#30 tag 24jam
Kisah Jin Sakhr Merebut Takhta Nabi Sulaiman, hingga Kerajaannya Kembali pada 10 Muharram
Kisah ini tentang jin di zaman Nabi Sulaiman alaihissalam. Jin Sakhr namanya, bahkan jin ini sempat melakukan kudeta di Kerajaan Nabi Sulaiman Kisah ini tentang... | Halaman Lengkap [650] url asal
#peringatan-10-muharram #nabi-sulaiman #hari-asyura #peristiwa-hari-asyura #kisah-para-nabi
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 25/06/26 17:50
v/259875/
Kisah ini tentang jin di zaman Nabi Sulaiman alaihissalam. Jin Sakhr namanya, bahkan jin ini sempat melakukan kudeta di Kerajaan Nabi Sulaiman . Akibatnya, Nabi Sulaiman kehilangan tahtanya. Namun, pada 10 MuharramAllah mengembalikan kerajaan Nabi Sulaiman tersebut.Kisah ini disebutkan dalam beberapa literatur tafsir, tatkala memasuki pembahasan tentang apa yang dimaksud dengan fitnah (ujian) yang Allah SWT sebutkan dalam firman-Nya:
Artinya: “Sungguh Kami telah menguji Sulaiman dan kami letakkan sebuah jasad di atas singgasananya. Kemudian dia bertaubat”. ( QS Shad/38 :34)
Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi dalam kitabnya An-Nafahat Al-Makkiyah menafsirkan ayat ini sbb:
(Dan sesungguhnya Kami telah menguji Sulaiman) Kami telah mencobanya dengan suatu ujian, yaitu kerajaannya dirampas oleh orang lain. Demikian itu, karena ia pernah menikahi seorang perempuan yang ia sukai, hanya perempuan itu termasuk orang yang menyembah berhala, tanpa sepengetahuan Nabi Sulaiman.
Dan tersebutlah bahwa kebesarannya itu terletak pada cincinnya kemudian pada suatu hari ketika ia bermaksud untuk pergi ke kamar mandi, ia melepaskan cincinnya itu. Lalu ia menitipkannya kepada salah seorang dari istrinya yang bernama Aminah, sebagaimana biasanya.
Setelah ia pergi tiba-tiba datanglah makhluk jin yang menyerupai Nabi Sulaiman, kemudian jin itu mengambil cincin itu dari Aminah dan langsung memakainya (dan Kami dudukkan pada singgasananya sesosok jasad) yaitu jin tersebut, yang bernama Shakhr atau jin lainnya, kemudian jin itu menduduki singgasana Nabi Sulaiman.
Ketika itu juga ia dikelilingi burung-burung dan lain-lainnya. Lalu muncullah Nabi Sulaiman dalam bentuk yang tidak seperti biasanya, yakni tanpa pakaian kebesaran, ia melihat bahwa di singgasananya telah duduk seseorang.
Kemudian ia berkata kepada orang-orang yang ada di situ, "Aku adalah Sulaiman."
Akan tetapi orang-orang mengingkarinya (kemudian ia kembali) yakni kembali dapat merebut kebesarannya setelah selang beberapa hari; yaitu setelah ia berhasil merebut cincin kebesarannya, lalu memakainya dan duduk di atas singgasananya kembali.
Dikisahkan, ketika Nabi Sulaiman memerangi raja kafir, beliau menikahi anak perempuan raja kafir tersebut. Karena istrinya selalu rindu kepada ayahnya, istrinya memohon kepada Nabi Sulaiman untuk dibuatkan patung yang menyerupai ayahnya.
Lambat waktu ternyata istri Nabi Sulaiman ini, menyembah patung ayahnya, di luar pengetahuan Nabi Sulaiman. Karena menyembah patung itu, istrinya kemudian diikuti oleh setan.
Suatu ketika pada saat Nabi Sulaiman wudlu, Nabi Sulaiman memiliki cincin sakti yang tidak boleh dibawa ke kamar mandi, sehingga dititipkan kepada istrinya. Ternyata itu bukan istrinya melainkan setan yang menyamar sebagai istri Nabi Sulaiman.
Oleh karena jimat Nabi Sulaiman adalah cincin, maka hilang sebagian kekuatannya.
Ujian Nabi Sulaiman
Perihal kisah ini dikaitkan dengan firman Allah SWT dalam Al-Quran Surat Shad ayat 34 tersebut. Kendati demikian, para ulama tafsir berbeda-beda dalam menafsirkan ayat tersebut.Paling menonjol dan mengundang perbedaan adalah perihal kisah jimat Nabi Sulaiman as. Dalam kisah itu disebutkan bahwa setelah jin sukses mencuri jimat Nabi Sulaiman, maka jin menggagahi semua istri sang nabi selama 40 hari.
Tafsir sejenis, selain yang ditafsirkan Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi, adalah:
Konon Nabi Sulaiman as menikahi seorang wanita yang sangat beliau cintai, namanya Jaradah. Hanya saja ia menyembah berhala di rumah Nabi Sulaiman, tanpa sepengetahuan beliau.
Dikisahkan bahwa kekuatan Nabi Sulaiman, baik yang berkenaan dengan kerajaan maupun kenabian beliau, terletak pada cincin yang ia pakai.
Pada suatu hari ketika hendak memasuki kamar kecil, beliau menitipkan cincinnya kepada salah seorang istrinya, Aminah. Sebelum beliau menyelesaikan hajatnya, datanglah setan yang menyamar dalam bentuk Nabi Sulaiman dan mengambil cincin tersebut lalu menduduki singgasana Nabi Sulaiman. Akibatnya, Nabi Sulaiman kehilangan kekuatannya, dan berubah bentuk, kemudian terusir dari kerajaannya.
Ath-Thabari menyebutkan bahwa nama setan (jin) tersebut adalah Sakhr, demikianlah menurut Ibnu Abbas dan Qatadah. Menurut pendapat lain nama setan itu adalah Asif, kata Mujahid. Menurut pendapat yang lainnya lagi adalah Asruwa, yang juga kata Mujahid. Sedangkan menurut As-Saddi, nama setan itu adalah Habyaq.
Si iblis berkuasa dan menguasai para istri Nabi Sulaiman, sampai pada masa haidh mereka. Hingga akhirnya Nabi Sulaiman menemukan cincinnya kembali, dalam perut seekor ikan yang dia dapatkan dari seorang nelayan tempat beliau bekerja, dst”.
Kisah Bulan Muharram : Nabi Yunus AS 40 Hari di Perut Ikan, dan Pelajaran tentang Kesabaran
Kisah para nabi yang terjadi di bulan Muharram, salah satunya yang dialami Nabi Yunus Alaihisallam. Nabi Yunus as digambarkan sebagai nabi yang pemarah. Beliau... | Halaman Lengkap [1,019] url asal
#nabi-yunus #muharram #peringatan-10-muharram #kisah-nabi-yunus #kisah-para-nabi
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 23/06/26 17:05
v/257583/
Kisah para nabi yang terjadi di bulan Muharram, salah satunya yang dialami Nabi Yunus Alaihisallam. Nabi Yunus as digambarkan sebagai nabi yang pemarah. Beliau akhirnya dihukum Allah dalam perut ikan. Allah SWT kemudian mengampuninya dan mengeluarkan Yunus dari perut ikan laksana seorang bayi.Hal ini terjadi pada 10 Muharram. Nabi Yunus sempat menginap dalam perut ikan selama 40 hari. Sebelum mendapatkan 'teguran' dari Allah SWT, Nabi Yunus asmeninggalkan kaumnya dalam keadaan marah. Ia menunjukkan bahwa dirinya tak mampu bersabar atas sikap umatnya yang suka membangkang.
Yunus bahkan berencana mengakhiri hidupnya dengan menyeburkan diri ke dalam laut. Ketidaksabaran Nabi Yunus dalam berdakwah ini disampaikan oleh Allah kepada Nabi Muhammad SAW sebagaimana termaktub dalam surat Al-Qalam ayat 48-50.
"Maka, bersabarlah kamu (hai Muhammad) terhadap ketetapan Tuhanmu dan janganlah kamu seperti orang yang berada dalam (perut) ikan ketika ia berdosa dan sedang dalam keadaan marah (kepada kaumnya). Kalau sekiranya ia tidak segera mendapat nikmat dari Tuhannya, benar-benar ia dicampakkan ke tanah tandus dalam keadaan tercela. Lalu, Tuhannya memilihnya dan menjadikannya termasuk orang-orang yang saleh. ( QS Al-Qalam : 48-50)
Melalui kisah Nabi Yunus, Allah SWT mengajarkan manusia untuk senantiasa bersabar dan memohon ampun dan petunjuk kepada-Nya.
"Maka, kalau sekiranya dia (Yunus) tidak termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit." ( QS Al-Shaffat : 143-144).
Maksud dengan kalimat "orang-orang yang banyak mengingat Allah" dalam ayat tersebut adalah orang-orang yang banyak salat. Yunus adalah orang yang memperbanyak salat di waktu senang maka Allah SWT menyelamatkannya di waktu kesempitan (kesusahan). Nabi Yunus telah melakukannya dengan meratapi segala kesalahannya dan memohon ampun dari perbuatannya itu.
Kisah Nabi Yunus
Al-Tabari dalam bukunya berjudul "Tarikh al-Rusul wa al-Muluk" menceritakan kisah Nabi Yunus AS disampaikan Ibnu Mas’ud sebagai berikut:Yunus telah memperingatkan umatnya dengan azab, dan mengatakan kepada mereka bahwa itu akan menimpa mereka dalam tiga hari.
Mereka memisahkan setiap ibu dari anak-anaknya, dan kemudian pergi. Orang-orang datang kepada Allah dan meminta pengampunan-Nya, agar Allah membatalkan azab kepada mereka.
Yunus pergi lebih awal menantikan azab (kepada umatnya) tetapi tidak menyaksikan apa pun. Seorang pembohong tanpa bukti yang jelas biasanya dihukum mati (pada masa itu).
Karena itu Yunus pergi dengan marah, “Maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap.” ( QS al-Anbiya [21] : 87). Ayat ini mengacu pada kegelapan perut ikan paus, kegelapan malam, dan kegelapan laut.
Sedangkan Abu Hurairah meriwayatkan, bahwa Nabi SAW bersabda: Ketika Allah menginginkan Yunus ditahan di perut ikan paus, Allah memerintahkan (awha) ikan paus, “Bawa dia, tapi jangan melukai tubuhnya dan jangan mematahkan tulangnya.”
Paus membawa Yunus dan menyelam ke tempat tinggalnya di laut. Saat sampai di dasar laut, Yunus mendengar suara. Dia berkata pada dirinya sendiri, “Apa itu?”
Kemudian saat Yunus berada di dalam perut ikan paus, Allah berfirman kepadanya, “Ini adalah hewan-hewan laut yang memuliakan Allah.”
Kemudian Yunus, di dalam perut ikan paus, memuliakan Allah. Para malaikat mendengar puji-pujiannya kepada Allah, dan berseru, “Ya Allah, kami mendengar suara samar di negeri asing.”
Allah berfirman, “Itu adalah (suara) hamba-Ku, Yunus. Dia tidak menaati Aku, maka Aku menahannya di perut ikan paus di laut.”
Mereka berseru, “Hamba saleh yang setiap siang dan malam melaksanakan perbuatan saleh kepada-Mu?”
Allah menjawab, “Ya.”
Mendengar ini, mereka menengahi Yunus. Paus kemudian diperintahkan untuk memuntahkannya ke pantai.
Seperti yang Allah katakan, “Sedang dia dalam keadaan sakit.” (QS as-Saffat : 145)
Sakitnya, yang digambarkan dalam Al-Qur'an, bagaikan bayi yang baru lahir. Ketika paus memuntahkannya ke pantai, tubuh dan tulangnya telanjang.
Ibnu Abbas juga meriwayatkan: "Berangkat ia pergi, yaitu ikan paus (bersama Yunus), sampai ia mengeluarkan Yunus di pantai, dan memuntahkannya ke atas seolah-olah dia adalah anak yang baru lahir yang terawetkan sepenuhnya."
Selanjutnya, Ibnu Ishaq dalam Sirat Rasul Allah menambahkan riwayat dari Abu Hurairah yang mengatakan: Dia dikeluarkan dalam keadaan telanjang, dan Allah menjadikan tumbuhan penutup (yaqtinah) untuk tumbuh di atasnya.
Kami berkata, “Wahai Abu Hurairah, apa tumbuhan penutup itu?”
Dia menjawab, “Pohon labu.”
Allah menyiapkan untuknya rusa betina dan hewan lain yang memakan rumput di bumi atau rerumputan yang lembut. Mereka akan berkeliaran di sekitarnya dan memuaskan dahaganya dengan susu mereka setiap sore dan pagi sampai dia tumbuh.
Hadis ini disampaikan oleh Ibnu Ishaq dengan latar belakang setelah 10 tahun turunnya wahyu pertama. Waktu itu Nabi Muhammad SAW pergi ke kota Taif untuk mencari tahu apakah para pemimpin kota itu dapat mengizinkannya untuk berdakwah, ketimbang orang-orang di Makkah.
Namun sesampainya di sana beliau malah diusir oleh orang-orang kota tersebut. Setelahnya beliau kemudian berteduh di kebun milik Utbah dan Syaibah, dua orang anggota suku Quraisy. Mereka kemudian memerintahkan budak mereka, Addas, untuk menyajikan anggur kepadanya sebagai makanan.
