Bisnis.com, JAKARTA — Emiten pengolahan karet Grup Triputra, PT Kirana Megatara Tbk. (KMTR) membukukan peningkatan pendapatan, tetapi dengan laba bersih yang merosot pada 2025. KMTR mencetak laba bersih Rp185,10 miliar sepanjang tahun lalu.
Dalam laporan keuangan per 31 Desember 2025, KMTR mencatatkan penjualan neto sebesar Rp12,82 triliun. Penjualan ini naik 13,93% secara tahunan dari Rp11,25 triliun.
Berdasarkan segmennya, penjualan ini dikontribusi dari pabrik crumb rubber sebesar Rp12,75 triliun, dan segmen agro bisnis sebesar Rp76,54 miliar.
Di sisi lain, beban pokok pendapatan KMTR naik 16,01% menjadi Rp11,83 triliun, dari sebelumnya sebesar Rp10,2 triliun.
Alhasil, laba bruto KMTR turun menjadi Rp989,99 miliar. Laba bruto ini turun 6,20% dibandingkan dengan 2024 yang sebesar Rp1,05 triliun.
KMTR mencetak laba neto tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp185,10 miliar sepanjang 2025. Laba bersih ini turun 5% dibanding realisasi 2024 yang senilai Rp195,8 miliar.
Adapun, laba per saham dasar dan dilusian KMTR turun menjadi Rp22,53, dari sebelumnya sebesar Rp23,72.
KMTR juga membukukan kas dan setara kas akhir tahun sebesar Rp481,7 miliar, dari sebelumnya sebesar Rp414,05 miliar pada 2024. KMTR pun mencatatkan jumlah aset sebesar Rp4,52 triliun, turun dari Rp5,6 triliun pada 2024.
Jumlah liabilitas KMTR juga turun menjadi Rp2,34 triliun di akhir 2025, dari Rp3,55 triliun di akhir 2024. Adapun, total ekuitas KMTR meningkat menjadi Rp2,18 triliun per 31 Desember 2025, dari Rp2,05 triliun per 31 Desember 2024.
TP Rachmat, pendiri Triputra Group, meraih Penghargaan BIG-40 Lifetime Leadership atas kepemimpinannya yang transformasional di Astra dan Triputra. [764] url asal
Bisnis.com, JAKARTA — Pendiri Triputra Group, Theodore Permadi (TP) Rachmat, mendapatkan Penghargaan BIG-40 dengan kategori: Lifetime Leadership in Enterprise Transformation.
Dalam sambutannya, Teddy, sapaan akrabnya menyampaikan pencapaian ini sungguh perjalanan yang panjang.
"Sudah 60 tahun lebih. Mulai dari satu paviliun kecil, sampai yang sekarang [sebesar ini]," tuturnya saat menerima penghargaan, Senin (8/12/2025).
Dia juga mengungkapkan penghargaan ini dapat terjadi karena ada beberapa tokoh yang turut membantu perjalanan bisnisnya.
"Pak Soemitro [Soemitro Djojohadikoesoemo], saya pernah kerja di beliau 2-3 tahun waktu beliau adalah Chairman Astra. Pak Emil Salim, Pak Jusuf kalla, Ibu Retno Marsudi, yang saya hormati. Ini bisa kejadian karena ada bapak-ibu semua yang memberi contoh," imbuhnya.
"Yang kedua adalah saya beruntung lahir di Indonesia, yang memungkinkan ini terjadi. Dan tidak lupa kita berterima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa... dan terima kasih Bisnis Indonesia," lanjutnya.
Penghargaan diberikan kepada TP Rachmat atas kepemimpinan yang visioner dan transformasional dalam membawa Astra International menjadi perusahaan nasional berkelas dunia.
Di bawah kepemimpinannya, Astra tidak hanya tumbuh menjadi grup bisnis terintegrasi dengan standar tata kelola modern, tetapi juga menjadi model pengembangan SDM, inovasi operasional, serta kemitraan strategis di berbagai sektor industri.
Warisan kepeloporan Teddy terus berlanjut dengan pendirian Triputra Group, yang berhasil menjadi salah satu konglomerasi terbesar. Hal ini membuktikan kemampuannya dalam membangun fondasi bisnis yang kuat dan berkelanjutan.
Kontribusi multidimensi beliau menegaskan peran sentralnya sebagai mentor dan arsitek utama bagi generasi pelaku bisnis di Indonesia.
Melihat profilnya, TP Rachmat merupakan pendiri Triputra Group yang kini memiliki empat lini bisnis, termasuk agribisnis, manufaktur, dan pertambangan. Dia memulai karirnya sebagai salesman di Astra Grup pada 1968, sebelum kemudian akhirnya menjadi pimpinan di perusahaan yang didirikan pamannya, William Soeryadjaya.
Selain itu, dia juga turut andil membesarkan salah satu perusahaan tambang batu bara terbesar di Indonesia, PT Adaro Energy, yang kini bertransformasi menjadi Grup Alamtri.
Lulusan jurusan mesin, Fakultas Teknik Institut Teknologi Bandung (ITB) ini, masuk dalam daftar 50 orang terkaya di Indonesia 2018 versi Forbes. Dia ditempatkan pada peringkat ke-17 dengan jumlah kekayaan US$1,6 miliar.
