Ketahanan energi yang kokoh merupakan perjalanan panjang untuk terus belajar dari dinamika global, distrupsi teknologi, serta kompleksitas geopolitik. [668] url asal
PT Pertamina (Persero) bersama Sustainability Center Universitas Pertamina (SCUP) menyelenggarakan kegiatan Sokoguru Policy Forum di Ballroom Grha Pertamina, Jakarta sebagai wadah dialog strategis lintas sektor dalam memperkuat arah kebijakan energi nasional, serta mendukung agenda transisi energi berkelanjutan Indonesia pada Selasa (19/5).
Mengusung tema "Peningkatan Ketahanan dan Transisi Energi Nasional melalui Transformasi Strategis Pertamina", forum ini menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, BUMN, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya dalam menjawab tantangan energi masa depan.
Kegiatan ini merupakan bagian dari pelaksanaan kerja sama program Senior Fellow SCUP yang menghadirkan para akademisi, regulator, praktisi, dan pengamat energi nasional untuk memberikan rekomendasi kebijakan strategis bagi sektor energi Indonesia.Direktur Transformasi dan Keberlanjutan Bisnis Pertamina, Agung Wicaksono menyoroti pentingnya penguatan rantai nilai transisi energi Indonesia melalui optimalisasi sektor hulu migas, pengembangan energi rendah emisi, dan percepatan implementasi Sustainable Aviation Fuel (SAF) di Indonesia.
Selain itu, Agung juga menekankan pentingnya penguatan rantai nilai transisi energi Indonesia melalui penguatan kolaborasi dengan stakeholder, asosiasi, policy makers, think tank, dan pelaku industri dalam mendorong kebijakan energi yang inklusif dan berkelanjutan.
"Forum ini juga menekankan pentingnya proses dialog strategis dan knowledge sharing secara kolaboratif dan berkelanjutan sebagai fondasi pembentukan kebijakan yang mampu menopang kebutuhan masyarakat terhadap ketersediaan energi nasional," ujar Agung.
Wakil Direktur Utama Pertamina, Oki Muraza menyampaikan bahwa nama Sokoguru Policy Forum terinspirasi dari pesan Presiden Prabowo yang menyebutkan bahwa Pertamina adalah 'sokoguru' serta merupakan tumpuan bangsa Indonesia dalam menjaga ketahanan energi dan ekonomi nasional.
Oki menyebut, setiap pengembangan proyek dan kebijakan strategis Pertamina harus dilaksanakan berlandaskan data yang akurat, fakta lapangan, dan ilmu pengetahuan (prinsip evidence-based policy).
Komisaris Independen Pertamina, Raden Adjeng Sondaryani menambahkan bahwa untuk mewujudkan ketahanan energi yang kokoh bukanlah proses yang instan, melainkan sebuah perjalanan panjang yang ditempa oleh kemampuan bangsa untuk terus belajar dari dinamika global, distrupsi teknologi, serta kompleksitas geopolitik yang dinamis.
"Hal tersebut telah, sedang, dan akan terus menjadi fokus utama Pertamina sebagai BUMN strategis nasional melalui Dual Growth Strategy sebagaimana tertuang dalam RJPP Pertamina," katanya.
Sementara, Sekretaris Jenderal Dewan Energi Nasional, Dadan Kusdiana sebagai pembicara kunci menegaskan bahwa ketahanan energi nasional harus dilakukan melalui swasembada energi dan hilirisasi yang meliputi peningkatan penyediaan energi, perluasan akses dan jangkauan pelayanan energi, percepatan transisi energi dan hilirisasi.
"Kementerian ESDM mengapresiasi peran Pertamina sebagai garda terdepan dalam menjaga ketahanan & transisi energi melalui penguatan hulu migas, peningkatan kapasitas kilang, pengembangan hilirisasi & petrokimia, pengembangan energi baru terbarukan serta pengembangan dekarbonisasi," ujar Dadan.