Ibnu Ishaq meriwayatkan: Ketika Utbah dan Syaibah melihat apa yang terjadi, mereka tergerak dengan belas kasihan dan memanggil seorang budak Kristen muda yang bernama Addas dan menyuruhnya untuk mengambil seikat buah anggur di atas piring dan memberikannya kepada beliau untuk dimakan.
Addas melakukannya, dan ketika Rasulullah meletakkan tangannya di piring beliau berkata, “Bismillah,” sebelum makan.
Addas melihat lebih dekat ke wajahnya dan berkata, “Demi Allah, ini bukan cara penduduk negeri ini berbicara.”
Rasulullah lalu bertanya, “Lalu engkau dari negeri mana, wahai Addas? Dan apa agamamu?”
Dia menjawab bahwa dia adalah seorang Kristen dan berasal dari Niniwe.
“Dari kota orang yang saleh, Yunus bin Mattal,” kata Rasulullah.
“Tapi, bagaimana engkau dapat tahu tentangnya?” tanya Addas.
“Dia adalah saudaraku, dia adalah seorang nabi dan aku juga seorang nabi,” jawab Rasulullah.
Addas menunduk kepadanya dan mencium kepala, tangan, dan kakinya.
Kedua bersaudara itu melihat dan salah satunya berkata kepada yang lainnya, “Dia sudah mencemari budakmu!”
Dan ketika Addas kembali, mereka berkata kepadanya, “Dasar bajingan, mengapa engkau mencium kepala, tangan, dan kaki orang itu?”
Dia menjawab bahwa dia adalah orang terbaik di negeri ini yang telah memberitahunya hal-hal yang hanya bisa diketahui oleh seorang nabi.
Mereka menjawab, “Dasar bajingan, jangan biarkan dia merayumu dari agamamu, karena itu (agama Kristen) lebih baik dari agamanya.”
Dalam hadis lainnya, Ibnu Katsir dalam Qisas Al-Anbiya meriwayatkan, bahwa Nabi bersabda, “Tidak sepatutnya seorang hamba berkata aku lebih baik dari Yunus bin Matta.” (HR Bukhari )
Peristiwa di Bulan Muharram : Di Hari Asyura, Nabi Idris AS Diangkat ke Langit
Peristiwa atau kisah para nabi yang diyakini terjadi di bulan Muharram, adalah kisah Nabi Idris alaihissalam. Tepatnya pada 10 Muharram atau Hari Asyura , diyakini... | Halaman Lengkap [1,371] url asal
#kisah-kisah-dalam-alquran #bulan-muharram #hari-asyura #peristiwa-hari-asyura #kisah-para-nabi
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 18/06/26 17:45
v/253655/
Peristiwa atau kisah para nabiyang diyakini terjadi di bulan Muharram, adalah kisah Nabi Idris alaihissalam. Tepatnya pada 10 Muharram atau Hari Asyura, diyakini sebagai hari Allah SWT mengangkat Nabi Idris ASke langit.Dalam Al Quran Allah SWT berfirman,
“Dan ceritakanlah (Muhammad) kisah Idris di dalam Kitab (Al-Qur'an). Sesungguhnya dia seorang yang sangat mencintai kebenaran dan seorang nabi, dan Kami telah mengangkatnya ke tempat (martabat) yang tinggi.” ( QS Maryam : 56-57 ).
Ibnu Katsir dalam kitabnya berjudul Qashash Al-Anbiya menjelaskan mengenai firman Allah, “Dan Kami telah mengangkatnya ke tempat (martabat) yang tinggi,” kemungkinan besar maksud dari “tempat” itu seperti dijelaskan dalam hadis Isra Mikraj yang disebutkan dalam Kitab Shahihain, yaitu bahwasanya Rasulullah bertemu dengan Nabi Idris ketika beliau berada di langit keempat (lapisan keempat dari tujuh lapis langit). (HR Bukhari dan Muslim).
Ibnu Jarir meriwayatkan, dari Yunus bin Abdil A'la, dari Ibnu Wahab, dari Jarir bin Hazim, dari Al A'masy, dari Syimr bin Athiyah, dari Hilal bin Yasaf, ia berkata, "Aku pernah mendengar Ibnu Abbas bertanya kepada Kaab, 'Apa maksud dari firman Allah, “Dan Kami telah mengangkatnya ke tempat (martabat) yang tinggi?"
Kaab menjawab, "Ketika itu Nabi Idris diberikan wahyu oleh Allah, “Sesungguhnya Aku akan mengangkat amalanmu pada setiap hari seperti amalan anak Adam lainnya”
Maka Idris pun berkeinginan untuk menambah amalannya sebelum berakhir masa hidupnya. Lalu ia datang kepada salah satu malaikat yang ditugaskan untuk menemaninya di dunia dan berkata, “Sesungguhnya Allah mewahyukan kepadaku begini begini, begini, maka dari itu berbicaralah kamu kepada malaikat maut untuk mengakhirkan ajalku agar aku dapat menambah amalanku.”
Maka malaikat itu menaikkan Nabi Idris ke atas tubuhnya (di antara dua sayap) lalu membawanya ke atas langit (untuk dipertemukan langsung dengan malaikat maut). Ketika mereka berada di langit keempat, tak disangka ternyata mereka bertemu dengan malaikat maut di sana.
Maka malaikat yang membawa Nabi Idris pun menyampaikan kepada malaikat maut tentang permintaan Nabi Idris. Lalu malaikat maut bertanya, “Di manakah Nabi Idris sekarang?”
Malaikat itu menjawab, “Dia sekarang berada di atas punggungku.”
Malaikat maut berkata, "Sungguh luar biasa! Aku baru saja diperintahkan oleh Allah untuk mencabut nyawa Nabi Idris di langit keempat, namun tentu aku bertanya-tanya, mengapa aku diperintahkan untuk mencabut nyawanya di langit keempat sedangkan ia tinggal di muka bumi.”
Maka setelah itu malaikat maut pun mencabut nyawa Nabi Idris di sana. Itulah yang dimaksud dengan firman Allah, “Dan Kami telah mengangkatnya ke tempat (martabat) yang tinggi.”
Ketika menafsirkan ayat tersebut, Ibnu Abi Hatim juga meriwayatkan kisah yang hampir sama dengan beberapa tambahan, yaitu Nabi Idris berkata kepada malaikat tersebut, “Tanyakanlah kepada malaikat maut berapa sisa dari umurku?”
Lalu malaikat itu bertanya kepada malaikat maut dengan membawa serta Nabi Idris: “Berapa lama lagi sisa umur Idris?”
Malaikat maut menjawab, “Aku tidak tahu sebelum aku memeriksanya.”
Lalu malaikat maut pun memeriksa sisa usia Nabi Idris, kemudian ia berkata, “Anda bertanya kepadaku tentang seseorang yang usianya hanya tersisa sedikit sekali.”
Lalu malaikat itu menoleh ke sayapnya di mana Nabi Idris berada saat itu, namun ternyata Nabi Idris telah dicabut nyawanya tanpa terasa olehnya.
Ibnu Katsir mengatakan ini adalah salah satu riwayat israiliyat (palsu), dan di dalamnya juga terdapat kalimat yang tidak dikenali pada riwayat lain.
Ibnu Abi Najih juga meriwayatkan, dari Mujahid, mengenai firman Allah, “Dan Kami telah mengangkatnya ke tempat (martabat) yang tinggi.” Ia berkata, "Ketika diangkat ke atas langit Nabi Idris tidak dalam keadaan meninggal dunia, sebagaimana ketika diangkatnya Nabi Isa Alaihissalam?”
Apabila maksud dari riwayat ini bahwa Nabi Idris belum meninggal dunia sampai sekarang, maka tentu hal itu harus diperdebatkan. Namun jika maksudnya adalah ia diangkat ke atas langit selagi masih hidup kemudian nyawanya dicabut di sana, maka hal itu sama seperti riwayat dari Kaab Al Ahbar sebelumnya. Wallahu a'lam.
Al Aufi juga meriwayatkan, dari Ibnu Abbas, mengenai firman Allah, “Dan Kami telah mengangkatnya ke tempat (martabat) yang tinggi,” ia berkata,” Nabi Idris diangkat ke langit keenam, lalu ia meninggal dunia di sana.”
Riwayat ini juga disebutkan oleh Adh Dhahhak. Namun hadis Muttafaq Alaih (yakni hadis yang disebutkan oleh Bukhari dan Muslim) yang menyatakan bahwa ia berada di langit keempat adalah riwayat yang paling benar. Dan riwayat ini juga menjadi pilihan Mujahid dan sejumlah ulama lainnya.
Hasan Basri mengatakan, ”Yang dimaksud dengan kata tinggi pada firman Allah, “Dan Kami telah mengangkatnya ke tempat (martabat) yang tinggi,” adalah surga.
Beberapa ulama Ahli Kitab menyatakan bahwa diangkatnya Nabi Idris ke atas langit adalah ketika ayahnya, Yared bin Mahlaeel masih hidup. Wallahu a'lam. Menurut Ibnu Katsir, sebagian mereka menduga bahwa Idris itu hidup di zaman Bani Israil, bukan sebelum Nabi Nuh.
Pelesir ke Neraka dan ke Surga
Syaikh Muhammad bin Ahmad bin Iyas (1448-1522) dalam bukunya yang diterjemahkan Abdul Halim dengan judul “Kisah Penciptaan dan Tokoh-tokoh Sepanjang Zaman” menyebutkan bahwa Malaikat Maut meminta izin kepada Allah untuk berziarah kepada Idris.Dia diizinkan, lalu datang kepada Idris dalam rupa seorang laki-laki. Idris bertanya kepadanya, “Hai laki-laki, siapa engkau?”
Laki-laki itu menjawab, “Aku adalah Malaikat Maut; aku telah meminta izin kepada Tuhanku untuk berziarah kepadamu, maka berikanlah aku izin untuk itu!”
Idris berkata kepadanya, “Sesungguhnya aku mempunyai satu keperluan kepadamu.”
“Apa keperluanmu itu?” tanya Malaikat Maut.
Idris menjawab, “Cabutlah nyawaku saat ini!”
“Sesungguhnya Tuhanku belum mengizinkanku untuk melakukan itu,” ujar Malaikat Maut.
Pada waktu itu, Allah mewahyukan kepada Malaikat Maut, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang ada dalam benak hamba-Ku; cabutlah rohnya!”
Karena telah mendapatkan izin, maka pada waktu itu juga dia mencabut ruhnya. Akan tetapi, kemudian Allah menghidupkannya lagi ketika itu juga. Idris berkata, “Hai Malaikat Maut, aku masih punya permintaan yang lain.”
“Apa itu?” tanya Malaikat Maut.
Idris berkata, “Bawalah aku ke neraka jahanam agar aku bisa melihat kengeriannya!”
Allah mengizinkan Malaikat Maut untuk melakukan perjalanan itu. Maka, dibawalah Nabi Idris oleh Malaikat Maut datang ke malaikat penjaga neraka.
Allah memerintahkan kepada malaikat penjaga neraka, “Letakkanlah hamba-Ku di pinggir jahanam agar dia bisa melihat apa yang terdapat di dalamnya.”
Setelah Nabi Idris berada di sana dan melihat isi jahannam, dia pingsan karena melihat kengeriannya. Lalu Malaikat Maut menghampirinya dan membawanya lagi ke tempat asalnya.
Semenjak melakukan perjalanan ke neraka jahanam Nabi Idris tidak memakai cela di matanya menjelang tidur. Tidak bersenang-senang dengan makanan yang enak-enak dan minuman yang lezat. Dan tidak memiliki tempat tinggal yang tetap karena kengerian yang pernah dia lihat.
Nabi Idris mencurahkan diri beribadah kepada Allah dan menikah dengan seorang wanita yang kemudian mengandung anak laki-laki. Setelah anak itu terlahir, dia diberi nama Matusyilakh dan cahaya yang ada di kening Nabi Idris pindah ke kening anaknya.
Setelah anak itu besar dia diberi wasiat oleh Nabi Idris; diserahi suhuf, tali, dan tabut; dan dia diwasiati agar membaca suhuf (wahyu Allah) dan selalu mendirikan salat.
Nabi Idris berkata kepadanya, “Hai anakku, aku akan naik ke langit. Aku tidak tahu apakah akan kembali atau tidak. Maka, terimalah dariku apa yang akan kuwasiatkan kepadamu.”
Kemudian Nabi Idris masuk ke mihrabnya dan meminta kepada Allah agar diperlihatkan surga seperti Dia telah memperlihatkan neraka.
Atas permintaan Idris tersebut, Allah memerintahkan kepada Malaikat Ridwan, malaikat penjaga surga, untuk menurunkan sebuah tangkai dari surga. Maka, Ridwan menurunkan tangkai dari pohon Thuba. Kemudian Nabi Idris berpegangan ke tangkai itu dan naik ke langit. Lalu Malaikat Ridwan memasukkannya ke dalam surga.
Nabi Idris melihat nikmat-nikmat yang ada di sana. Setelah cukup lama berada di dalam surga, Malaikat Ridwan berkata kepadanya, “Silakan keluar! Engkau telah melihat surga dan isinya.”
Nabi Idris berkata, “Aku tidak akan keluar. Allah berfirman: Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati ( QS Ali ‘Imran [3] : 185, QS Al-Anbiyaa’ [21] : 35, QS Al-‘Ankabuut [29] : 57), dan aku telah merasakannya.
