#30 tag 24jam
Menavigasi Warisan Bisnis dan Kekayaan, Mengapa Hong Kong Muncul sebagai Hub Baru bagi Keluarga Bisnis Indonesia?
Hong Kong menyediakan platform yang memungkinkan bisnis keluarga dan family office beroperasi secara terintegrasi. [882] url asal
#investasi #hong-kong #crazy-rich #family-office #investasi-hong-kong #investhk
(Kompas.com - Money) 29/06/26 12:19
v/262495/
KOMPAS.com - Pendekatan keluarga bisnis Indonesia dalam mengelola kekayaan tengah mengalami pergeseran. Selama beberapa dekade, banyak konglomerat domestik berfokus pada ekspansi agresif di dalam negeri untuk membangun kekayaan.
Kini, perhatian mereka mulai bergeser ke preservasi kekayaan dan keberlanjutan jangka panjang lintas generasi.
Bagi individu dengan kekayaan bersih sangat tinggi dan para penerusnya yang mengelola aset di atas 30 juta dollar AS, fokus utama kini tidak lagi sebatas memaksimalkan imbal hasil.
Lebih dari itu, mereka juga perlu memastikan struktur pengelolaan kekayaan keluarga tetap tangguh dalam menghadapi disrupsi teknologi, perubahan peta geopolitik global, hingga proses alih kepemimpinan kepada generasi berikutnya.
Untuk kebutuhan tersebut, Hong Kong semakin layak menjadi pertimbangan sebagai platform strategis bagi keluarga bisnis Indonesia. Terlebih, kota ini dikenal sebagai pusat pengelolaan kekayaan lintas batas terbesar di dunia.
Mengapa Hong Kong?
Berdasarkan laporan Deloitte, Hong Kong memiliki 3.384 single-family offices pada akhir 2025. Jumlah itu meningkat 681 unit dalam kurun waktu hanya dua tahun.
Bagi keluarga bisnis Indonesia, daya tarik Hong Kong tidak hanya terletak pada jumlah family office yang terus bertambah, tetapi juga pada karakter penggunanya. Sekitar 75 persen single-family offices di Hong Kong melayani keluarga yang masih memiliki bisnis aktif.
Profil tersebut hampir sepenuhnya sejalan dengan karakter keluarga konglomerat terbesar di Indonesia. Sebagai pusat keuangan internasional, Hong Kong menawarkan infrastruktur keuangan yang mapan, akses ke pasar global, perkembangan teknologi, serta institusi yang relatif stabil.
Hong Kong menyediakan platform yang memungkinkan bisnis keluarga dan family office beroperasi secara terintegrasi.
Melalui family office yang berbasis di Hong Kong, keluarga dapat memusatkan pengelolaan aset di berbagai kawasan dunia, merancang investasi jangka panjang, serta menyelaraskan keputusan finansial dengan tujuan keluarga yang lebih luas.
Berlokasi di kawasan Asia-Pasifik juga memberikan keuntungan praktis. Hong Kong dapat menjadi gerbang untuk ekspansi, peningkatan skala operasional, serta akses ke ekonomi terbesar kedua di dunia, yakni China Daratan.
Sistem keuangan dan konektivitas internasional Hong Kong juga membuka akses terhadap modal dan peluang pasar yang lebih luas.
Banyak perusahaan pun telah memanfaatkan koneksi Hong Kong dengan Greater Bay Area (GBA) di China Daratan. Dalam ekosistem tersebut, Hong Kong mendukung aspek regulasi, kerangka hukum, pengelolaan aset, dan pembiayaan.
DOK. InvestHK. Banyak perusahaan pun telah memanfaatkan koneksi Hong Kong dengan Greater Bay Area (GBA) di China Daratan.Sementara itu, GBA berfokus pada manufaktur, teknologi, serta pengembangan rantai pasok. Model yang saling melengkapi ini menciptakan efisiensi operasional, bukan persaingan langsung.
Bagi bisnis keluarga Indonesia, pendekatan semacam itu dapat mendukung pertumbuhan berbasis inovasi serta memperkuat pengelolaan kekayaan yang lebih terstruktur.
Kedekatan Hong Kong dengan Asia Tenggara juga memungkinkan bisnis memperluas jangkauan regional tanpa harus terlalu jauh dari operasi domestik.
Tempat inovasi bertemu modal
Di luar sektor keuangan tradisional, Hong Kong telah berkembang menjadi hub regional bagi sektor-sektor yang semakin menentukan arah generasi berikutnya dalam bisnis keluarga Indonesia.
Sektor tersebut mencakup modal ventura, ilmu hayati atau life sciences, bioteknologi, kecerdasan buatan, dan teknologi baru.
Direktur Bernina Bioinvest Dr Bettina Ernst mengatakan, keterbukaan regulasi dan konektivitas regional Hong Kong menciptakan jalur praktis dari ide di laboratorium menuju pencapaian klinis dan komersial.
Hal senada disampaikan Co-CEO dan Chief Scientific Officer Insilico Medicine Dr Ren Feng. Ia memaparkan, Hong Kong menjembatani investor dengan orientasi nilai jangka panjang dan inovasi biofarmasi mutakhir.
Ren juga menyoroti peran pasar modal yang efisien serta komitmen berorientasi masa depan terhadap kecerdasan buatan dan teknologi dalam mendukung ekosistem tersebut.
Inisiatif pengembangan seperti Northern Metropolis turut memperkuat posisi Hong Kong dengan menyediakan ruang bagi industri inovasi dan teknologi.
Sementara itu, kedekatannya dengan Shenzhen mendukung kolaborasi lintas kawasan di dalam GBA.
Bagi bisnis keluarga Indonesia yang mulai masuk ke sektor-sektor tersebut, Hong Kong menawarkan ekosistem yang kuat untuk mendukung pertumbuhan.
Ekosistem ini juga relevan bagi generasi penerus yang tengah dipersiapkan untuk mendorong ekspansi bisnis keluarga ke tingkat global.
Kepastian di tengah dunia yang terfragmentasi
Selain keunggulan finansial, kepastian hukum juga menjadi pertimbangan penting dalam pengelolaan kekayaan lintas negara.
Family office membutuhkan yurisdiksi yang stabil untuk melindungi aset keluarga dalam jangka panjang di tengah peningkatan ketegangan geopolitik dan ketidakpastian global.
Bagi keluarga yang memiliki aset dan operasi di banyak pasar, stabilitas menjadi hal penting dalam mengelola modal dan merencanakan masa depan jangka panjang.
Hong Kong menyediakan kerangka yang telah dikenal banyak keluarga global. Lingkungan hukum dan regulasinya jelas serta stabil.
Arus modal di Hong Kong dapat bergerak lebih leluasa. Institusi keuangannya juga beroperasi dengan standar internasional. Kombinasi ini menjadikan Hong Kong sebagai basis yang kuat untuk mengelola aset lintas negara secara berkelanjutan.
DOK. InvestHK. Ilustrasi pengusaha.Dengan tawaran tersebut, mengalokasikan sebagian aktivitas pengelolaan kekayaan ke Hong Kong dapat dilihat bukan hanya sebagai diversifikasi geografis. Langkah ini juga menjadi cara untuk menempatkan aset dalam kerangka hukum yang diakui luas dan lingkungan yang stabil.
Konektivitas Hong Kong juga dapat menjadi pertimbangan lain. Hong Kong menghubungkan pasar internasional dengan ekonomi China dalam satu sistem. Posisi ini membuat Hong Kong relevan bagi bisnis Indonesia yang menjadikan China sebagai salah satu mitra dagang utama.
Pergeseran cara keluarga bisnis Indonesia memandang kekayaan berlangsung secara bertahap, tetapi arahnya semakin jelas.
Ketika suksesi, tata kelola, dan eksposur global menjadi agenda utama, Hong Kong muncul sebagai salah satu platform tempat berbagai prioritas tersebut dapat dikelola dalam satu kerangka yang terintegrasi.
Bagi perusahaan keluarga Indonesia, nilai utama Hong Kong bukan untuk menggantikan fondasi bisnis yang telah dibangun di Indonesia.
Sebaliknya, Hong Kong dapat menjadi pijakan strategis untuk mendukung kesinambungan, profesionalisasi, dan persiapan generasi penerus.
Melongok Fasilitas Sampah di Tengah Permukiman Zurich: Canggih, Tanpa Asap, Tak Berbau
Fasilitas pengolah sampah ini berdiri di kawasan urban Zurich. Tak ada bau menyengat, sementara energinya menghangatkan ribuan rumah. [952] url asal
#zurich #pengolahan-sampah #kanadevia-inova-ag
(Kompas.com - Money) 23/06/26 22:14
v/257865/
ZURICH, KOMPAS.com - Di banyak kota di Indonesia, tempat pengolahan sampah umumnya diidentikkan dengan bau menyengat, gunungan sampah, serta lokasi yang jauh dari permukiman.
Pemandangan berbeda terlihat di Hagenholz, fasilitas pengolahan sampah menjadi energi milik Kota Zurich, Swiss. Fasilitas tersebut justru berada di kawasan urban yang dikelilingi permukiman, kawasan usaha, serta tidak jauh dari aktivitas masyarakat sehari-hari.
"Kalau ada pilihan, maka tempatkan fasilitas ini sedekat mungkin dengan kota," kata Senior Sales Manager Kanadevia Inova AG Matthias Baur saat menerima kunjungan delegasi jurnalis Kompas Gramedia Grup, termasuk Kompas.com, di fasilitas Hagenholz, Zurich, Swiss, Senin (22/6/2026).
Menurut Baur, lokasi fasilitas yang dekat dengan pusat aktivitas masyarakat bukan tanpa alasan. Selain mengurangi jarak pengangkutan sampah, energi yang dihasilkan juga dapat dimanfaatkan lebih dekat dengan pengguna akhir.
Ia menjelaskan, ketika fasilitas berada dekat dengan kota, rantai pengangkutan sampah menjadi lebih pendek. Di sisi lain, energi yang dihasilkan dapat langsung dimanfaatkan oleh masyarakat maupun jaringan energi perkotaan.
"Anda mengurangi transportasi sampah dan energi yang dihasilkan juga dekat dengan konsumennya. Siklusnya menjadi lebih pendek," ujar Baur.
Baur mengakui fasilitas Hagenholz tidak selalu berada di tengah kawasan padat seperti saat ini. Saat pertama kali dibangun puluhan tahun lalu, jumlah bangunan dan permukiman di sekitarnya masih jauh lebih sedikit.
Namun, seiring pertumbuhan Zurich dan kawasan sekitarnya, fasilitas tersebut kini berada di tengah kawasan urban.
Mengapa Fasilitas Pengolahan Sampah Dibangun Dekat Kota?
Dalam pandangan Baur, lokasi fasilitas pengolahan sampah tidak bisa dipisahkan dari fungsi yang dijalankannya.
Berbeda dengan pembangkit listrik konvensional yang dapat dibangun jauh dari kota dan menyalurkan energi melalui jaringan listrik, fasilitas pengolahan sampah memiliki fungsi tambahan, yakni mengurangi volume sampah dan memanfaatkan energi hasil pengolahan.
"Pengolahan sampah bukan hanya menghasilkan energi. Fasilitas ini juga menghilangkan sampah dan menghasilkan material baru. Jadi ini satu siklus yang utuh," katanya.
Salah satu manfaat utama fasilitas Hagenholz adalah penyediaan district heating atau sistem pemanas terpusat.
Baur menjelaskan, proyek pengembangan terbaru di Hagenholz akan meningkatkan kapasitas pemanas kawasan hingga lebih dari dua kali lipat dibandingkan fasilitas sebelumnya.
Energi panas yang dihasilkan dari pengolahan sampah kemudian disalurkan melalui jaringan khusus untuk menghangatkan rumah-rumah dan bangunan di Zurich.
Menurut Baur, fasilitas baru tersebut diproyeksikan dapat melayani sekitar 90.000 rumah tangga atau lebih dari sepertiga rumah tangga di Kota Zurich.
"Ini merupakan investasi untuk mengurangi emisi karbon dioksida dan menggantikan sistem pemanas berbasis minyak serta gas," ujarnya.
Selain itu, lokasi yang dekat dengan kota juga membantu mengurangi kebutuhan transportasi jarak jauh.
Senior Consultant Cleantech Switzerland Global Enterprise Mark Untersander menilai aspek tersebut penting ketika membahas pengelolaan sampah di kota-kota besar.
Ia mencontohkan kondisi Jakarta yang memiliki tingkat kemacetan tinggi.
Menurut dia, apabila truk pengangkut sampah harus menempuh perjalanan terlalu jauh menuju fasilitas pengolahan, jumlah perjalanan yang dapat dilakukan setiap hari akan semakin terbatas.
"Kalau truk hanya bisa melakukan satu perjalanan sehari karena terjebak kemacetan, Anda membutuhkan lebih banyak truk. Karena itu, sistemnya harus dipikirkan dengan baik," kata Untersander.
Menurut dia, dalam kondisi tertentu, fasilitas yang lebih kecil tetapi berada lebih dekat dengan sumber sampah bisa menjadi pilihan dibandingkan satu fasilitas besar yang lokasinya jauh.
Tak Ada Bau Sampah Menyengat
Salah satu hal yang paling menarik perhatian rombongan Indonesia saat mengunjungi Hagenholz adalah tidak adanya bau menyengat yang umumnya diasosiasikan dengan fasilitas pengolahan sampah.
Pertanyaan mengenai hal tersebut juga muncul dalam diskusi dengan pihak pengelola.
Baur menjelaskan bahwa pengendalian emisi menjadi bagian penting dalam operasional fasilitas.
Selain menggunakan electrostatic precipitator untuk menangkap debu, fasilitas pengolahan sampah juga dilengkapi sistem pengolahan gas buang yang terdiri dari beberapa tahap.
