#30 tag 24jam
Belajar Setahun, Bertahan Bertahun-tahun: BRI Dampingi Mahdiah Kembangkan Dodol Rumput Laut
Meski program selesai, ilmu dari BRI masih menemani Mahdiah mengembangkan dodol rumput laut di Pulau Panggang. Kini usahanya tetap bertahan. - Bagian all [1,179] url asal
JAKARTA, iNews.id – Kelompok usaha yang pernah dipimpinnya memang sudah lama bubar. Pendampingan pun telah berakhir sejak beberapa tahun lalu.
Namun, ilmu yang diperoleh selama mengikuti pemberdayaan Program Peningkatan Keterampilan Usaha Rakyat (PKUR) dari Yayasan Baitul Maal (YBM) BRILiaN masih menjadi bekal utama Mahdiah untuk mempertahankan usaha Dorula, dodol berbahan rumput laut yang dirintisnya di Pulau Panggang, Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, Kabupaten Kepulauan Seribu, Jakarta.
Perempuan berusia 56 tahun itu masih rutin mengolah rumput laut menjadi dodol. Produksi memang tidak dilakukan setiap hari, tetapi ketika ada pesanan atau stok mulai menipis, dapur rumahnya kembali dipenuhi aroma manis dodol yang dimasak berjam-jam.
"(Usaha) masih sih. Kemarin saya produksi," kata Mahdiah kepada iNews.id pada Senin (15/6/2026).
Mahdiah bercerita, keberlanjutan usahanya hari ini tidak lepas dari pendampingan yang diterima pada 2020. Saat itu, dia tidak pernah menyangka mengikuti bazar di Balai Kota Jakarta menjadi awal pertemuannya dengan tim BRI.
"Dari 2020. Awalnya saya bazar di Balai Kota. Akhirnya ketemu orang BRI. Datang ke mari orang BRI, suruh bikin kelompok rumput laut," ujarnya.
Pertemuan tersebut melahirkan kelompok usaha yang beranggotakan 10 warga Pulau Panggang. Mahdiah dipercaya menjadi ketua.
Seluruh anggota kelompok memproduksi dodol rumput laut sebagai upaya meningkatkan nilai tambah hasil rumput laut dari Pulau Panggang yang selama ini lebih banyak dijual dalam bentuk mentah.
Selama kurang lebih satu tahun, mereka memperoleh pendampingan intensif. Mahdiah dan kelompoknya diajarkan cara mengembangkan usaha serta dibekali kemampuan mengelola keuangan dan pembukuan sederhana.
"Terus berjalan dibimbing sama mereka, satu tahun. Diajarin pembukuan, dikasih modal," katanya.
Menurut Mahdiah, bantuan yang diberikan bukan berupa pinjaman usaha yang harus dikembalikan seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR). Dia menerima bantuan modal yang langsung dimanfaatkan untuk membeli perlengkapan produksi.
"Enggak, kita dikasih modal cuma-cuma. Dipakai buat beli perabotan, beli bahan-bahan," ujarnya.
Total bantuan yang diterima Mahdiah dan kelompoknya mencapai lebih dari Rp40 juta. Dana tersebut dibagi kepada seluruh anggota sehingga masing-masing memperoleh sekitar Rp4 juta untuk membeli kompor, wajan, hingga bahan baku.
Selain modal usaha, kelompok juga memperoleh bantuan gerobak sebagai sarana berjualan sehingga produk olahan rumput laut lebih mudah dipasarkan kepada masyarakat.
"Iya, uang waktu itu untuk 10 orang Rp40 juta lebih, bantuan modal berbentuk uang. Kita belanjakan buat bahan baku. Jadi satu orang Rp4 juta lebih, buat beli kompor, wajan, bahan-bahan untuk bikin dodol," katanya.
Program pendampingan memang hanya berlangsung sekitar setahun. Seiring waktu, kelompok usaha yang dibentuk pun tidak lagi aktif.
Namun, Mahdiah memilih tetap melanjutkan usahanya secara mandiri.
"Kelompoknya sudah bubar, tapi jualannya masih. Dilatih setahun dari BRI, terus kitanya mengembangkan sendiri. Pelatihannya setahun, diajarin pembukuan, gitu-gitu," ujarnya.
Bekal tersebut juga mendorong Mahdiah mengembangkan produk lain. Dia sempat bereksperimen mengolah rumput laut menjadi kerupuk sebagai alternatif produk yang memiliki nilai jual.