Dia pun berfirman: Dan tidak ada seorang pun darimu, melainkan mendatangi neraka itu ( QS Maryam [19] : 71), dan aku pernah mendatanginya.
Dan Dia juga berfirman: Dan mereka sekali-kali tidak akan dikeluarkan darinya (surga) ( QS Al-Hijr [15] : 48), maka aku tidak akan keluar dari surga.”
Maka, Allah mewahyukan kepada Ridwan, “Katakanlah kepada hamba-Ku, Idris, hendaklah dia jangan keluar dari surga untuk selama-lamanya.”
Wahab bin Munabbih mengatakan, Nabi Idris telah naik ke langit ketika dia berumur 365 tahun. Ibnu al-Jauzi mengatakan bahwa Nabi Idris dan Nabi Isa bin Maryam hidup di langit. Terkadang Nabi Idris berada di langit keempat untuk beribadah kepada Allah di langit dan terkadang bersenang-senang di surga.
Peristiwa di Bulan Muharram : Bahtera Nabi Nuh AS Berlabuh setelah 150 Tahun Terombang-ambing Banjir
Di bulan Muharram banyak peristiwa penting terjadi terutama yang dialami para nabi Allah SWT, salah satunya peristiwa yang terjadi pada Nabi Nuh Alaihissalam. Di... | Halaman Lengkap [1,278] url asal
#kisah-kisah-dalam-alquran #muharram #bulan-muharram #keutamaan-bulan-muharram #kisah-para-nabi
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 17/06/26 13:33
v/252048/
Di bulan Muharrambanyak peristiwa penting terjadi terutama yang dialami para nabi Allah SWT, salah satunya peristiwa yang terjadi pada Nabi Nuh Alaihissalam.Dikisahkan, bahwa tepat di tanggal 10 Muharram, bahtera Nabi Nuhberlabuh. Pada saat itu air menggenangi bumi selama 150 tahun. Air turun dari langit berwarna kuning, dan keluar dari bumi berwarna merah. Menurut al-Qur'an pada surat Hud ayat 44 tempat berlabuh bahtera Nuh itu adalaj di Gunung Joudi (ada yang menulis Judi, Judiy, dan Judd).
Dalam Tafsir Kementerian Agama dijelaskan setelah Allah membinasakan orang kafir, kemudian difirmankan oleh Allah, kepada bumi dan langit, "Wahai bumi yang telah memancarkan air dari sumbernya! Telanlah airmu hingga kering dan wahai langit! Berhentilah mencurahkan hujan."
Dan air pun disurutkan oleh Allah yang Mahakuasa, dan penetapan perintah Allah membinasakan orang-orang yang mendustakan dan menyelamatkan orang-orang yang beriman pun diselesaikan.
Kapal itu pun berlabuh di atas gunung Judi, yakni terletak di pegunungan Ararat (Turki), dan dikatakan, "Binasalah orang-orang zalim yang melampaui batas hukum Allah dan ingkar kepada-Nya, serta mendustakan Rasul-Nya."
Dr Maurice Bucaille dalam bukunya berjudul "Bibel, Quran, dan Sains Modern" menyebutkan tempat bahtera Nuh berhenti, menurut Bibel adalah di gunung Ararat (Kejadian 8, 4). "Sedangkan Quran menyebut Gunung Joudi," ujarnya.
Menurut Bucaille, Gunung Joudi ini adalah puncak tertinggi dari gunung-gunung Ararat di Armenia. Tetapi R Blachere berpendapat tak dapat dijamin bahwa tak ada perubahan-perubahan nama untuk menyesuaikan antara kedua riwayat. Menurut dia, banyak nama Joudi di Arabia, jadi persamaan nama mungkin buat-buatan.
Bucaille mengatakan secara definitif, terdapat perbedaan antara riwayat Quran dan riwayat Bibel. Perbedaan-perbedaan itu ada yang tak dapat diselidiki secara ilmiah karena tak ada data-data positif.
"Tetapi jika kita harus menyelidiki riwayat Bibel dengan perantaraan data-data yang jelas, kita dapat menyatakan bahwa dalam meriwayatkan Banjir dalam waktu dan tempat riwayat Bibel sudah terang tidak sesuai dengan hasil-hasil penyelidikan pengetahuan modern. Sebaliknya, riwayat Quran bersih dari segala unsur yang menimbulkan kritik objektif," katanya.
Antara waktu riwayat Bibel dengan waktu riwayat Quran apakah manusia sudah memperoleh informasi yang memberi penerangan tentang kejadian banjir itu?
Jawaban atas pertanyaan itu adalah "Tidak," kata Bucaille. Karena antara waktu Perjanjian Lama dan Quran, satu-satunya dokumentasi yang dimiliki manusia, tentang sejarah kuno adalah Bibel.
Jika faktor manusia tidak dapat menerangkan perubahan dalam riwayat, yakni perubahan yang sesuai dengan pengetahuan modern, maka kita harus menerima penjelasan lain, yaitu: Faktor itu adalah wahyu yang datang kemudian sesudah wahyu yang ditulis dalam Bibel.
Kisah Selanjutnya
Ibnu Katsir dalam bukunya "Qashash Al-Anbiya" menambahkan, setelah Nuh mendarat di al-Judi dan melanjutkan hidupnya bersama orang-orang yang beriman, Al-Quran menutup tirai pada kisah selanjutnya. Tidak diketahui bagaimana urusan dia dengan para pengikutnya berlanjut. "Yang diketahui atau dapat dipastikan adalah, bahwa pada saat kematiannya, dia meminta putranya untuk menyembah hanya kepada Allah saja, Nuh kemudian meninggal," ujar Ibnu Katsir.Ath-Thabari mengutip firman Allah SWT dalam Al-Quran surat As-Saffat ayat 77: "Dan Kami jadikan anak cucunya (Nuh) orang-orang yang melanjutkan keturunan."
Ulama pada masa awal Islam, Ibnu Abbas, pun mengatakan hal yang serupa ketika menjelaskan tentang surat As-Saffat ayat 77. Ibnu Abbas berkata, “Hanya keturunan dari Nuh yang tersisa.”
Namun demikian, tidak semua tafsir berkata demikian, Quraish Shihab mengatakan, bahwa ada juga tafsir yang memiliki pendapat bahwa banjir bah pada masa Nuh tidak melanda seluruh bumi, sehingga memungkinkan adanya manusia lain.
Pasca Banjir
Sementara itu, Qatadah bin an-Numan meriwayatkan peristiwa selanjutnya setelah bahtera tiba di al-Judi. Qatadah berkisah, ketika Nuh turun dari bahtera pada hari ke-10 al-Muharram, dia berkata kepada mereka yang bersamanya: "Bagi kalian yang telah berpuasa harus menyelesaikan puasanya, dan bagi kalian yang telah berbuka puasa harus berpuasa."Ibnu Katsir melanjutkan Nuh melepaskan burung-burung, dan mereka beterbangan menyebar ke muka bumi. Setelah itu orang-orang beriman turun. Nuh meletakkan dahinya ke tanah dalam sujud.
Para pengikut Nuh menyalakan api dan duduk di sekitarnya. Menyalakan api dilarang selama di atas kapal, agar tidak menyalakan kayu bahtera dan membakarnya.
"Tak satu pun dari mereka makan makanan panas sepanjang seluruh periode banjir. Setelah pendaratan, ada satu hari puasa sebagai tanda terima kasih kepada Allah,” tulis Ibnu Katsir.
Setelahnya, Nuh kemudian membagi wilayah bumi kepada putra-putranya, sebagaimana dikatakan oleh Amir bin Sharahil al-Sha'bi, bahwa ketika Nuh, keturunannya, dan semua yang ada di dalam bahtera turun ke bumi, dia membagi bumi kepada para putranya ke dalam tiga bagian.
Kepada Sem, dia memberikan bagian tengah bumi di mana Yerusalem, Sungai Nil, Sungai Efrat, Tigris, Sayhan, Jayhan (Gihon), dan Fayshan (Pison) berada. Itu memanjang dari Pison ke timur Sungai Nil, dan dari daerah dari mana angin selatan bertiup hingga ke daerah dari mana angin utara bertiup.
Kepada Ham, dia memberikan bagian (bumi) di sebelah barat Sungai Nil dan daerah-daerah yang melampaui wilayah tempat angin barat bertiup. Bagian yang dia berikan kepada Yafet terletak di Pison dan daerah-daerah yang melampaui tempat angin timur bertiup.
Wasiat Nabi Nuh
Abdullah bin Amr bin al-As meriwayatkan, bahwa Nabi Muhammad SAW berkata, ketika kematian Rasul Allah Nuh mendekat, dia memperingatkan para putranya: "Sungguh aku akan memberimu nasihat yang jauh jangkauannya, memerintahkan kalian untuk melakukan dua hal, dan memperingatkan kalian untuk tidak melakukan dua hal juga.""Aku meminta kalian untuk beriman bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan bahwa jika tujuh langit dan tujuh bumi diletakkan pada satu sisi dari suatu ukuran, dan kata-kata “tidak ada tuhan selain Allah” ditempatkan di sisi yang lain, yang terakhir akan lebih besar daripada yang pertama. Aku memperingatkan kalian untuk tidak menyekutukan Allah dan melawan kesombongan.” (Sahih al-Bukhari)
Beberapa tradisi mengatakan bahwa makam Nuh berada di Masjid Suci di Mekkah, sementara yang lain mengatakan bahwa dia dimakamkan di Baalabak, sebuah kota di Irak.
Nabi Nuh Rasul Pertama
Nabi Nuh adalah rasul pertama yang diutus Allah untuk penduduk bumi. Ibnu Katsir menulis ketika kerusakan telah meluas di muka bumi, kesesatan telah mewabah di seluruh pelosok negeri dengan disembahnya berhala di mana-mana, maka Allah mengutus hamba dan Rasul-Nya, Nuh AS.Ia mengajak masyarakat untuk kembali menyembah Allah semata, tidak menyekutukan-Nya, dan melarang mereka untuk menyembah selain-Nya.
Karena itulah Nuh dikatakan sebagai Rasul pertama yang diutus Allah untuk penduduk bumi, sebagaimana disebutkan dalam Kitab Shahihain tentang syafaat.
Dari Abu Hayyan, dari Abu Zur'ah bin Amru bin Jarir, dari Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda, ... Lalu mereka mendatangi Adam dan berkata: “Wahai Adam, engkau adalah bapak manusia, Allah menciptakanmu dengan Tangan-Nya, ditiupkan kepadamu roh ciptaan-Nya, memerintahkan para malaikat untuk bersujud kepadamu, dan menganugerahkan dirimu dengan tinggal di surga, sudikah kiranya engkau memintakan syafaat kepada Tuhanmu untuk kami? Tidakkah engkau lihat keadaan kami dan apa yang kami rasakan?”
Lalu Adam berkata, “Tuhanku sungguh telah murka, tidak pernah ada kemurkaan seperti ini sebelumnya, dan tidak akan pernah ada kemurkaan seperti ini selanjutnya. Aku telah dilarang untuk tidak memakan buah dari pohon terlarang, namun aku melanggarnya. Dirikulah (yang seharusnya mendapatkan syafaat), dirikulah (yang seharusnya mendapatkan syafaat). Pergilah kalian kepada orang lain, pergilah kalian kepada Nuh.”
Lalu mereka mendatangi Nuh dan berkata, “Wahai Nuh, engkau adalah Rasul pertama bagi penduduk bumi, dan engkau telah diakui sebagai hamba yang bersyukur oleh Allah, tidakkah engkau lihat keadaan kami ini? Sudikah kiranya engkau memintakan syafaat kepada Tuhanmu untuk kami?”
Lalu Nuh berkata, “Tuhanku sungguh telah murka, tidak pernah ada kemurkaan seperti ini sebelumnya, dan tidak akan pernah ada kemurkaan seperti ini selanjutnya. Dirikulah (yang seharusnya mendapatkan syafaat), dirikulah (yang seharusnya mendapatkan syafaat)..” dan seterusnya hingga akhir hadis ini seperti disebutkan oleh Bukhari pada kisah Nuh.
Kisah ini diriwayatkan Bukhari Bab Kisah Para Nabi, Bagian: Firman Allah, “Sungguh, Kami benar benar telah mengutus Nuh kepada kaumnya.” dan Muslim, Bab Iman, Bagian: Nikmat yang Paling Rendah untuk Penghuni Surga.
7 Kisah Para Nabi di Bulan Muharram yang Diabadikan Al Quran
Banyak kisah para nabi yang diabadikan dalam Al-Quran, salah satunya kisah yang terjadi di bulan Muharram ini. Kisah apa saja? Simak ulasan dan penjelasanya berikut... | Halaman Lengkap [827] url asal
#kisah-kisah-dalam-alquran #kisah-nabi-dan-rasul #muharram #bulan-muharram #kisah-para-nabi
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 17/06/26 05:15
v/245105/
Banyak kisah para nabiyang diabadikan dalam Al-Qur'an, salah satunya kisah yang terjadi di bulan Muharramini. Kisah apa saja?Seperti diketahui, Muharram juga merupakan bulan pembuka dalam kalender Hijriah. Bulan ini juga termasuk dalam kategori al-asyhur al-hurum (bulan-bulan yang dimuliakan oleh Allah). Dikatakan al-asyhurul hurum sebab terdapat larangan berperang di dalamnya serta kemuliaan berupa pelipat-gandaan pahala atas amal ibadah.