Di Zurich, sistem tersebut mencakup electrostatic precipitator, katalis, hingga wet scrubber yang berfungsi membersihkan gas buang sebelum dilepas ke atmosfer.
Dalam proses tersebut, berbagai bahan seperti sodium bicarbonate maupun lime digunakan untuk bereaksi dengan polutan sehingga dapat dipisahkan dan ditangani lebih lanjut.
Salah satu narasumber dari fasilitas menjelaskan bahwa apa yang terlihat keluar dari cerobong bukanlah asap hasil pembakaran.
"Apa yang terlihat dari cerobong itu adalah uap air. Kami tidak diperbolehkan melepaskan asap atau polutan ke atmosfer," ujarnya.
Ia menambahkan, fasilitas tersebut juga beroperasi di bawah pengawasan standar emisi yang ketat.
Apabila terjadi penyimpangan dari batas yang ditetapkan, sistem akan memberikan peringatan dan dalam kondisi tertentu fasilitas dapat dihentikan sementara.
Menurut pihak pengelola, pengembangan berikutnya bahkan diarahkan untuk menangkap energi panas yang masih tersisa dari gas buang sehingga suhu yang dilepaskan ke lingkungan dapat terus diturunkan.
Sampah Tak Hanya Jadi Listrik
Selain menghasilkan energi, fasilitas seperti Hagenholz juga dimanfaatkan untuk mengambil kembali material yang masih memiliki nilai ekonomi.
Untersander menjelaskan bahwa pengolahan sampah modern tidak berhenti pada proses pembakaran.
Melalui pengolahan lanjutan, berbagai logam yang masih terkandung dalam residu pengolahan dapat dipisahkan dan dimanfaatkan kembali.
Material seperti besi, tembaga, seng, hingga logam berharga lain dapat diambil kembali dari proses tersebut.
Karena itu, sejumlah pihak menyebut proses tersebut sebagai urban mining atau pertambangan perkotaan.
"Ini bukan hanya fasilitas pembakaran sampah. Ini juga fasilitas daur ulang yang besar," ujar salah satu narasumber dari fasilitas.
Ketua Kadin Indonesia untuk Swiss dan Liechtenstein Francis Wanandi menilai pengalaman Swiss menunjukkan bahwa pengelolaan sampah tidak semata-mata berkaitan dengan kebersihan kota.
Menurut dia, persoalan sampah juga berkaitan dengan kesehatan masyarakat, lingkungan, dan pemanfaatan sumber daya yang selama ini dianggap tidak bernilai.
Francis mengatakan, berbagai kota di Indonesia saat ini menghadapi tantangan serupa, mulai dari keterbatasan lahan pembuangan, peningkatan volume sampah, hingga kebutuhan membangun sistem pengelolaan yang lebih terintegrasi.
"Masalah sampah itu pada akhirnya juga masalah kesehatan. Dampaknya bisa ke air tanah, lingkungan, dan masyarakat," kata Francis.
Karena itu, menurut dia, pembangunan fasilitas pengolahan sampah tidak dapat dilihat hanya sebagai proyek energi semata, melainkan bagian dari upaya membangun sistem pengelolaan sampah yang berkelanjutan di kawasan perkotaan.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Tips Finansial untuk Generasi Sandwich Agar Bebas Beban Ganda
Panduan praktis generasi sandwich keuangan untuk lepas dari beban ganda. Yuk, pelajari cara bantu mengatur pengeluaran dan target finansial di sini! [427] url asal
#generasi-sandwich #pegadaian #investasi #emas #target-finansial #tips-finansial
Jakarta: Menjadi tulang punggung dua generasi sekaligus bukanlah hal mudah karena sering kali memicu tekanan mental dan finansial.Fenomena generasi sandwich keuangan ini menuntut manajemen finansial yang ekstra ketat agar roda ekonomi keluarga tetap berputar dengan stabil.
Perencanaan yang matang dapat bantu mengatur pengeluaran dan target finansial tetap kokoh tanpa harus mengorbankan kesejahteraan pribadi.
Mari simak penjelasan lengkap mengenai strategi mengelola arus kas demi keseimbangan finansial keluarga di artikel ini.
Tips Finansial untuk Generasi Sandwich
Menjadi generasi sandwich di mana harus membiayai masa depan anak-anak dan menyokong orang tua merupakan tantangan finansial yang berat.Jika tidak dikelola dengan baik, peran ini memicu siklus stres berkepanjangan akibat beban ganda yang menguras pendapatan.
Agar masa depan keuangan tetap aman, berikut ini adalah beberapa tips taktis yang sebaiknya dilakukan.
1. Buat Pos Anggaran Terpisah yang Ketat
Sebagai fondasi awal dari strategi pengelolaan keuangan generasi sandwich, cobalah petakan arus kas dan catat keuangan secara transparan.Lalu, buat pos anggaran khusus yang memisahkan kebutuhan keluarga inti (anak dan pasangan) dengan bantuan bulanan untuk orang tua.
Langkah ini menjaga kamu dari risiko mencampuradukkan dana darurat pribadi dan biaya sokongan keluarga besar.
2. Diskusikan Kemampuan Finansial Secara Terbuka
Komunikasi adalah kunci utama. Jangan ragu untuk berdiskusi dengan orang tua atau saudara kandung mengenai batasan nominal yang mampu diberikan.Katakan dengan jujur porsi bantuan yang realistis tanpa harus mengorbankan kebutuhan pokok rumah tangga sendiri.
3. Jaga Dana Darurat dan Proteksi Kesehatan
Membantu keluarga bukan berarti harus mengabaikan masa depan sendiri. Tetap prioritaskan dana darurat pribadi secara konsisten.Selain itu, pastikan orang tua dan anak-anak sudah terproteksi oleh asuransi kesehatan untuk mengantisipasi risiko mendis mendadak yang berpotensi mengganggu struktur finansial.
4. Terapkan Strategi Akumulasi Aset yang Aman
Menghadapi beban ganda menuntut untuk memiliki portofolio investasi yang likuid sekaligus aman dari risiko laju inflasi.Strategi investasi emas secara rutin bisa menjadi pelindung nilai kekayaan terbaik untuk jangka panjang. Mulailah menyisihkan dana dingin dengan nominal kecil untuk membangun aset.
Memutus rantai beban generasi sandwich ini memang membutuhkan kedisiplinan, niat konsisten, serta rancangan yang terstruktur.
Nah, agar strategi akumulasi aset tersebut berjalan teratur tanpa mengganggu perputaran uang bulanan, memanfaatkan Tabungan Emas dari Pegadaian adalah opsi yang ideal.
Layanan yang bisa diakses di aplikasi Tring! by Pegadaian ini memungkinkan untuk menabung emas digital secara bertahap, mulai dari Rp10 ribuan saja.
Menariknya lagi, walaupun transaksi dilakukan secara digital saldo Tabungan Emas tetap dijamin 100% emas fisik.
Tunggu apa lagi? Mari amankan masa depan finansial kamu dan keluarga secara terukur mulai dari hari ini bersama Tabungan Emas di aplikasi Tring! by Pegadaian!
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(SAW)
Dari TPA Jadi Energi: Pelajaran Swiss untuk Krisis Sampah di Indonesia
Swiss menghentikan pembuangan sampah ke TPA sejak lebih dari dua dekade lalu. Apa yang bisa dipelajari Indonesia? [1,085] url asal
#zurich #swiss #waste-to-energy #75-tahun-indonesia-swiss
(Kompas.com - Money) 23/06/26 13:41
v/257298/
ZURICH, KOMPAS.com - Kota Zurich, Swiss, pada Senin (22/6/2026) siang terlihat sangat cerah dan segar. Tak ada polusi kendaraan lalu lalang, langit pun biru bersih. Padahal, Kompas.com sedang berada di fasilitas pengolahan sampah kota, milik Kanadevia Inova AG, di wilayah permukiman dan perkantoran di Zurich.
Sekilas, fasilitas pengolahan sampah tersebut seperti kantor biasa, di wilayah yang tenang walau kendaraan lalu lalang di depan fasilitas tersebut. Ajaibnya, sama sekali tak ada bau sampah yang menyengat, seperti di Indonesia.
Truk sampah canggih bermesin listrik, lalu lalang melewati Kompas.com. Truk-truk sampah yang sudah "bekerja", kemudian "dimandikan" di fasilitas lain di lokasi tersebut, agar saat membawa sampah di jalan tetap terlihat "segar". Unik bukan?
Beda sekali dengan di Indonesia. Masalah sampah menjadi masalah sosial yang belum terselesaikan.
Gunungan sampah yang terus bertambah di berbagai daerah di memunculkan pertanyaan lama, sampai kapan tempat pembuangan akhir (TPA) mampu menampung sampah perkotaan yang terus meningkat?
Di Swiss, pertanyaan serupa pernah muncul puluhan tahun lalu. Namun negara itu memilih jalur berbeda dengan menghentikan praktik pembuangan sampah ke landfill atau TPA dan mengembangkan sistem pengolahan sampah menjadi energi.
"Kita tidak boleh lagi membuang sampah ke landfill. Di Swiss, untuk lebih dari 20 tahun terakhir, itu tidak diperbolehkan," kata Senior Sales Manager Kanadevia Inova AG Matthias Baur saat menerima kunjungan delegasi jurnalis Kompas Gramedia, termasuk Kompas.com, di fasilitas pengolahan sampah Hagenholz, Zurich, Swiss, Senin (22/6/2026).
KOMPAS.com/Aprillia Ika Matthias Baur menjelaskan sistem pengolahan sampah menjadi energi saat kunjungan ke fasilitas Kanadevia Inova AG di Zurich, Swiss, Senin (22/6/2026).Baur menjelaskan, perubahan tersebut tidak terjadi dalam waktu singkat. Sebelum larangan landfill diberlakukan, Swiss lebih dulu membangun sistem pengelolaan sampah yang memungkinkan sebagian besar sampah diproses di fasilitas pengolahan.
Menurut dia, bahkan sebelum landfill benar-benar dihentikan, sekitar 95 persen sampah di Swiss sudah diolah melalui fasilitas pengolahan sampah.
Perubahan cara pandang itu juga terlihat dari filosofi yang dipegang Kanadevia Inova AG sebagai salah satu perusahaan pengolah sampah dan energi di Swiss.
Perusahaan yang beroperasi di 17 negara dengan lebih dari 3.500 karyawan tersebut mengusung prinsip "don't waste waste anymore" atau tidak lagi menyia-nyiakan sampah.
Menurut Baur, sampah tidak lagi dipandang sebagai limbah yang harus dibuang, melainkan sumber energi dan material yang masih memiliki nilai ekonomi.
"Kami ingin sampah diolah. Dari sampah kami bisa menghasilkan energi dan mendaur ulang material yang masih memiliki nilai," ujarnya.
Landfill Hanya Menimbulkan Biaya Lingkungan Jangka Panjang...
KOMPAS/EVY RACHMAWATI Rombongan jurnalis Kompas Gramedia bersama perwakilan KBRI Bern mengamati operasional fasilitas pengolahan sampah menjadi energi Hagenholz di Zurich, Swiss, Senin (22/6/2026).Alasan Swiss meninggalkan landfill tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan lahan.
Dalam diskusi yang sama, sejumlah peserta dari Swiss menyebut praktik landfill pada masa lalu justru meninggalkan persoalan lingkungan yang mahal untuk diselesaikan.
"Landfill sekarang menjadi masalah besar. Sangat mahal untuk mengeluarkan kembali sampah yang sudah ditimbun karena ada material berbahaya dan bahkan material yang bisa bersifat eksplosif," ujar salah satu peserta diskusi.
Selain itu, landfill juga berpotensi mencemari air tanah dan tanah di sekitarnya.
Menurut peserta diskusi tersebut, persoalan itu membuat landfill sering disebut sebagai "time bomb" atau bom waktu yang dampaknya baru muncul bertahun-tahun kemudian.
Pandangan serupa juga disampaikan Senior Consultant Cleantech Switzerland Global Enterprise Mark Untersander.
Menurut dia, landfill menghasilkan emisi metana yang dampaknya jauh lebih besar dibandingkan sampah yang diolah melalui fasilitas pengolahan termal.
"Landfill menghasilkan metana. Dampaknya bisa sekitar 20 kali lebih tinggi dibandingkan sampah yang diolah," kata Untersander.
Dalam sistem yang diterapkan Swiss, sampah yang masih memiliki nilai daur ulang seperti kaca, logam, aluminium, kertas, pakaian, dan baterai dipisahkan terlebih dahulu.
Material tersebut kemudian masuk ke rantai daur ulang tersendiri, sementara sampah yang tidak dapat didaur ulang diproses melalui pengolahan termal.
Baur mengatakan perubahan itu membutuhkan waktu panjang karena harus dibangun melalui pendidikan dan pembentukan kebiasaan masyarakat.
"Ketika saya masih kecil, kami mulai belajar memisahkan kaca, logam, pakaian, baterai, dan jenis sampah lain. Itu proses yang berlangsung selama puluhan tahun," ujarnya.
Selain edukasi, pemerintah juga menyediakan titik-titik pengumpulan sehingga masyarakat memiliki tempat untuk mengembalikan material yang dapat didaur ulang.
Pelajaran Apa yang Bisa Dipetik Indonesia?
Bagi Indonesia, tantangan yang dihadapi tidak hanya soal teknologi.
Baur menilai salah satu pertanyaan paling mendasar justru berkaitan dengan tata kelola.
"Pertanyaan pertama biasanya siapa yang memiliki sampah itu. Kalau itu sudah jelas, baru proyek bisa mulai disiapkan," kata dia.
Menurut Baur, pengalaman di sejumlah negara menunjukkan proses menyiapkan proyek pengolahan sampah dapat memakan waktu lima hingga 10 tahun, terutama jika belum ada sistem pengelolaan sampah yang terintegrasi.
Ia mencontohkan proyek-proyek awal di Eropa Timur yang memerlukan waktu bertahun-tahun hanya untuk menyepakati tata kelola sampah dan model pengelolaannya.