Hingga kini, seluruh proses produksi masih mengandalkan cara tradisional. Rumput laut dijemur terlebih dahulu di bawah sinar matahari sebelum diolah menjadi dodol. Karena bergantung pada cuaca, waktu produksi tidak selalu sama.
"Produksi paling lama seminggu, karena kan ini jemur alami. Kalau mataharinya bagus tiga hari jadi," ujarnya.
Dorula dipasarkan dalam kemasan 200 gram dengan harga Rp20.000. Produk tersebut mampu bertahan sekitar satu bulan pada suhu ruang, bahkan lebih lama jika disimpan di dalam freezer.
"Satu bulan. Tapi kalau ditaruh freezer bisa agak lama," kata Mahdiah.
Dukungan BRI kepada warga Pulau Panggang tidak berhenti pada program pemberdayaan seperti yang pernah diterima Mahdiah. Sekali sepekan, kapal bercat oranye dan biru bersandar di dermaga membawa layanan perbankan yang selama ini sulit dijangkau masyarakat kepulauan.
Kapal itu adalah Bahtera Seva I, kantor layanan terapung milik BRI yang berkeliling melayani masyarakat di Kepulauan Seribu. Kehadirannya membuat warga tak perlu lagi menyeberang ke daratan Jakarta hanya untuk mengurus administrasi perbankan.
Setiap hari, kapal memiliki rute yang berbeda. Bank terapung itu berpindah ke sejumlah pulau mulai dari Pramuka, Panggang, Kelapa dan Harapan, Tidung, serta Untung Jawa.
Kepala Teras BRI Kapal Bahtera Seva I, Algi Meza, mengatakan seluruh layanan di atas kapal dibuat sama seperti di kantor cabang di darat. Bedanya, kantor tersebut berpindah-pindah untuk melayani masyarakat kepulauan.
"Pelayanannya sih hampir sama dengan perbankan di darat, cuma bedanya kita bank terapung. Kita perbankan yang jemput bola lah," ujar Algi.
Setiap kali kapal bersandar di Pulau Panggang, rata-rata lebih dari 20 nasabah memanfaatkan layanan tersebut. Ada yang mengganti kartu ATM, membuka blokir PIN, mengganti buku tabungan, menyetor dan menarik uang tunai, hingga mengajukan pinjaman.
"Pelayanannya macam-macam, ada yang ganti kartu, PIN yang terblokir, ada yang ganti buku, ada yang penarikan, ada yang setor tunai, ada juga yang pengajuan pinjaman," katanya.
Mayoritas masyarakat yang dilayani merupakan nelayan. Selain itu, terdapat pedagang sembako, pemilik warung, hingga pelaku usaha mikro yang menggantungkan aktivitas ekonominya di wilayah kepulauan.
Selain melayani transaksi masyarakat, Bahtera Seva I juga menjadi tempat penyetoran dana bagi jaringan AgenBRILink yang tersebar di Kepulauan Seribu. Para agen tersebut menjadi perpanjangan tangan BRI ketika kapal belum tiba di pulau.
"Kebanyakan di sini kita terima setoran dari AgenBRILink. Karena mitra kita yang membantu kita sewaktu-waktu enggak ke pulau, jadi kebanyakan nasabah kita setor tariknya di AgenBRILink," ujarnya.
Tingginya aktivitas transaksi membuat kas yang dibawa kapal menuju daratan setiap pekan dapat mencapai miliaran rupiah.
"Rata-rata kita dari Senin sampai Jumat kas kita itu paling besar Rp2 miliar. Paling kecilnya di bawah Rp1 miliar," kata Algi.
Antusiasme warga terhadap layanan terapung ini pun tidak pernah surut. Bahkan sebelum kapal merapat ke dermaga, antrean nasabah biasanya sudah mulai terbentuk.
Meski memiliki jam operasional yang sama seperti kantor layanan di darat, petugas tetap memastikan seluruh warga yang sudah mengantre mendapatkan pelayanan.
"Kalau dari masyarakat mereka antusias. Sebelum kapal menyandar, mereka pasti sudah mengantre biasanya untuk pelayanan. Kadang ngomel ke kita, 'Pak kok lama banget sih?' Kita kan tergantung perjalanannya juga. Tadi kan lumayan ombaknya, jadi perjalanan agak ngaret," ujarnya.
Salah satu warga Pulau Panggang lainnya, Mastunih menilai kehadiran Kapal Bahtera Seva I bukan sekadar memudahkan transaksi perbankan. Layanan tersebut juga menghemat waktu dan biaya karena warga kepulauan seperti dirinya tak lagi harus menyeberang ke daratan hanya untuk mengurus rekening atau mencairkan bantuan sosial.
