Bisnis.com, JAKARTA — Puasa intermiten yang sedang jadi tren diet di seluruh dunia ternyata tidak sepenuhnya bisa memberikan hasil yang baik pada tubuh.
Studi terbaru mengungkapkan bahwa melewatkan sarapan dapat menyebabkan kerusakan kesehatan yang bahkan tidak dapat dipulihkan.
Ide melewatkan sarapan sering disebut-sebut sebagai kiat diet hemat waktu, terutama dalam konteks Puasa Intermiten. Namun, penelitian baru tampaknya menunjukkan arah yang berlawanan.
Faktanya, penelitian terbaru menimbulkan pertanyaan serius tentang apakah melewatkan makan pertama ini dapat menimbulkan risiko kesehatan, terutama untuk perkembangan Sindrom Metabolik.
Kelompok kondisi ini termasuk penderita tekanan darah tinggi, gula darah tidak teratur, lemak pinggang berlebih, dan kadar kolesterol abnormal, yang dapat secara signifikan meningkatkan risiko penyakit jantung dan diabetes tipe 2.
Menurut penelitian terbaru, kebiasaan melewatkan sarapan atas nama puasa intermiten (IF) dapat berdampak serius pada kesehatan Anda.
Sebuah tinjauan sistematis baru dengan meta-analisis, yang diterbitkan dalam jurnal Nutrients, mengaitkan melewatkan sarapan secara teratur dengan risiko Sindrom Metabolik yang lebih tinggi.
Sindrom metabolik adalah sekumpulan kondisi yang meliputi tekanan darah tinggi, gula darah tinggi, lemak perut berlebih, dan kadar kolesterol atau trigliserida abnormal, yang jika digabungkan meningkatkan risiko penyakit jantung, stroke, dan diabetes tipe 2.
Secara keseluruhan, kondisi-kondisi ini meningkatkan risiko kondisi serius seperti Diabetes Tipe 2 dan penyakit jantung.
Temuan studi ini khususnya relevan di beberapa belahan dunia, termasuk di Indonesia yang menjadi populasi tertinggi penyakit hipertensi dan diabetes.
Apa itu Puasa Intermiten?
Puasa intermiten telah menjadi metode yang sangat populer untuk menurunkan berat badan dan meningkatkan metabolisme, yang banyak dijadikan diet kunci oleh para influencer kesehatan, selebritas, dan pemimpin teknologi.
Puasa intermiten adalah praktik mengstur siklus makan antara periode makan dan puasa. Metode yang populer seperti 16:8, di mana Anda makan selama 8 jam, berpuasa selama 16 jam, atau pendekatan 5:2, di mana Anda makan seperti biasa selama lima hari, dan mengonsumsi kalori yang sangat terbatas pada sisa dua hari.
Singkatnya, puasa intermiten adalah makan dalam rentang waktu yang ditentukan, melewatkan waktu makan seperti sarapan, dan menurunkan berat badan sebagai hasilnya.
Temuan studi
Tinjauan ini mengevaluasi studi observasional yang mengikuti protokol internasional, mencakup sembilan studi dari berbagai negara (Korea, Jepang, Iran, Brasil, AS) yang mencakup sekitar 118.385 partisipan.
Hasil utama ketika membandingkan mereka yang melewatkan sarapan dengan mereka yang rutin sarapan adalah sebagai berikut:
- Risiko 10% lebih tinggi terkena Sindrom Metabolik.
- Risiko obesitas perut 17% lebih tinggi.
- Risiko tekanan darah tinggi 21% lebih tinggi.
- Risiko gangguan lipid darah 13% lebih tinggi.
- Risiko gula darah tinggi 26% lebih tinggi.
Bahkan setelah mengecualikan beberapa studi outlier, hasilnya tetap konsisten, yang menunjukkan bahwa hubungannya kuat.
Mengapa melewatkan sarapan adalah 'masalah besar'?
Mungkin ini terdengar seperti membesar-besarkan masalah kecil. Banyak dari kita, di suatu titik dalam hidup, pernah melewatkan makan karena berbagai alasan. Namun, mengapa melewatkan sarapan begitu penting?
Menurut studi dan wawasan para ahli, jeda antara makan malam dan sarapan bukanlah periode waktu yang singkat, dan tidak makan selama itu di pagi hari dapat mengganggu ritme sirkadian dan sensitivitas insulin tubuh, sehingga tubuh lebih sulit menangani gula secara efektif.
Selain itu, setelah melewatkan sarapan, seseorang mungkin mengonsumsi lebih banyak kalori atau memilih pilihan yang kurang sehat di kemudian hari, sehingga meningkatkan risiko.
Bukan hanya itu, perubahan hormonal, peningkatan aktivasi sistem saraf simpatik, yang dapat meningkatkan tekanan darah, dan perubahan metabolisme semuanya dapat berkontribusi pada peningkatan risiko potensi bahaya kesehatan.
Namun, studi ini membuat perbedaan yang jelas, bahwa risiko muncul akibat melewatkan sarapan tanpa struktur, melewatkan sarapan hanya karena sibuk atau tidak ingin, bukan akibat puasa yang terencana atau terstruktur, yang mungkin memiliki efek berbeda.
Siapa yang harus menghindari melewatkan sarapan?
Meskipun setiap orang harus mengupayakan makan sehat secara teratur, menurut penelitian, risikonya tampak lebih tinggi pada kelompok-kelompok tertentu, seperti berikut ini:
- Mereka yang memiliki risiko kondisi metabolik yang sudah meningkat, misalnya, orang dengan riwayat keluarga diabetes atau hipertensi
- Para pekerja muda yang sarapannya sering terlewat karena tekanan waktu atau rutinitas yang tidak teratur.
- Orang dengan kualitas pola makan yang buruk secara keseluruhan atau yang gaya hidupnya dipenuhi stres tinggi, kurang tidur, atau aktivitas fisik yang rendah.
- Oleh karena itu, menjadikan sarapan sebagai kebiasaan rutin sangatlah penting bagi kelompok-kelompok ini.
Oleh karena itu, untuk mencegah gangguan kesehatan, berikut langkah-langkah sederhana dan praktis yang dapat Anda lakukan:
1. Makan sarapan seimbang hampir setiap hari: sertakan protein (telur, yogurt, kacang-kacangan), biji-bijian utuh, buah, atau sayur.
2 Hindari melewatkan sarapan karena kebiasaan atau kemalasan. Jika Anda sengaja berpuasa lebih lama, lakukanlah dengan rencana dan sebaiknya dengan panduan.
3. Pantau gaya hidup Anda secara keseluruhan: tidur yang cukup, aktivitas fisik yang teratur, dan pola makan seimbang semuanya terkait dengan kesehatan metabolisme yang lebih baik.
4. Perhatikan waktu: makan segera setelah bangun tidur membantu menghindari periode puasa yang lama yang dapat mengganggu metabolisme.
5. Konsultasikan dengan penyedia layanan kesehatan profesional dan daftarkan diri untuk pemeriksaan kesehatan jika Anda sudah memiliki faktor risiko tekanan darah tinggi, riwayat diabetes dalam keluarga, dan sampaikan rutinitas makan Anda kepada dokter.