Duta Besar Republik Indonesia untuk Swiss dan Liechtenstein I Gede Ngurah Swajaya menilai tantangan serupa juga masih terlihat di Indonesia.
Menurut dia, sejumlah faktor mulai dari tipping fee, ketersediaan lahan, hingga kepastian lokasi pengolahan masih menjadi persoalan di sejumlah daerah.
"Ada faktornya macam-macam. Ada tipping fee yang belum jelas, lokasi, kemudian harus dekat dengan sumber sampah. Kadang sampahnya ada, tetapi tanah untuk fasilitasnya tidak cukup," kata Ngurah, saat berbincang santai dengan jurnalis Kompas Gramedia Grup, termasuk Kompas.com, Senin (22/6/2026) di Wisma Duta, Bern, Swiss.
Ketua Kadin Indonesia untuk Swiss dan Liechtenstein Francis Wanandi menambahkan, salah satu tantangan utama pengembangan waste-to-energy di Indonesia adalah pembentukan sistem yang terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Menurut dia, pengelolaan sampah tidak hanya berkaitan dengan fasilitas pengolahan, tetapi juga pengumpulan, pengangkutan, hingga pemanfaatan energi yang dihasilkan.
"Memang tidak mungkin sampah itu dikelola tanpa sistem. Karena memang sekarang menjadi prioritas pemerintah," ujar Francis, yang ikut dalam bincang santai.
Ia menilai persoalan sampah pada akhirnya tidak hanya berkaitan dengan kebersihan kota, tetapi juga kesehatan masyarakat.
"Kalau tidak dikelola, dampaknya jauh lebih besar. Ada pencemaran air tanah, pencemaran lingkungan, dan masalah kesehatan," kata Francis.
Dalam pandangan Baur, langkah terpenting justru tidak menunggu sampai seluruh persoalan terselesaikan.
"Yang paling penting adalah jangan menunggu. Tahun-tahun yang hilang karena menunggu akan membuat gunungan sampah semakin besar," ujar dia.
Menurut Baur, setiap negara dapat mengadaptasi teknologi dan model pengelolaan sesuai kebutuhan masing-masing, selama memiliki arah kebijakan dan sistem yang jelas untuk mengelola sampah dalam jangka panjang.
#RICH_75indonesiaswiss
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Generasi Sandwich dan Frugal Living
Frugal living dapat jadi langkah awal penting untuk keluar dari jebakan finansial dan memutus rantai generasi sandwich di masa depan. [1,587] url asal
#generasi-sandwich #frugal-living
(Kompas.com - Money) 18/06/26 12:00
v/253118/
DI TENGAH meningkatnya biaya hidup, ketidakpastian ekonomi global, dan menyusutnya ruang fiskal rumah tangga, muncul dua istilah yang semakin akrab di telinga masyarakat Indonesia: yaitu "generasi sandwich" dan "frugal living".
Keduanya menjadi topik yang sering diperbincangkan, terutama di kalangan kelas menengah perkotaan.
Generasi sandwich merujuk pada kelompok usia produktif yang harus menanggung kebutuhan ekonomi dua generasi sekaligus, yaitu di satu sisi orang tua yang telah memasuki usia lanjut dan di sisi lain anak-anak yang masih bergantung secara finansial.
Sementara itu,frugal living merupakan gaya hidup hemat yang menekankan pengeluaran secara sadar, terencana, dan sesuai kebutuhan.
Pertanyaannya, apakah frugal living benar-benar dapat menjadi jalan keluar bagi generasi sandwich yang terhimpit tekanan ekonomi? Ataukah hanya sekadar strategi bertahan hidup yang tidak menyentuh akar persoalan?
Pertanyaan ini menjadi semakin relevan ketika Indonesia memasuki fase aging population. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa proporsi penduduk lanjut usia telah mencapai sekitar 11,9 persen dari total penduduk Indonesia pada 2025 atau sekitar 33,9 juta jiwa.
Angka tersebut menandai bahwa Indonesia secara resmi telah memasuki era penuaan penduduk.
Konsekuensi dari data ini jelas. Semakin banyak penduduk usia produktif yang harus menanggung biaya hidup lansia, sementara pada saat yang sama mereka juga harus membiayai pendidikan, kesehatan, dan kebutuhan masa depan anak-anak mereka.
Dalam struktur keluarga Indonesia yang masih sangat kental dengan nilai kolektivisme, membantu orang tua bukan sekadar pilihan, melainkan kewajiban moral.
Tidak sedikit orang tua yang memasuki masa pensiun tanpa dana pensiun yang memadai. Akibatnya, anak-anak menjadi sumber dukungan utama.
Di sisi lain, biaya membesarkan anak terus meningkat. Pendidikan berkualitas semakin mahal. Biaya kesehatan naik setiap tahun. Kebutuhan perumahan di kota-kota besar semakin sulit dijangkau.
Seorang pekerja berusia 35 hingga 45 tahun sering kali menghadapi situasi yang paradoks. Di satu sisi ia sedang berada pada puncak produktivitas karier. Namun di sisi lain, hampir seluruh pendapatannya habis untuk memenuhi kebutuhan keluarga besar.
Fenomena ini menyebabkan banyak generasi sandwich mengalami kesulitan membangun aset, menabung, atau berinvestasi untuk masa depan mereka sendiri.
Akibatnya, muncul risiko terjadinya siklus generasi sandwich yang terus berulang dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Ironisnya, banyak anggota generasi sandwich yang secara nominal terlihat mapan. Mereka memiliki pekerjaan tetap, kendaraan pribadi, bahkan rumah melalui kredit. Namun, kondisi keuangannya sesungguhnya sangat rentan.
Sekali terkena PHK, mengalami penurunan pendapatan, atau menghadapi biaya kesehatan yang besar, kondisi keuangan mereka dapat langsung terguncang.
Persoalan generasi sandwich tidak bisa dilepaskan dari kondisi kelas menengah Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai indikator menunjukkan tekanan yang semakin besar terhadap kelompok kelas menengah.
Kenaikan harga pangan, biaya pendidikan, cicilan rumah, premi asuransi, hingga biaya transportasi membuat ruang konsumsi semakin sempit.
Laporan terbaru Bank Dunia bahkan menunjukkan terjadinya penurunan proporsi pekerja yang menikmati pendapatan kelas menengah.
Jika pada 2018 mencapai sekitar 14,5 persen dari total pekerja, maka pada 2025 tinggal sedikit di atas 7 persen. Hal ini menunjukkan semakin sulitnya mempertahankan status ekonomi kelas menengah di Indonesia.
Dalam kondisi demikian, generasi sandwich menjadi kelompok yang paling rentan. Mereka tidak cukup miskin untuk menerima bantuan sosial, tetapi juga tidak cukup kaya untuk memiliki bantalan keuangan yang kuat.
Kelompok ini sering disebut sebagai kelompok "terjepit". Mereka membayar pajak, menjadi motor konsumsi ekonomi, tetapi pada saat yang sama menghadapi tekanan finansial yang luar biasa.
Ketika pendapatan stagnan, sementara pengeluaran meningkat, muncul kebutuhan untuk mengubah pola konsumsi. Di sinilah konsep frugal living mulai mendapatkan perhatian.
Awalnya, frugal living populer di kalangan generasi muda sebagai bagian dari gerakan kebebasan finansial. Namun, kini konsep tersebut berkembang menjadi strategi bertahan hidup bagi banyak keluarga.
Frugal living sering disalahartikan sebagai hidup pelit atau menahan diri secara berlebihan. Padahal, esensinya bukan sekadar mengurangi pengeluaran, melainkan memastikan setiap rupiah yang dikeluarkan memberikan manfaat maksimal.
Prinsip dasarnya sederhana, yaitu membedakan kebutuhan dan keinginan. Membeli kopi seharga Rp 50.000 setiap hari mungkin terlihat kecil. Namun, dalam setahun jumlahnya bisa mencapai lebih dari Rp 18 juta.
Begitu pula kebiasaan membeli barang karena diskon, berlangganan layanan digital yang tidak digunakan, atau mengganti gawai hanya demi mengikuti tren.
Frugal living mengajak masyarakat untuk lebih sadar terhadap keputusan keuangan. Di tengah tekanan ekonomi, perilaku ini semakin terlihat pada kelas menengah Indonesia.
Banyak konsumen mulai melakukan downtrading, yaitu beralih ke produk yang lebih murah tanpa mengurangi fungsi utama produk tersebut. Mereka tetap datang ke pusat perbelanjaan, tetapi lebih selektif dalam berbelanja dan cenderung mencari harga terbaik.
Fenomena tersebut menunjukkan bahwa frugal living bukan lagi sekadar pilihan gaya hidup, melainkan respons rasional terhadap tekanan ekonomi.
Terdapat beberapa alasan mengapa frugal living menjadi semakin relevan bagi generasi sandwich.
Pertama, keterbatasan pendapatan. Sebagian besar generasi sandwich tidak memiliki keleluasaan untuk meningkatkan pendapatan secara cepat. Kenaikan gaji tahunan sering kali tidak mampu mengimbangi laju kenaikan biaya hidup.
Karena itu, mengendalikan pengeluaran menjadi strategi yang lebih realistis dibandingkan menunggu kenaikan pendapatan.
Kedua, kebutuhan membangun dana darurat. Generasi sandwich menghadapi risiko finansial yang lebih tinggi dibandingkan kelompok lain.
Mereka rentan menghadapi biaya kesehatan orang tua, pendidikan anak, maupun kebutuhan mendadak lainnya.
Tanpa dana darurat yang memadai, satu guncangan kecil dapat berubah menjadi krisis keuangan.
Ketiga, kebutuhan memutus siklus ketergantungan. Banyak orang tua saat ini menjadi generasi sandwich karena orang tua mereka tidak memiliki dana pensiun yang cukup. Jika kondisi ini tidak diubah, anak-anak mereka kelak berpotensi mengalami situasi serupa.
Frugal living dapat menjadi langkah awal untuk membangun tabungan pensiun dan investasi jangka panjang sehingga ketergantungan antar-generasi dapat dikurangi.
Meski menawarkan berbagai manfaat, frugal living bukanlah obat mujarab yang mampu menyelesaikan seluruh persoalan generasi sandwich. Terdapat batasan yang perlu disadari.
Pertama, tidak semua pengeluaran bisa dipangkas. Sebagian besar beban generasi sandwich justru berasal dari kebutuhan primer seperti pendidikan, kesehatan, makanan, dan tempat tinggal.
Mengurangi frekuensi membeli kopi mungkin membantu, tetapi tidak akan menyelesaikan persoalan ketika biaya kuliah anak mencapai puluhan juta rupiah per tahun.
Kedua, ada risiko underconsumption. Dalam beberapa kasus, praktik frugal living yang berlebihan justru dapat menurunkan kualitas hidup.
Orang menjadi enggan berobat karena ingin menghemat biaya. Mereka menunda pemeriksaan kesehatan, mengurangi asupan gizi, atau menolak rekreasi yang sebenarnya penting bagi kesehatan mental.
Padahal, tujuan utama pengelolaan keuangan adalah meningkatkan kesejahteraan, bukan sekadar menumpuk uang.
Ketiga, persoalan generasi sandwich juga bersifat struktural. Fenomena ini muncul bukan hanya karena gaya hidup konsumtif, tetapi juga karena lemahnya sistem perlindungan sosial, rendahnya kepemilikan dana pensiun, tingginya biaya pendidikan, dan keterbatasan akses terhadap pekerjaan berupah tinggi.
Karena itu, solusi terhadap generasi sandwich tidak cukup hanya melalui perubahan perilaku individu. Jika frugal living ingin menjadi instrumen yang efektif, maka ia harus diiringi dengan peningkatan literasi keuangan.
Penelitian terbaru menunjukkan bahwa tingkat literasi keuangan memiliki hubungan positif terhadap kualitas perencanaan keuangan jangka panjang pada kelompok generasi sandwich.
Semakin baik pemahaman seseorang terhadap pengelolaan keuangan, semakin besar peluangnya untuk membangun keamanan finansial.
Sayangnya, masih banyak masyarakat yang menganggap menabung sebagai satu-satunya bentuk perencanaan keuangan.
Padahal pengelolaan keuangan modern mencakup berbagai aspek, mulai dari dana darurat, proteksi melalui asuransi, investasi, dana pendidikan, hingga dana pensiun.
Bagi generasi sandwich, memiliki rencana keuangan yang terstruktur menjadi kebutuhan mendesak. Tanpa perencanaan, kenaikan pendapatan sering kali hanya diikuti oleh kenaikan gaya hidup.
Frugal living akan jauh lebih efektif jika dipadukan dengan upaya meningkatkan pendapatan. Fokus semata-mata pada penghematan memiliki batas tertentu.
Sebaliknya, peningkatan kapasitas produktif dapat memberikan ruang yang lebih besar bagi perbaikan kondisi keuangan. Era digital sebenarnya membuka banyak peluang baru.
Pekerjaan berbasis teknologi, bisnis daring, konsultasi profesional, hingga ekonomi kreatif dapat menjadi sumber pendapatan tambahan bagi keluarga generasi sandwich.
Bahkan berbagai studi dan pengamatan menunjukkan bahwa pekerjaan digital jarak jauh mulai dipandang sebagai salah satu cara untuk membantu generasi sandwich memperoleh pendapatan yang lebih fleksibel sambil tetap menjalankan tanggung jawab keluarga.
Karena itu, strategi terbaik bukan sekadar mengurangi pengeluaran, tetapi juga memperbesar kapasitas pendapatan.
Pada akhirnya, persoalan generasi sandwich tidak dapat dibebankan sepenuhnya kepada individu. Negara memiliki peran penting dalam menciptakan ekosistem yang mendukung.
Penguatan sistem pensiun nasional menjadi salah satu agenda utama. Semakin banyak lansia yang memiliki jaminan pendapatan hari tua, semakin kecil beban yang harus ditanggung generasi produktif.
