Bisnis.com, BALIKPAPAN — Momentum mudik Lebaran 2026 dinilai menjadi akselerator ekonomi Kalimantan Timur yang paling dinanti di tengah tekanan inflasi yang mencapai 3,76% secara tahunan (year-on-year/yoy), bahkan 4,33% untuk Kota Samarinda.
Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Kaltim Putri Amanda Nurrahmadani menyatakan perputaran uang dalam waktu singkat selama periode mudik diprediksi mampu menggerakkan roda ekonomi rakyat, terutama sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang menjadi tulang punggung konsumsi domestik.
"Dari sudut pandang pelaku usaha di Kalimantan Timur, mudik lebaran masih menjadi salah satu penggerak ekonomi musiman yang penting bagi daerah tujuan. Arus pemudik membawa peningkatan konsumsi rumah tangga dalam waktu singkat dan langsung sehingga terjadi perputaran uang yang cepat di sektor perdagangan, kuliner, transportasi lokal dan jasa," kata Putri dalam keterangan resmi, Rabu (11/3/2026).
Dia mengatakan, kondisi ekonomi Kaltim saat ini tengah menghadapi tantangan ganda, yaitu inflasi tinggi dan lonjakan biaya transportasi akibat ketegangan geopolitik di Selat Hormuz.
Berbeda dengan stimulus fiskal yang memerlukan proses birokratis panjang, momentum Lebaran memberikan dampak langsung dan terukur.
Dia mengungkapkan bahwa efek ekonomi Lebaran jauh lebih menyebar ke pelaku usaha kecil-menengah.
"Efek ekonomi lebaran itu relatif lebih menyebar ke UMKM dibandingkan sektor besar. Karena banyak perputaran uang justru terjadi di warung, usaha katering kecil, jasa transportasi lokal hingga pedagang musiman," tutur dia.
Sementara itu, Sekretaris Umum Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia (HIPPI) Kalimantan Timur Reza Fadillah menyebutkan bagi organisasi pengusaha daerah lebaran tetap menjadi stimulus ekonomi rakyat yang paling konkret.
Dia memaparkan berdasarkan pengalaman dunia usaha di Kaltim, ada empat sektor yang paling cepat merespons momentum Lebaran.
Pertama, perdagangan ritel dan pasar tradisional yang langsung merasakan lonjakan permintaan kebutuhan rumah tangga menjelang hari raya.
Kedua, sektor makanan-minuman dan UMKM kuliner yang menjadi responder tercepat.
"Sektor ini paling cepat merespons karena begitu berkumpul keluarga besar kan kebanyakan pesan makanan langsung jadi ya, atau menikmati makanan kuliner, karena masa liburan, masa silaturahmi dan sebagainya," paparnya.
Ketiga, transportasi dan logistik, mulai dari transportasi udara, darat, jasa travel, hingga rental kendaraan yang mengalami lonjakan permintaan signifikan.
Keempat, akomodasi dan pariwisata lokal, terutama di kota-kota seperti Samarinda, Balikpapan, dan Bontang yang menjadi titik kumpul keluarga.
Menariknya, Reza mengungkapkan terdapat perbedaan antara Kaltim dengan provinsi lain mengenai karakteristik uniknya sebagai daerah dengan mobilitas ekonomi dua arah.
Benua Etam tidak hanya menjadi tujuan mudik, tetapi juga sumber pekerja sektor strategis seperti tambang, konstruksi, dan logistik yang tersebar ke berbagai provinsi.
Menurutnya, dinamika ini menciptakan efek berganda, yaitu saat pemudik datang ke Kaltim, terjadi lonjakan konsumsi.
Sebaliknya, saat pekerja Kaltim mudik ke luar pulau, perputaran konsumsi internal berkurang. "Jadi ada balancing plus dan minusnya," tambahnya.
Sayangnya, Reza mengungkapkan momentum Lebaran tahun ini diwarnai tantangan eksternal yang tidak terprediksi.
Pria yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Kadin bidang Diplomasi Luar Negeri dan Wakil Ketua 5 Asosiasi Pengusaha Indonesia ini mengungkapkan bahwa ketegangan di Selat Hormuz akibat konflik Iran menyebabkan gangguan pada jalur transportasi yang sangat vital bagi Kaltim.
"Di luar dugaan akibat permasalahan di Selat Hormuz, perang Iran, maka transportasi kita yang bergantung pada transportasi udara dan laut mengalami gangguan cukup tinggi akibat lonjakan harga bahan bakar. Hal ini terbukti dan boleh dicek itu harga tiket meroket cukup menggila sudah dimulai dari minggu-minggu ini," ungkapnya.
Ironisnya, meski pemerintah menawarkan diskon tiket 17%—18%, lonjakan harga bahan bakar justru dinilai membuat harga tiket meroket.
Reza mencatat adanya perubahan pola konsumsi masyarakat, di mana intensitas dampak ekonomi tidak sebesar beberapa tahun lalu karena masyarakat lebih selektif dalam berbelanja.
"Kenaikan harga pangan dan biaya transportasi membuat masyarakat lebih hati-hati dalam belanja. Jadi masyarakat sudah mulai menimbang nih terkait dengan penghematan transportasi dan penggunaan pangan secukupnya. Jadi lebih selektif," ucapnya.
Faktor eksternal seperti ketegangan geopolitik di Timur Tengah juga memengaruhi perhitungan masyarakat.
"Wilayah seperti Kaltim sangat bergantung pada transportasi udara, logistik antar pulau, faktor ini cukup sensitif untuk kita," terangnya.
Selain itu, kondisi fiskal nasional yang mendorong efisiensi belanja pemerintah turut berdampak. Menurutnya, ketika aktivitas perjalanan dinas dan event berkurang, sektor hotel, restoran, dan jasa merasakan dampak turunannya.
Dalam konteks kebijakan makro, kata Reza, momentum mudik Lebaran memiliki peran strategis sebagai stabilisator ekonomi.
Dia menilai konsumsi rumah tangga menjadi andalan pertumbuhan ekonomi, seiring langkah pemerintah menjaga defisit APBN di level 2,68% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
"Mudik lebaran jadi momen penting karena konsumsi rumah tangga bisa menjadi bantalan pertumbuhan tanpa pemerintah harus menggenjot belanja terlalu agresif," paparnya.
Namun, Reza mengingatkan bahwa efisiensi belanja pemerintah yang terlalu ketat bisa menjadi pedang bermata dua bagi Kaltim.
Adapun, dia mengusulkan perlunya menciptakan momentum serupa secara lebih teratur.
"Kalau momentum lebaran ini mandatory, perintah agama yang kita jalankan, dan kita harapkan ada yang mendekati level itu, secara simultan paling minim tiga kali setahun ini sudah menjaga perputaran ya, karena memang sektor paling nyata yang dirasakan masyarakat itu sektor belanja rumah tangga," pungkasnya.