Bisnis.com, PELALAWAN - Pondok Pesantren (Ponpes) Darul Huda Ukui di Kabupaten Pelalawan terus mengembangkan pertanian cabai sejak mendapat bantuan greenhouse dari Bank Indonesia pada 2020.
Namun, di balik keberhasilan mereka mencapai kemandirian pangan, masih ada sejumlah kendala yang dihadapi dalam pengembangan sektor pertanian dan pemasaran produk olahan.
Pimpinan Ponpes Darul Huda Ukui, KH Yanto Nurhamzah mengatakan keterbatasan sarana dan kondisi pasar menjadi tantangan utama. Meskipun hasil panen cabai mencapai sekitar 900 kilogram per siklus tanam dari lahan 200 meter persegi di greenhouse, produktivitas belum maksimal karena pengelolaan masih dilakukan secara manual.
“Produksi kami cukup untuk kebutuhan pondok, tapi belum bisa dikembangkan lebih luas karena alat dan fasilitas terbatas. Perawatan tanaman juga masih kami lakukan secara tradisional, jadi hasilnya tidak bisa seragam,” ujarnya kepada tim Bisnis Indonesia Jelajah Ketahanan Pangan Riau 2025, Jumat (17/10/2025).
Kendala lain muncul di tahap pemasaran produk olahan. Hasil panen yang diolah menjadi sambal kemasan dan produk turunan lainnya seperti stik sayur dan kripik, belum mampu bersaing secara komersial di pasar lokal.
Menurutnya penjualan sambal kemasan hingga kini masih sulit dilakukan karena masyarakat lebih suka membuat sambal sendiri di rumah. Jadi penyerapan pasarnya rendah, sementara biaya produksi tetap jalan.
Dia menambahkan bahwa produk olahan pesantren sebenarnya sudah masuk ke beberapa ritel modern di Pelalawan sejak 2023. Namun, permintaan belum meningkat secara signifikan karena jangkauan pemasaran masih terbatas.
“Kami hanya mampu suplai ke delapan gerai Indomaret di Pelalawan, belum bisa masuk ke wilayah lain seperti Pekanbaru karena keterbatasan tenaga produksi dan biaya distribusi,” ujarnya.
Selain itu, keterbatasan kemampuan digital marketing juga menjadi hambatan. Penjualan daring melalui marketplace belum berjalan optimal karena kurangnya sumber daya manusia yang fokus mengelola pemasaran online.
“Kami sudah coba buka toko online, tapi belum maksimal. Harapan kami ke depan ada pelatihan digital supaya bisa memperluas pasar dan menjual produk secara mandiri,” tutur KH Yanto.
Pesantren yang juga mengelola SMK Agrobisnis Hortikultura ini berharap ke depan ada dukungan tambahan dari pihak pemerintah dan lembaga keuangan untuk memperkuat sarana pertanian modern serta pengolahan hasil.
“Kalau fasilitas dan pemasaran bisa lebih kuat, kami yakin pertanian di pesantren bukan hanya untuk konsumsi internal, tapi bisa jadi sumber ekonomi baru bagi santri dan masyarakat sekitar,” pungkasnya.