Perempuan berusia 45 tahun itu menjadi salah satu nasabah yang datang ke kapal saat bersandar di dermaga Pulau Panggang. Siang itu, dia datang untuk mengecek pencairan Bantuan Langsung Tunai (BLT) yang diterimanya secara berkala.
"Iya, tadi cek bantuan BLT. Bantuan dari bansos itu," kata Mastunih.
Selain menerima bantuan sosial, Mastunih sesekali juga menyisihkan penghasilannya untuk ditabung di BRI. Meski nominalnya tidak besar, dia berusaha tetap menyimpan sebagian uang hasil berdagang.
Sehari-hari, Mastunih berkeliling Pulau Panggang menjajakan jelly. Penghasilannya tidak menentu, rata-rata sekitar Rp500.000 dalam sebulan, bahkan terkadang lebih kecil ketika dagangan sedang sepi.
"Sebulan dapat lah Rp500.000. Enggak tentu, suka ada dapat, kadang enggak," katanya.
Mastunih mengaku telah menjadi nasabah BRI sejak 2020. Selama itu pula dia merasakan manfaat layanan perbankan terapung yang hadir langsung ke pulau tempat tinggalnya.
Menurut dia, keberadaan Kapal Bahtera Seva I membuat urusan perbankan menjadi jauh lebih mudah karena warga tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan untuk menyeberang ke Jakarta.
Alasan itulah yang membuat Mastunih tetap memilih menjadi nasabah BRI. "Alhamdulillah terbantu, bagus. Lebih dekat ya, karena datang langsung. Enggak perlu menyeberang-menyeberang," ujarnya.
Editor: Rizky Agustian
Rumput Laut Pulau Panggang Bawa Peluang, BRI Bantu Mahdiah Kembangkan Dorula
Mahdiah mengolah rumput laut Pulau Panggang menjadi dodol Dorula. Berkat pendampingan BRI, usahanya terus berkembang sekaligus mengangkat potensi pesisir. - Bagian all [931] url asal
JAKARTA, iNews.id – Matahari menjadi bagian penting dalam proses produksi Dorula, dodol berbahan rumput laut milik Mahdiah. Selama cuaca cerah, rumput laut cukup dijemur sekitar tiga hari sebelum diolah menjadi penganan manis.
Namun ketika langit mendung dan hujan datang, proses pengeringan dapat mamakan waktu hingga sepekan. Cuaca menjadi penentu utama kelancaran produksi Dorula.
Mahdiah masih mempertahankan rutinitas tersebut di rumahnya yang berlokasi di Pulau Panggang, Kabupaten Kepulauan Seribu, Jakarta. Perempuan berusia 56 tahun itu sabar menunggu panas matahari setiap kali memproduksi dodol rumput laut.
Potensi rumput laut di Pulau Panggang diolah menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi. Prosesnya memang tidak singkat.
"(Usaha) masih (berjalan), sih. Kemarin saya produksi," kata Mahdiah kepada iNews.id saat ditemui di Pulau Panggang pada Senin (15/6/2026).
Mahdiah mengingat betul perjalanannya mengikuti program pemberdayaan BRI bermula secara tidak sengaja. Saat itu, dia mengikuti sebuah bazar di Balai Kota Jakarta dengan membawa produk olahan rumput laut.
Dari kegiatan tersebut, perwakilan BRI melihat potensi yang dimiliki warga Pulau Panggang.
"Dari 2020. Awalnya saya bazar di Balai Kota. Akhirnya ketemu orang BRI. Datang ke mari orang BRI, suruh bikin kelompok rumput laut," ujarnya.
Pertemuan itu menjadi awal lahirnya kelompok usaha rumput laut di Pulau Panggang. Mahdiah kemudian dipercaya menjadi ketua kelompok yang beranggotakan 10 orang. Seluruh anggotanya memproduksi dodol rumput laut dengan memanfaatkan hasil laut yang tersedia di sekitar pulau.
Selama kurang lebih satu tahun, kelompok tersebut memperoleh pendampingan secara intensif lewat program Peningkatan Keterampilan Usaha Rakyat (PKUR) dari Yayasan Baitul Maal (YBM) BRILiaN.
Pendampingan tidak hanya berfokus pada cara mengolah produk hingga siap dipasarkan. Para anggota kelompok juga dibekali dengan kemampuan mengelola usaha agar dapat berkembang secara berkelanjutan.