Pada forum itu, dilaksanakan diskusi panel yang menghadirkan sejumlah pakar dan pemangku kepentingan sektor energi nasional, antara lain Direktur Pembinaan Program Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM Hendra Gunawan, Senior Fellow SCUP Retno Gumilang Dewi, Pengamat Hulu Migas Benny Lubiantara, dan Direktur Eksekutif Reforminer Institute Komaidi Notonegoro.
Dalam diskusi tersebut, para panelis membahas berbagai isu strategis mulai dari penguatan sektor hulu migas, optimalisasi produksi migas nasional, pengembangan gas sebagai energi transisi, percepatan hilirisasi energi, hingga pengembangan biofuel dan biorefinery sebagai solusi energi rendah emisi.
Hendra Gunawan menekankan pentingnya penguatan regulasi sub sektor migas yang adaptif dalam mewujudkan ketahanan energi baik hulu maupun hilir. Adapun Benny Lubiantara menyoroti tantangan produksi migas yang terus menurun sehingga memerlukan reformasi fiskal dan inovasi dengan pemercepatan inovasi dan penerapan teknologi seperti kegiatan eksplorasi, enhanced oil recovery, dan migas non konvensional.Pada sektor hilir dan energi rendah emisi, Retno Gumilang Dewi menegaskan urgensi pengembangan bio-based fuel dan biorefinery sebagai bagian dari solusi energi berkelanjutan nasional. Menurutnya, optimalisasi strategic value chain bio-based fuel dapat memperkuat kemandirian energi sekaligus menciptakan nilai tambah ekonomi domestik.
Sedangkan Komaidi Notonegoro menyoroti pentingnya pemodelan ekonomi energi nasional dan strategi distribusi energi yang merata serta efisien. Ia menegaskan bahwa peran BUMN, khususnya Pertamina, sangat penting dalam menjaga keandalan distribusi energi bagi masyarakat di seluruh wilayah Indonesia.
Melalui Sokoguru Policy Forum, Pertamina menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat kolaborasi lintas sektor dalam mendukung ketahanan energi nasional dan percepatan transisi energi berkelanjutan di Indonesia.
Sebagai penutup kegiatan Sokoguru Policy Forum, dilakukan penyerahan simbolis policy paper hasil kajian akademis para Senior Fellow Sustainability Center Universitas Pertamina kepada para pemangku kepentingan terkait yang diwakili oleh Kementerian ESDM.
Menteri PKP Maruarar Sirait menegaskan negara tidak boleh kalah dengan pihak yang mengklaim kepemilikan lahan di Tanah Abang, Jakarta Pusat. [371] url asal
Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait menegaskan negara tidak boleh kalah dengan pihak yang mengklaim kepemilikan lahan di Tanah Abang, Jakarta Pusat.
Polemik lahan di Tanah Abang muncul setelah lahan yang akan dibangun rumah susun untuk rakyat itu diklaim Ketua Umum Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB) Jaya Rosario de Marshal alias Hercules sebagai milik ahli waris bernama Sulaeman Effendi.
Ara, panggilan akrab Maruarar, mengaku sudah menyambangi lokasi dan berkonsultasi dengan Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN). Hasilnya, lahan tersebut dipastikan merupakan aset negara.
"Ada pihak lain yang tidak yakin itu tanah negara," katanya di Wisma Danantara, Jakarta Selatan, Jumat (17/4).
Aset negara itu dikelola PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI. Lahan tersebut sebelumnya berasal dari Kementerian Perhubungan bekas hak pakai yang diterbitkan pada 1988. Kemudian, diterbitkan Hak Pengelolaan Lahan (HPL) tahun 2008 atas nama PT KAI.
Lahan di kawasan tersebut terdiri dari tiga lokasi, yakni di Pasar Tasik seluas 1,3 hektare serta dua bidang tanah berhimpitan berstatus HPL nomor 17 dan 19 dengan luas sekitar 3 hektare.
Lahan tersebut rencananya digunakan untuk pembangunan sekitar 500 unit rumah susun bagi masyarakat. Proyek ini akan melibatkan pihak swasta, yaitu Astra, melalui skema tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
"Ini aset negara. Ini negara hukum. Tidak boleh kalah negara!" ujar Politikus Partai Gerindra itu.