Allah SWT berfirman:
"Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, (sebagaimana) dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya ada empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam (bulan yang empat) itu, dan perangilah kaum musyrikin semuanya sebagaimana mereka pun memerangi kamu semuanya. Dan ketahuilah bahwa Allah beserta orang-orang yang takwa. ( QS At-Taubah [9] : 36)
Kitab Nuzhatul Majalis wa Muntakhobun Nafais karya Abdurrahman bin Abdissalam as-Shafuri menyebut banyak peristiwa agung para nabi yang dikisahkan Al-Qur'an berkaitan dengan bulan Muharram ini.
Peristiwa Agung Para Nabiyullah di Bulan Muharram:
1.Diturunkannya Adam dan Hawa ke bumi
Bermula dari memakan biji-bijian surga yang terlarang, ia dan Hawa kemudian diturunkan ke bumi secara terpisah. Dalam kondisi tersebut, Nabi Adam tak henti-hentinya memohon ampun atas apa yangtelah diperbuatnya. Hingga pada suatu hari bertepatan dengan bulan Muharram, Allah SWT menerima taubatnya.
“Maka, Adam mendapatkan beberapa kalimat dari Tuhannya, lalu dia kembali pada-Nya. Sungguh Allah maha menerima taubat lagi Maha Penyayang.” ( QS Al-Baqarah : 37)
Imam Jalaluddin as-Suyuthi dalam tafsirnya menyatakan sepakat bahwa yang dimaksud adalah kalimat doa dalam surat al-A’raf ayat 23 yang berbunyi :
rabbanaa dzalamnaa anfusanaa wa in lam taghfir lanaa lanakuunanna minal khasiriin
(“wahai Tuhan, kami telah menzalimi diri kami sendiri dan jika Engkau tidak mengampuni kami, maka sungguh kami termasuk orang-orang yang merugi”).
2. Berlabuhnya bahtera Nuh
Allah SWT berfirman dalam surat Hud [11] : 44 dengan terjemahan ayat seperti berikut “Dan dikatakan: “Hai bumi, telanlah airmu, dan hai langit, (hujan) berhentilah” dan airpun disurutkan, perintah itu diselesaikan dan bahtera tersebut berlabuh di atas bukit Judiy dan dikatakan, “Binasalah orang-orang yang zalim.” Setelah terombang-ambing di tengah-tengah banjir bandang selama enam bulan lamanya, Allah menyelamatkan Nabi Nuh dan kaumnya yang berjumlah 80 orang dan berlabuh di sebuah gunung yang oleh Al-Qur'an disebut Gunung Judiy.Terlepas dari perbedaan pendapat tentang lokasi gunung tersebut, Allah memenuhi janji-Nya untuk menyelamatkan orang-orang beriman dan tidak mendustakan-Nya. Ini bertepatan dengan bulan Muharram tepatnya di hari ‘asyura,
sehingga mereka semua berpuasa sebagai bentuk syukur atas keselamatan yang diberikan.
3. Nabi Ibrahim terselamatkan dari siksa Namrudz
Menurut as-Shawi, Nabi yang bergelar al-Khalil dan dikenal sebagai Bapak monoteisme ini mendapat siksaan berupa dilempar ke dalam kobaran api saat saat usianya menginjak 16 tahun. Kecerdasannya dalam mendebat sang raja dalam masalah ketuhanan, membuatnya harus mengalami peristiwa kejam ini. Namun, raja yang sesungguhnya yakni Allah SWT tidak membiarkan hal itu terjadi.Allah berfirman, “Hai api, jadilah dingin dan jadilah keselamatan bagi Ibrahim.” ( QS Al-Anbiya’ : 69)
4. Bebasnya Nabi Yusuf dari penjara
Kisah tentang perjalanan hidup Nabi Yusuf ini diceritakan secara panjang lebar dalam surat Yusuf. Ia yang menjalani hidup bertahun-tahun di dalam penjara karena tuduhan hina, oleh Allah akhirnya dibebaskan dan diangkat pada kedudukan yang tinggi sebagaimana yang tertuang dalam surat Yusuf, “Dan raja berkata, “bawalah Yusuf padaku sebagai orang yang rapat kepadaku.” Maka tatkala raja telah bercakap-cakap dengannya, ia berkata, “sesungguhnya kamu (mulai) hari ini menjadi seorang yang berkedudukan tinggi lagi dipercayai di sisi kami.” ( QS Yusuf : 54)5. Nabi Yunus berhasil keluar dari perut ikan
Allah berfirman, “Maka kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkan dari pada kedukaan. Dan demikianlah kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS Al-Anbiya’: 88)Saat berada dalam kegelapam malam, lautan, dan perut ikan, Nabi Yunus berdoa seraya menyesali perbuatannya yakni pergi dari kaumnya tanpa izin dalam keadaan marah. Lalu Allah menunjukkan kekuasaannya dengan memasukkannya ke perut ikan.
6. Sembuhnya Nabi Ayyub dari penyakit
Allah memberi cobaan Nabi Ayyub berupa penyakit yang menyebabkan orang-orang disekitarnya pergi meninggalkannya, termasuk keluarganya sendiri. Ia berkeluh kesah kepada Allah atas apa yang menimpanya, lalu Allah mengabulkan doanya dan mengembalikan apa yang telah pergi sebelumnya. Kisah ini juga tertuang dalam surat al-Anbiya’ yang berbunyi:“Maka Kamipun memperkenankan seruannya itu, lalu Kami melenyapkan penyakit yang ada padanya dan Kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan kami lipat gandakan mereka sebagai suatu rahmat dari sisi Kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua yang menyembah Allah.”
7.Keberhasilan Musa dan kaumnya dari kejaran Firaun dan bala tentaranya
Allah memberi Nabi Musa mukjizat berupa tongkat yang dapat membelah lautan agar ia dan kaumnya Bani Israil bisa keluar dari kedzaliman Firaun. Dengan membawa rombongan yang banyak hingga berjumlah ratusan ribu seperti keterangan dalam Hasyiyah as-Shawi, Nabi Musa sempat merasa pesimistis mereka bisa bebas dari kejaran Firaun. Namun, Allah meyakinkannya lalu menyelamatkan ia dan kaumnya.Firman Allah: “Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang menyertainya semuanya.” ( QS As-Syu’ara’: 65)
Kisah Bulan Zulhijjah : Diijabahnya Doa Nabi Zakaria Mendapatkan Keturunan di Umur 90 Tahun
Salah satu kisah bulan Zulhijjah adalah tentang doa Nabi Zakariya alaihissalam. Nabi utusan Allah ini lulus dari berbagai ujian, sehingga sang Khalik mengijabah... | Halaman Lengkap [580] url asal
#kisah-hikmah #peristiwa-penting-di-bulan-dzulhijjah #kisah-para-nabi #kisah-nabi-zakaria #doa-nabi-zakaria-memohon-anak
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 19/05/26 17:45
v/225211/
Salah satu kisah bulan Zulhijjahadalah tentang doa Nabi Zakariya alaihissalam. Nabi utusan Allah ini lulus dari berbagai ujian, sehingga sang Khalik mengijabah doa beliau untuk memperoleh anak yang saleh di umur 90 tahun atau bahkan ada yang menyebut di umur beliau 120 tahun.Peristiwa penting itu terjadi pada tanggal 3 Zulhijjah. Dikisahkan, suatu malam Nabi Zakariyaduduk di mihrabnya dan bermunajat kepada Allah, berdoa dengan khusyuk dan yakin. Dengan suara yang lemah lembut beliau berdoa:
"Ya Tuhanku, berikanlah aku seorang putra yang akan mewarisiku dan mewarisi sebagian dari keluarga Ya'qub, yang akan meneruskan pimpinan dan pembimbing kepada Bani Isra'il."
"Aku risau sepeninggalku nanti anggota-anggota keluargaku akan rusak kembali akidah dan imannya bila aku tinggalkan tanpa seorang pemimpin yang akan menggantikanku."
"Ya Tuhanku, tulangku telah menjadi lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, sedang istriku adalah seorang perempuan mandul. Namun kekuasaan-Mu tidak terbatas, dan aku berdoa Engkau berkenan mengurniakan seorang anak yang saleh dan Engkau ridha padaku."
Allah pun mengabulkan doa Nabi Zakariya dan berfirman: "Wahai Zakariya, kami sampaikan kabar gembira padamu, kamu akan mendapatkan seorang anak laki-laki bernama Yahya yang saleh dan membenarkan kitab-kitab Allah, menjadi pemimpin yang dianut, menahan diri daripada nafsu dan godaan setan, dan kelak akan menjadi seorang Nabi."
Kemudian Nabi Zakariya berkata: "Ya Allah, bagaimana aku dapat memperoleh keturunan sedang istriku seorang yang mandul dan akupun sudah lanjut usia."
Allah berfirman: "Hal demikian itu mudah bagi-Ku. Tidakkah telah Ku-ciptakan kamu, sedangkan waktu itu kamu tidak ada sama sekali."
Permintaan Nabi Zakariya ini dilatarbelakangi karena kemandulan istrinya seperti yang diutarakan Ibnu Katsir dalam Tafsir al-Qur’an al-‘Adhim yang ia kutip dari hadis riwayat Ibnu Abbas .
Buya Hamka dalam Tafsir al-Azhar juga turut memberikan pendapat bahwa ketika itu Nabi Zakariya juga sudah sangat tua, usianya diperkirakan sekitar 90 tahun lebih.
Sebagaimana fitrah manusia yang menginginkan keturunan, Nabi Zakariya pun ingin memiliki keturunan. Di samping itu juga agar nantinya ada dari keturunannya yang melanjutkan perjuangannya. Lantas ia pun berdoa kepada Allah agar dikaruniai seorang anak sebagaimana difirmankan Allah dalam Surat Al-Anbiya’ ayat 89 .
Dalam lanjutan Surat Al-Anbiya’ ayat 90, yang berisi salah satu fragmen kisah Nabi Yahya, Allah mengabulkan doa Nabi Zakariya tersebut dengan menganugerahkan seorang anak saleh yang bernama Yahya.
Kisah Nabi Yahya sendiri disebut 5 kali dalam Al-Quran, yaitu pada Surat Ali Imran (3) : 39, Surat Maryam (19) : 7, 12-15, dan Surat Al-Anbiya’ (21) : 89-90.
Ibnu Katsir mengungkapkan bahwa Nabi Zakariya adalah seorang yang khusyuk, hanya menggantungkan segala harapan kepada Allah, dan selalu bersegera dalam mengerjakan amal saleh hingga ia dipuji Allah sebagaimana yang tercantum dalam Surat Al-Anbiya ayat 90.
Kemudian dalam Surat Ali Imran ayat 39, Allah juga menceritakan bahwa Ia mengutus malaikat untuk mengunjungi Nabi Zakariya yang sedang sholat di mihrab. Malaikat itu membawa kabar gembira bahwa Nabi Zakariya akan dikaruniai seorang anak bernama Yahya.
Nama Yahya, menurut Buya Hamka, berasal dari bahasa Ibrani “Yohanes” yang diarabkan. Nama tersebut belum pernah dipakai oleh seorang pun sebelum Nabi Yahya.
Tak lama kemudian, janji Allah pun menjadi kenyataan, istri Nabi Zakariya mengandung. Kemudian lahirlah seorang putra bernama Yahya.
Putra yang bernama Yahya ini Allah janjikan sebagai orang membenarkan kalimat-kalimat Allah, menjadi seorang pemimpin yang terpelihara, dan menjadi seorang nabi yang saleh seperti yang termaktub dalam Surat Ali Imran ayat 39 .
Diangkatnya Yahya menjadi seorang nabi dan rasul oleh Allah ini sekaligus menjadi jawaban bagi doa yang senantiasa dipanjatkan Nabi Zakariya. Nabi Yahya pun kelak melanjutkan risalah yang diemban ayahnya.
Fakta Menarik Bulan Zulhijjah, Banyak Kisah Agung Para Nabi Terjadi di Dalamnya
Terdapat beberapa sejarah penting atau peristiwa mulia di Bulan zulhijjah. Peristiwa tersebut pernah terjadi kepada para Nabiyullah. Peristiwa apa saja itu? Simak... | Halaman Lengkap [540] url asal
#keutamaan-bulan-zulhijjah #peristiwa-penting-di-bulan-dzulhijjah #kisah-sejarah-di-bulan-dzulhijjah #kisah-para-nabi #dzulhijjah
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 19/05/26 09:13
v/224532/
Terdapat beberapa sejarah penting atau peristiwa mulia di Bulan Zulhijjah. Peristiwa tersebut pernah terjadi kepada para Nabiyullah. Peristiwa apa saja itu?Dijelaskan dalam kitab Durrat al-Nasihin, Ibnu Abbas radhiyalalahu'anhu meriwayatkan hadis dari Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam tentang peristiwa-peristiwa mulia ini.