"Terus berjalan dibimbing sama mereka, satu tahun. Diajarin pembukuan, dikasih modal," kata Mahdiah.
Berbeda dengan skema pinjaman usaha, bantuan yang diterima Mahdiah bersama kelompoknya berupa hibah. Seluruh dana yang diperoleh dapat langsung digunakan untuk menunjang kegiatan produksi.
"Kita dikasih modal cuma-cuma. Dipakai buat beli perabotan, beli bahan-bahan," ujarnya.
Menurut Mahdiah, total bantuan yang diterima kelompok mencapai lebih dari Rp40 juta. Dana tersebut dibagi kepada seluruh anggota untuk membeli berbagai kebutuhan produksi, mulai dari kompor, wajan, hingga bahan baku pembuatan dodol.
Tak hanya bantuan modal, kelompok juga memperoleh gerobak yang dimanfaatkan untuk membantu memasarkan hasil produksi kepada masyarakat.
"Uang waktu itu untuk 10 orang Rp40 juta lebih, bantuan modal berbentuk uang. Kita belanjakan buat bahan baku. Jadi satu orang Rp4 juta lebih, buat beli kompor, wajan, bahan-bahan untuk bikin dodol," katanya.
Selain belajar menyusun pembukuan sederhana, Mahdiah dan anggota kelompok mulai memahami pentingnya menjaga keberlanjutan usaha agar produk olahan rumput laut dapat terus dipasarkan.
Meski program pendampingan telah selesai dan kelompok usaha kini tidak lagi aktif, Mahdiah tetap melanjutkan produksi dodol rumput laut secara mandiri.
Pengalaman mengikuti pelatihan tersebut menjadi bekal penting baginya dalam menjalankan usaha hingga sekarang. Selain dodol, dia juga pernah mencoba mengembangkan produk turunan lain berupa kerupuk rumput laut.
"Kelompoknya sudah bubar, tapi jualannya masih. Dilatih setahun dari BRI, terus kitanya mengembangkan sendiri," ujarnya.
Saat ini, Dorula dijual seharga Rp20.000 per kemasan berukuran 200 gram. Produk tersebut memiliki masa simpan sekitar satu bulan pada suhu ruang, tetapi dapat bertahan lebih lama apabila disimpan dalam freezer.
Seluruh proses produksi masih mengandalkan cara-cara sederhana. Setelah rumput laut dikeringkan di bawah sinar matahari, bahan tersebut diolah menjadi dodol dengan berbagai tahapan sebelum akhirnya dikemas dan dipasarkan.
"Produksi paling lama seminggu, karena kan ini jemur alami. Kalau mataharinya bagus tiga hari jadi," ujarnya.
Tak hanya melalui program pemberdayaan seperti yang diterima Mahdiah, BRI juga menghadirkan layanan perbankan langsung ke Pulau Panggang melalui Kapal Bahtera Seva I.
Sepekan sekali, kapal layanan terapung tersebut bersandar di Pulau Panggang untuk melayani berbagai kebutuhan transaksi keuangan masyarakat yang selama ini harus menempuh perjalanan laut jika ingin datang ke kantor bank di daratan Jakarta.
Kepala Teras BRI Kapal Bahtera Seva I Algi Meza ikut turun langsung melayani para nasabah. Menurutnya, fasilitas yang tersedia di atas kapal dibuat sama seperti layanan di kantor BRI pada umumnya.
"Pelayanannya macam-macam, ada yang ganti kartu, PIN yang terblokir, ada yang ganti buku, ada yang penarikan, ada yang setor tunai, ada juga yang pengajuan pinjaman," ujar Algi.
Dalam setiap kunjungan ke Pulau Panggang, sedikitnya lebih dari 20 nasabah memanfaatkan layanan tersebut. Sebagian besar merupakan nelayan, sementara sisanya terdiri atas pedagang sembako hingga pelaku usaha mikro yang menjalankan usahanya di wilayah kepulauan.
Algi menjelaskan, pola aktivitas ekonomi masyarakat Kepulauan Seribu memiliki karakteristik tersendiri karena sangat dipengaruhi kondisi alam. Bagi nelayan, hasil tangkapan dan pendapatan sangat bergantung pada cuaca di laut.
"Di sini mereka mengandalkan cuaca kalau untuk nelayan. Kalau cuacanya lagi bagus ya mereka tidak ada kendala untuk pembayaran," katanya.