Selain itu, perluasan akses pendidikan berkualitas yang terjangkau, penguatan layanan kesehatan, serta penciptaan lapangan kerja produktif berupah layak juga menjadi bagian dari solusi.
Indonesia sedang bergerak menuju masyarakat yang semakin menua. Jika tidak diantisipasi sejak sekarang, tekanan terhadap generasi sandwich akan semakin berat pada dekade mendatang.
Frugal living memang bukan solusi tunggal bagi generasi sandwich. Ia tidak mampu menghapus mahalnya biaya pendidikan, tidak dapat menggantikan sistem pensiun yang lemah, dan tidak serta-merta meningkatkan pendapatan.
Namun demikian, frugal living tetap memiliki nilai strategis. Gaya hidup ini membantu keluarga membangun disiplin finansial, memperkuat dana darurat, mengurangi konsumsi impulsif, serta membuka ruang untuk investasi jangka panjang.
Dalam konteks generasi sandwich, frugal living sebaiknya dipahami bukan sebagai hidup serba kekurangan, melainkan sebagai seni mengelola sumber daya yang terbatas secara lebih bijaksana.
Di tengah tekanan ekonomi yang semakin kompleks, kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan menjadi keterampilan yang sama pentingnya dengan kemampuan mencari penghasilan.
Generasi sandwich memang berada di posisi yang tidak mudah. Mereka memikul beban masa lalu melalui tanggung jawab kepada orang tua, sekaligus menanggung harapan masa depan melalui anak-anak mereka.
Namun, dengan kombinasi antara literasi keuangan yang baik, gaya hidup yang lebih sadar, peningkatan produktivitas, serta dukungan kebijakan publik yang memadai, tekanan tersebut bukan sesuatu yang mustahil untuk diatasi.
Frugal living mungkin bukan jawaban akhir. Namun, gaya hidup ini dapat menjadi langkah awal yang penting untuk keluar dari jebakan finansial dan memutus rantai generasi sandwich di masa depan.
Sebab pada akhirnya, tujuan hidup hemat bukanlah sekadar mengurangi pengeluaran, melainkan menciptakan kebebasan untuk menentukan masa depan yang lebih baik.
Dalam segala situasi, KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih dari lapangan. Ikuti terus update topik ini dan notifikasi penting di Aplikasi KOMPAS.com. Download sekarang
Generasi Sandwich Punya Beban Ganda, Bagaimana Siapkan Dana Pensiun?
Banyaknya peran yang diempan dalam usia produkif tak jarang mengurangi kemampuan mereka untuk memiliki tabungan masa tua. [1,344] url asal
#tips-keuangan #generasi-sandwich #sandwich-generation #tips #generasi-terjepit
(Kompas.com - Money) 10/06/26 16:45
v/246185/
JAKARTA, KOMPAS.com - Peran ganda sandwich generation atau generasi sandwich membuat mereka kerap kali kesulitan untuk mempersiapkan masa pensiunnya.
Banyaknya peran yang diempan dalam usia produkif tak jarang mengurangi kemampuan mereka untuk memiliki tabungan masa tua.
Perencana keuangan sekaligus Founder Finante.id, Rista Zwestika mengatakan, mempersiapkan dana pensiun bagi generasi sandwich merupakan seuah tantangan tersendiri.
"Ini tantangan terbesar generasi usia 30-50 tahun saat ini," kata dia kepada Kompas.com, Rabu (10/6/2026).
Pasalnya, generasi sandwich harus membiayai anak, membantu orang tua, membayar cicilan, sekaligus dengan menyiapkan pensiun sendiri.
"Banyak yang akhirnya hanya fokus pada kebutuhan hari ini dan lupa mempersiapkan masa depan," ucap dia.
Untuk itu, Rista berpesan, seorang yang masuk generasi sandwich memiliki beberapa strategi. Salah satu yang penting diperhatikan adalah bayar diri sendiri terlebih dahulu.
Begitu menerima gaji, sisihkan minimal 10–20 persen langsung dialokasikan untuk masa depan.
"Jangan menunggu ada sisa, karena biasanya tidak pernah ada sisa," ucap Rista.
Untuk mempermudah pengaturan keuangan, generasi sandwich juga perlu memisahkan tujuan keuangan.
Ia menyarankan membedakan rekening untuk dana darurat, pendidikan anak, dana pensiun, hingga investasi.
Sebaiknya, terdapat rekening sendiri untuk tiap-tiap kebutuhan tersebut.
"Jangan dicampur," ujar Rista.
Hindari perubahan gaya hidup
Untuk generasi sandwich, Rista mengimbau agar gaya hidup tidak naik lebih cepat daripada pendapatan.
Pasalnya, saat ini banyak keluarga mengalami kebaikan gaji tetapi mobil lebih mahal, cicilan bertambah, dan liburan jadi lebih sering.
"Akibatnya tidak ada ruang untuk investasi," ucap dia.
Selanjutnya, Rista meminta generasi sandwich untuk memulai investasi pensiun sedini mungkin.
Ia berpandangan, keunggulan terbesar dari laku investasi sedini munkgin bukan jumlah uang, tetapi waktu.
Sebagai ilustrasi, orang yang mulai investasi Rp 2 juta per bulan di usia 30 tahun berpotensi memiliki dana jauh lebih besar dibanding orang yang mulai Rp 5 juta per bulan di usia 45 tahun.
Rista juga berpandangan, dalam mempersiapkan dana pensiun libatkan seluruh anggota keluarga.
Beberapa hal yang perlu didiskusikan misalnya adalah kondisi keuangan keluarga, prioritas pengeluaran, hingga target pensiun.
"Karena perencanaan keuangan keluarga tidak bisa ditanggung satu orang saja," ucap Rista.
Risiko terbesar pensiunan
Pada 2026, risiko terbesar bagi pensiunan bukan hanya berhentinya gaji. Namun demikian, risiko yang terjadi merupakan kombinasi dari inflasi kebutuhan hidup, kenaikan biaya kesehatan, usia harapan hidup yang semakin panjang, dan ketergantungan finansial antar generasi.
Oleh karena itu, baik calon pensiunan maupun generasi sandwich perlu fokus pada tiga hal utama.
Generasi sandwich perlu membangun penghasilan pasif yang berkelanjutan.
Selanjutnya, generasi ini juga harus menyiapkan dana kesehatan secara terpisah.
Terakhir, generasi sandwich harus memulai dana pensiun sedini mungkin dan menjaga agar tidak habis untuk kebutuhan konsumtif atau membantu keluarga secara berlebihan.
"Tujuan pensiun bukan sekadar berhenti bekerja, tetapi tetap memiliki kemandirian finansial, martabat, dan kualitas hidup yang baik tanpa harus bergantung pada anak," ucap Rista.
Permasalahan utama generasi sandwich
Perencana Keuangan sekaligus Founder Finansialku Melvin Mumpuni menjelaskan, permasalahan utama generasi sandwich adalah penghasilan yang pas dengan pengeluaran.
"Bahkan kadang-kadang kurang," ucap dia.
Ia menambahkan, kondisi tersebut tak jarang disebabkan generasi sandwich ini harus menanggung biaya hidup orang tua.
Menurut dia, ketika seseorang penghasilan Rp 80 juta per bulan dan harus menanggung biaya orang tua Rp 10 juta per bulan, maka kondisi ini tidak jadi masalah.
Namun ketika seseorang penghasilan Rp 20 juta per bulan dan harus menanggung biaya orang tua Rp 10 juta per bulan, maka kondisi ini jadi masalah besar.
Salah satu hal yang dapat dilakukan generasi sandwich adalah berkomunikasi dengan orang tua mengenai kondisi keuangan saat ini.
Penting untuk menyamakan ekspektasi dan kemampuan serta mencari jalan keluar jangka pendek. Orang tua bisa ikut membantu menambah penghasilan atau mengurangi pengeluaran.
Kemudian, dari diri sendiri perlu menambah penghasilan, karena perlu penghasilan ekstra untuk alokasi pengeluaran lainnya.
Penting bagi generasi sandwich untuk mengamankan keuangan seperti dana darurat, melunasi pinjaman, dan beli asuransi.
Selain itu, generasi sandwich juga dapat mulai berinvestasi pada produk-produk yang menghasilkan capital gain supaya dapat mengumpulkan modal.
"Jika modal sudah tercukupi, mulai beli investasi atau aset produktif yang bisa menghasilkan pemasukan rutin. Penghasilan rutin tersebut yang digunakan untuk bantu orang tua," ujar dia.
Potret milenial jadi generasi sandwich
Generasi sandwich yang harus menanggung biaya hidup orang tua sekaligus anak-anak mereka kerap menghadapi tantangan finansial yang berat. Fenomena ini menjadi potret sebagian besar generasi milenial saat ini.
Perencana Keuangan dari Mitra Rencana Edukasi (MRE), Mike Rini Sutikno menjelaskan, dalam praktiknya, generasi sandwich umumnya mengalokasikan 20 hingga 30 persen pendapatan mereka untuk orang tua, serta 40 sampai 50 persen untuk keluarga inti.
Di tengah kondisi tersebut, pengelolaan keuangan yang tepat sangat diperlukan agar mereka tetap dapat menabung untuk masa depan.
"Langkah pertama ini menurut saya, perlu kita evaluasi terlebih dahulu nih. Sebenarnya kita punya pengeluaran apa saja? Artinya dari pendapatan kita digunakan buat apa saja sih, gitu," kata Mike.
Ia menekankan pentingnya melakukan penelusuran pengeluaran secara sistematis (tracking spending) untuk memetakan kategori kebutuhan dan keinginan. Menurut dia, pengeluaran yang bersifat keinginan bisa dikurangi atau dihentikan, sedangkan pengeluaran kebutuhan dapat dioptimalkan.
"Penyusunan ulang dari pengeluaran-pengeluaran kita dengan intinya tadi adalah agar terjadi lebih banyak surplus, ada beberapa pos-pos yang mungkin bisa dioptimalkan ya, sehingga lebih banyak surplus dan kemampuan kita menabung juga meningkat," ujar dia.
Untuk mempermudah manajemen keuangan, Mike menyarankan agar pos pengeluaran dibagi ke dalam tiga klaster utama, yaitu keluarga inti termasuk dana pendidikan anak, orang tua seperti bantuan rutin dan dana kesehatan, serta klaster untuk diri sendiri.
Dari hasil analisis pendapatan dan pengeluaran tersebut, generasi sandwich diharapkan dapat mengidentifikasi porsi surplus yang ada.
Jika alokasi untuk tabungan dan investasi dinilai belum cukup untuk mencapai tujuan jangka panjang, maka penghematan atau optimalisasi pada pos pengeluaran harus dilakukan.
Sebelum mengejar target keuangan lainnya, ia juga menekankan pentingnya memiliki dana darurat.
"Alokasi untuk emergency fund, tabungan untuk emergency fund-nya ya harus ditambah," jelas Mike.
Lebih lanjut, ia merekomendasikan skala prioritas dalam menabung, dengan pencapaian dana darurat (emergency fund) harus didahulukan, diikuti oleh persiapan dana pensiun dan dana pendidikan anak.
Bantu orang tua dari imbal hasil obligasi
Khusus untuk membantu orang tua tanpa mengorbankan tabungan pribadi, Mike Rini menawarkan opsi membangun pendapatan pasif (passive income) melalui produk investasi yang memberikan imbal hasil tetap.
"Kita mungkin berinvestasi, kita bisa tempatkan ke dalam suatu produk investasi yang memberikan pendapatan tetap, contohnya itu obligasi atau deposito, ya. obligasi seperti ORI atau sukuk, di mana pokok investasinya itu tetap, tetapi tiap bulan kita mendapatkan hasil investasinya. Nah, hasil investasinya inilah yang digunakan untuk membantu orang tua atau men-support atau menjadi penghasilan pensiun menambah penghasilan pensiun dari orang tuanya, bisa seperti itu, ya," papar dia.
Selain itu, ia menyarankan pembuatan dana kesehatan khusus bagi orang tua sebagai tambahan guna mengantisipasi risiko medis yang tidak terjangkau oleh jaminan kesehatan seperti BPJS.
Di sisi lain, komunikasi finansial yang terbuka di dalam keluarga dianggap menjadi kunci krusial bagi generasi sandwich.
Pentingnya komunikasi sebelum memberi bantuan orang tua
Mike mengimbau adanya diskusi yang realistis dengan orang tua mengenai batas kemampuan bantuan yang bisa diberikan secara konsisten, sekaligus membangun literasi keuangan pada anak sejak dini melalui contoh pengelolaan keuangan yang nyata.
Hubungan komunikasi dan keselarasan prioritas finansial dengan pasangan juga tidak kalah penting agar tidak berjalan sendiri-sendiri.
Ketika kondisi keuangan terus mengalami defisit yang berkelanjutan, negosiasi ulang jadwal atau besaran bantuan dengan orang tua perlu dilakukan.
Komunikasi yang baik juga memegang peran penting saat generasi sandwic berupaya mencari sumber pendapatan tambahan atau sedang melakukan penghematan anggaran.
"Apalagi kalau sudah bicara yang namanya penghematan. Nah, itu perlu perlu support dari seluruh anggota keluarga yang terlibat, gitu, baik dari orang tua yang di-support maupun dari keluarga inti Anda sendiri," pungkas tutup Mike.
Sebagai informasi, Indonesia resmi memasuki fase aging population atau penuaan penduduk.
Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 menunjukkan proporsi penduduk lanjut usia (lansia) mencapai 11,97 persen dari total populasi, melampaui ambang batas 10 persen yang menjadi indikator sebuah negara memasuki fase penuaan penduduk.
Kondisi tersebut menandai perubahan besar dalam struktur demografi Indonesia.