9 Peristiwa Penting di Bulan ZUlhijjah:
1. Peristiwa Nabi Adam yang diampuni Allah
Pada tanggal 1 Zulhijjah, kesalahan yang dilakukan oleh Nabi Adam alaihissalam dan Siti Hawa diampuni oleh Allah Ta'ala. Nabi Adam telah membuat kesalahan karena memakan buah terlarang yang diturunkan Allah SWT dari surga ke bumi bersama Hawa.2. Peristiwa Nabi Yunus dikeluarkan dari dalam perut ikan
Nabi Yunus alaihissalam dimakan ikan besar setelah meninggalkan kaumnya yang menolak dakwah Nabi Yunus. Saat berada di dalam perut ikan tersebut, Nabi Yunus mengucapkan doa yang diabadikan dalam Al-Qur'an. Pada tanggal 2 Dzulhijjah Allah SWT mengabulkan doa itu dan mengembalikan Nabi Yunus ke daratan.3. Doa Nabi Zakaria diijabah
Nabi Zakaria alaihissalam yang tidak mempunyai anak selalu pantang menyerah untuk berdoa kepada Allah SWT agar istrinya mengandung seorang putra. Dengan kegigihan Nabi Zakaria dalam menjalani ujian, Allah SWT akhirnya mengijabah doa Nabi Zakaria itu pada tanggal 3 Zulhijjah saat umurnya sudah 120 tahun.4.Peristiwa Maryam melahirkan Nabi Isa
Pada tanggal 4 Zulhijjah Nabi Isa alaihissalam lahir. Malaikat Jibril pernah berkata kepada Maryam dalam surat Ali Imran ayat 42-47 bahwa dia akan melahirkan anak laki-laki yang suci. Perkataan itu terbukti dan ia pun dicemooh oleh masyarakat.5. Nabi Musa Lahir dan dirawat di lingkungan Fir’aun
Nabi Musa lahir ketika Fir'aun menerapkan kebijakan untuk membunuh semua anak laki-laki di Mesir. Tepatnya, pada tanggal 5 Dzulhijjah, Ibu Nabi Musa yang baru saja melahirkan segera menghanyutkan Nabi Musa di sungai Nil dan kemudian ditemukan oleh Asiyah, istri Fir'aun.6. Peristiwa Allah Ta'ala membuka pintu kebaikan kepada Nabi Muhammad SAW
Pada 6 Zulhijjah, Allah membuka pintu kebaikan kepada Nabi Muhammad SAW. Maka, barang siapa yang berpuasa pada tanggal 6 Dzulhijjah, Allah akan menurunkan rahmat-Nya dan terhindar dari siksa selama-lamanya.7. Peristiwa pintu pintu neraka ditutup dan dikunci
Pada tanggal 7 Zulhijjah, pintu-pintu neraka ditutup dan dikunci, dan baru akan dibuka setelah hari kesepuluh dari bulan Zulhijjah. Barang siapa yang berpuasa pada tanggal 7 Zulhijjah, maka akan terhindar dari 30 pintu kesusahan dan dibukakan baginya 30 pintu kemudahan.8. Peristiwa Nabi Ibrahim diperintahkan membangun Kakbah
Pada tanggal 8 Zulhijjah, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim untuk membangun Kakbah. Ketika bangunan Kakbah telah jadi, Nabi Ibrahim merenung apakah yang ia lakukan mendapat pahala atau tidak. Maka disebutlah hari kedelapan dari bulan Zulhijjah dengan yaum al-tarwiyah yang artinya hari merenung dan berfikir.Ada yang mengatakan Nabi Ibrahim bermimpi mendapat tugas dari Allah untuk menyembelih Ismail. Maka, seharian Nabi Ibrahim berfikir apakah perintah itu benar-benar dari Allah atau dari Setan. Maka, barang siapa yang berpuasa pada tanggal 8 Dzulhijjah, Allah akan memberinya pahala yang nilaianya hanya Allah yang tahu.
9. Peristiwa mimpi Nabi Ibrahim untuk menyembelih Nabi Ismail
Sebelumnya pada tanggal 8 Dzulhijjah Nabi Ibrahim bermimpi. Kemudian Nabi Ibrahim yakin betul bahwa mimpinya di malam kesembilan Dzulhijjah itu benar-benar dari Allah dan bukan dari Setan. Hari ini disebut yaumu arafah karena tempat yang digunakan untuk menyembelih Nabi Ismail dinamakan Arafah.
Kisah-kisah dalam Al Quran : Penyaliban Nabi Isa Alaihisallam dan Kekufuran Bani Israil
Kisah-kisah dalam Al Quran sangat menarik untuk disimak. Salah satunya kisah tentang penyaliban Nabi Isa alaihissalam dan sosok Yudas Iskariot yang diserupakan... | Halaman Lengkap [1,176] url asal
#kisah-kisah-dalam-alquran #nabi-isa-as #bani-israil #kisah-nabi-isa #kisah-para-nabi
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 05/04/26 08:33
v/181812/
Kisah-kisah dalam Al Quran sangat menarik untuk disimak. Salah satunya kisah tentang penyalibanNabi Isa alaihissalamdan sosok Yudas Iskariot yang diserupakan dengan Nabi Isa ini tergambar dalam Surat An-Nisa ayat 157-158.Allah SWT berfirman :
بَلْ رَّفَعَهُ اللّٰهُ اِلَيۡهِ ؕ وَكَانَ اللّٰهُ عَزِيۡزًا حَكِيۡمًا
"Dan perkataan mereka: 'Bahwa kami telah membunuh Isa al-Masih putera Maryam, utusan Allah', padahal tidaklah mereka membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi disamarkan kepada mereka. Orang-orang yang berselisihan tentangnya selalu dalam keraguan mengenainya. Tiada pengetahuan mereka kecuali mengikuti dugaan, dan tidaklah mereka membunuhnya dengan yakin. Tetapi Allah telah mengangkat (derajat) 'Isa kepada-Nya; karena Allah itu Gagah nan Bijaksana" ( QS An-Nisa' 4 :157-158)
Di sisi lain, dalam Bible dijelaskan bahwa dari 12 orang murid utama Isa, ada seorang yang telah berkhianat dengan jalan menjual informasi mengenai keberadaan Isa terhadap para ahli Taurat dan orang-orang Romawi. Murid tersebut diyakini bernama Yahudza al- skharyuti atau Yudas Iskariot.
Yudas digambarkan memiliki rencana yang jahat terhadap Isa al-Masih setelah acara jamuan makan malam al-Maidah selesai dengan membocorkan rahasia keberadaan sang Nabi kepada musuh-musuhnya sehingga mereka melakukan penyerbuan terhadap persembunyian Isa al-Masih.
Namun sesuai dengan janji Allah, bahwa rencana yang jahat tidak akan menimpa selain kepada orang yang sudah membuat rencana itu sendiri, begitu pula halnya dengan diri 'Isa al-Masih, beliau telah diselamatkan Allah dari tragedi tewasnya di atas salib.
Sementara Yudas yang merupakan otak dari semua rencana jahat itu akhirnya mati dengan mengenaskan, gantung diri dan tubuhnya jatuh terjerumus dalam keadaan perut pecah.
Demikianlah kiranya Allah telah menentukan keputusan-Nya untuk memberikan hukuman terhadap orang yang telah merencanakan hal yang keji atas diri Nabi-Nya dengan azab yang pedih.
"Dan adalah aku menjadi penjaga atas mereka selama aku ada pada mereka; maka tatkala Engkau mewafatkan aku, adalah Engkau menjadi pengurus mereka; dan sungguh Engkau menyaksikan segala sesuatu. Jika Engkau menyiksa mereka, maka sesungguhnya mereka itu hamba-hambaMu; dan jika Engkau mengampuni mereka, maka sungguh Engkaulah Maha Kuasa nan Bijaksana." ( QS al-Maidah 5 :117-118)
Dalam ayat tersebut Nabi Isa menyerahkan segala urusan itu kepada kehendak Allah. Bila karena perbuatan umatnya yang salah telah menyebabkan Allah menjadi murka dan menghukum mereka, maka itu adalah hak prerogatif Allah, sebab Dia adalah penguasa dan pencipta seluruh makhluk yang mampu bertindak dan berkehendak sebebas-bebasnya kepada siapapun sebab mereka hanyalah hamba-hamba Allah yang tidak akan bisa menghentikan kehendak Allah.
Kekufuran Bani Israil
Kisah kekufuran Bani Israil sudah secara gamblang dipaparkan oleh al-Qur'an, sejak dari mulai masa kenabian Musa as dan Harun hingga pada periode 'Isa al-Masih dan Muhammad SAW bahkan hingga jaman-jaman yang akan datang.Kisah penyaliban atas diri Nabi 'Isa al-Masih putera Maryam telah dipercayai oleh semua orang disebabkan karena terjadinya pengkhianatan di antara para sahabatnya yang setia. Kisah pengkhianatan ini sebenarnya tidak hanya bisa kita peroleh dari dalam Bible yang diyakini oleh kaum Nasrani namun juga al-Qur'an sudah menggambarkan akan peristiwa tersebut.
Dimulai dari saat-saat akan diturunkannya Hidangan (al-Maidah) atas keinginan para sahabat Nabi 'Isa al-Masih :
"Tatkala Hawariyyun (sahabat-sahabat setia) berkata: Wahai 'Isa putera Maryam! Apakah berkuasa Tuhanmu menurunkan kepada kami satu hidangan dari langit? Maka 'Isa menjawab: Takutlah kepada Allah jika memang kamu betul-betul orang-orang yang beriman!" Mereka berkata: Kami ingin agar kami makan darinya dan supaya kami yakin bahwa sesungguhnya engkau sudah berkata yang benar terhadap kami dan jadilah kami ini orang-orang yang menyaksikan." ( QS al-Maidah 5 :112-113)
Di sini sebenarnya kita sudah melihat adanya bibit-bibit kekurangpercayaan orang-orang yang berada di sekitar 'Isa al-Masih terhadap dirinya dan Allah, sama persis seperti yang sudah sering kita baca dan kita bahas mengenai perilaku murid-murid 'Isa yang sering membangkang terhadapnya di dalam Bible.
Sekian lama mereka menjalani kehidupan bersama, menyebarkan dakwah di bawah bimbingan Nabi Isa kepada masyarakat dan membuktikan sendiri mukjizat-mukjizat kenabian 'Isa al-Masih, namun mereka masih tetap merasa kurang yakin.
Kita lihat dalam jawabannya, 'Isa menegur kelakuan para sahabatnya ini yang seolah tidak beriman kepada Allah dan dirinya selaku Rasul; Ini bukan teguran 'Isa yang pertama terhadap sikap para sahabatnya semacam ini,
"Ketika 'Isa merasa akan kekufuran dari mereka, ia bertanya: Siapakah penolong-penolongku kejalan Allah?; Maka para sahabatnya menjawab: Kami adalah pelayan-pelayan Allah, kami telah beriman kepada Allah dan lihatlah, bahwa sesungguhnya kami orang-orang yang muslimin."( QS. ali Imran 3 :52)
Atas jawaban para Hawariyin atau hawariyyun ini, Allah memberikan jawaban yang sangat jelas sekali bagi kita untuk menjadi bukti atas kebenaran ucapan mereka ini didalam ayat selanjutnya :
"Dan mereka membuat tipu daya, namun Allah (juga) membuat tipu daya; dan sesungguhnya Allah itu sepandai-pandainya menipudaya." ( QS. Ali Imran 3 : 54)
Di sini bisa kita pahami, bahwa ayat ini merupakan tanggapan Allah atas pernyataan Hawariyin yang mengaku telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya yaitu 'Isa al-Masih yang dikatakan pada ayat sebelumnya dan dari sini kita bisa menangkap satu fenomena bahwa diantara para sahabat tersebut tidak semuanya mereka ini benar-benar beriman sebagaimana yang diucapkan oleh mulutnya, sebab menurut Allah, mereka telah mengatur satu rencana yang jahat, membuat satu tipu daya yang ditujukan kepada Rasul-Nya namun rencana tersebut akan dikalahkan oleh Allah dengan tipu daya pula.
Karena kesombongan dibumi dan merencanakan tipu daya yang jahat, padahal rencana yang jahat itu tidak akan menimpa selain kepada orang yang merencanakannya sendiri". ( Qs. Faathir 35 :43)
Dari ayat-ayat ini kita bisa mentafsirkan bahwa satu tipu daya yang jahat yang telah diatur oleh sebagian dari Hawariyin untuk 'Isa akan dibalas oleh Allah dengan tipu daya-Nya pula dengan menjadikan orang yang merencanakan makar ini termakan oleh rencananya sendiri.
"Tatkala Allah berkata: Wahai 'Isa! Sungguh Aku akan mewafatkanmu dan akan mengangkatmu kepada-Ku, dan akan membersihkanmu dari mereka yang kafir, serta akan menjadikan orang-orang yang mengikutimu di atas mereka yang kafir hingga hari kiamat." (QS ali Imran 3:55)
Ayat ini merupakan lanjutan dari ayat sebelumnya yang mengatakan bahwa Allah akan membalas tipu daya orang-orang yang jahat kepada Rasul-Nya. Dari sini kita juga bisa mengambil satu kesimpulan bahwa rencana jahat yang dimaksudkan terhadap diri Nabi 'Isa tidak akan bisa terjadi terhadap sang Nabi akan tetapi Allah akan mengembalikan rencana jahat tersebut menimpa kepada orang itu sendiri dan Allah akan menyelamatkan Nabi-Nya tersebut dari rencana jahat itu dengan peristiwa pengangkatan dan membersihkan nama baiknya.
