Bisnis.com, JAKARTA — Ketua Kamar Dagang Provinsi Zhejiang, China, Nan Cunhui menemui Staf Khusus Menteri Keuangan (Menkeu) Bidang Industri dan Ekonomi Lingkungan, Michael Goutama untuk membicarakan potensi investasi di Indonesia.
Pada pertemuan yang digelar Selasa siang (9/6/2026), Nan turut memboyong sejumlah pengusaha China termasuk CEO Chint Solar Lu Chuan. Nan juga diketahui merupakan pemilik dari grup konglomerasi Chint, yang bergerak di bidang manufaktur dan teknologi.
Dalam pertemuan tersebut, Chint Solar menyatakan akan mulai menjajaki investasi pada proyek energi baru terbarukan (EBT) di Indonesia khususnya pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atau panel surya. Menurut Lu, Indonesia masih memiliki potensi ekonomi yang besar.
"Dari perspektif kami, Indonesia sangat berpotensi dengan populasi penduduk terbesar di Asia Tenggara. Kemudian, dengan kebijakan energi terbarukan yang kami lihat dari pemberitaan, kami merasa nyaman," jelasnya kepada wartawan pada pertemuan yang digelar di Gedung Djuanda I, Kemenkeu, Jakarta, Selasa (9/6/2026).
Lu juga menyatakan percaya berdasarkan pengalaman investor asal China lainnya. Dia lalu merasa yakin terhadap masa depan investasi Indonesia.
Meski demikian, Lu berharap agar kebijakan pemerintah ke depannya makin setara dan ramah terhadap investasi asing.
"Khususnya terkait kepabeanan dan pajak, serta stabilitas kebijakan. Jadi ketika kami masuk ke sektor energi terbarukan di sini, kami berharap kebijakan pemerintah bisa bertahan setidaknya 5 sampai 10 tahun agar kami bisa menyelesaikan pekerjaan kami di sini," jelasnya.
Pada kesempatan yang sama, Staf Khusus Menkeu Bidang Industri dan Ekonomi Lingkungan, Michael Goutama menyampaikan bahwa Chint Solar berencana untuk membangun Desa Industri dan EBT.
Michael kemudian menjelaskan bahwa perusahaan ini sudah berdiskusi dengan pemerintah selama dua tahun terkait dengan rencana investasi. Namun, pertemuan ini baru pertama kali digelar dengan kehadiran Nan Cunhui langsung selaku pemilik grup konglomerasi itu.
Rencananya, kunjungan ini juga akan langsung menghasilkan perjanjian guna langsung melaksanakan investasi di Indonesia.
"Timnya sudah dibawa ke sini, sembilan orang dibawa untuk langsung membawa action plan-nya. Jadi bukan MoU saja," tuturnya.
Adapun pada pertemuan tersebut, Michael turut memaparkan berbagai kebijakan pemerintah termasuk kondisi fiskal terkini. Otoritas fiskal juga terbuka untuk menawarkan insentif fiskal guna meningkatkan daya saing investasi.
"Pasti, kalau dari rezim peraturan hari ini, kami sudah punya tax holiday dan suatu list yang begitu kondusif untuk investor. Saya rasa itu cukup memadai dan itu keputusan tax holiday di Kemenkeu juga," paparnya.