Jumlah lansia yang terus meningkat menghadirkan tantangan baru, tidak hanya bagi pemerintah, tetapi juga bagi keluarga yang menjadi garda terdepan dalam perawatan dan pemenuhan kebutuhan kelompok usia lanjut.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Ketika Rupiah Terpuruk, Generasi Sandwich Perlu Mainkan Strategi Baru
Bagi jutaan generasi sandwich di Indonesia, tekanan ekonomi hari ini mungkin terasa seperti pertandingan panjang yang tidak kunjung usai. [1,276] url asal
#kurs-rupiah #pelemahan-rupiah #dana-darurat #generasi-sandwich #indepth #rupiah-melemah #harga-barang-impor
(Kompas.com - Money) 08/06/26 09:24
v/243042/
KOMPAS.com - Baru-baru ini saya menonton dokumenter tentang legenda tenis Rafael Nadal di Netflix. Seperti banyak dokumenter olahraga lainnya, kisahnya bukan hanya tentang trofi, kemenangan, atau rekor.
Salah satu yang membekas justru cara Nadal memandang tekanan.
Dalam berbagai fase kariernya, petenis Spanyol itu berulang kali menghadapi cedera, kekalahan, dan keraguan. Namun ia selalu kembali dengan pendekatan yang sama: fokus pada poin berikutnya, bukan pada papan skor.
PEXELS/DEFRINO MAASY Ilustrasi rupiah, nilai tukar rupiah. Pemerintah Kota (Pemkot) Denpasar resmi mencairkan dana Bantuan Keuangan Partai Politik (Banpol) untuk Tahun Anggaran (TA) 2026. Total anggaran yang dialokasikan mencapai Rp 1.707.940.000 atau sekitar Rp 1,7 miliar.Saat menghadap berita kurs rupiah yang menembus Rp 18.000 per dollar AS, saya tiba-tiba teringat filosofi tersebut.
Sebab bagi jutaan generasi sandwich di Indonesia, tekanan ekonomi hari ini mungkin terasa seperti pertandingan panjang yang tidak kunjung usai.
Mereka harus menjaga keseimbangan antara kebutuhan anak, orangtua, dan diri sendiri, sembari menghadapi lapangan yang terus berubah akibat pelemahan nilai tukar dan ketidakpastian ekonomi.
Generasi sandwich adalah kelompok yang berada di tengah dua tanggung jawab sekaligus.
Mereka membiayai kehidupan sendiri dan anak-anak, tetapi pada saat yang sama juga membantu orangtua atau anggota keluarga yang lebih tua.
Ketika ekonomi sedang baik, beban itu sudah cukup berat. Ketika rupiah melemah, tekanan menjadi berlapis.
Harga barang impor berpotensi meningkat. Biaya pendidikan luar negeri naik. Harga bahan baku industri yang bergantung pada impor ikut terdorong.
Dunia usaha menghadapi kenaikan biaya produksi. Pada akhirnya, masyarakat berhadapan dengan risiko kenaikan harga barang dan jasa.
Unsplash Ilustrasi mengatur keuangan.Bagi generasi sandwich, situasi ini menyerupai pertandingan tenis lima set. Masalahnya bukan sekadar memenangkan satu poin, melainkan menjaga stamina untuk bertahan sepanjang pertandingan.
Pukulan yang datang dari berbagai arah
Banyak generasi sandwich hidup dalam kondisi keuangan yang sebenarnya sudah sangat tipis.
Gaji bulanan tidak hanya digunakan untuk kebutuhan rumah tangga sendiri. Ada cicilan rumah, biaya sekolah anak, kebutuhan transportasi, hingga pengeluaran rutin untuk orangtua.
Sebagian bahkan masih menanggung biaya kesehatan orangtua yang terus meningkat seiring bertambahnya usia.
Ketika nilai tukar rupiah melemah, tekanan tersebut bisa datang dari berbagai arah sekaligus.
Produk-produk elektronik, gawai, dan kebutuhan rumah tangga yang mengandung komponen impor berpotensi menjadi lebih mahal.
Belum lagi jika pelemahan rupiah terjadi bersamaan dengan perlambatan ekonomi dan melemahnya daya beli.
Dalam situasi seperti ini, kesalahan terbesar yang sering dilakukan adalah menganggap kondisi tersebut hanya bersifat sementara sehingga tidak perlu mengubah strategi keuangan.
Padahal, seperti dalam tenis, pemain yang terlambat beradaptasi biasanya akan kehilangan banyak poin sebelum menyadari bahwa pola permainan lawan telah berubah.
Saatnya mengubah strategi, bukan sekadar mengencangkan ikat pinggang
Nasihat paling umum ketika ekonomi sedang sulit adalah mengurangi pengeluaran. Nasihat tersebut tidak salah, tetapi sering kali tidak cukup.
SHUTTERSTOCK/DRAGON IMAGES Ilustrasi mengatur keuangan, membuat perencanaan keuangan.Banyak generasi sandwich sudah menjalani hidup dengan tingkat efisiensi yang tinggi. Mereka tidak memiliki banyak ruang untuk memangkas pengeluaran karena sebagian besar anggaran memang digunakan untuk kebutuhan dasar keluarga.
Karena itu, fokus utama seharusnya bukan hanya penghematan, tetapi juga penataan ulang prioritas keuangan.
Langkah pertama adalah memisahkan kebutuhan yang benar-benar esensial dan kebutuhan yang selama ini dianggap wajib padahal sebenarnya masih bisa ditunda.
Di masa ketidakpastian, likuiditas menjadi sangat penting.
Membeli gawai terbaru, mengganti kendaraan sebelum waktunya, atau menambah cicilan konsumtif mungkin perlu dipertimbangkan ulang.
Setiap keputusan keuangan sebaiknya diuji dengan satu pertanyaan sederhana: apakah pengeluaran ini akan membantu keluarga menjadi lebih kuat jika kondisi ekonomi memburuk dalam satu hingga dua tahun ke depan?
Jika jawabannya tidak, maka penundaan mungkin menjadi pilihan yang lebih bijak.
Dana darurat bukan lagi pilihan
Banyak keluarga Indonesia masih menganggap dana darurat sebagai target ideal yang bisa dibangun nanti ketika pendapatan sudah lebih besar.
Masalahnya, kondisi ekonomi tidak selalu menunggu kesiapan seseorang. Pelemahan rupiah mengingatkan bahwa guncangan ekonomi bisa datang kapan saja.
Bagi generasi sandwich, dana darurat memiliki fungsi yang jauh lebih penting dibanding kelompok lain.
Mereka bukan hanya menjadi penyangga bagi diri sendiri, tetapi juga bagi dua generasi sekaligus.
SHUTTERSTOCK/PRAPAN MANUCHON Dana darurat adalah dana yang disisihkan atau dialokasikan untuk situasi darurat atau genting seperti kehilangan pekerjaan, masalah kesehatan, kecelakaan, atau kerusakan rumahKetika orangtua sakit atau kehilangan sumber pendapatan, ketika anak membutuhkan biaya mendadak, atau ketika terjadi gangguan pekerjaan, generasi sandwich biasanya menjadi pihak pertama yang harus turun tangan.
Karena itu, membangun cadangan kas menjadi kebutuhan yang mendesak.
Dalam pertandingan tenis, Nadal sering dikenal karena kemampuannya bertahan dalam reli panjang. Ia tidak selalu mencari pukulan kemenangan dalam satu kesempatan.
Ia memastikan dirinya tetap berada dalam permainan sampai peluang yang tepat datang.
Dana darurat bekerja dengan prinsip yang sama. Tujuannya bukan membuat seseorang kaya, melainkan memastikan keluarga tetap bertahan ketika situasi berubah.
Diversifikasi pendapatan menjadi keharusan
Ada perubahan penting dalam lanskap ekonomi modern. Dulu, satu pekerjaan tetap sering dianggap cukup untuk menopang kehidupan keluarga.
Kini asumsi tersebut semakin sulit dipertahankan.
Generasi sandwich menghadapi risiko yang lebih besar karena banyak pihak bergantung pada satu sumber pendapatan.
Ketika ekonomi melambat, perusahaan dapat menunda ekspansi, mengurangi bonus, atau melakukan efisiensi tenaga kerja.
Karena itu, memiliki lebih dari satu sumber pendapatan bukan lagi sekadar tren, melainkan strategi perlindungan.
Bentuknya tidak harus selalu bisnis besar.
Sebagian orang memperoleh tambahan penghasilan dari pekerjaan lepas, konsultasi, mengajar, membuat konten digital, atau usaha kecil berbasis keterampilan yang dimiliki.
TENNIS.COM Ilustrasi tenis.Yang penting bukan seberapa besar pendapatan tambahan tersebut saat ini, melainkan keberadaan alternatif ketika sumber pendapatan utama menghadapi tekanan.
Dalam tenis, pemain profesional tidak mengandalkan satu jenis pukulan saja. Mereka memiliki servis, forehand, backhand, volley, hingga kemampuan bertahan.
Semakin beragam senjata yang dimiliki, semakin besar peluang bertahan dalam berbagai situasi pertandingan.
Prinsip yang sama berlaku dalam pengelolaan keuangan keluarga.
Melindungi diri dari risiko yang sering diabaikan
Salah satu ironi generasi sandwich adalah mereka sering menjadi tulang punggung keluarga sekaligus pihak yang paling sedikit memikirkan perlindungan dirinya sendiri.
Mereka sibuk membayar kebutuhan anak dan orangtua, tetapi lupa mempersiapkan perlindungan terhadap risiko yang bisa mengganggu kemampuan mencari nafkah.
Padahal satu kejadian kesehatan serius atau kehilangan pekerjaan dapat mengubah kondisi keuangan keluarga secara drastis.
Karena itu, meninjau kembali perlindungan kesehatan dan manajemen risiko menjadi langkah yang tidak kalah penting dibanding mencari tambahan penghasilan.
Dalam kondisi ekonomi yang penuh ketidakpastian, ketahanan finansial tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak aset yang dimiliki, tetapi juga seberapa baik keluarga mampu mengelola risiko.
Menang bukan berarti kaya
Ada pelajaran lain dari Nadal yang mungkin relevan bagi generasi sandwich.
AFP/ CLIVE BRUNSKILL Rafael Nadal tersenyum memamerkan trofi juara Australian Open 2022 miliknya, Rafael Nadal menjadi juara Australian Open 2022 setelah menumbangkan Daniil Medvedev di partai final yang berlangsung di Rod Lover Arena, Minggu (30/1/2022) malam WIB.Dalam banyak pertandingan besar, ia tidak selalu tampil sempurna. Ia membuat kesalahan, kehilangan set, bahkan tertinggal skor.
Namun ia tetap berada dalam pertandingan.
Dalam konteks keuangan keluarga, kemenangan juga tidak selalu berarti memiliki portofolio investasi terbesar atau pendapatan tertinggi.
Bagi banyak generasi sandwich Indonesia, kemenangan mungkin memiliki definisi yang lebih sederhana tetapi jauh lebih penting.
Anak-anak tetap mendapatkan pendidikan yang layak. Orangtua tetap memperoleh perawatan yang dibutuhkan.
Tagihan bulanan tetap terbayar. Dana darurat perlahan bertambah. Dan keluarga mampu melewati periode sulit tanpa harus mengorbankan masa depan.
Ketika rupiah menembus Rp 18.000 per dollar AS, tantangan yang dihadapi generasi sandwich memang menjadi lebih berat. Namun seperti pertandingan tenis yang panjang, fokus tidak seharusnya hanya tertuju pada skor saat ini.
Yang lebih penting adalah kemampuan menjaga stamina finansial, mengatur strategi, dan memastikan bahwa ketika pertandingan ekonomi memasuki set berikutnya, keluarga masih memiliki cukup tenaga untuk terus bermain.
Sebab pada akhirnya, ketahanan keuangan bukan soal memenangkan satu hari yang baik, melainkan kemampuan bertahan melewati banyak hari yang sulit.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Atur Keuangan Generasi Sandwich: Prioritaskan Orangtua, Anak, atau Pensiun?
Menjadi bagian dari generasi sandwich bukan sekadar menghadapi tantangan mengatur pengeluaran bulanan. [1,210] url asal
#tujuan-keuangan #generasi-sandwich #kebutuhan-anak #indepth #biaya-hidup #tekanan-finansial
(Kompas.com - Money) 04/06/26 10:55
v/239661/
JAKARTA, KOMPAS.com — Menjadi bagian dari generasi sandwich bukan sekadar menghadapi tantangan mengatur pengeluaran bulanan.
Banyak orang harus menjalani peran ganda, bahkan tiga sekaligus: membiayai kebutuhan anak, membantu orangtua yang memasuki usia lanjut, dan tetap menyiapkan masa pensiunnya sendiri.
Fenomena ini semakin banyak terjadi seiring meningkatnya usia harapan hidup, perubahan pola pernikahan, serta bertambah panjangnya masa ketergantungan anak terhadap orangtua.
PEXELS/TIMA MIROSHNICHENKO Ilustrasi generasi sandwich.Kondisi tersebut membuat banyak keluarga berada dalam tekanan finansial yang tidak sederhana.
Dikutip dari Encyclopedia Britannica, Kamis (4/6/2026), istilah generasi sandwich merujuk pada kelompok orang yang berada “di tengah”, yakni menanggung kebutuhan orangtua dan anak pada waktu bersamaan.
Kelompok ini umumnya merupakan orang dewasa yang harus merawat atau membantu orangtua yang menua sekaligus membiayai anak-anak yang masih bergantung secara ekonomi.
Fenomena tersebut muncul karena masyarakat kini hidup lebih lama dan banyak orang memiliki anak pada usia yang lebih matang.
Akibatnya, ketika anak masih membutuhkan dukungan finansial, orangtua mereka sudah memasuki masa pensiun dan mulai memerlukan bantuan.
Di Indonesia, situasi tersebut juga diperkuat oleh norma budaya yang menganggap anak memiliki tanggung jawab membantu orangtua ketika memasuki usia lanjut.