"Maka adapun mereka yang kufur itu, Aku akan menyiksa mereka satu siksaan yang keras di dunia dan akhirat; dan mereka tidak akan mendapatkan penolong-penolong."(Qs. ali Imran 3:56)
Ayat ini juga menceritakan peringatan Allah terhadap kaum Hawariyin di saat penurunan Hidangan dari langit didalam surah al-Maaidah :
"Allah berkata: Sesungguhnya Aku akan menurunkannya untukmu, tetapi barang siapa dari antara kamu yang kufur sesudah itu, maka akan Aku azab dia dengan satu azab yang tidak pernah Aku perbuat terhadap seorangpun daripada makhluk-makhluk." (Qs. al-Maidah 5:115)
Di ayat ini kita juga menemukan isyarat langsung dari Allah, bahwa akan ada yang Kufur terhadap Allah dan Rasul-Nya di antara kaum Hawariyin tersebut setelah usainya Hidangan dari langit diturunkan, yaitu sesudah terjadinya jamuan makan malam ketuhanan menurut teologi Nasrani.
Kisah Nabi Syam'un dan Awal Mula Sejarah Malam Lailatul Qadar
Kisah Nabi Syamun ini ternyata menjadi awal sejarah adanya Lailatul Qadar. Mengapa demikian dan apa dalilnya? Simak ulasannya berikut ini. Kisah Nabi Syamun ini... | Halaman Lengkap [721] url asal
#nabi-syamun #malam-lailatul-qadar #sejarah-lailatul-qadar #kisah-para-nabi #ramadan-2026
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 09/03/26 16:30
v/159422/
Kisah Nabi Syam'un ini ternyata menjadi awal sejarah adanya Lailatul Qadar. Mengapa demikian dan apa dalilnya? Simak ulasannya berikut ini.Sejarah diturunkannya Lailatul Qadar jarang sekali dibahas, padahal sangat perlu dan penting diketahui umat muslim. Dalam satu Hadis dari Ibnu Abbas mengatakan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wasallam bersabda: "Carilah Lailatul Qadar pada malam sepuluh yang terakhir dari (bulan) Ramadan."
Keutamaan Lailatul Qadar yang lebih afdhal (lebih baik) daripada melakukan ibadah selama 1000 bulan ditegaskan dalam Al-Qur'an:
Artinya: "Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar." (QS Al-Qadar ayat 1-5)
Kisah Nabi Syam'un atau Samson
Turunnya malam kemuliaan itu ternyata memiliki kisah menarik. Bermula dari Nabi Syam'un, seorang Nabi dari kalangan Bani Israil yang dikenal memiliki fisik yang kuat melawan kemungkaran.Nabi Syam'un Ghozi 'alaihissalam dijuluki Samson. Beliau memiliki beberapa julukan lain. Dalam bahasa Arab, beliau disebut Syamsyawn atau Syam'un. Dalam bahasa Ibrani, disebut Simson. Dalam bahasa Tiberias disebut Shimshon. Dalam Alkitab Nasrani, disebut Samson.
Nama Syamun sendiri artinya "yang berasal dari matahari, sedangkan Al-Ghozi, artinya "yang berasal dari Ghazi (Ghaza, Palestina). Beliau merupakan hakim ketiga terakhir pada zaman Israel kuno.
Nabi Syam'un Ghozi memiliki mukjizat dapat melunakkan besi dan dapat merobohkan istana. Cerita tentang Syam'un ini merupakan cerita Israiliyat yang diceritakan turun temurun di jazirah Arab, jauh sebelum Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam lahir.
Dalam Kitab Muqasyafatul Qulub karangan Imam Al-Ghazali diceritakan bahwa Rasulullah berkumpul bersama para sahabat di bulan Suci Ramadan. Kemudian Rasulullah bercerita tentang seorang Nabi bernama Syam'un Ghozi yang membuat beliau tersenyun.
Syam'un adalah Nabi dari Bani Israil yang diutus di tanah Romawi. Dikisahkan, Nabi Syam'un berperang melawan bangsa yang menentang Ketuhanan Allah. Keperkasaan Nabi Syam'un dipergunakan untuk menentang penguasa kaum kafir saat itu, yakni Raja Israil.
Akhirnya sang raja Israil mencari jalan untuk menundukkan Nabi Syam'un. Berbagai upaya pun dilakukan dan diimingi akan mendapat hadiah emas dan permata berlimpah. Singkat cerita, Nabi Syam'un Ghozi terpedaya oleh isterinya.
Karena sayangnya dan cintanya kepada istrinya, Nabi Syam'un berkata pada istrinya, "Jika kau ingin mendapatkanku dalam keadaan tak berdaya, maka ikatlah aku dengan potongan rambutku."
Akhirnya, Nabi Syam'um diikat oleh istrinya saat ia tertidur. Lalu dia dibawa ke hadapan sang raja. Beliau disiksa hingga dibutakan matanya dan diikat serta dipertontonkan di istana raja.
Karena diperlakukan yang sedemikian hebatnya, Nabi Syam'un berdoa kepada Allah. Beliau berdoa dimulai dengan bertobat, kemudian memohon pertolongan atas kebesaran Allah.
Doa Nabi Syam'un dikabulkan Allah. Istana raja bersama seluruh masyarakatnya hancur beserta isteri dan para kerabat yang mengkhianatinya. Kemudian Nabi Syam'un bersumpah kepada Allah akan menebus semua dosa-dosanya dengan berjuang menumpas semua kebathilan dan kekufuran yang lamanya 1000 bulan tanpa henti. Semua itu atas Hidayah dari Allah.
Riwayat lain menyebutkan, ketika doanya dikabulkan Allah, Nabi Syam'un menggunakan kekuatannya untuk meruntuhkan seluruh istana sehingga mengorbankan raja dan istri beliau sendiri. Setelah kejadian itu, Nabi Syam'un kemudian bersumpah untuk beribadah selama 1000 bulan (83 tahun 4 bulan) tanpa henti.
Begitulah kisah Nabi Syam'un yang membuat Rasulullah tersenyum. Ketika Rasulullah selesai menceritakan kisah Nabi Syam'un yang berjihad fisabilillah selama 1.000 bulan, para sahabat berkata: "Ya Rasulullah, kami ingin juga beribadah seperti Nabiyullah Syam'un Ghozi." Kemudian Rasulullah diam sejenak dan Malaikat Jibril pun datang dan mewahyukan kepada Raulullulah tentang satu malam yang sangat agung.
Bahwa pada bulan Ramadan ada sebuah malam, dimana malam itu lebih baik daripada 1000 bulan. Itulah Lailatul Qadar yang jika kita mendapatkannya, maka malam itu lebih baik daripada 83 tahun 4 bulan atau menyamai ibadahnya Nabi Syam'un seribu bulan.
Dalam Kitab Qishashul Anbiyaa dikisahkan bahwa Rasulullah tesenyum sendiri, lalu bertanyalah salah seorang sahabatnya, "Apa yang membuatmu tersenyum wahai Rasulullah?"
Rasulullah SAW menjawab: "Diperlihatkan kepadaku hari akhir ketika dimana seluruh manusia dikumpulkan di Mahsyar. Semua Nabi dan Rasul berkumpul bersama umatnya masing-masing, masuk ke dalam surga. Ada salah seorang Nabi yang dengan membawa pedang, yang tidak mempunyai pengikut satupun, masuk ke dalam surga, dia adalah Nabi Syam'un."
Sumber Referensi:
1. Kitab Musyafaqatul Qulub.
2. Kitab Qishaashul Anbiyya.
Escape: Jalan Para Nabi Membangun Peradaban Utama di Tengah Dunia yang Kacau
Dalam khazanah Islam, escape bukanlah pelarian kalah atau menghindar dari realitas. Ia adalah strategi ilahiah yang dicontohkan para nabi. Berikut tiga kisah agung... | Halaman Lengkap [1,324] url asal
#cinta-dunia #kisah-para-nabi #peradaban
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 04/03/26 14:25
v/154764/
Fajar Suryono,Dosen Universitas Darunnajah/Pakar Management SDM Lembaga Pendidikan Islam
SETIAP pagi, gawai kita menyuguhkan derita yang sama: konflik berkepanjangan, kejahatan yang merajalela, bencana alam silih berganti, dan hiruk-pikuk politik yang tak kunjung reda. Dunia seolah berpacu dalam kekacauan. Di tengah riuh rendah yang tak berkesudahan ini, banyak jiwa yang letih. Bukan sekadar lelah fisik, tetapi lelah batin yang mendalam. Stres, kecemasan, dan depresi menjadi epidemi sunyi di tengah peradaban modern.
Manusia merindukan ruang hening. Merindukan momen untukmelepaskan dirisejenak dari pusaran masalah. Dalam bahasa populer, ia disebutescape.
Namun, dalam khazanah Islam,escapebukanlah pelarian kalah atau menghindar dari realitas. Ia adalah strategi ilahiah yang dicontohkan para nabi: sebuah lompatan ke belakang untuk mengambil ancang-ancang yang lebih kuat, menyelami kedalaman jiwa, meraih bekal, lalu kembali membangun peradaban yang lebih unggul. Tiga kisah agung dalam Al-Qur'an mengajarkan kita tentang hakikatescapeyang membangun peradaban ini.
Gua Hira: Ketika Keheningan Melahirkan Risalah Peradaban
Jauh sebelum diangkat menjadi rasul, Muhammad SAW biasa menyendiri di Gua Hira, sebuah celah sempit di puncak Jabal Nur. Di tengah masyarakat Quraisy yang tenggelam dalam kegelapan jahiliyah—penyembahan berhala, penindasan, dan ketidakadilan—beliau mencari ketenangan dan kebenaran sejati. Berhari-hari bahkan bermalam-malam beliaubertahannuts, beribadah dan merenung di tempat sunyi itu.Dari keheningan gua itulah, pada malam 17 Ramadhan, terjadi peristiwa agung yang mengubah sejarah dunia. Malaikat Jibril datang membawa wahyu pertama:
"Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah! Tuhanmulah Yang Maha Mulia, Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya."
(QS. Al-'Alaq: 1-5)
Perhatikan, wahyu pertama bukan perintah shalat, puasa, atau zakat. Ia adalahperintah membaca—Iqra'!Ini adalah fondasi peradaban. Islam ingin membangun peradaban yang berbasis ilmu pengetahuan.
Ada tiga pilar utama dalam ayat ini.Pertama,Iqra'(literasi).Perintah membaca adalah gerbang menuntut ilmu. Tanpa kemampuan membaca, memahami, dan menelaah, mustahil sebuah peradaban dapat tegak.Kedua,Bismirabbika(transendensi).Aktivitas membaca harus dilandasi hubungan ketuhanan. Ilmu tanpa iman bisa menjadi bencana. Ilmu harus membawa kita semakin dekat kepada Allah.Ketiga,Alladzi Khalaq(kreasi-inovasi).Setelah berilmu dan beriman, luaran yang diharapkan adalah inovasi dan kreasi untuk kemaslahatan umat, meneladani sifat Allah Yang Maha Menciptakan.
Menariknya, kataiqra'diulang. Para ulama memaknai,Iqra'pertama adalah membaca untuk diri sendiri (belajar), danIqra'kedua adalah membaca untuk orang lain (mengajar). Dalam satu rangkaian wahyu, Allah telah mengajarkan siklus peradaban: belajar dan mengajar.
Setelah menerima wahyu, Rasulullah pulang dalam keadaan gemetar. Sayyidah Khadijah RA menenangkan beliau dengan kata-kata yang mengharukan:"Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya. Engkau adalah orang yang menyambung tali silaturahim, membantu yang membutuhkan, memberi makan orang miskin, memuliakan tamu, dan menolong mereka yang tertimpa musibah."(HR. Bukhari dan Muslim).
Dari gua yang sunyi, lahirlah risalah yang mengguncang dunia. Perubahan besar selalu dimulai dari refleksi dan pencerahan batin.
Gua Ashabul Kahfi: Menyelamatkan Iman, Menanti Kebangkitan
Kisah kedua adalahescape-nya para pemuda Ashabul Kahfi. Mereka hidup di negeri yang diperintah Raja Diqyanus yang zalim dan memaksa rakyat menyembah berhala. Iman mereka berada di ujung tanduk. Hidup dalam kemewahan istana terasa hampa jika harus menukarnya dengan kemurtadan.Dengan keteguhan hati, mereka memilihuzlah, mengasingkan diri ke sebuah gua. Di ambang pintu gua, mereka memanjatkan doa yang diabadikan Allah:
"Wahai Tuhan kami, berikanlah rahmat kepada kami dari sisi-Mu dan sempurnakanlah bagi kami petunjuk yang lurus dalam urusan kami ini." (QS. Al-Kahfi: 10)
Doa yang singkat namun dalam: memohon rahmat dan petunjuk. Mereka tidak meminta kekayaan atau kekuasaan, tetapi rahmat Allah dan kemudahan dalam urusan mereka. Ini adalah inti dariescapeyang hakiki—mendekatkan diri kepada Allah di saat dunia berpaling dari-Nya.
Allah pun menidurkan mereka selama 309 tahun dalam penjagaan langsung-Nya. Posisi matahari diatur agar tidak mengenai tubuh mereka, dan seekor anjing setia menjaga di depan gua. Ketika terbangun dan kembali ke kota, mereka mendapati dunia telah berubah: tirani telah runtuh, dan masyarakat hidup dalam keimanan. Kisah mereka menjadi bukti nyata kekuasaan Allah.
