Bisnis.com, JAKARTA — Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan nilai tukar petani (NTP) turun 1,40% secara bulanan (month-to-month/mtm) menjadi 123,60 pada Januari 2026. Dari sana, NTP terdalam terjadi pada subsektor tanaman hortikultura (NTPH).
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono mengatakan penurunan NTP pada Januari 2026 terjadi lantaran indeks harga yang diterima petani (It) yang turun sebesar 1,85% menjadi 155,02. Adapun, komoditas penyumbang It antara lain cabai rawit, bawang merah, cabai merah, dan gabah.
“… lebih tajam turunnya jika dibandingkan dengan indeks harga yang dibayar petani [Ib], yaitu turun 0,45% [menjadi 125,42],” kata Ateng dalam Rilis Berita Resmi BPS, Senin (2/2/2026).
Adapun, komoditas yang dominan mempengaruhi penurunan Ib nasional adalah cabai merah, cabai rawit, bawang merah, dan bensin.
Sebagai informasi, jika NTP naik, maka harga hasil panen petani naik lebih cepat daripada harga barang-barang yang mereka beli.
NTP sendiri merupakan indikator yang mengukur kemampuan daya beli petani di pedesaan, menunjukkan seberapa baik mereka bisa bertukar produk pertanian dengan barang dan jasa yang dibutuhkan.
Dalam hal ini, NTP dihitung dengan membandingkan indeks harga yang diterima petani (It) dengan indeks harga yang dibayar petani (Ib).
Jika dicermati secara subsektor, BPS mencatat subsektor tanaman hortikultura (NTPH) mengalami penurunan NTP terdalam adalah dari 138,70 pada Desember 2025 menjadi 119,62 pada Januari 2026.
“Subsektor hortikultura mengalami penurunan sebesar 13,76%. Hal ini karena It turun sebesar 14,08%, sedangkan Ib naik mengalami penurunan sebesar 0,37%,” terangnya.
Lebih lanjut, komoditas yang dominan memengaruhi penurunan It pada subsektor tanaman hortikultura adalah cabai rawit, bawang merah, cabai merah, dan wortel.
Di sisi lain, nilai tukar nelayan (NTN) justru mengalami kenaikan sebesar 2,51% pada Januari 2025. Hal ini karena It mengalami peningkatan 2,24%, sedangkan Ib turun 0,26%.
“Komoditas yang dominan mempengaruhi peningkatan harga It pada subsektor nelayan adalah cakalang, layang, tongkol, kembung, dan cumi-cumi,” tutupnya.