Dalam banyak keluarga, dukungan finansial kepada orangtua masih dipandang sebagai bagian dari kewajiban keluarga.
Tekanan finansial dari dua arah
KOMPAS/PRIYOMBODO Siluet langkah para pekerja yang bergegas menuju tempat kerja mereka atau berganti moda transportasi dari stasiun Sudirman, Jakarta Pusat, Jumat (19/11/2021). Banyak para pekerja di ibukota adalah generasi sandwich yang harus membagi penghasilannya untuk keluarga dan membantu ekonomi orang tua.Posisi generasi sandwich sering kali diibaratkan berada dalam himpitan dua kebutuhan besar sekaligus.
Di satu sisi, mereka harus memenuhi biaya pendidikan, konsumsi, kesehatan, hingga kebutuhan masa depan anak. Di sisi lain, mereka juga harus membantu biaya hidup, pengobatan, atau kebutuhan harian orangtua.
Britannica menggambarkan fase ini sebagai periode ketika kebutuhan keluarga dapat dengan mudah melompati prioritas keuangan lain yang sebelumnya sudah direncanakan.
Kebutuhan orangtua maupun anak sering kali muncul secara bersamaan dan membutuhkan dana dalam jumlah besar.
Tekanan tersebut tidak hanya memengaruhi kondisi keuangan, tetapi juga waktu, kesehatan mental, dan perkembangan karier.
Penelitian dan berbagai kajian mengenai generasi sandwich menunjukkan bahwa kelompok ini rentan mengalami stres karena harus membagi perhatian, tenaga, dan sumber daya ke beberapa generasi sekaligus.
Bahkan, laporan Allianz Life yang dikutip Kiplinger menunjukkan 75 persen anggota generasi sandwich mengaku kesulitan mencapai tujuan keuangan mereka.
Sebanyak 70 persen menyatakan kondisi tersebut berdampak terhadap rencana pensiun, sementara 59 persen mengurangi atau menghentikan tabungan pensiun demi membantu keluarga.
Menentukan prioritas keuangan
Di tengah berbagai kebutuhan yang datang bersamaan, salah satu langkah paling penting adalah menentukan prioritas pengeluaran.
HARIAN KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA Pekerja pulang dari kantor di Jalan Embong Malang, Surabaya, Senin (26/2/2024). Saat ini, sebagian besar kelas menengah usia 17-40 tahun kerepotan mengatur pengeluaran.Generasi sandwich disarankan memprioritaskan kebutuhan yang hanya bisa mereka biayai sendiri, yakni dana pensiun.
Orang yang berada dalam fase sandwich perlu memprioritaskan dana pensiun dan mulai membangun komunikasi terbuka dengan anggota keluarga mengenai kondisi keuangan masing-masing.
Langkah ini penting karena banyak orang cenderung menempatkan kebutuhan dirinya pada urutan terakhir setelah anak dan orangtua.
Padahal, mengabaikan persiapan masa pensiun berpotensi menciptakan siklus generasi sandwich yang berulang pada generasi berikutnya.
Kiplinger menyoroti, mengurangi tabungan pensiun dapat menghilangkan manfaat pertumbuhan dana jangka panjang dan efek compounding.
Akibatnya, seseorang berisiko memiliki kualitas hidup pensiun yang lebih rendah atau harus bekerja lebih lama.
Karena itu, menjaga kontribusi tabungan atau investasi jangka panjang tetap berjalan menjadi bagian penting dari strategi keuangan generasi sandwich.
Membuat anggaran yang lebih ketat
Tantangan utama generasi sandwich sering kali bukan sekadar kurangnya pendapatan, melainkan banyaknya pos pengeluaran yang harus ditanggung secara bersamaan.
Karena itu, penyusunan anggaran menjadi langkah mendasar.
Inilah pentingnya memahami seluruh pengeluaran rumah tangga, mulai dari biaya transportasi, makanan, pendidikan, hingga kebutuhan keluarga lainnya.
Pemahaman terhadap arus kas ini membantu keluarga mengetahui posisi keuangan sebenarnya dan menentukan prioritas yang paling mendesak.
Selain itu, pencatatan seluruh pemasukan dan pengeluaran merupakan langkah dasar yang sering diabaikan.
FREEPIK/TIRACHARDZ Ilustrasi mengatur keuangan bersama pasangan.Padahal, pencatatan dapat menjadi alat evaluasi untuk melihat pengeluaran yang tidak penting dan mengendalikan konsumsi yang berlebihan.
Tak hanya itu, pendapatan dialokasikan lebih dulu untuk kebutuhan utama seperti cicilan, kebutuhan pokok, dan tabungan sebelum digunakan untuk pengeluaran konsumtif.
Menghindari utang yang membebani masa depan
Salah satu risiko terbesar yang dihadapi generasi sandwich adalah bertambahnya utang akibat kebutuhan keluarga yang terus meningkat.
Meminjam dana untuk kebutuhan pendidikan anak dapat menciptakan beban utang yang bertahan hingga masa pensiun.
Karena itu, keluarga perlu mempertimbangkan secara matang keseimbangan antara kebutuhan pendidikan dan kemampuan keuangan jangka panjang.
Selain itu, generasi sandwich juga perlu menyadari pentingnya mengendalikan utang dan menghindari keputusan finansial yang hanya berfokus pada cicilan bulanan tanpa memperhitungkan biaya keseluruhan.
Langkah tersebut menjadi semakin penting karena generasi sandwich biasanya menghadapi berbagai kebutuhan besar secara bersamaan, mulai dari pendidikan anak, biaya kesehatan orangtua, hingga kebutuhan tempat tinggal.
Membuka komunikasi dengan keluarga
Masalah keuangan dalam keluarga sering kali menjadi topik yang sulit dibicarakan. Namun, berbagai pakar menilai komunikasi justru menjadi bagian penting dalam mengurangi tekanan generasi sandwich.
Orang yang dalam fase sandwich perlu memulai percakapan lebih awal dan tidak menganggap semua anggota keluarga memiliki pemahaman yang sama mengenai kondisi keuangan.
Dok. Freepik/EyeEm Ilustrasi keluarga.Setiap anggota keluarga memiliki prioritas dan kebutuhan yang berbeda.
Mengutip The Times, penting juga untuk melakukan diskusi terbuka mengenai biaya perawatan orangtua, aset keluarga, warisan, hingga kebutuhan masa depan anak.
Komunikasi yang lebih terbuka dinilai dapat membantu pembagian tanggung jawab yang lebih adil di dalam keluarga.
Dalam banyak kasus, anak yang sudah dewasa juga perlu mulai diajak memahami kondisi keuangan keluarga dan belajar mengambil tanggung jawab atas sebagian kebutuhannya sendiri.
Mengajarkan kemandirian finansial kepada anak
Salah satu cara mengurangi tekanan finansial jangka panjang adalah membantu anak membangun kemandirian sejak dini.
Britannica menyarankan orangtua untuk mengajarkan keterampilan keuangan kepada anak melalui pengalaman langsung, seperti bekerja paruh waktu, mengelola anggaran, serta memahami berbagai biaya kehidupan sehari-hari.
Anak juga perlu dikenalkan pada konsep pengeluaran rumah tangga agar memiliki gambaran yang realistis mengenai tanggung jawab finansial.
Ketika anak mulai memasuki usia dewasa dan membangun kehidupannya sendiri, orangtua juga perlu menentukan batas antara membantu dan terlalu banyak menanggung kebutuhan mereka. Pada titik tertentu orangtua perlu memberi ruang agar anak menjadi pribadi yang mandiri dan bertanggung jawab.
Langkah tersebut tidak hanya membantu anak memahami pengelolaan uang, tetapi juga mencegah beban finansial keluarga terus berlanjut hingga bertahun-tahun.
Menyiapkan masa tua agar tidak menjadi beban generasi berikutnya
Di balik seluruh strategi pengelolaan keuangan generasi sandwich, terdapat satu tujuan yang terus ditekankan oleh berbagai pakar, yakni memutus siklus ketergantungan antargenerasi.
SHUTTERSTOCK/IRINA STRELNIKOVA Ilustrasi generasi sandwich.Mereka yang telah melewati fase sandwich perlu berupaya agar tidak menjadi beban finansial anak-anaknya di masa depan.
Jika memungkinkan, mereka justru dapat membantu meringankan beban generasi berikutnya, baik melalui dukungan finansial maupun bantuan nonkeuangan.
Karena itu, menyiapkan dana pensiun, memiliki tabungan darurat, mengelola utang dengan hati-hati, dan membangun komunikasi keluarga menjadi bagian penting dari strategi keuangan jangka panjang.
Bagi generasi sandwich, tantangannya memang tidak ringan.
Namun berbagai panduan keuangan menunjukkan bahwa pengelolaan anggaran yang disiplin, penentuan prioritas yang jelas, serta persiapan pensiun yang konsisten dapat membantu menjaga keseimbangan antara memenuhi kebutuhan keluarga hari ini dan menjaga keamanan finansial pada masa mendatang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Kepadatan calon penumpang KRL Commuter Line tujuan Stasiun Jayakarta di Stasiun Manggarai, Jakarta, Selasa, 5 Agustus 2025. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono)
Kelas menengah hari ini bertahan hidup di tengah gempuran ekonomi yang dinilai makin sulit dan mimpi yang diperjuangkan. [717] url asal
#kelas-menengah #ekonomi-indonesia #generasi-sandwich #gaji #indonesia #jakarta #pemerintah #garuda #rupiah #sekolah #kesehatan #tragedi #pendidikan #usia #kemewahan #kutukan #ketakutan #pajak #guna
(CNN Indonesia - Ekonomi) 02/06/26 08:21
v/237150/
Mungkin tidak ada yang lebih menyedihkan dari hidup kelas menengah Indonesia hari ini selain kenyataan bahwa mereka masih harus berpura-pura semuanya baik-baik saja.
Padahal tidak.
Gaji datang seperti numpang lewat: singgah sebentar, lalu habis sebelum bulan berganti. Harga-harga naik. Tabungan yang yang dulu disimpan untuk masa depan, kini perlahan habis dan menyusut.
Hidup bisa jadi mendadak terasa jauh lebih mahal, bahkan hanya untuk mempertahankan kehidupan yang biasa-biasa saja. Kelas menengah Indonesia hari ini hidup dalam kelelahan bertubi-tubi.
Salah satunya mungkin di Jakarta dan kota penyangganya.
Bangun pagi, menembus macet berjam-jam, bekerja delapan hingga sepuluh jam sehari, pulang malam dengan tubuh dan kepala yang sama-sama lelah. Lalu tidur, sambil memikirkan tagihan yang belum lunas.
Ada cicilan rumah yang menunggu dibayar. Cicilan kendaraan yang belum lunas. Biaya sekolah anak.
Lalu esok pagi semuanya dimulai lagi dari awal. Rutinitas yang berulang, bertahun-tahun, seolah hidup hanya bergerak dari satu tanggal gajian menuju tanggal gajian berikutnya.
Tetapi anehnya, meski bekerja lebih keras, hidup justru terasa makin jauh dari kata aman.
Dulu, rumah adalah simbol keberhasilan kerja. Hari ini justru terasa seperti kemewahan yang terus menjauh. Dua orang bekerja dari pagi sampai malam pun sering hanya mampu membeli tempat tinggal di ujung kota akibat harga rumah hari ini mencapai level yang sulit dijangkau.
KPR pun bukan lagi jalan kepemilikan, tetapi beban yang mengikat puluhan tahun. Sisanya dibayar dengan waktu, tenaga, dan hidup yang habis di jalan setiap hari.
Dahulu orang bekerja dengan keyakinan bahwa hidup bisa perlahan naik setingkat demi setingkat. Hari ini, banyak yang bekerja mati-matian bukan untuk naik kelas sosial, melainkan sekadar agar tidak jatuh ke bawah.
Dan di situlah tragedi terbesar kelas menengah Indonesia modern: mereka memang belum miskin, tetapi hidup setiap hari dalam kecemasan dan ketakutan.
Takut kehilangan pekerjaan di tengah ekonomi yang tak menentu. Cemas orang tua tiba-tiba sakit ketika biaya kesehatan makin mahal. Khawatir anak-anak mereka tak mendapat pendidikan yang layak untuk masa depan. Takut satu keadaan darurat datang dan menghapus seluruh tabungan.
Yang paling mereka takutkan sebenarnya sederhana: kehilangan hidup yang sudah dibangun dengan kerja keras, waktu, dan pengorbanan yang panjang.
Karena hidup kelas menengah sebenarnya berdiri di atas keseimbangan yang rapuh sekali. Data resmi menunjukkan sepanjang 2018-2025, sudah lebih dari 10 juta orang telah tergelincir keluar dari kelas menengah.
Rupiah yang semakin anjlok hari-hari ini seolah memperlihatkan dengan gamblang betapa tipis jarak antara hidup yang terasa aman dan hidup yang bisa sewaktu-waktu runtuh.
Dan mendadak harga apa pun terasa tidak masuk akal.
Makan siang lebih mahal. Kopi favorit naik harga. Biaya langganan aplikasi bertambah. Tiket pesawat terasa makin jauh dari jangkauan. Belanja bulanan mulai dihitung lebih hati-hati, satu per satu.
Hal-hal kecil mulai dikurangi diam-diam: tidak jadi liburan, mengurangi nongkrong, mengurungkan niat membeli tiket konser musisi favorit, hingga rencana punya anak.
Tanpa sadar, yang ikut ditunda bukan cuma kebutuhan atau keinginan, tetapi juga mimpi-mimpi tentang masa depan.
Sialnya, kelas menengah punya satu kutukan: mereka harus tetap terlihat mampu.
Padahal banyak yang diam-diam hidup dari gajian ke gajian. Banyak yang tabungannya sebenarnya tipis. Banyak yang, kalau kehilangan pekerjaan tiga bulan saja, dunia terasa ambruk.