Wakil Direktur Utama PT KAI Dody Budiawan mengatakan pihaknya akan memasang plang di lokasi pembangunan rusun untuk menegaskan status lahan atas nama KAI. Data terkait lainnya juga akan dicantumkan dalam plang tersebut.
Ia mengatakan KAI juga telah membuat laporan pengaduan ke kepolisian sejak 2025 terkait dugaan penyalahgunaan aset oleh pihak lain.
"Kita sudah ada laporan di tahun 2025 masalah penyalahgunaan aset oleh pihak lain. Jadi ada tanah aset kita digunakan oleh pihak lain, sehingga kita buat laporan ke kepolisian," ujar Dody.
Ketua Satgas Anti-Mafia Tanah Brigjen Hendra Gunawan menegaskan lahan tersebut tidak hanya tercatat di ATR/BPN, tetapi juga di Kementerian Keuangan sebagai aset negara.
Pria yang juga menjabat sebagai Direktur Pencegahan dan Penanganan Konflik Pertanahan Kementerian ATR/BPN itu akan berkoordinasi dengan aparat penegak hukum jika ditemukan unsur pidana.
"Ini merupakan aset yang harus kita pertahankan. Kami sebagai aparatur pemerintah akan mempertahankan aset ini sekuat dan semampu kami," ujar Hendra.
Tahu Talaga Yun Sen di Bandung, berdiri sejak 1923, menjaga kualitas dan inovasi produk tahu. Dipimpin Hendra Gunawan, bisnis ini berkembang hingga Jakarta dan Bali. [790] url asal
Bisnis.com, BANDUNG — Kota Bandung telah lama dikenal sebagai surga kuliner yang tak pernah kehabisan daya tarik. Dari mulai kudapan kekinian, hingga makanan legendaris komplet ada di sana. Jejak itu terlihat jelas dari banyaknya kuliner legendaris yang tetap terawat hidup memberikan cita rasa yang terjaga dari satu generasi, ke generasi lainnya, bahkan di antara gempuran jajanan dan hidangan modern yang silih berganti. Salah satunya adalah Tahu Talaga Yun Sen yang menjelma menjadi sebuah warisan rasa, yang mampu berdiri kokoh sejak satu abad lalu. Meski sudah melintasi tiga generasi, Tahu Talaga Yun Sen mampu menjaga DNA rasa meski zaman terus berubah. Tepatnya di Jalan Sudirman 227, Cibadak, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung, Tahu Talaga Yun Sen tak sulit ditemui. Meski akses masuk berupa gang kecil sepanjang kurang lebih 20 meter, pengunjung akan merasakan pengalaman berbeda saat memasuki area produksi sekaligus toko dari Tahu Talaga Yun Sen ini. Lebih dari sekadar pabrik tahu, tempat ini adalah monumen hidup tentang menjaga kualitas, merawat kepercayaan, dan menghormati akar lokal. Pemilik sekaligus penerus bisnis Tahu Talaga Yun Sen, Hendra Gunawan menceritakan perjalanan panjang usaha leluhurnya itu. Perjalanan pengolahan kedelai menjadi tahu ini bermula pada 1923. Didirikan oleh Liu Phak Phine, kakek Hendra, pabrik ini awalnya bernama "Yun Sen," yang bermakna 'seterusnya maju'.
