dia melanjutkan, pelaku usaha perlu memahami regulasi dan standar yang berlaku di pasar tujuan karena seringkali tiap negara menerapkan standar yang berbeda. Penting juga untuk mengetahui prosedur ekspor.
“Pelaku usaha bisa mulai dari riset pasar dan pemetaan tujuan. Dari sana juga kita pahami selera pasar dan tren konsumen di negara tujuan,” ujarnya.
Strategi lainnya menyangkut penguatan kualitas produk, Yunan menilai penting untuk pelaku usaha menggunakan bahan baku berkualitas dan proses produksi yang efisien.
Dia menambahkan di tengah era pemasaran digital, entrepreneur sebaiknya dapat memanfaatkan platform e-commerce global, seperti Alibaba dan Amazon.Tak kalah penting, pelaku usaha juga perlu menjalin kemitraan dan memperluas jaringan.
“Bisa dengan mengikuti pameran internasional dan bergabung dengan asosiasi perdagangan,” katanya.
Yunan menambahkan sebagai entrepreneur, pelaku juga dinilai harus menguasai pengetahuan dan keterampilan yang mendukung bisnisnya.
“Mulai dari keahlian komunikasi, digital dan pengetahuan global,” katanya.
Sementara itu, Economist Junior Specialist Indonesia Eximbank Institute (IEB), Romadhon Falaqh, mengemukakan Indonesia masih memiliki potensi ekspor yang dapat dioptimalkan di tengah ketidakpastian global.
“Ada empat komoditas yang bisa kita optimalkan untuk ekspor tahun 2026,” katanya.
Romadhon memaparkan keempat komoditas itu, yakni tekstil, furnitur, makanan dan minuman, serta kopi. Bahkan, pihaknya menilai potensi ekspor tekstil bisa mencapai US$4,5 miliar atau setara Rp73,4 triliun.
Melalui strategi bisnis yang tepat, potensi tersebut juga bisa digarap oleh para entrepreneur muda yang ingin menyasar pasar ekspor tekstil ke negara tujuan, seperti Jepang, Australia, Perancis, Jerman dan Swiss.
Begitu pula dengan sektor makanan dan minuman, IEB menilai eksportir bisa menggarap potensi senilai US$3,8 miliar atau setara Rp61,9 triliun dengan menyasar negara, seperti Singapura, Filipina, Thailand, Vietnam dan Jepang.
“Sementara peluang untuk produk furnitur tahun 2025 tercatat US$2,1 miliar atau Rp34,2 triliun dengan pasar potensial Singapura, Jepang, Australia, Filipina dan Arab Saudi,” ujarnya.
Komoditas kopi yang juga selama ini berorientasi ekspor dinilai dapat dioptimalkan dengan nilai peluang US$921 juta atau Rp15 triliun, Romadhon menyebut pelaku usaha bisa menyasar pasar Jerman, Belgia, Vietnam, Jepang dan Filipina.