Bisnis.com (Batam) – Di tengah ketatnya arus modal global dan penyesuaian rantai pasok internasional, realisasi investasi riil di Kota Batam sepanjang 2025 mencapai Rp69,30 triliun, melampaui target tahunan Rp60 triliun atau sekitar 15% di atas target yang sudah ditetapkan.
Capaian tersebut menegaskan posisi Batam sebagai salah satu kawasan industri dengan kualitas eksekusi investasi terbaik di Indonesia.
Kepala BP Batam Amsakar Achmad mengatakan capaian itu mencerminkan penguatan fundamental ekonomi Batam yang ditopang oleh aktivitas industri nyata di lapangan, bukan sekadar rencana investasi.
“Yang tercermin adalah uang yang benar-benar bekerja di lapangan, bukan hanya angka di atas kertas,” ujar Amsakar, Se
Menurut dia, percepatan realisasi investasi pada paruh kedua 2025 menunjukkan meningkatnya belanja modal sektor industri. Kondisi tersebut menandai fase pendalaman modal (capital deepening) yang berperan penting dalam meningkatkan produktivitas serta daya saing kawasan.
Dari sisi struktur investasi, Wakil Kepala BP Batam Li Claudia Candra menyebut komposisi penanaman modal di Batam semakin matang, baik berdasarkan asal negara maupun sektor usaha.
Sepanjang 2025, Singapura masih menjadi investor terbesar, disusul Taiwan, China (RRT), Malaysia, Hong Kong (RRT), Belanda, Amerika Serikat, Jepang, Swiss, dan Prancis. Menurut Li, pola tersebut mencerminkan keterhubungan Batam yang semakin kuat dengan jaringan manufaktur dan logistik regional.
“Komposisi negara dan sektor investasi ini menunjukkan Batam semakin terintegrasi dalam rantai pasok regional dan global,” katanya.
Penguatan struktur investasi juga didorong oleh lonjakan penanaman modal dalam negeri (PMDN). Anggota/Deputi Bidang Investasi dan Pengusahaan BP Batam Fary Djemy Francis menyampaikan, berdasarkan laporan investasi nasional, realisasi investasi Batam tercatat Rp44,01 triliun, melampaui target Rp36,99 triliun atau 118,97%.
Secara tahunan (year on year/yoy), PMDN melonjak 125,90 persen, dari Rp8,16 triliun pada 2024 menjadi Rp18,43 triliun pada 2025. Sementara itu, penanaman modal asing (PMA) juga meningkat menjadi Rp25,58 triliun.
“Lonjakan PMDN mencerminkan meningkatnya kepercayaan investor domestik serta kuatnya re-investasi pelaku usaha nasional, yang menjadi penyangga penting di tengah volatilitas global,” ujar Fary.
BP Batam menilai capaian tersebut semakin signifikan karena terjadi saat banyak negara menghadapi pengetatan likuiditas dan penataan ulang rantai pasok global. Dalam situasi tersebut, Batam dinilai memiliki keunggulan struktural sebagai lokasi produksi yang efisien, dekat dengan pasar regional, dan didukung infrastruktur industri yang relatif matang.
Realisasi investasi tersebut diukur berdasarkan aktivitas ekonomi yang benar-benar terealisasi dalam bentuk aset produktif, seperti mesin, peralatan industri, dan fasilitas produksi yang digunakan langsung dalam kegiatan usaha.
Dengan pendekatan tersebut, realisasi investasi Batam sepanjang 2025 tercatat meningkat dari posisi kuartal III/2025 sebesar Rp54,7 triliun menjadi Rp69,30 triliun di akhir tahun. Angka ini menegaskan bahwa pertumbuhan investasi Batam tidak hanya bersifat nominal, tetapi juga berkualitas dan berdampak nyata terhadap penguatan struktur industri kawasan.