Berdasarkan data Forbes The Real-Time Billionaires List per 1 Desember 2025, Teddy memiliki kekayaan US$4,4 miliar, dan menjadi orang terkaya ke-15 di Indonesia.
Theodore Permadi Rachmat memulai bisnisnya sendiri dengan mendirikan PT Triputra Investindo Arya pada tahun 1998 sebagai perusahaan induk dari Adira Mobil dan Adira Finance.
Keduanya sebelumnya dimiliki oleh ayahnya, yang kemudian mengambil alih kepemimpinan dan menggabungkannya. Di bawah kepemimpinannya, Adira Finance tumbuh pesat dan membuatnya menjadi salah satu perusahaan pembiayaan terbaik di Indonesia.
Pada tahun 2004, Adira Finance dijual kepada Bank Danamon Tbk. dengan tujuan pengembangan dan rencana diversifikasi masa depan dari Triputra Group. Hasil kesepakatan ini kemudian digunakan untuk memperluas garis bisnis dalam sektor industri yang lebih menjanjikan.
Hingga saat ini, Triputra Group memiliki empat lini bisnis, termasuk Agribisnis, Manufaktur, Energi, serta Perdagangan & Jasa.
Terkini, emiten Grup Triputra di sektor logistik hingga perkebunan cenderung mencatatkan pertumbuhan kinerja sepanjang 9 bulan 2025.
Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, emiten di sektor perkebunan dan pengolahan karet, PT Kirana Megatara Tbk. (KMTR) mencatatkan pendapatan tertinggi senilai Rp10,14 triliun per September 2025. Pendapatan tersebut meningkat 23,26% year on year (YoY), yang turut mengerek laba bersih 62,48% YoY menjadi Rp208,52 miliar.
Di sektor perkebunan dan pengolahan kelapa sawit, PT Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG) dan PT Dharma Satya Nusantara Tbk. (DSNG) juga membukukan pertumbuhan kinerja. Pendapatan TAP naik 24,68% menjadi Rp8,94 triliun seiring dengan peningkatan harga minyak kelapa sawit (CPO).
Adapun Penghargaan BIG-40 dipersembahkan oleh Bisnis Indonesia dalam rangka memperingati hari ulang tahun ke-40 Harian Bisnis Indonesia.
Penghargaan BIG-40 merupakan sebuah bentuk apresiasi kepada 40 tokoh yang memberikan kontribusi dan pengaruh signifikan bagi kemajuan Indonesia. Penghargaan ini mencakup berbagai bidang—ekonomi dan bisnis; sosial dan politik; budaya dan lingkungan; hingga olahraga—dengan dampak pada skala nasional.
Penghargaan BIG-40 diberikan kepada figur-figur dengan rekam jejak luar biasa. Figur itu mencakup para inspirator nasional, perumus kebijakan yang mendukung perkembangan dunia usaha, pendiri dan pelopor perusahaan berskala besar, dan tokoh penggerak pembangunan daerah.
Lalu, para eksekutif dan profesional terkemuka, generasi muda visioner, serta para tokoh yang berperan dalam pemberdayaan masyarakat dan penguatan hubungan publik.
Proses pemilihan dilakukan melalui metodologi yang ketat, meliputi desk research mendalam, penelusuran rekam jejak publik, dan kurasi komprehensif oleh Tim Redaksi Bisnis Indonesia yang dikenal sangat selektif dan independen.
Penghargaan ini menjadi wujud penghormatan Bisnis Indonesia Group atas dedikasi, integritas, dan pencapaian para tokoh tersebut.
BIG-40 diharapkan tidak hanya mengapresiasi kiprah individu, tetapi juga menghadirkan inspirasi bagi masyarakat dan dunia usaha untuk terus berkontribusi dalam membangun Indonesia yang lebih maju dan berdaya saing.
Bisnis.com, JAKARTA — Triputra Group’s listed companies in the logistics and plantation sectors continued to post growth in the first nine months of 2025. Analysts remain optimistic about the outlook for shares linked to conglomerateTheodore Permadi Rachmat or TP Rachmat.
According to its financial report, plantation and rubber processor PT Kirana Megatara Tbk. (KMTR) booked record revenue of IDR10.14 trillion as of September 2025, up 23.26 percent YoY. The increase in sales also pushed net profit up 62.48 percent YoY to IDR208.52 billion. In the plantation and palm oil processing segments, PT Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG) and PT Dharma Satya Nusantara Tbk. (DSNG) also recorded solid performances. TAPG’s revenue rose 24.68 percent to IDR8.94 trillion, supported by higher crude palm oil (CPO) prices.
Bisnis.com, JAKARTA — Emiten Grup Triputra di sektor logistik hingga perkebunan cenderung mencatatkan pertumbuhan kinerja sepanjang 9 bulan 2025. Analis pun memandang positif prospek saham-saham terafiliasi konglomerat Theodore Permadi (TP) Rachmat tersebut.
Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, emiten di sektor perkebunan dan pengolahan karet, PT Kirana Megatara Tbk. (KMTR) mencatatkan pendapatan tertinggi senilai Rp10,14 triliun per September 2025. Pendapatan tersebut meningkat 23,26% year on year (YoY), yang turut mengerek laba bersih 62,48% YoY menjadi Rp208,52 miliar. (Lihat infografik)
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56