Dari Ashabul Kahfi kita belajar bahwa keteguhan akidah adalah harga mati. Di tengah gempuran berhala-berhala modern—materialisme, hedonisme, popularitas—berpegang teguh pada tauhid adalah perjuangan terbesar. Jika lingkungan merusak iman, beranilah untuk "hijrah". Dan pertolongan Allah itu nyata, sering datang dari arah yang tak terduga. Allah berfirman:
"Sesungguhnya Kami akan menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari berdirinya saksi-saksi (hari kiamat)."
(QS. Ghafir: 51)
Pesantren: "Gua" Modern yang Menempa Calon Pemimpin Peradaban
Sekarang, di negeri kita, tradisiescapemulia ini dilanjutkan oleh para santri di pondok pesantren. Mereka rela meninggalkan kenyamanan rumah, jauh dari orang tua, hidup sederhana—bahkan terkadang keras—di sebuah kompleks yang asing. Apa yang mereka lakukan di "gua" modern itu?Pertama, membangun tradisi ilmu.Di pesantren, santri belajar kitab kuning, mengkaji warisan ulama salaf, berdiskusi dalam forumbahtsul masail. Mereka mempraktikkan perintahIqra'dengan tekun. Rasulullah SAW bersabda,"Menuntut ilmu adalah kewajiban bagi setiap muslim."(HR. Ibnu Majah). Mereka tidak hanya belajar ilmu agama, tetapi juga ilmu umum dan keterampilan yang dibutuhkan untuk membangun peradaban.
Kedua, membangun kedekatan dengan Allah.Shalat malam, puasa sunnah, dzikir, dan doa menjadi napas sehari-hari. Mereka memanjatkan doa yang sama dengan Ashabul Kahfi, memohon rahmat dan petunjuk. Allah menjanjikan ketenteraman bagi mereka yang mengingat-Nya:"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram."(QS. Ar-Ra'd: 28).
Ketiga, membangun adab dan akhlak.Ada tradisi agung di pesantren:suhbah ma'al ustadz—pendampingan intensif antara murid dan guru. Mereka tidak hanya belajar ilmu, tetapi meniru perilaku keseharian guru, menjadikannya panutan. Nabi bersabda,"Sesungguhnya aku diutus hanya untuk menyempurnakan kemuliaan akhlak."(HR. Ahmad). Di pesantren, adab ditempatkan di atas ilmu. Seorang santri diajarkan untuk menghormati guru, menyayangi teman, dan berbakti kepada orang tua. Luqman al-Hakim berpesan,"Wahai anakku, duduklah bersama ulama dan dekati mereka... Sesungguhnya Allah menghidupkan hati yang mati dengan hikmah."(HR. Al-Baihaqi).
Ada anggapan bahwa pesantren mematikan daya kritis. Itu tidak benar. Di pesantren, para santri belajar untukkritis, tapi tetap beradab. Mereka berdiskusi, bahkan "mendebat" kiai, namun dengan sopan santun. Al-Allamah Al-Syekh Muhammad Awwamah dalamMa'alim Irsyadiyyahmenjelaskan pentingnya keseimbangan antara daya kritis dan adab. Jika kritis tanpa adab, seseorang bisa tergelincir. Jika adab tanpa kritis, kebenaran ilmu sulit teruji.
Di sinilah letak keistimewaan pesantren: menjagasanad ilmu, mata rantai keilmuan yang bersambung hingga Rasulullah SAW. Para santri tidak hanya mendapat ilmu, tetapi juga keberkahan. Mereka adalah pewaris para nabi, sebagaimana sabda Rasul,"Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat."(HR. Bukhari).
Tiga Pilar Peradaban dan Saatnya Melakukan Escape yang Hakiki
Rasulullah SAW mewariskan konsep peradaban yang abadi dalam sabdanya:"Apabila anak cucu Adam telah mati, terputuslah amalannya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakan orang tuanya."(HR. Muslim)
Tiga pilar peradaban ini—ekonomi (sedekah jariyah), ilmu pengetahuan, dan sumber daya manusia unggul (anak shalih)—ditempa di "gua-gua" seperti pesantren. Di sanalah lahir generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga dermawan, berilmu, dan shalih.
Tiga kisah ini mengajarkan satu kebenaran universal: terkadang kita perlu menjauh sejenak untuk melompat lebih jauh. Di tengah dunia yang kacau, kita semua butuh "gua" masing-masing. Bukan gua fisik, tetapi ruang batin. Bisa berupa masjid tempat kita bersujud lama, majelis ilmu yang menyejukkan hati, atau sujud di sepertiga malam yang sunyi. Di sanalah kita menempa diri, menguatkan iman, mengasah ilmu, lalu kembali ke masyarakat dengan bekal untuk membangun peradaban yang lebih utama.
Karena perubahan sejati, sebagaimana firman Allah, dimulai dari diri sendiri:
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri." (QS. Ar-Ra'd: 11)
Maka, di tengah hiruk-pikuk dunia yang tak kunjung reda, mari kita beraniescape. Bukan untuk lari dari tanggung jawab, tetapi untuk kembali dengan versi terbaik diri kita. Seperti para nabi, seperti Ashabul Kahfi, seperti para santri yang akan menjadi penjaga masa depan peradaban. Mari kita dukung pesantren-pesantren kita, karena dari sanalah akan lahir generasi pewaris nabi yang akan membangun peradaban utama sesuai dengan ajaran Islam.
Nama-nama Nabi Isa AS dan Ciri-cirinya dalam Berbagai Bahasa, Cek di Sini!
Ternyata ada beragam nama Nabi Isa alaihissalam dalam beberapa bahasa yang menarik untuk diketahui. Dalam perspektif Islam, Nabi Isa merupakan seorang Rasul Allah... | Halaman Lengkap [787] url asal
#nabi-isa-as #kisah-nabi-isa #nama-nama-nabi-isa #ciri-ciri-nabi-isa #kisah-para-nabi
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 24/12/25 12:21
v/83806/
Ternyata ada beragam nama Nabi Isa 'alaihissalamdalam beberapa bahasa yang menarik untuk diketahui. Dalam perspektif Islam, Nabi Isa merupakan seorang Rasul Allah yang diutus untuk Bani Israil.Nabi Isa AS termasuk satu dari lima Rasul bergelar 'Ulul Azmi, yaitu Rasul yang sabar dan tabah mendakwahkan ajaran Allah. Dalam Al-Qur'an, nama Nabi Isa disebut sebanyak 25 kali, disebut Al-Masih 11 kali, disebut Ibnu Maryam sebanyak 23 kali.
Kisahnya diabadikan dalam Surat Ali 'Imranayat 49-55: Surat Al-Ma'idah ayat 110-118; Surat Maryam ayat 24-36. Dalam Alkitab, kisahnya disebutkan dalam Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes. Namun, terkait kelahirannya, masing-masing agama memberikan argumennya sendiri.
Terkait sosok Nabi Isa, Yahudi menganggapnya Nabi/Mesias palsu yang menyesatkan Bani Israil. Sementara pandangan Kristen menganggap bahwa Isa Almasih atau lebih dikenal Yesus Kristus adalah Tuhan dan salah satu dari Trinitas (Allah Anak) serta juru selamat mereka.
Ciri-ciri Nabi Isa
Tentang ciri-ciri Nabi Isa 'alaihissalam disebutkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam beberapa Hadis. Nabi Isa sosoknya berpostur tubuh sedang, berdada bidang, kulitnya kemerah-merahan seperti baru keluar dari pemandian. (HR Al-Bukhari, Muslim)Dalam riwayat Ibn Abbas, kulit Nabi Isa ibn Maryam yang dilihat oleh Rasulullah SAW ketika Isra Mi'raj adalah putih kemerahan (al-hamrah wal bayadh).
Nabi Isa bin Maryam dengan kulit putih kemerahan inilah yang nanti pada akhir zaman turun ke bumi.Hal ini diketengahkan dalam Hadis Mustadrak Al-Hakim:
Artinya: "Sesungguhnya ruhullah, Isa akan turun di tengah-tengah kalian. Maka jika kalian melihatnya, maka kenalilah dia. Dia adalah berkulit putih kemerah-merahan dan mengenakan dua baju, seakan kepalanya meneteskan air dan basah. Dia akan menghancurkan salib, membunuh babi, menghapuskan hukum jizyah dan menyeru manusia pada Islam, membinasakan Dajjal dan meletakkan amanah (keamanan) di atas muka bumi sehingga singa dengan unta bergembala bersama, singa dengan sapi, serigala dengan kambing dan anak kecil bermain ular, tidak membahayakan mereka. Nabi Isa akan menetap 40 tahun, kemudian meninggal dan disholati oleh kaum muslimin."
Nama Nabi Isa dalam Beberapa Bahasa
Ada beberapa pendapat mengenai nama Nabi Isa. Mengutip "Catholic Encyclopedia: The Name of Jesus Christ" menyatakan bahwa nama Ibrani (ישע) Yesyua' atau Y'syua' merupakan nama asli Isa. Nama ini disebut merupakan kependekan dari (יהושע) Yehosyua'.Klemens dari Aleksandria dan Sirilus dari Yerusalem berpendapat bahwa nama Yunani ('ησοῦς Iēsous) merupakan nama asli Isa dan nama ini bukan turunan dari bentuk Ibraninya.
Pendapat lain yang dikutip dari Jennings dan The Encyclopaedia Brittanica (1911) 11th Edition menyatakan nama asli Isa menggunakan nama Aram (ܝܫܘܥ), dibaca Yesyu' dalam dialek Suryani Barat atau Isyo' dalam dialek Suryani Timur, mengingat dia tumbuh dan berdakwah utamanya dengan bahasa Aram.
Sedangkan Nama Yesus yang digunakan umat Kristen diturunkan dari nama Yunani Iēsous. Umat Kristen Arab menyebut Isa dengan (يسوع) atau Yasuu' yang diturunkan dari Yesyua' dengan perubahan fonetik (Reynolds 2007, hlm235).
Yasuu' digunakan sejak sebelum masa Islam dan dan digunakan pada masa-masa setelahnya (Beaumont 2005, hlm175). Isa juga digunakan oleh beberapa kelompok Kristen di negara-negara Muslim.
Dalam Al-Qur'an, Kisah Nabi Isa dimulai dari kelahiran Maryam, putri dari Imran, berlanjut dengan tumbuh kembangnya dalam asuhan Nabi Zakariya, serta kelahiran Nabi Yahya. Kemudian Al-Qur'an menceritakan keajaiban kelahiran Nabi Isa sebagai anak (putra) Maryam tanpa ayah. Berikut firman Allah:
Artinya: "(Ingatlah), ketika para Malaikat berkata, "Wahai Maryam! Sesungguhnya Allah menyampaikan kabar gembira kepadamu tentang sebuah kalimat (firman) dari-Nya (yaitu seorang putra), namanya Al-Masih Isa putra Maryam, seorang terkemuka di dunia dan di akhirat, dan termasuk orang-orang yang didekatkan (kepada Allah)." (QS. Ali 'Imran Ayat 45)
Nabi Isa disebut dengan "kalimat Allah", sebagai pemberitahuan tentang proses penciptaannya yang berbeda dengan kejadian manusia biasa. Nabi Isa dinamai Al-Masih yang merupakan gelar istimewa (raja). Karena kata Almasih dalam Taurat dan Injil berarti "yang disapu atau yang diminyaki". Menyapu dan meminyaki itu adalah satu ketentuan dalam adat istiadat mereka bahwa siapa yang telah disapu dengan minyak suci oleh kepala agama, maka dia sudah menjadi suci pula, cakap untuk memegang kerajaan, memiliki ilmu pengetahuan dan kekuasaan, lagi mendapat berkah.
Di sini Allah, menunjukkan bahwa Isa, senantiasa mendapat berkah walaupun belum pernah disapu dengan minyak suci itu. Ada pula yang mengatakan bahwa nama Isa berasal dari kata Yunani "Yasu", artinya yang diselamatkan, yang terpilih.
Berikut nama Nabi Isa dalam beberapa bahasa:
1. Jesus Christ, Messiah (Bahasa Inggris)
2. Yesus Kristus, Mesias (Indonesia)
3. Yeshua, Yesu'a, Yeshu'a, Yehoshu'a, Masiaḥ (Ibrani atau Ivrit)
4. M'sheekha (Aram), Məšîḥā (Aram/Syria)
5. Isha, Isho, Mar Isho, Eesho, Easho, Ishu (Aram dan India)
6. Isa Al-Masih, Isa ibnu Maryam (Arab)
7. Isha Masih, Issa Mashiha, Hazrat Issa, Issa (India)
8. Yuzu Asaph, Yuz Asaf (India-Kashmir)
9 . Yesu, Yeshu (Ibrani)
10. Iēsous Christos (Yunani).
Kelahiran dan Misi Nabi Isa AS sebagai Rasul Allah SWT, Simak di Sini!
Kelahiran Nabi Isa Alaihissalam dan misinya sebagai Rasul Allah Subhanahu wa taala merupakan salah satu hal dasar bagi keyakinan umat Islam. Mengapa demikian?... | Halaman Lengkap [1,631] url asal
#kisah-nabi-dan-rasul #nabi-isa-as #kisah-nabi-isa #kelahiran-nabi-isa-almasih #kisah-para-nabi
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 24/12/25 08:38
v/83506/
Kelahiran Nabi Isa Alaihissalam dalam Islam dan misinya sebagai Rasul Allah Subhanahu wa ta'ala merupakan salah satu hal dasar bagi keyakinan umat Islam.Nabi Isa Alaihissalam atau Isa Al-Masih adalah salah satu dari 5 Nabi bergelar Ulul Azmi. Nabi Isa disebut di dalam ayat-ayat Al-Qur'ansebanyak 21 kali, disebut Al-Masih 11 kali, disebut Ibn Maryam 23 kali.