Ada beban tambahan yang semakin berat: generasi sandwich.
Sekitar 48-67 persen penduduk usia produktif kini menjadi generasi sandwich yang harus membiayai anak sekaligus orang tua dan diri sendiri. Generasi yang pendapatannya naik, tetapi daya belinya turun. Generasi yang terdidik, tetapi juga paling cemas menghadapi masa depan.
Dan negara bisa jadi tak melihat sepenuhnya kecemasan itu.
Di mata pemerintah sepertinya kelas menengah dianggap 'masih kuat'. Mereka dipuji sebagai penopang konsumsi nasional, pendongkrak pertumbuhan ekonomi, kelompok produktif yang dianggap akan selalu mampu bertahan sendiri.
Padahal justru kelompok inilah yang sesungguhnya rentan dan dilematis: tidak cukup miskin untuk mendapat bantuan, tetapi juga tidak cukup kaya untuk merasa aman.
Mereka membayar pajak dengan patuh, tetapi merasa Infrastruktur dan pelayanan publik belum sebanding dengan beban yang mereka tanggung.
Mata uang garuda yang terus melemah membuat pundak kelas menengah semakin berat. Sebab sesungguhnya yang sedang jatuh bukan hanya nilai tukar.
Yang ikut jatuh adalah rasa percaya bahwa hidup akan membaik.
Bahwa kerja keras akan terbayar. Bahwa menabung masih ada gunanya. Bahwa masa depan masih bisa direncanakan.
Hari-hari ini, banyak kelas menengah Indonesia mulai merasa hidup tak lagi soal mengejar mimpi. Melainkan sekadar bertahan agar tidak tergelincir.
Menanggung Anak dan Orangtua Sekaligus? Ini Cara Mengatur Keuangan
Generasi sandwich semakin menjadi fenomena yang banyak dibahas seiring meningkatnya harapan hidup masyarakat dan bertambahnya kebutuhan ekonomi. [1,217] url asal
#dana-darurat #tujuan-keuangan #generasi-sandwich #indepth #dana-pensiun #kebutuhan-sehari-hari
(Kompas.com - Money) 31/05/26 14:35
v/236160/
JAKARTA, KOMPAS.com - Generasi sandwich semakin menjadi fenomena yang banyak dibahas seiring meningkatnya harapan hidup masyarakat dan bertambahnya kebutuhan ekonomi keluarga.
Kelompok ini merujuk pada individu yang berada di posisi “terjepit” karena harus menanggung kebutuhan dua generasi sekaligus, yakni anak-anak yang masih bergantung secara finansial dan orangtua yang memasuki usia lanjut.
Dikutip dari Britannica, Minggu (31/5/2026), istilah generasi sandwich menggambarkan orang-orang yang harus membagi waktu, tenaga, perhatian, serta sumber daya keuangan untuk anak dan orangtua pada saat bersamaan.
HARIAN KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA Pekerja pulang dari kantor di Jalan Embong Malang, Surabaya, Senin (26/2/2024). Saat ini, sebagian besar kelas menengah usia 17-40 tahun kerepotan mengatur pengeluaran.Kondisi tersebut banyak dialami oleh kelompok usia 40 hingga 60 tahun yang berada pada fase produktif sekaligus menghadapi beban keluarga yang semakin kompleks.
Bahkan, saat ini banyak generasi sandwich berusia di bawah 40 tahun, yang harus menanggung anak dan orangtua sekaligus.
Di tengah tekanan tersebut, tantangan terbesar bukan hanya soal membagi perhatian, melainkan juga menjaga kesehatan keuangan pribadi agar tidak ikut tergerus.
Sebab, tanpa perencanaan keuangan yang matang, generasi sandwich berisiko mengorbankan dana pensiun, dana darurat, bahkan stabilitas keuangan jangka panjang mereka sendiri.
Ketika kebutuhan dua generasi datang bersamaan
Banyak orang dewasa harus memberikan dukungan finansial sekaligus bantuan fisik dan emosional kepada anak maupun orangtua.
Anak-anak membutuhkan biaya pendidikan, kebutuhan sehari-hari, hingga dukungan saat memasuki usia dewasa. Di sisi lain, orangtua lanjut usia membutuhkan biaya kesehatan, perawatan, serta bantuan dalam aktivitas harian.
HARIAN KOMPAS/PRIYOMBODO Karyawan menyeberang Jalan Prof Dr Satrio di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, saat jam makan siang. Para karyawan ini adalah potret kelas menengah Indonesia. Kelas menengah dengan gaji terbatas bersiasat untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan menabung untuk masa depan.Kondisi tersebut membuat generasi sandwich harus menghadapi pengeluaran yang terus meningkat dari berbagai arah.
Bahkan, tekanan tersebut sering kali muncul pada saat seseorang sedang berada di puncak karier dan seharusnya mulai mempersiapkan masa pensiun.
Fenomena ini tidak hanya berdampak pada keuangan. Britannica juga mencatat, kelompok generasi sandwich rentan mengalami stres, kelelahan (burnout), kecemasan, hingga depresi akibat tuntutan yang datang secara bersamaan dari keluarga, pekerjaan, dan kebutuhan pribadi.
Karena itu, pengelolaan keuangan menjadi salah satu aspek penting agar tanggung jawab terhadap keluarga tidak berujung pada kerentanan finansial di masa depan.
Jangan mengorbankan masa depan demi kebutuhan saat ini
Salah satu kesalahan yang paling sering dilakukan generasi sandwich adalah menunda atau menghentikan tabungan pensiun demi memenuhi kebutuhan keluarga saat ini.
Dikutip dari Yahoo Finance, para ahli menilai bahwa menjaga kondisi keuangan pribadi harus menjadi prioritas utama, meskipun seseorang memiliki tanggung jawab besar terhadap orangtua maupun anak.
Prinsip tersebut sering dianalogikan seperti instruksi keselamatan di pesawat terbang, yakni mengenakan masker oksigen untuk diri sendiri terlebih dahulu sebelum membantu orang lain.
Dalam konteks keuangan, seseorang perlu memastikan masa depannya tetap aman agar dapat terus membantu anggota keluarga dalam jangka panjang.
Data Allianz Life yang dikutip Kiplinger menunjukkan, 75 persen anggota generasi sandwich mengaku kesulitan mencapai tujuan keuangan mereka. Sementara 70 persen menyatakan tanggung jawab tersebut berdampak negatif terhadap perencanaan pensiun.
Bahkan, 59 persen responden mengaku mengurangi atau menghentikan kontribusi tabungan pensiun untuk memenuhi kebutuhan keluarga.
SHUTTERSTOCK/PROSTOCK-STUDIO Ilustrasi mengatur keuangan.Angka tersebut menunjukkan, banyak keluarga memilih solusi jangka pendek yang justru berpotensi menimbulkan masalah keuangan yang lebih besar di masa depan.
Menyusun anggaran secara realistis
Langkah pertama yang disarankan para perencana keuangan adalah membuat anggaran yang realistis dan mencerminkan kondisi keluarga secara menyeluruh.
Generasi sandwich perlu mengetahui secara rinci berapa besar pendapatan yang diterima setiap bulan, pengeluaran wajib yang harus dipenuhi, serta porsi dana yang digunakan untuk membantu anak maupun orangtua.
Dengan pemetaan tersebut, seseorang dapat melihat batas kemampuan finansial yang dimiliki dan menghindari keputusan emosional yang berpotensi membebani keuangan pribadi.
Menjaga keuangan pribadi tidak berarti mengabaikan keluarga. Sebaliknya, pengaturan anggaran yang jelas justru membantu seseorang menentukan bentuk bantuan yang masih sesuai dengan kemampuan finansialnya.
Perencanaan anggaran juga penting untuk membedakan kebutuhan yang benar-benar mendesak dan kebutuhan yang masih dapat ditunda.
Dana darurat menjadi fondasi penting
Selain anggaran, generasi sandwich juga perlu memiliki dana darurat yang memadai.
Dana darurat berfungsi sebagai bantalan ketika terjadi kondisi tidak terduga, seperti kehilangan pekerjaan, biaya kesehatan mendadak, atau kebutuhan keluarga yang muncul secara tiba-tiba.
Sejumlah pakar keuangan menekankan pentingnya memiliki dana darurat setara tiga hingga enam bulan pengeluaran pokok. Dana tersebut dapat membantu keluarga menghadapi krisis tanpa harus menambah utang atau mengambil dana pensiun lebih awal.
SHUTTERSTOCK/PRAPAN MANUCHON Dana darurat adalah dana yang disisihkan atau dialokasikan untuk situasi darurat atau genting seperti kehilangan pekerjaan, masalah kesehatan, kecelakaan, atau kerusakan rumahKeberadaan dana darurat menjadi semakin penting karena generasi sandwich sering menghadapi risiko pengeluaran ganda. Misalnya, ketika anak membutuhkan biaya pendidikan pada saat yang sama orangtua memerlukan perawatan kesehatan.
Tanpa cadangan dana yang cukup, tekanan tersebut dapat mendorong seseorang menggunakan kartu kredit atau sumber pembiayaan lain yang berisiko memperburuk kondisi keuangan.
Membuka komunikasi soal kondisi keuangan keluarga
Salah satu rekomendasi yang muncul dalam berbagai pembahasan mengenai generasi sandwich adalah pentingnya komunikasi terbuka di dalam keluarga.
Menurut MoneyWeek, diskusi mengenai kondisi keuangan, rencana perawatan orangtua, kebutuhan anak, hingga pembagian tanggung jawab keluarga perlu dilakukan sejak dini.
Langkah ini dapat membantu seluruh anggota keluarga memahami kemampuan finansial yang tersedia dan mencegah munculnya ekspektasi yang tidak realistis.
Komunikasi yang baik juga membantu generasi sandwich menghindari situasi ketika seluruh beban finansial ditanggung oleh satu orang.
Dalam banyak kasus, kebutuhan orangtua lanjut usia maupun anak dewasa dapat dibicarakan bersama sehingga solusi yang diambil tidak semata-mata bergantung pada satu sumber pendapatan.
Menyiapkan rencana jangka panjang
Tantangan generasi sandwich umumnya tidak bersifat sementara. Kebutuhan anak dapat berlangsung hingga bertahun-tahun, sementara kebutuhan orangtua biasanya meningkat seiring bertambahnya usia.
Karena itu, perencanaan jangka panjang menjadi faktor penting dalam menjaga kesehatan keuangan keluarga.
Britannica mencatat, kelompok generasi sandwich sering kali harus mengalokasikan waktu, energi, dan sumber daya finansial dalam jangka panjang.
SHUTTERSTOCK/TIMESHOPS Ilustrasi pensiun. Tips menyiapkan dana pensiun. Dana pensiun. Dana hari tua. Cara mengumpulkan dana hari tua.Tanpa perencanaan yang matang, kondisi tersebut dapat mengganggu perkembangan karier, kesehatan mental, dan kesiapan memasuki masa pensiun.
Perencanaan tersebut dapat mencakup target tabungan pensiun, perlindungan keuangan keluarga, strategi menghadapi biaya kesehatan orangtua, hingga batas bantuan finansial yang dapat diberikan kepada anak.
Dengan memiliki rencana yang jelas, seseorang dapat lebih mudah menyeimbangkan kebutuhan saat ini dan tujuan jangka panjang.
Menjaga diri sendiri di tengah tuntutan keluarga
Selain menjaga kesehatan finansial, generasi sandwich juga perlu memperhatikan kondisi fisik dan mental mereka sendiri.
Tekanan yang terus-menerus dapat memicu stres berkepanjangan, rasa bersalah, hingga kelelahan emosional. Banyak anggota generasi sandwich merasa ditarik ke dua arah sekaligus karena harus memenuhi kebutuhan orangtua dan anak pada saat bersamaan.
Kondisi tersebut membuat sebagian orang mengabaikan kebutuhan pribadi mereka, termasuk kesehatan, waktu istirahat, maupun rencana masa depan.
Padahal, kemampuan membantu keluarga dalam jangka panjang sangat bergantung pada stabilitas kondisi pribadi, baik secara finansial maupun emosional.
Di tengah meningkatnya jumlah keluarga yang menghadapi fenomena generasi sandwich, pengelolaan keuangan yang disiplin menjadi salah satu kunci untuk menjaga keseimbangan antara tanggung jawab keluarga dan kebutuhan masa depan.
Tantangannya memang tidak ringan, tetapi berbagai ahli menilai perencanaan yang realistis, dana darurat yang memadai, komunikasi keluarga yang terbuka, serta komitmen menjaga tabungan pensiun dapat membantu generasi sandwich menghadapi tekanan tersebut tanpa mengorbankan keamanan finansial mereka sendiri.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Aging Population dan Generasi Sandwich, Dua Fenomena yang Kini Bertemu
Generasi sandwich adalah kelompok usia produktif yang harus menopang kebutuhan anak-anak sekaligus orangtua yang memasuki usia lanjut. [1,082] url asal
#lansia #generasi-sandwich #sandwich-generation #aging-population #usia-produktif
(Kompas.com - Money) 31/05/26 09:19
v/236020/
JAKARTA, KOMPAS.com - Indonesia resmi memasuki fase aging population atau penuaan penduduk.
Hasil Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 menunjukkan proporsi penduduk lanjut usia (lansia) mencapai 11,97 persen dari total populasi, melampaui ambang batas 10 persen yang menjadi indikator sebuah negara memasuki fase penuaan penduduk.
Kondisi tersebut menandai perubahan besar dalam struktur demografi Indonesia.
HARIAN KOMPAS/PRIYOMBODO Karyawan menyeberang Jalan Prof Dr Satrio di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan, saat jam makan siang. Para karyawan ini adalah potret kelas menengah Indonesia. Kelas menengah dengan gaji terbatas bersiasat untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari dan menabung untuk masa depan.Jumlah lansia yang terus meningkat menghadirkan tantangan baru, tidak hanya bagi pemerintah, tetapi juga bagi keluarga yang menjadi garda terdepan dalam perawatan dan pemenuhan kebutuhan kelompok usia lanjut.
