Bisnis.com, JAKARTA— PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) mengungkap alasan jumlah penyewa perusahaan mengalami penurunan saat unit menara bertambah.
Berdasarkan laporan keuangan, TBIG mengoperasikan 24.321 site telekomunikasi, yang terdiri dari 24.212 menara dan 109 jaringan Distributed Antenna System (DAS). Jumlah ini meningkat dibandingkan posisi akhir 2024 yang mencapai 23.892 site.
Sepanjang tahun lalu, TBIG menambah 797 site baru dan 483 kolokasi. Namun, ekspansi tersebut tidak diiringi dengan pertumbuhan penyewa. Total tenant pada akhir 2025 tercatat 41.892 penyewa, turun dari 42.722 pada 2024. Alhasil, rasio kolokasi (tenancy ratio) ikut melemah ke level 1,73.
Chief Financial Officer (CFO) TBIG Helmy Yusman Santoso mengatakan penurunan tersebut tidak lepas dari penggabungan antara XL Axiata dan Smartfren pada Maret 2025, yang membentuk XLSmart. Dia menjelaskan terdapat sejumlah kontrak sewa yang tidak diperpanjang saat masa berlakunya berakhir.
“Sehingga menyebabkan penurunan jumlah penyewaan bersih pada tahun 2025,” kata Helmy kepada Bisnis pada Senin (6/4/2024).
Namun, perseroan optimistis jumlah penyewa akan meningkat seiring perkembangan teknologi 5G ke depan. Helmy menuturkan teknologi 5G akan membutuhkan lebih banyak titik lokasi site menara baru, sehingga berpotensi mendorong tambahan penyewaan.
“Dengan adanya FTTH [Fiber to the Home] dan FWA [Fixed Wireless Access] maka kami harapkan juga akan menambahkan penyewaan pada menara-menara kami,” imbuhnya.
Dari sisi keuangan, kinerja TBIG masih ditopang oleh bisnis inti penyewaan menara. Kontributor utama pendapatan berasal dari operator besar seperti PT Telekomunikasi Selular (Telkomsel), PT Indosat Tbk, PT XL Axiata Tbk, dan PT Smartfren Telecom Tbk.
Pendapatan relatif stabil seiring kontrak jangka panjang yang menjadi karakteristik bisnis menara. Selain itu, perusahaan juga mencatat perbaikan dalam pengelolaan beban.
Beban keuangan terkait liabilitas sewa turun signifikan menjadi Rp1,4 miliar pada 2025, dari Rp17,2 miliar pada tahun sebelumnya. Hal ini mencerminkan efisiensi yang semakin baik dalam pengelolaan kewajiban operasional.
Di sisi lain, tantangan tetap membayangi. TBIG masih menghadapi beban utang obligasi yang cukup besar, mencapai Rp20,8 triliun pada 2025. Beban bunga dari utang ini menuntut arus kas operasional yang kuat agar tetap berkelanjutan.
Secara strategis, TBIG masih berada di jalur yang solid. Infrastruktur menara yang mendominasi sekitar 70% total aset memberikan fondasi pendapatan yang stabil.