Selain melayani kebutuhan transaksi masyarakat, Kapal Bahtera Seva I juga menjadi titik penyetoran uang bagi jaringan AgenBRILink yang tersebar di berbagai pulau. Selama kapal belum datang, para agen inilah yang lebih dulu melayani kebutuhan transaksi harian warga.
"Kebanyakan di sini kita terima setoran dari AgenBRILink. Karena mitra kita yang membantu kita sewaktu-waktu enggak ke pulau, jadi kebanyakan nasabah kita setor tariknya di AgenBRILink," ujarnya.
Tingginya aktivitas transaksi membuat nilai uang yang dibawa kembali ke daratan setiap pekan mencapai miliaran rupiah. Dalam satu siklus pelayaran dari Senin hingga Jumat, nominal kas yang dihimpun dapat menembus Rp2 miliar.
"Kas yang kami bawa dari Senin sampai Jumat bisa sampai Rp2 miliar. Paling kecil di bawah Rp1 miliar," kata Algi.
Antusiasme warga terhadap layanan terapung ini pun tak pernah surut. Bahkan, menurut Algi, masyarakat kerap sudah menunggu di dermaga jauh sebelum kapal terlihat mendekat.
"Sebelum kapal menyandar mereka biasanya sudah antre. Kadang ada yang bertanya kenapa datangnya lama, padahal perjalanan juga bergantung ombak dan cuaca," tuturnya.
Editor: Rizky Agustian
Menembus Ombak Laut Jawa, BRI Jemput Bola Layani Nasabah di Kepulauan Seribu
Bahtera Seva I BRI menembus Laut Jawa membawa layanan perbankan ke Kepulauan Seribu, memudahkan warga bertransaksi tanpa ke Jakarta. - Bagian all [826] url asal
JAKARTA, iNews.id - Ombak Laut Jawa mengiringi laju Bahtera Seva I, Teras BRI Kapal yang menjadi andalan warga Kabupaten Kepulauan Seribu, Jakarta. iNews.id berkesempatan ikut berlayar bersama bank terapung itu pada Senin (15/6/2026).
Kapal bertolak dari Pelabuhan Muara Angke, Penjaringan, Jakarta Utara, sekitar pukul 09.30 WIB, membawa layanan perbankan bagi masyarakat yang selama ini hidup jauh dari kantor cabang bank.
Di atas kapal, Nakhoda Bahtera Seva I, Andi Bagus Trianto mengawasi pelayaran yang pagi itu ditemani ombak cukup tinggi. Dia sesekali berkomunikasi dengan kapal lain melalui radio saat hendak melintas.
Sementara itu, Kepala Kamar Mesin (KKM) Gian duduk di samping Andi seraya mengawasi lalu lintas pelayaran di depan kapal.
"Coba lihat, ada jalanya enggak?" ujar Andi kepada Gian yang meneropong salah satu kapal nelayan di lintasan Bahtera Seva I.
Pulau Panggang menjadi tujuan pertama pelayaran kali ini. Secara administratif, pulau itu termasuk wilayah Kecamatan Kepulauan Seribu Utara, Kabupaten Kepulauan Seribu.
Andi mengatakan pelayaran menuju Pulau Panggang menempuh jarak sekitar 25,5 mil laut atau 47 kilometer (km). Perjalanan memakan waktu sekitar tiga jam dengan kecepatan kapal rata-rata sembilan knot.
"Tergantung sama kekuatan arus, angin, sama keadaan cuaca. Itu pengaruh. Standarnya tiga jam kalau cuacanya baik," kata dia.
Bahtera Seva I beroperasi layaknya kantor cabang bergerak. Setiap pekan, kapal berangkat pada Senin dan kembali ke Jakarta pada Jumat setelah melayani sejumlah pulau berpenduduk di Kepulauan Seribu.
Pada pelayaran kali ini, Kapal Bahtera Seva I singgah di lima pulau yakni Panggang, Pramuka, Kelapa, Tidung, dan Untung Jawa.
Kapal Bahtera Seva I diawaki lima orang kru yang terdiri atas nakhoda, mualim I, kepala kamar mesin (KKM), masinis II, dan juru masak. Dalam kondisi ideal, kapal mampu melaju hingga 13 knot.
Menurut Andi, cuaca menjadi tantangan utama dalam operasional kapal. Jika kondisi laut dinilai berbahaya, pelayaran harus ditunda demi keselamatan awak kapal dan layanan yang dibawa.
"Kalau (cuaca) tidak memungkinkan, kami tidak berlayar karena tidak diperbolehkan Syahbandar. Keselamatan manusia, kapal, dan barang diutamakan," ujarnya.
