Bisnis.com, JAKARTA — Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) menyoroti kembali meningkatnya kasus penyakit menular pada anak yang sebelumnya sempat terkendali melalui program imunisasi. Kondisi ini menjadi perhatian karena menunjukkan adanya celah dalam sistem perlindungan kesehatan anak di Indonesia.
Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr Piprim Basarah Yanuarso, menyebut fenomena ini sebagai re-emerging disease, yakni penyakit yang kembali muncul setelah sebelumnya berhasil ditekan. Menurutnya, kemunculan kembali penyakit ini tidak terlepas dari menurunnya cakupan imunisasi di masyarakat.
“Ini yang disebut re-emerging disease, penyakit yang dulu sudah bisa dikendalikan, tapi sekarang muncul kembali,” ujarnya saat ditemui di Hotel Sangri-La, Jakarta Pusat, Senin (13/4/2026).
Dia menjelaskan bahwa keberhasilan pengendalian penyakit menular di masa lalu sangat bergantung pada imunisasi. Contohnya, penyakit seperti polio dan campak yang dulu banyak menyebabkan kecacatan hingga kematian, kini bisa ditekan setelah adanya vaksin.
“Kalau penyakit yang bisa dicegah dengan imunisasi muncul lagi, itu artinya program imunisasinya tidak berjalan sesuai target,” tegasnya.
Menurut Piprim, penyakit seperti campak termasuk dalam kategori penyakit dengan tingkat penularan tinggi sehingga membutuhkan cakupan imunisasi yang sangat luas. Untuk mencapai kekebalan kelompok atau herd immunity, cakupan imunisasi harus berada di atas 95 persen.
Namun, dia menilai saat ini banyak faktor yang mempengaruhi rendahnya cakupan tersebut. Salah satunya adalah meningkatnya keraguan masyarakat terhadap vaksin yang dipicu oleh informasi yang tidak akurat di media sosial.
“Ketika masyarakat mulai ragu terhadap vaksin dan tidak percaya pada pemerintah, program yang sebenarnya baik jadi ikut tidak dipercaya,” tambahnya.
Selain itu, dia juga menjelaskan adanya ketimpangan fokus dalam sistem layanan kesehatan yang lebih mengarah pada layanan kuratif dibandingkan promotif dan preventif. Padahal, upaya pencegahan melalui imunisasi dan edukasi masyarakat menjadi kunci utama dalam menekan penyakit menular.
Menurutnya, layanan kesehatan primer seperti posyandu dan puskesmas seharusnya menjadi garda terdepan dalam program imunisasi. Namun, saat ini peran tersebut dinilai belum diperkuat secara optimal, baik dari sisi sumber daya maupun dukungan kebijakan.
“Kader posyandu sebagai ujung tombak imunisasi belum mendapatkan perhatian dan dukungan yang memadai,” ujarnya.
Piprim menilai kondisi ini harus menjadi peringatan bagi semua pihak untuk segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem kesehatan. Dia menegaskan bahwa peningkatan kasus penyakit menular bukanlah hal yang bisa dianggap biasa.
“Ini harus jadi alarm untuk kita semua agar kembali memperkuat upaya promotif dan preventif, jangan sampai ada anak yang sakit atau meninggal karena penyakit yang sebenarnya bisa dicegah,” tegasnya.
Dia juga menekankan pentingnya peran media dalam membantu menyebarkan edukasi yang benar kepada masyarakat. Dengan informasi yang tepat, diharapkan kepercayaan publik terhadap program imunisasi dapat kembali meningkat.
“Ayo kita galakkan kembali imunisasi dan perkuat layanan kesehatan dasar agar anak-anak terlindungi sejak dini,” tutupnya.