Bisnis.com, SURABAYA — Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya menyebut kebijakan pengolahan sampah organik menjadi pupuk kompos memberikan dampak signifikan terhadap efisiensi anggaran daerah, khususnya pada pengelolaan dan pengangkutan sampah.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Surabaya Dedik Irianto mengungkapkan, keberadaan 27 rumah kompos di berbagai wilayah kota mampu menghemat biaya pengangkutan sampah hingga Rp6,73 miliar per tahun.
Dedik menjelaskan, timbulan sampah di Surabaya, baik organik maupun anorganik, mencapai sekitar 1.800 ton per hari. Besarnya volume tersebut mendorong Pemkot Surabaya untuk tidak hanya mengandalkan pengelolaan di hilir, tetapi juga memperkuat penanganan dari hulu melalui program rumah kompos dan bank sampah. Adapun residu yang tidak dapat dikelola diarahkan ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Benowo.
Khusus sampah organik, DLH Surabaya mengoperasikan 27 rumah kompos dengan kapasitas pengolahan total mencapai 95,17 ton per hari.
“Jadi untuk sampah organik di Kota Surabaya, kita memiliki kurang lebih 27 rumah kompos yang memiliki kapasitas total pengolahan mencapai 95,17 ton sampah per hari,” ujar Dedik, Rabu (14/1/2026).
Menurutnya, bahan baku rumah kompos mayoritas berasal dari limbah hasil perantingan pohon serta sampah sayuran dari pasar. “Ini yang kemudian kita kelola menjadi kompos, sehingga mengurangi jumlah sampah,” tambahnya.
Dedik menilai pengolahan sampah organik memberikan manfaat ganda. Selain menekan volume sampah yang masuk ke TPA Benowo, kebijakan ini juga berkontribusi langsung terhadap efisiensi belanja daerah.
“Jadi, pengolahan kompos yang berjalan mengurangi sektor belanja pupuk Dinas Lingkungan Hidup Surabaya,” ungkapnya.
Ia menjelaskan kebutuhan pupuk untuk pemeliharaan ruang terbuka hijau (RTH) di Surabaya cukup besar. Dengan memanfaatkan kompos hasil olahan sendiri, DLH dapat mengurangi ketergantungan pada pembelian pupuk dari pihak luar.
“Jadi, kita bisa manfaatkan kompos kita sendiri. Selain mengurangi sampah yang masuk ke TPA, juga bisa mengurangi belanja dari DLH untuk belanja komposnya,” tuturnya.
Selain penghematan biaya pengangkutan, pengolahan sampah organik melalui rumah kompos juga mampu menekan biaya pengolahan sampah di TPA Benowo hingga Rp7,36 miliar per tahun.
Dedik merinci, volume bahan yang masuk ke rumah kompos setiap hari mencapai lebih dari 100 ton. “Rinciannya, bahan dari hasil perantingan pohon, pohon tumbang, dan sejenisnya mencapai 90,41 ton per hari. Sementara bahan dari sampah pasar mencapai 10,14 ton per hari,” ujarnya.
Di sisi lain, DLH Surabaya juga mengelola sampah anorganik melalui 12 Tempat Pengolahan Sampah (TPS) 3R (Reduce, Reuse, Recycle) yang tersebar di sejumlah wilayah.
“Dari 12 TPS ini kapasitasnya bermacam-macam. Ada yang kapasitasnya 10 ton, ada yang 20 ton,” jelas Dedik.
Menurutnya, keberadaan TPS 3R mampu mengurangi hingga 50% volume sampah yang masuk ke TPA Benowo. “Jadi kalau kapasitas TPS 10 ton, maka residunya tinggal 5 ton. Ini adalah untuk upaya mengurangi jumlah sampah yang masuk ke TPA Benowo,” ujarnya.
Dedik menambahkan, sampah yang dikelola di TPS 3R didominasi sampah anorganik seperti botol, logam, plastik, kaca, kayu, kertas, dan karton. Selain itu, TPS 3R juga menangani sampah spesifik.
“Jadi seperti baterai yang sudah tidak dipakai, lampu, kemudian kaleng aerosol dan sebagainya itu adalah sampah spesifik. Ini yang dilakukan di TPS 3R,” pungkasnya.