Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, menargetkan Indonesia meraih status Country of Honor di Festival Film Cannes 2028 sebagai upaya memperkuat posisi perfilman nasional di industri film global, yang disampaikan saat menghadiri Festival Film Cannes 2026 di Prancis.
Dalam wawancaranya dengan Variety, Fadli mengatakan Indonesia ingin bergerak dari posisi pinggiran menjadi salah satu kekuatan penting dalam industri layar internasional. Menurutnya, langkah tersebut bukan hanya soal pengakuan internasional, tetapi juga membuka ruang yang lebih besar bagi perfilman dan budaya Indonesia di dunia.
“Ini bukan hanya tentang prestise, tetapi menciptakan platform internasional yang lebih besar bagi perfilman, budaya, dan talenta kreatif Indonesia,” ujarnya, dikutip Selasa (19/5/2026).
Target tersebut muncul ketika industri film Indonesia sedang mengalami pertumbuhan besar di pasar domestik. Meski film Indonesia mencatat pencapaian box office yang tinggi di dalam negeri, pemerintah menilai industri nasional masih perlu memperkuat penetrasi di pasar internasional.
Karena itu, Kementerian Kebudayaan mulai fokus memperluas distribusi global, meningkatkan akses sineas daerah ke festival internasional, hingga memperkuat kapasitas ekspor industri kreatif. Pemerintah juga tengah menyiapkan skema insentif dan rebate produksi agar Indonesia lebih kompetitif dalam menarik produksi film internasional.
Fadli mengakui sejumlah negara seperti Korea Selatan dan Thailand lebih dulu agresif memberikan insentif bagi industri perfilman global. Namun, Indonesia disebut sedang mempelajari berbagai model internasional agar kebijakan yang dibuat tetap memberi dampak terhadap pengembangan talenta lokal dan nilai ekonomi nasional.
“Insentif dan rebate kini menjadi hal penting dalam industri film global karena banyak negara bersaing menarik produksi internasional dan investasi kreatif,” katanya.
Sambil menyiapkan skema tersebut, pemerintah juga memperkuat program matching fund dan pembiayaan kolaboratif antara sineas Indonesia dengan pelaku industri internasional. Selain itu, pemerintah memanfaatkan Dana Indonesia untuk mendukung pengembangan talenta, bantuan produksi, mobilitas internasional, hingga partisipasi festival film.
Kehadiran Indonesia di Cannes 2026 juga diperkuat melalui program Next Step Studio Indonesia. Program inkubasi dan co-production bagi sineas muda itu didukung Kementerian Kebudayaan, Pemerintah Provinsi Jakarta, Kedutaan Besar Prancis di Indonesia, dan Institut Français Indonesia.
Program tersebut menjadi bagian dari kerja sama budaya Indonesia dan Prancis yang tertuang dalam Deklarasi Borobudur. Upaya memperkuat kolaborasi perfilman juga didorong setelah pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Presiden Emmanuel Macron tahun lalu yang membahas penguatan kerja sama budaya kedua negara.
Selain itu, Indonesia juga membangun kerja sama dengan lembaga perfilman Eropa seperti La Fémis dan CNC Prancis. Belanda juga disebut menjadi salah satu mitra penting dalam pertukaran talenta dan pendidikan perfilman Indonesia.
Tahun ini, sineas dan produser Indonesia turut berpartisipasi dalam sejumlah platform industri di Cannes seperti Cannes Docs, Producer’s Network, hingga SamaSama Lab. Indonesia juga menggelar Indonesian Cinema Night pada 14 Mei untuk mempertemukan sineas nasional dengan investor, programmer festival, dan pelaku industri film dunia.
Di dalam negeri, pemerintah juga menjalankan National Talent Management Program for Film atau MTN untuk membuka jalur karir bagi sineas dari berbagai daerah. Program tersebut dibuat agar perkembangan industri film Indonesia tidak hanya terpusat di Jakarta.
Fadli menilai keberagaman budaya Indonesia menjadi kekuatan utama perfilman nasional di mata dunia. Indonesia memiliki lebih dari 1.340 kelompok etnis, lebih dari 17.000 pulau, dan 718 bahasa daerah yang dinilai dapat menjadi sumber cerita autentik bagi perfilman nasional.
“Semakin autentik sebuah cerita, semakin universal resonansi emosional yang bisa dihasilkan,” ujarnya.
Menurutnya, generasi baru sineas Indonesia kini semakin berani mengangkat isu sosial, politik, lingkungan, hingga sejarah dengan pendekatan yang lebih kuat dan relevan. Hal itu dinilai membuat perfilman Indonesia semakin memiliki identitas di tingkat internasional.
“Apa yang kita lihat sekarang adalah munculnya generasi sineas yang terampil secara teknis, terhubung secara global, dan tetap kuat secara budaya,” kata Fadli.
Pemerintah juga menilai platform streaming bukan ancaman bagi bioskop, melainkan pelengkap untuk memperluas jangkauan film Indonesia. Streaming disebut membantu karya lokal menjangkau penonton muda sekaligus membuka akses ke pasar internasional.
Selain itu, perkembangan microdrama, video pendek, hingga ekonomi kreator digital juga mulai menjadi perhatian pemerintah. Format tersebut dinilai membuka peluang baru bagi talenta muda untuk masuk ke industri kreatif dan perfilman.
Sementara terkait kecerdasan buatan atau AI, pemerintah menilai teknologi harus digunakan untuk memperkuat industri kreatif tanpa menggantikan peran manusia dalam proses kreatif perfilman. Pemerintah juga tengah menyiapkan kebijakan perlindungan pekerja kreatif dan hak kekayaan intelektual di tengah perkembangan teknologi.
“AI adalah peluang sekaligus tantangan, dan tanggung jawab kami memastikan teknologi memperkuat ekosistem kreatif, bukan melemahkannya,” ujar Fadli.
Dalam lima tahun ke depan, pemerintah menargetkan film dan serial Indonesia dapat tampil lebih konsisten di festival internasional dan memiliki distribusi global yang lebih luas. Indonesia juga ingin menjadi pusat produksi internasional yang menarik karena kekuatan talenta kreatif dan kekayaan budaya yang dimiliki.
“Jika ekosistem ini bisa dibangun secara konsisten, Indonesia tidak hanya akan berpartisipasi di industri layar global, tetapi menjadi kontributor penting dan berpengaruh di dalamnya,” katanya.