Bagi umat nasrani, Nabi Isa disebut dengan Jesus Christ (Yesus Kristus). Sedangkan orang Kristen Arab menyebutnya dengan Yasu' Al-Masih. Dalam bahasa Yahudi (yaitu bahasa Ivrit atau Ibrani), Nabi Isa disebut Yeshua. Kelahiran Nabi Isa pun menuai kontroversi, masing-masing agama memberikan argumennya sendiri.
Nurhidayat dalam tesisnya "Kisah Nabi Isa dalam Al-Qur'an (Suatu Kajian Sejarah)" Program Pasca Sarjana UIN Alauddin Makassar 2017 menyebutkan, ketika kelahiran Nabi Isa 'alaihissalam , tidak ada hal-hal yang khusus yang terdapat padanya. Tidak ada tanda-tanda bahwa ia akan menjadi manusia yang luar biasa nantinya.
Akan tetapi yang dialami oleh Maryam terdapat hal yang tidak biasa, karena Maryam mengandung tanpa berhubungan dengan seorang laki-laki. Ada keterangan berbeda antara umat Nasrani dan Islam mengenai orang tua Nabi Isa. Bagi umat Nasrani, Nabi Isa memiliki ayah yaitu Yususf an-Najar, sedangkan umat Islam menganggap bahwa Nabi Isa tidak memiliki ayah.
Menurut penuturan Injil, Nabi Isa lahir dari keluarga Raja Daud, ayahnya Yusuf dan ibunya adalah Maria. Akan tetapi, di antara empat Injil (Markus, Yahya, Matius dan Lukas) hanya Injil Matius dan Lukas yang menyatakan bahwa Yesus lahir dari darah Maryam dan perantaran Roh Kudus. Dalam Injil Markus dan Yahya menyatakan Yesus lahir tanpa dari darah Maryam tanpa dicampuri oleh seorang laki-laki. Jadi dalam kitab Injil sendiri terjadi perbedaan dalam hal ini.
Nurhidayat menerangkan, mengenai tempat kelahirannya juga ada dua pendapat yaitu pertama, Nabi Isa lahir di Nazaret di daerah Galilea. Kedua, Nabi Isa lahir di Betlehem di dekat Yerussalem sebagaimana dalam penuturan Injil Matius.
Mengenai kapan lahir Nabi Isa terdapat beberapa pendapat. Pendapat umum menyatakan bahwa Nabi Isa lahir pada tanggal 25 Desember yang dikenal dengan Hari Natal. Ada pula yang menyebut tahun saja yaitu bertepatan 1 Masehi. Ada pula pendapat yang mengatakan tahun ke-7 dan ke-5 Masehi. Tetapi yang jelas tanggal, hari dan bulan serta tahun kelahiran Nabi Isa tidak dapat dipastikan, begitu juga mengenai ayah Yusuf.
Terkait tempat kelahiran Nabi Isa 'alaihissalam, Allah berfirman dalam Surah Maryam Ayat 22-23:
"Maka Maryam mengandungnya, lalu ia menyisihkan diri dengan kandungannya itu ke tempat yang jauh. Maka rasa sakit akan melahirkan anak memaksa ia (bersandar) pada pangkal pohon kurma, Dia berkata: "Aduhai, Alangkah baiknya aku
mati sebelum ini, dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan."
Berdasarkan ayat itu, maka tergambar dalam Al-Qur'an bahwa Maryam melahirkan di tempat yang jauh dan tidak terjangkau oleh orang.
Menurut mufassir Quraish Shihab, mayoritas ulama menegaskan bahwa kelahiran Nabi Isa yakni kehamilan selama sembilan bulan, bukan seperti pendapat sementara bahwa itu terjadi hanya sekejap Nabi Isa dilahirkan dengan kalimat "kun fayakun".
Banyak ulama berpendapat nahwa lokasi yang dipilihnya adalah Baitul al-Lahm, sebuah daerah sebelah Selatan al-Qudus (Yerusalem) di Palestina, dan disanalah Nabi Isa dilahirkan. Maryam mengasingkan dirinya. Oleh sebab Maryam melahirkan seorang anak yang lahir tanpa bapak, sehingga takut akan kecaman orang lalu bersandar pada pohon kurma saat merasakan rasa sakit saat melahirkan. Dan tidak dijelaskan secara mendetail bahwa tempat kurma tersebut, tetapi yang pasti bukan tempat jorok.
Kelahirannya tanpa bapak, membuat sejumlah umatnya menganggap Nabi Isa sebagai Anak Tuhan. Bukan hanya dalam arti 'simbolis', melainkan benar-benar dalam arti 'biologis'. Seperti terbaca dalam Inijl Lukas 1:28-32: "Maka Malaikat itupun datanglah kepadanya serta berkata sejahterah lah engkau yang sudah beroleh anugrah Tuhanlah beserta engkau Maka terkejutlah ia sebab katanya demikian, serta berfikir akan pengertian salam ini. Maka kata Malaikat kepada Maryam, janganlah takut hai Maryam karena engkau sudah beroleh anugrah Allah. Sesungguhnya engkau akan hamil dan beranakkan seorang laki-laki maka hendaklah engaku namakan dia Yesus Maka ia akan menjadi besar, ia akan dikatakan anak Allah yang maha tinggi, maka Allah Tuhan kita mengaruniakan tahta Daud nenek moyangnya itu. dan tiadalah Yusuf bersetubuh dengan Maryam sehingga Maryam melahirkan seorang anak laki-laki lalu diberinya nama Yesus."
Allah Ta'ala membantah hal itu dalam Surah Yunus Ayat 68, Allah berfirman: "Mereka (orang-orang Yahudi dan Nasrani) berkata: "Allah mempuyai anak". Maha suci Allah; Dia-lah yang Maha Kaya; Kepunyaan-Nya apa yang ada di langit dan apa yang di bumi. kamu tidak mempunyai hujjah tentang ini. Pantaskah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?"
Fitnah Yahudi
Demikian pula perbedaan pendapat dalam hal tempat dan kapan Nabi Isa dilahirkan. Perihal kelahiran itu ternyata mengundang perhatian orang Yahudi sehingga Maryam dituduh berzina. Talmud menyatakan bahwa al-Masih terlahir sebagai anak haram, karena ibunya Maryam hamil ketika sedang haid.Ia juga diselimuti oleh roh Esau. Berawal dari kelahiran inilah, sehingga kemudian orang-orang memuliakan Nabi Isa bahkan dianggap sebagai Tuhan oleh para pengikutnya di kemudian hari.
Dalam hal kelahiran Nabi Isa seperti yang telah disebutkan di atas maka sangat jelas bahwa Nabi Isa lahir tanpa bapak karena atas izin Allah. Nabi Isa tiada lain hanya utusan Allah sama seperti Nabi-nabi Allah lainnya.
Misi Nabi Isa Sebagai Rasul Allah
Setiap Nabi diutus oleh Allah Ta'ala memiliki tujuan atau misi dalam berdakwah. Adapun misi dakwah seorang nabi sesuai dengan situasi dan kondisi umatnya. Nabi Isa adalah Nabi yang melanjutkan risalah kenabian sebelumnya, yakni risalah Nabi Musa sebagaimana terdapat dalam Surah as-Shaf Ayat 6, Allah berfirman:"Dan (ingatlah) ketika Isa Ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, Yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)." Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata."
Sejak usia enam tahun, Nabi Isa sudah memasuki perguruan Taurat. Ia memahami hukum Taurat lebih cepat dibandingkan dengan anak-anak seusianya. Pada usia 12 tahun, dia bertanya jawab soal Taurat dengan orang- orang Yahudi yang jauh lebi tua, baik soal hukum sampai soal ketuhanan.
Setelah Nabi Isa berusia 30 tahun, Malaikat Jibril datang sebagai utusan Allah untuk mengangkat Isa menjadi Rasul Allah, menyambung pelajaran yang pernah diajarkan rasul-rasul sebelumnya dan memberi kabar kepada manusia tentang kedatangan seorang Nabi terakhir yakni Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam.
Menurut keterangan Perjanjian Baru dalam kitab Injil karangan Lukas 4:23: "Maka Yesus sendiri tatkala ia mulai mengajar, umurnya kira-kira 30 tahun, maka sangka orang ia itu anak Yusuf, anak Heli."
Sumber lain mengatakan bahwa setelah berumur 30 tahun, saudara sepupu Yahya bin Zakaria diakui sebagai guru oleh ulama Yahudi, Yesus dimandikan (dibabtis) sebagai isyarat pengakuan bahwa ilmunya sudah cukup untuk mengajar. Oleh Karena memandikan Yesus maka Yahya diberi gelar "Yahya Pembabtis" (Yohane de Dooper).
Dalam Al-Qur'an tidak dijelaskan kapan Nabi Isa diangkat menjadi Nabi, dan di mana tempatnya. Akan tetapi, perintah kenabian Nabi Isa dikenal sejak beliau lahir dan sejak berbicara kepada Bani Israil ketika masih dalam buaian. Seperti yang terdapat dalam Surah Maryam Ayat 30, Allah berfirman:
"Berkata Isa: "Sesungguhnya aku ini hamba Allah, Dia memberiku Al kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang Nabi."
Setelah Yahya wafat, wahyu diturunkan kepada Nabi Isa. Malaikat Jibril menyampaikan wahyu tersebut kepada Nabi Isa as sebagai tanda kenabian dan memberi kitab Injil. Hal ini tertuang dalam QS Ali-Imran Ayat 49, Allah berfirman:
"Dan (aku datang kepadamu) membenarkan Taurat yang datang sebelumku, dan untuk menghalalkan bagimu sebagian yang telah diharamkan untukmu, dan aku datang kepadamu dengan membawa suatu tanda (mukjizat) daripada Tuhanmu. karena itu bertakwalah kepada Allah dan taatlah kepadaku. Sesungguhnya Allah, Tuhanku dan Tuhanmu, karena itu sembahlah Dia. Inilah jalan yang lurus".
Salah satu misi Nabi Isa yakni memberitakan bahwa kemudian hari akan diutus oleh Allah seorang rasul, yakni Nabi Muhammmad SAW yang dibekali sebuah Kitab Suci (Al-Qur'an) yang membenarkan kitab-kitab suci sebelumnya yang akan disampaikan kepada manusia.
Dalam QS as-Shaf Ayat 4, Allah berfirman:
"Dan (ingatlah) ketika Isa Ibnu Maryam berkata: "Hai Bani Israil, Sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan kitab sebelumku, Yaitu Taurat, dan memberi khabar gembira dengan (datangnya) seorang Rasul yang akan datang sesudahku, yang namanya Ahmad (Muhammad)." Maka tatkala Rasul itu datang kepada mereka dengan membawa bukti-bukti yang nyata, mereka berkata: "Ini adalah sihir yang nyata".
Setelah Nabi Isa dibaptis, maka semakin berani pula beliau mengoreksi para ulama Yahudi yang dianggap menyeleweng dalam ajaran Taurat. Dalam berdakwa Nabi Isa as terkenal sebagai seseorang yang sering berkelana (berpindah-pindah) tempat untuk membawa kabar gembira akan keselamatan. Diperjalanan Nabi Isa as melarang pengikutnya membawa tongkat, bekal, uang dan senjata.
Misi Nabi Isa as dalam berdakwah adalah menyiarkan agama yang benar, membongkar akan kesalahan dan kesesatan pendeta Yahudi yan telah jauh menyimpang dari ajaran Nabi Musa yang sebenarnya. Bahkan terbukti kepada Nabi Isa bahwa mereka telah lupa dengan ajaran-ajaran yang diberikan Nabi Musa dalam kitab suci Taurat. Sudah banyak pula yang tidak kenal kepada Allah, Nabi Isa menyampaikan kehadirannya memerintahkan untuk menyembah Allah.
Hal itu diungkap dalam Surah az-Zukhruf Ayat 63-64, Allah berfirman:
"Dan tatkala Isa datang membawa keterangan Dia berkata: "Sesungguhnya aku datang kepadamu dengan membawa hikmat10 dan untuk menjelaskan kepadamu sebagian dari apa yang kamu berselisih tentangnya, Maka bertakwalah kepada Allah dan taatlah (kepada) ku".
Sesungguhnya Allah Dialah Tuhanku dan Tuhan kamu Maka sembahlah Dia, ini adalah jalan yang lurus".
Wallahu A'lam
Sumber Sejarah:
1. Nabi Isa yang ditulis oleh Hilmy Ali Sya'ban.
2. Qishas Al-Anbiya, Abdul wahhab al-Najjar.
3. Qishash Anbiya yang di tulis oleh Hadiyah Salim.
4. Al-Sirah Annabawiyah, Ibn Hisyam, Terjemahan.
5. Buku kisah teladan 25 nabi dan rasul karangan Mutiah Ahmad.
6. Isa Al-Masih dalam teologi Muslim, skripsi Azis Basuki.
7. Kematian dan penyaliban Nabi Isa dalam Tafsir al-Manar.
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56