Bisnis.com, JAKARTA - Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi melakukan perjalan ke Rusia, Minggu (26/4/2026), sebagai langkah mewujudkan negosiasi antara Iran dengan Amerika yang belum menemukan titik terang dan sebagai upaya menurunkan eskalasi konflik di Timur Tengah.
Lawatannya ke Moskow setelah berkunjung ke Muscat, Oman dan Pakistan. Di Oman, dia membahas isu bilateral dan perkembangan kawasan, khususnya upaya memastikan kelancaran dan keamanan jalur pelayaran Selat Hormuz.
"Pembahasan penting mengenai isu bilateral dan perkembangan kawasan. Sebagai negara yang sama-sama berada di pesisir Selat Hormuz, fokus kami mencakup upaya memastikan kelancaran dan keamanan jalur pelayaran yang bermanfaat bagi seluruh negara tetangga dan dunia," katanya di akun media sosial X, Senin (27/4/2026).
Diberitakan Al-Jazeera, Kementerian Luar Negeri Rusia mengkonfirmasi bahwa Araghchi akan mengunjungi Moskow, tetapi tidak menyebutkan apakah dia akan bertemu dengan Presiden Vladimir Putin.
Araghchi menyebutkan belum melihat keseriusan AS mengenai diplomasi untuk menciptakan perdamaian terkait konflik di Teheran.
Namun, meski belum ada pembicaraan langsung, upaya diplomasi tidak langsung dilakukan. Iran dikabarkan memberikan pesan kepada Amerika melalui Pakistan sebagai mediator. Pesan tertulis berisi sejumlah “garis merah” terkait isu nuklir dan Selat Hormuz.
Di sisi lain, pada Sabtu pekan lalu, Trump telah mengutus Steve Witkoff dan Jared Kushner yang dijadwalkan mengunjungi Islamabad guna bertemu dengan Araghchi. Namun kunjungan gagal.
Trump menganggap bahwa pertemuan tidak akan menghasilkan apapun dan menurutnya Iran bisa menghubungi Amerika kapan saja.
"Saya bilang, 'Tidak, Anda tidak akan melakukan penerbangan 18 jam untuk pergi ke sana. Kita punya semua kartu. Mereka bisa menghubungi kita kapan saja mereka mau, tetapi Anda tidak akan melakukan penerbangan 18 jam lagi hanya untuk duduk-duduk dan mengobrol tentang hal-hal yang tidak penting,'” kata Trump dikutip Al-Jazeera, Senin (27/4/2026).
Sementara itu, solusi yang tak kunjung tercapai berdampak terhadap terus berjatuhannya korban jiwa. Di Iran sedikitnya 3.375 orang meninggal dunia dengan lebih dari 26.500 lainnya luka-luka.
Sementara di Lebanon, jumlah korban meninggal telah menembus 2.294 jiwa, dengan ribuan lainnya cedera.
Konflik yang meluas juga merenggut korban di negara-negara Teluk dan kawasan sekitarnya, dengan sedikitnya 28 orang dilaporkan tewas di berbagai negara di luar zona utama perang