Bisnis.com, JAKARTA — Presiden Prabowo Subianto resmi menetapkan tokoh militer Sarwo Edhie Wibowo menjadi menjadi pahlawan nasional pada 2025.
Penetapan itu tertuang dalam Keppres No.116/TK/Tahun 2025 tentang Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional tertuang 10 nama yang mendapatkan gelar pahlawan nasional.
Dalam sambutannya, Prabowo menyampaikan bahwa pemberian gelar ini merupakan bentuk penghormatan kepada para pejuang yang telah memberikan dedikasi, pengorbanan, dan keteladanan bagi bangsa.
“Marilah kita sejenak mengenang arwah dan jasa-jasa para pahlawan yang telah berkorban untuk kemerdekaan kedaulatan dan kehormatan bangsa Indonesia yang telah memberi segala-galanya agar kita bisa hidup merdeka dan kita bisa hidup dalam alam yang sejahtera,” ujar Prabowo di Istana Negara, Senin (10/11/2025).
Berikut profil Sarwo Edhie
Sarwo Edhie merupakan pria kelahiran 25 Juli 1927 di Purworejo. Dia merupakan putra dari pasangan Raden Kartowilogo dan Raden Ayu Sutini. Semasa muda, ia aktif mempelajari silat sebagai bentuk pertahanan diri.
Saat pendudukan Jepang pada 2024, Edhie sempat mendaftar sebagai prajurit Pembela Tanah Air (PETA). PETA merupakan kekuatan tambahan Jepang yang terdiri dari tentara Indonesia.
Kemudian, setelah Indonesia merdeka, Sarwo Edhie telah bergabung ke pasukan yang menjadi cikal bakal TNI, yakni Badan Keamanan Rakyat (BKR).
Di militer, karier Edhie dimulai saat menjabat sebagai Komandan Batalyon di Divisi Diponegoro (1945–1951) dan Komandan Resimen Divisi Diponegoro (1951–1953). Dia juga sempat mengemban tugas sebagai Wakil Komandan Resimen di Akademi Militer Nasional (1959—1961).
Adapun, Edhie juga dikenal sebagai rekan dekat Letnan Jenderal Ahmad Yani. Berkat dorongan Yani, Edhie kemudian menjabat sebagai Kepala Staf Resimen Pasukan Komando (RPKAD) (1962-1964).
Setelah itu, Ahmad Yani menunjuk Sarwo Edhie sebagai Komandan RPKAD pada (1964-1967). RPKAD sendiri saat ini dikenal sebagai pasukan elite TNI yakni Komando Pasukan Khusus (Kopassus).
Nama Sarwo Edhie disorot atas perannya dalam insiden peristiwa G30S meletus pada 1 Oktober 1965. Dalam medio ini, Edhie pun dikenal dekat dengan Soeharto yang Menjabat sebagai Panglima Kostrad.
Atas perintah Soeharto, Sarwo Edhie dan pasukannya berhasil merebut kembali gedung Radio Republik Indonesia (RRI). Operasi dilanjutkan untuk merebut Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma, yang menjadi markas G30S dan berhasil dikuasai 2 Oktober 1965.
Selang dua hari kemudian, pasukan RPKAD yang dipimpin Sarwo Edhie melakukan operasi penggalian pahlawan revolusi di sumur Lubang Buaya di Cipayung Jakarta Timur. Selain itu, Sarwo juga sempat melakukan operasi perburuan PKI hingga ke Jawa Tengah.
Kiprahnya dalam operasi G30S membuat Sarwo Edhie dipercaya untuk menuntaskan operasi penentuan pendapat rakyat (Pepera) di Papua. Sarwo Edhie juga ditunjuk sebagai Panglima Kodam XVII/Cenderawasih (Papua) pada 2 Juli 1968 hingga 20 Februari 1970.
Kemudian, muncul isu keretakan hubungan antara Sarwo Edhie dengan Soeharto. Keretakan hubungan itu digadang-gadang membuat karier militer Sarwo Edhie melemah. Sarwo pun sempat menjadi Gubernur Akabri di Magelang.
Setelah itu, dia "di-dubeskan" pada 1974-1978. Saat itu, Sarwo Edhie ditugaskan menjadi Dubes RI untuk Korea Selatan. Dia juga sempat ditunjuk sebagai Inspektur Jenderal Departemen Luar Negeri (Irjen Deplu).
Penempatan ini pun dinilai sebagai upaya Soeharto untuk menjauhkannya dari lingkaran politik pusat karena adanya desas-desus mengenai ambisi politiknya.
Di balik gonjang-ganjing militernya itu, Sarwo Edhie menikah dengan Sunarti Sri Hadiyah binti Danu Sunarto. Dari pernikahan itu, Sarwo Edhie dikaruniai tujuh orang anak, termasuk, Kristiani Herrawati (Ani Yudhoyono).
Adapun, Sarwo Edhie Wibowo meninggal dunia pada 9 November 1989 pada usia 62 tahun dan dimakamkan di kampung halamannya di Purworejo, Jawa Tengah.