Di tengah perubahan itu, muncul kelompok masyarakat yang menghadapi tekanan berlapis, yakni generasi sandwich.
Mereka adalah kelompok usia produktif yang harus menopang kebutuhan anak-anak sekaligus orangtua yang memasuki usia lanjut.
Fenomena ini menjadi semakin relevan ketika Indonesia memasuki era penuaan penduduk.
Bertambahnya jumlah lansia berarti semakin banyak anggota keluarga yang membutuhkan dukungan finansial, fisik, maupun emosional dari generasi di bawahnya.
Ketika anak dan orangtua sama-sama membutuhkan dukungan
Menurut Investopedia, istilah generasi sandwich merujuk pada individu usia paruh baya yang berada dalam posisi "terjepit" karena harus mendukung orangtua yang menua sekaligus anak-anak yang masih membutuhkan bantuan finansial dan emosional.
Dalam praktiknya, tanggung jawab tersebut tidak hanya berupa pemberian uang.
Banyak anggota generasi sandwich juga harus mengurus kebutuhan kesehatan orangtua, mendampingi mereka menjalani pengobatan, membantu aktivitas sehari-hari, hingga menyediakan tempat tinggal.
SHUTTERSTOCK/IRINA STRELNIKOVA Ilustrasi generasi sandwich.Di saat yang sama, mereka juga masih harus membiayai pendidikan anak, kebutuhan rumah tangga, serta menyiapkan masa depan keluarga.
Investopedia menjelaskan, meningkatnya harapan hidup dan kecenderungan masyarakat memiliki anak pada usia yang lebih matang menjadi faktor yang mendorong munculnya fenomena generasi sandwich.
Kondisi itu membuat seseorang dapat menghadapi situasi ketika anaknya masih membutuhkan dukungan, sementara orangtuanya telah memasuki usia lanjut dan memerlukan perawatan.
Fenomena tersebut tidak lagi menjadi kasus yang bersifat individual. Berbagai penelitian menunjukkan kelompok ini terus bertambah seiring meningkatnya populasi lansia.
Aging population membuat beban perawatan kian besar
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyasanti menyatakan Indonesia telah resmi memasuki fase penuaan penduduk berdasarkan hasil SUPAS 2025.
"Persentase lansia hasil SUPAS 2025 adalah sebesar 11,97 persen, yang menunjukkan Indonesia sudah memasuki fase penuaan penduduk," ujar Amalia sebagaimana dikutip dalam publikasi hasil SUPAS 2025.
Tren tersebut sebenarnya telah terlihat dalam lebih dari satu dekade terakhir.
Persentase lansia tercatat sebesar 7,59 persen pada 2010, meningkat menjadi 8,47 persen pada 2015, lalu naik lagi menjadi 9,93 persen pada 2020 sebelum akhirnya menembus 11,97 persen pada 2025.
Peningkatan jumlah lansia berarti kebutuhan perawatan jangka panjang juga berpotensi meningkat.
Dalam banyak kasus, keluarga menjadi pihak yang pertama kali menanggung kebutuhan tersebut.
Getty Images Ilustrasi lansiaLaporan Kependudukan Indonesia 2025 yang dirilis UNFPA Indonesia juga mencatat, memasuki era aging population, jumlah dan proporsi lansia terus mengalami peningkatan sehingga tantangan yang berkaitan dengan kelompok usia lanjut akan semakin besar.
Kondisi ini membuat peran generasi sandwich semakin krusial. Mereka menjadi penghubung antara kebutuhan kelompok usia muda dan kelompok usia lanjut dalam satu rumah tangga maupun keluarga besar.
Tekanan finansial dari dua arah
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi generasi sandwich adalah tekanan finansial.
Individu dalam kelompok ini tidak hanya harus membiayai kebutuhan anak-anak, tetapi juga membantu kebutuhan orangtua yang menua.
Di saat bersamaan, mereka masih harus mengelola karier, kebutuhan pribadi, dan menyiapkan dana pensiun mereka sendiri.
Tekanan tersebut sering kali membuat perencanaan keuangan jangka panjang menjadi lebih sulit.
Banyak anggota generasi yang berada di posisi sandwich harus menyesuaikan pekerjaan mereka demi memenuhi kebutuhan perawatan keluarga. Sebagian harus mengurangi jam kerja, bekerja dari rumah, bahkan mengambil cuti untuk mendampingi orangtua atau anak.
Fenomena serupa terlihat pada kelompok Gen X yang kini banyak memasuki usia 40 hingga 60 tahun. Kelompok ini disebut menghadapi tekanan akibat biaya pendidikan anak, kebutuhan perawatan orangtua, dan cicilan rumah secara bersamaan.
Investopedia mencatat, biaya perawatan lansia yang terus meningkat menjadi salah satu faktor yang memperberat kondisi keuangan generasi sandwich.
Di saat yang sama, mereka juga masih harus menyiapkan tabungan pensiun agar tidak mengalami kesulitan finansial ketika memasuki usia lanjut.
PEXELS/TIMA MIROSHNICHENKO Ilustrasi generasi sandwich.Bukan hanya soal uang
Beban yang dihadapi generasi sandwich tidak hanya berkaitan dengan keuangan.
Penelitian yang dimuat dalam National Library of Medicine menyebutkan, pengasuh generasi sandwich adalah individu yang secara bersamaan memberikan dukungan kepada generasi di atas dan generasi di bawah mereka.
Kondisi tersebut dapat memunculkan tekanan emosional dan tuntutan waktu yang besar.
Para pengasuh yang bekerja penuh waktu rata-rata menghabiskan sekitar tiga jam per hari untuk merawat orangtua dan anak-anak di luar jam kerja mereka. Lebih dari separuh pengasuh dalam kelompok ini merupakan perempuan.
Tanggung jawab tersebut mencakup berbagai aktivitas, mulai dari mengantar orangtua berobat, mengurus kebutuhan administrasi, membantu pekerjaan rumah tangga, hingga mendampingi anak belajar.
Sejumlah kajian juga menunjukkan bahwa tekanan emosional menjadi salah satu tantangan utama.
Generasi sandwich harus menghadapi kenyataan bahwa orangtua mereka semakin bergantung pada bantuan keluarga, sementara anak-anak masih memerlukan perhatian dan dukungan yang tidak sedikit.
Dalam banyak kasus, kebutuhan tersebut berlangsung bersamaan sehingga waktu untuk diri sendiri menjadi semakin terbatas.
Munculnya generasi sandwich baru
Perubahan struktur demografi juga memunculkan bentuk generasi sandwich yang lebih kompleks.
Investopedia menjelaskan adanya istilah club sandwich generation, yakni kelompok usia 50 hingga 60 tahun yang harus merawat orangtua, anak dewasa, sekaligus cucu.
Ada pula open-faced sandwich generation yang merujuk pada individu yang terlibat dalam perawatan lansia secara lebih luas.
Fenomena ini menunjukkan, tanggung jawab perawatan tidak lagi terbatas pada dua generasi.
Dok. Freepik/jcomp Ilustrasi lansia.Di sejumlah negara, meningkatnya usia harapan hidup membuat lebih banyak keluarga hidup dalam konfigurasi multigenerasi.
Orangtua berusia lanjut hidup lebih lama, sementara anak-anak dewasa juga membutuhkan dukungan lebih panjang akibat tantangan ekonomi dan biaya hidup yang meningkat.
Kondisi tersebut membuat tekanan yang dihadapi generasi sandwich menjadi semakin kompleks.
Ketika Indonesia memasuki fase aging population, tantangan serupa berpotensi semakin terasa. Bertambahnya jumlah lansia berarti kebutuhan dukungan keluarga juga meningkat.
Pada saat yang sama, kelompok usia produktif tetap harus memenuhi kebutuhan generasi yang lebih muda.
SUPAS 2025 menunjukkan, struktur demografi Indonesia sedang bergerak menuju masyarakat yang semakin menua.
Dengan proporsi lansia yang telah mencapai 11,97 persen, isu perawatan lansia dan keberadaan generasi sandwich diperkirakan akan menjadi bagian yang semakin penting dalam dinamika sosial dan ekonomi keluarga Indonesia.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang
Bukan Hotel Bintang 5, Ini 7 Pulau Privat yang Jadi Tempat Liburan Orang Super Kaya
Private island menjadi tren baru liburan mewah kalangan crazy rich dunia. Simak 7 pulau privat paling eksklusif dari Fiji hingga Seychelles. [643] url asal
#private-island #private-island-terbaik #private-island-dunia #liburan-mewah #luxury-travel #destinasi-crazy-rich #pulau-privat #pulau-eksklusif #wisata-mewah-dunia #resort-mewah-dunia #quiet
Jakarta: Bagi kalangan super kaya, kemewahan kini tidak lagi sekadar menginap di hotel bintang lima atau menikmati fasilitas premium.Tren luxury travel global menunjukkan bahwa privasi, ketenangan, dan pengalaman yang benar-benar personal menjadi standar baru dalam menikmati liburan.
Tak heran jika private island atau pulau privat semakin menjadi incaran para high-net-worth individual (HNWI).
Berlibur di pulau eksklusif menawarkan pengalaman yang sulit ditemukan di destinasi wisata biasa, mulai dari pantai pribadi, layanan private chef, hingga aktivitas yang dirancang khusus sesuai keinginan tamu.
Melansir laman BCA Prioritas, tren ini juga sejalan dengan laporan McKinsey & Company yang menyebut wisatawan kelas atas semakin mencari pengalaman perjalanan yang privat, autentik, dan personal.
Fenomena ini dikenal dengan istilah quiet luxury, yaitu gaya hidup mewah yang lebih mengutamakan kualitas pengalaman dibanding kemewahan yang mencolok.
Lantas, private island mana saja yang menjadi favorit para crazy rich dunia?
Berikut beberapa private island eksklusif yang menjadi sorotan dalam tren luxury travel dunia:
1. COMO Laucala Island, Fiji
Private island seluas 1.400 hektar ini menawarkan pengalaman ultra-personalized di tengah hutan tropis dan pantai privat. Setiap tamu mendapatkan pengalaman highly personalized, dari private dining hingga aktivitas laut privat.Setiap tamu menikmati berbagai aktivitas eksklusif yang dirancang secara personal, mulai dari berkuda melintasi area tropis dan tepi pantai, diving dan snorkeling di perairan Fiji yang jernih, hingga bermain golf di private course dengan pemandangan lautan lepas.
2. North Island, Seychelles
North Island dikenal sebagai destinasi favorit kalangan selebriti dunia berkat privasi tingkat tinggi dan konsep barefoot luxury.Selama menginap, tamu menikmati snorkeling bersama penyu laut di perairan jernih Seychelles, piknik private beach di pantai tersembunyi, hingga hiking. Pengalaman liburan juga semakin eksklusif dengan sunset cruise privat serta yoga dan wellness retreat di alam terbuka.
3. The Brando, French Polynesia
Pulau privat milik Marlon Brando ini terkenal karena menggabungkan luxury travel dengan sustainability. Resort ini terkenal dengan pengelolaan energi ramah lingkungan dan konservasi alam.Para tamu dapat menikmati snorkeling dan scuba diving di lagoon indah berwarna turquoise, menikmati pengalaman ala kultur Polynesian, hingga bird watching dan eco-tour di area konservasi pulau. Selain itu, tersedia pula spa treatment dengan pemandangan laut, serta aktivitas santai seperti canoeing dan paddle boarding.
4. Song Saa Private Island, Kamboja
Berada di Kepulauan Koh Rong, Song Saa menawarkan pengalaman wellness dan ketenangan di tengah laut biru Kamboja dengan konsep eco-luxury.Destinasi ini cocok bagi traveler yang ingin menikmati suasana intim. Selama berada di Song Saa, tamu dapat mengikuti meditation dan wellness retreat, bermain kayak di perairan tenang, hingga snorkeling menikmati keindahan terumbu karang di sekitar pulau. Pengalaman semakin lengkap dengan jungle walk di area konservasi.
5. Kokomo Private Island, Fiji
Destinasi ini terkenal di kalangan luxury diver karena lokasinya dekat Great Astrolabe Reef. Selain menikmati scuba diving kelas dunia, tamu juga dapat mencoba pengalaman memancing di laut lepas atau menikmati sunset yacht cruise dengan panorama samudra luas. Untuk relaksasi, tersedia spa dengan tropical setting, serta berbagai aktivitas untuk keluarga dan eksplorasi kelautan.6. Miavana, Madagascar
Miavana menawarkan pengalaman ultra-eksklusif di pulau terpencil Madagaskar, lengkap dengan akses helikopter dan aktivitas eksplorasi alam yang privat.Destinasi ini menghadirkan pengalaman luxury adventure yang berbeda dari private island pada umumnya. Tamu dapat menikmati tur dengan helikopter menjelajahi lanskap Madagaskar, eksplorasi di alam liar untuk melihat lemur di habitat aslinya, hingga diving dan memancing di perairan sekitar pulau. Selain itu, tersedia juga pengalaman piknik sandbank privat.
7. Necker Island, British Virgin Islands
Pulau milik Richard Branson ini menjadi salah satu private island paling terkenal di dunia. Tentunya dengan fasilitas ultra-premium.Destinasi ini menawarkan berbagai aktivitas mewah dan sarat pengalaman seru, mulai dari kitesurfing dan watersports hingga bermain tenis dengan pemandangan lautan lepas. Tamu juga dapat menikmati private catamaran trip mengelilingi pulau, memberi makan burung flamingo, hingga pesta eksklusif dan fine dining.
Di tengah ritme hidup yang semakin dinamis, perjalanan yang menawarkan privasi dan ketenangan menjadi bentuk kemewahan tersendiri.
(ANN)
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56