Bisnis.com, MAKASSAR - PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI) atau BRI tengah berusaha membangun rantai pasok pengembangan industri kakao di Sulawesi, melalui upaya perluasan akses modal bagi para petani hingga dukungan ekspor.
Perseroan belum lama ini menjalin kerja sama dengan Koperasi Karya Bersama di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng) dan PT Comextra Majora di Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan (Sulsel), sebuah perusahaan produsen dan eksportir komoditas perkebunan.
Manajer Bisnis Mikro BRI Cabang Poso, Rido M. Kumeang mengatakan kesepakatan kerja sama dengan Koperasi Karya Bersama berkaitan dengan upaya suntikan permodalan dari BRI ke koperasi tersebut.
Tujuan kerja sama ini adalah meningkatkan kapasitas koperasi melalui penyaluran pembiayaan dan pendampingan bisnis.
Langkah tersebut diharapkan bisa memperlebar akses para petani dalam mendapatkan modal untuk mengembangkan tanaman kakao hingga mendorong pertumbuhan ekonomi desa.
"Koperasi sebagai salah satu pilar ekonomi desa, memiliki peran penting dalam mengelola potensi sumber daya lokal melalui unit-unit usaha yang produktif dan menciptakan peluang usaha yang berkelanjutan," ucap Rido belum lama ini.
Sementara itu kerja sama dengan PT Comextra Majora dilakukan guna membentuk keberlanjutan rantai pasok pengembangan kakao agar memberi kepastian penjualan hasil tani tersebut.
Upaya ini juga sekaligus menekankan pentingnya memperkuat hubungan antara sektor jasa keuangan dan sektor riil melalui pola kemitraan terpadu yang sejalan dengan UU P2SK.
Kepala Kantor Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat Moch. Muchlasin mengungkapkan jika kakao merupakan salah satu komoditas unggulan Sulawesi yang diproyeksi akan menjadi daya ungkit perekonomian daerah.
Oleh sebab itu peran perbankan akan sangat vital dalam mendukung pengembangannya dari hulu hingga hilir.
Muchlasin menambahkan Indonesia merupakan produsen kakao terbesar ketiga di dunia dengan rata-rata produksi 642.000 ton tiap tahun.
Wilayah timur diketahui bisa menghasilkan sekitar 416.000 ton tiap tahun atau berkontribusi hingga 64,86% dari total produksi nasional. Daerah penghasil kakao paling subur terpusat di wilayah Sulawesi bagian selatan.
"Selama ini ekspor kakao di Sulawesi cukup tinggi. Kemudian wilayah seperti Sulsel dan Sulteng ini punya potensi pengembangan yang sangat besar ke depan. Artinya perlu ada dorongan dari perbankan untuk mengakselerasi komoditas unggulan ini," papar Muchlasin.