Bisnis.com, JAKARTA - Dalam melakukan perjalanan, entah untuk berlibur atau berbisnis, orang-orang mempertimbangkan banyak hal, salah satunya adalah aspek keamanan dan tingkat kejahatan.
Oleh karena itu, memahami tren kejahatan global dapat membantu seseorang untuk membuat keputusan yang tepat. Tahun ini, platform statistik Numbeo membuat Indeks Kejahatan, dengan melakukan pengamatan terhadap beberapa indikator, yakni Pasar Kriminal, Pelaku Kriminal, dan Ketahanan.
Adapun, skor indeks ditentukan dengan rentang 0 hingga 100, di mana skor Indeks Kejahatan yang lebih rendah dan skor Indeks Keamanan yang lebih tinggi lebih disukai.
Selain itu, sebelum memberi label angka pada suatu negara, penting untuk memahami bahwa tingkat kejahatan di seluruh dunia juga terbentuk oleh banyak faktor, seperti kemiskinan, pengangguran, ketidakstabilan politik, dan efisiensi penegakan hukum.
Dalam daftar ini, negara-negara seperti Venezuela, Papua Nugini, dan Afrika Selatan menunjukkan tingkat kejahatan yang tinggi karena berbagai alasan seperti korupsi, tekanan ekonomi, dan tantangan sosial yang mendalam.
Sementara itu, negara-negara seperti Swiss dan Jepang mempertahankan tingkat kejahatan yang sangat rendah berkat kepolisian yang kuat, kohesi sosial, dan, dalam beberapa kasus, undang-undang senjata yang ketat.
Berikut ini, daftar 10 negara dengan tingkat kejahatan tertinggi pada tahun 2025, berdasarkan data Indeks Kejahatan dari Numbeo:
1. Haiti - 81,0
Diperkirakan 150–200 geng menguasai 60–100% wilayah Port-au-Prince akibat kerusuhan politik. Haiti mencatat 2.490 penculikan dan 4.789 pembunuhan pada tahun 2023, hampir dua kali lipat dari tahun sebelumnya. Negara ini telah menjadi pusat utama perdagangan kokain dan ganja karena keamanan perbatasan yang lemah dan penegakan hukum yang lemah.
2. Papua Nugini - 80,7
Dengan Indeks Kejahatan sebesar 80,7, Papua Nugini mencatat tingkat kejahatan ringan dan kekerasan yang tinggi. Pergeseran sosial dan ekonomi yang cepat telah meningkatkan aktivitas geng, terutama di kalangan kelompok muda yang menghadapi pilihan pekerjaan terbatas. Korupsi yang merajalela, ditambah dengan posisi geografis negara yang strategis, semakin mendorong pertumbuhan jaringan narkoba dan perdagangan manusia.
3. Venezuela - 80,5
Dengan Indeks Kejahatan 80,5, Venezuela berada di puncak daftar. Wisatawan diperingatkan untuk tidak memasuki negara tersebut berdasarkan peringatan Level 4 yang dikeluarkan oleh Departemen Luar Negeri AS. Korupsi negara, lemahnya sistem peradilan, dan memburuknya supremasi hukum, semuanya berkaitan dengan tingginya angka kejahatan. Perampokan bersenjata, penculikan, dan kejahatan dengan kekerasan masih sering terjadi.
4. Afghanistan - 75,2
Afghanistan telah menghadapi tantangan yang terus-menerus seperti korupsi, pembunuhan, perdagangan narkoba, penculikan, dan pencucian uang. Berdasarkan catatan, negara ini memasok 85% opium ilegal dunia pada tahun 2020.
Meskipun Taliban berjanji untuk mengekang industri ini, industri ini tetap terkait erat dengan ekonomi Afghanistan yang rapuh. Tingginya pengangguran juga menjadi salah satu faktor pendorong kejahatan seperti perampokan dan penyerangan.
5. Afrika Selatan - 74,6
Dengan tingkat penyerangan, pembunuhan, dan kekerasan seksual yang tinggi, Afrika Selatan berada di peringkat kelima dunia. Angka-angka ini merupakan akibat dari ketimpangan yang meluas, pengangguran, dan normalisasi kekerasan
6. Honduras - 71,9
Honduras, dengan Indeks Kejahatan 71,9, telah lama berjuang melawan kekerasan geng dari berbagai kelompok. Negara ini juga berfungsi sebagai rute transit utama narkoba, sementara sistem penegakan hukum yang lemah telah mendorong dikeluarkannya imbauan perjalanan dari Departemen Luar Negeri AS.
7. Trinidad dan Tobago - 71,0
Negara Karibia ini melaporkan Indeks Kejahatan sebesar 71,0. Pengaruh geng, perdagangan narkoba, hambatan birokrasi, dan tekanan ekonomi menjadi tantangan bagi upaya pengurangan kejahatan. Pengunjung umumnya menghadapi risiko seperti pencopetan, penyerangan, dan penipuan. Negara ini juga memiliki imbauan perjalanan Level 3.
8. Suriah - 68,4
Perang saudara yang berkepanjangan di Suriah telah meningkatkan kejahatan terorganisir, terutama produksi dan perdagangan Captagon, amfetamin yang menguntungkan. Perdagangan manusia, penyelundupan senjata, pemerasan, dan barang palsu mengalir melintasi perbatasannya yang rentan. Wilayah-wilayah yang dikuasai milisi mengoperasikan jaringan kriminal yang kompleks.
9. Jamaika - 67,4
Jamaika berada di peringkat kesepuluh pada tahun 2020 di antara negara-negara dengan tingkat kejahatan tertinggi. Negara ini terus berjuang melawan korupsi pemerintah, kekerasan geng, dan meningkatnya tingkat kejahatan kekerasan, termasuk kekerasan seksual.
Menurut Dewan Penasihat Keamanan Luar Negeri AS, kepolisian Jamaika kekurangan staf dan sumber daya. Wisatawan sangat disarankan untuk menghindari Spanish Town dan beberapa area di Kingston dan Montego Bay.
10. Peru - 66,7
Peru merupakan salah satu produsen kokain terbesar di dunia. Kejahatan terorganisir merajalela di wilayah penghasil koka seperti VRAEM, tempat kelompok-kelompok penyelundup narkoba beroperasi secara intensif. Wilayah perkotaan, termasuk Lima, yang mencatat lebih dari 700 kasus pembunuhan pada tahun 2022, juga menghadapi kekerasan yang terkait dengan berbagai geng.