Sekitar pukul 12.50 WIB, kapal merapat di dermaga Pulau Panggang. Sejumlah warga sudah menunggu untuk mengurus berbagai keperluan perbankan.
Awak Bahtera Seva I bergegas menambatkan tali kapal ke dermaga. Alat bantu penyeberangan pun dipasang untuk memudahkan mobilitas nasabah ke kapal.
Aktivitas pelayanan dimulai begitu sejumlah karyawan BRI siap. Dalam ruang perbankan, terdapat dua meja yang masing-masing diisi oleh teller dan customer service.
Tiga pegawai BRI termasuk satu sekuriti bersiap di tempatnya masing-masing. Satu per satu nasabah kemudian dipersilakan menaiki kapal.
Nasabah langsung menuju meja teller dan customer service untuk bertransaksi. Ada pula yang duduk di pojok ruangan untuk mengantre seraya menyiapkan berkas dibantu sekuriti.
Pelayanan nasabah dipimpin Kepala Teras BRI Kapal Bahtera Seva I, Algi Meza. Dia juga turun langsung melayani nasabah.
Algi mengatakan pelayanan yang diberikan di Kapal Bahtera Seva I tidak berbeda dengan kantor cabang bank di darat.
"Pelayanannya macam-macam, ada yang ganti kartu, PIN yang terblokir, ada yang ganti buku, ada yang penarikan, ada yang setor tunai, ada juga yang pengajuan pinjaman," tutur Algi.
Dalam satu kali kunjungan ke Pulau Panggang, lebih dari 20 nasabah rata-rata memanfaatkan layanan tersebut.
Mayoritas nasabah berprofesi sebagai nelayan yang menggantungkan aktivitas ekonomi pada kondisi cuaca. Selain itu, terdapat pedagang sembako dan pelaku usaha kecil lain.
Algi mengatakan karakteristik nasabah di wilayah kepulauan berbeda dengan di darat. Para nasabah di Pulau Panggang sebagian besar bergantung dari hasil melaut.
"Di sini mereka mengandalkan cuaca kalau untuk nelayan, kalau cuacanya lagi bagus ya mereka tidak ada kendala untuk pembayaran," ujarnya.
Algi menuturkan, Kapal Bahtera Seva I dapat membawa uang hasil transaksi nasabah di Kepulauan Seribu dalam jumlah besar setiap minggu. Setidaknya, kas sejumlah Rp1 miliar dibawa ke darat menjelang akhir pekan.
"Kas yang kami bawa dari Senin sampai Jumat bisa sampai Rp2 miliar. Paling kecil di bawah Rp1 miliar," kata Algi.
Selain melayani transaksi masyarakat, kapal ini juga menjadi tempat penyetoran dana bagi para AgenBRILink yang tersebar di Kepulauan Seribu. Beberapa AgenBRILink bahkan mampu menyetorkan dana hingga Rp1 miliar karena tingginya aktivitas transaksi masyarakat.
"Kebanyakan di sini kita terima setoran dari AgenBRILink. Karena mitra kita yang membantu kita sewaktu-waktu gak ke pulau, jadi kebanyakan nasabah kita setor tariknya di AgenBRILink," ujarnya.
Dia mengatakan antusiasme warga terhadap layanan Bahtera Seva I pun sangat tinggi. Bahkan sebelum kapal bersandar, masyarakat kerap sudah menunggu di dermaga.
"Sebelum kapal menyandar mereka biasanya sudah antre. Kadang ada yang bertanya kenapa datangnya lama, padahal perjalanan juga bergantung ombak dan cuaca," katanya.
Salah satu warga Pulau Panggang yang memanfaatkan layanan Bahtera Seva I adalah Mastunih (45). Pagi itu, dia datang untuk mengecek bantuan sosial yang diterimanya melalui rekening BRI.
"Alhamdulillah terbantu, bagus. Jadi enggak perlu menyeberang ke kota," ujarnya.
Mastunih mengaku sudah menjadi nasabah BRI sejak 2020. Selain menerima bantuan sosial, dia juga sesekali menabung dari hasil berjualan jelly secara keliling di Pulau Panggang.
Menurut dia, kehadiran kapal layanan BRI membuat akses perbankan menjadi lebih mudah dan dekat dengan masyarakat.
"Lebih dekat karena datang langsung ke sini. Harapannya kapal BRI terus dilanjutkan," katanya.
Editor: Rizky Agustian
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56