Bisnis.com, JAKARTA — PT CIMB Niaga Auto Finance (CNAF) sedang melakukan penyisiran terhadap nasabah yang terdampak bencana alam di Sumatra.
Presiden Direktur CNAF Ristiawan Suherman menuturkan untuk mitigasi risiko, pihaknya akan mengacu pada POJK 19/2022 mengenai perlakuan khusus bagi lembaga jasa keuangan di daerah bencana untuk mitigasi risiko.
“Kita comply dengan POJK yang ada, tetapi tanpa POJK yang ada pun tugas kita memang pada saat nasabah mempunyai kesulitan, perusahaan pembiayaan harus membuat langkah untuk membantu kesulitan nasabah,” ungkapnya seusai acara apresiasi APPI di Jakarta, Rabu (3/12/2025).
Dia meneruskan bahwa di Sumatra, khususnya Medan, nilai outstanding pembiayaan perusahaan hampir sekitar Rp300 miliar. Sementara itu, CNAF sendiri memiliki 31 kantor cabang di seluruh Indonesia.
Adapun, lanjutnya, sejauh ini perusahaannya masih belum mendapatkan laporan dari nasabah yang terdampak, sehingga masih dalam tahap inventarisasi. Pihaknya menerapkan dua cara untuk pendataan yakni nasabah melapor dan datang ke kantor cabang.
“Kami juga proaktif, melalui tim collection sekarang ini mencoba menyisir nasabah-nasabah. Kan kita ada internal collection yang dia akan visit. Nah dari visit itu kan ketahuan, oh ini terdampak,” jelasnya.
Tidak sampai di situ, CNAF juga aktif menyebar nomor telepon ke para nasabah untuk bisa menghubungi via telepon atau melalui WhatsApp (WA).
Lebih jauh, Ristiawan turut menegaskan restrukturisasi yang pihaknya akan lakukan bergantung pada kondisi yang terjadi pada para nasabahnya.
“Kalau memang parah kita bisa restrukturisasi lebih panjang. Kalau memang permintaan atau setelah kita investigasi juga tidak terlalu parah, ya kita bisa restrukturisasi beberapa bulan. Intinya selalu akan ada jalan keluar bagi nasabah yang mempunyai iktikad baik, tapi sedang bermasalah,” ujarnya.
Berdasarkan data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) per Jumat (5/12/2025), bencana banjir dan longsor di Sumatra menimbulkan 867 orang korban jiwa, 521 orang hilang serta 4.200 luka-luka.
Kerusakan infrastruktur di Sumatra Utara meliputi 29 jembatan, 19 rumah ibadah, 1 fasilitas kesehatan, serta 2.400 rumah. Kemudian, di Sumatra Barat, terdapat kerusakan 64 jembatan, 118 rumah ibadah, 24 fasilitas kesehatan, 16 gedung/kantor, 197 fasilitas pendidikan, dan 3.300 rumah.
Adapun kerusakan infrastuktur di Aceh meliputi 312 jembatan, 258 fasilitas pendidikan, 205 gedung/kantor, 201 rumah ibadah, dan 115.300 rumah.