Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Luar Negeri Sugiono mendorong kerja sama antar negara Asean yang lebih erat dalam merespons dampak konflik di Timur Tengah serta menghadapi berbagai tantangan di kawasan saat ini.
Hal itu disampaikan Sugiono dalam Pertemuan Menteri Luar Negeri Asean (ASEAN Foreign Minister’s Meeting/AMM) yang berlangsung pada Kamis (7/4/2026) di Cebu, Filipina. Pertemuan tersebut diselenggarakan sebagai bagian dari Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asean ke-48.
Sugiono juga mengapresiasi inisiatif keketuaan Filipina dalam mengoordinasikan respon bersama Asean terhadap krisis yang dihadapi saat ini.
“Di tengah dunia yang semakin tidak menentu, Asean tetap menjadi mitra yang terpercaya, stabil, dan dapat diandalkan,” ujar Sugiono dalam keterangan tertulis pada Kamis (7/4/2026).
Di samping itu, menurut Sugiono, kini semakin banyaknya negara yang bergabung dalam Treaty of Amity and Cooperation in Southeast Asia (TAC). Kondisi tersebut mencerminkan kepercayaan yang terus berlanjut terhadap Asean.
Menurutnya, kemitraan yang dijalin Asean dengan mitra wicaranya harus terus diperkuat guna mencapai hasil yang konkret dan konstruktif untuk isu-isu yang menjadi kepentingan bersama.
Sugiono pun menyampaikan dukungan Indonesia untuk Turki agar dapat segera menjadi mitra wicara Asean.
Lalu, dalam pertemuan tersebut Sugiono pun menyerukan pentingnya stabilitas Myanmar, serta dukungan terhadap Timor-Leste sebagai anggota baru Asean.
Adapun, Presiden RI Prabowo Subianto pun dijadwalkan akan menghadiri KTT Asean ke-48 di Filipina. Prabowo bersama rombongan terbatas lepas landas dari Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta, sekitar pukul 09.10 WIB hari ini.
Setibanya di Cebu, Prabowo dijadwalkan menghadiri salah satu agenda KTT ke-48 Asean, yakni KTT Brunei Darussalam–Indonesia–Malaysia–Philippines East ASEAN Growth Area (BIMP-EAGA).
Agenda tersebut menjadi forum strategis dalam memperkuat konektivitas dan kerja sama ekonomi subkawasan Asia Tenggara.
Sementara di KTT ke-48 Asean, pembahasan akan berfokus pada penguatan kerja sama antarnegara Asia Tenggara, termasuk upaya menghadapi dinamika global yang berkembang saat ini.
Sejumlah isu yang akan dibahas mencakup perkembangan global yang berdampak pada kawasan, termasuk upaya menjaga ketahanan energi serta memperkuat koordinasi dalam merespons dinamika geopolitik.