Nama yang sarat optimisme ini lahir dari jerih payah Liu Phak Phine yang menghabiskan 15 tahun bekerja di perusahaan pertambangan kolonial Belanda. Bersama sang istri, Mak Ilot yang merupakan Mojang dari Talaga, Majalengka, mereka menyulap rumah sederhana menjadi pabrik tahu. Kolaborasi kultural antara perantau dan pribumi ini menjadi fondasi kuat yang kini menjadi pijakan bisnis tahu terkemuka di Bandung itu. Seiring waktu, nama 'Talaga' disematkan untuk melengkapi nama 'Yun Sen', mengabadikan tanah kelahiran Mak Ilot dan menjadi simbol akar mula bisnis ini bisa lahir. Hendra yang merupakan lulusan Teknik Mesin dari California State University, Long Beach, AS, sekaligus generasi ketiga bisnis ini, memberikan sentuhan modern yang kekinian. Memadukan antara warisan leluhur dengan perkembangan zaman. Hendra yang bertangan dingin dalam menjaga warisan bisnis leluhurnya, hadir dengan menerapkan standar produksi dan kualitas produk yang ketat, sekaligus berinovasi dengan meluncurkan tahu organik dan mengembangkan pemasaran hingga ke pelbagai daerah, dari Jakarta hingga Pulau Dewata, Bali. Hendra mengatakan, tidak ada resep abadi yang diterapkan leluhurnya agar bisnisnya awet. Namun, dia mengakui ada satu nilai yang selalu dijaga secara estafet, yaitu kejujuran dan konsistensi yang tidak pernah pudar setiap kali kalender berganti. Bagi dia, loyalitas pelanggan bukanlah semata keberuntungan, melainkan buah manis dari komitmen menjaga mutu. Di lorong sempit di Jalan Sudirman, hilir mudik mobil-mobil pelanggan setia silih berganti berdatangan yang menjadi bukti buah nilai yang ia anut. "Kalau konsumen sudah percaya, jangan sekali-kali membohongi mereka karena begitu mereka dibohongi, mereka tak akan kembali lagi," tegas Hendra kepada Tim Jelajah UMKM Bisnis Indonesia. Demi menjaga kualitas prima dan higienitas, Tahu Talaga tidak segan membayar mahal untuk bahan baku terpilih, bahkan jika itu membuat harga produk mereka sedikit lebih tinggi. Namun, di mata konsumen setia, harga itu menjadi sebanding. Bagian depan Tahu Talaga Yun Sen, salah satu destinasi kuliner di Kota Bandung, Jawa Barat. Fakta menarik lainnya, Tahu Talaga membuktikan bahwa bahan bermutu tinggi tak melulu harus diimpor. Mereka memilih untuk bermitra dengan produsen lokal, salah satunya menggandeng petani-petani di Jawa Timur yang teruji dalam menjaga mutu kedelai terbaik. "Ada 2—3 suplier yang memasok kami," kata Hendra. Dengan dibantu 35 karyawannya, dia mampu mengolah 5—6 kuintal kedelai menjadi belasan varian tahu, dari tahu kuning hingga tahu sutra, juga dikembangkan susu kedelai dan olahan kedelai lainnya. "Kami hanya membuat tahu pagi untuk dihabiskan siang, lalu bikin siang untuk sore. Tak ada yang ditaruh berjam-jam. Kami selalu fresh [segar]," jelas Hendra. Kesetiaan pada kualitas, menjaga kepercayaan pelanggan, dan inovasi yang tak henti telah menjadikan Tahu Talaga Yun Sen bukan sekadar pabrik, melainkan menjadi bahan ajar inspiratif bagi siswa sekolah, kampus, bahkan pemerintahan. Hendra mengatakan, tahu buatannya tak hanya bisa dinikmati di tempatnya saja, karena kini sudah banyak UMKM hingga restoran di Bandung, Jakarta hingga Bali yang menggunakan tahu produksinya. Hendra pun mengatakan, saat ini pihaknya terus mengembangkan bisnis dengan menggandeng SMBC Indonesia, terutama dalam pengadaan mesin-mesin, penambahan boiler, pembelian bahan baku dalam jumlah besar untuk stok saat harga fluktuatif, hingga rencana pembukaan cabang baru. Selain dukungan permodalan, Tahu Talaga juga memanfaatkan layanan digital SMBC Indonesia untuk nasabah UKM, TOUCHBIZ, untuk mempermudah seluruh transaksi operasional, termasuk transfer dan pembayaran gaji karyawan. Ke depan, perusahaan menargetkan ekspansi pabrik ke wilayah lain di Indonesia, khususnya di kota-kota besar seperti Surabaya dan kawasan Sumatra, seperti Medan dan kota-kota lainnya. Tahu Talaga juga memiliki ambisi untuk melakukan ekspor ke negara-negara tetangga di Asia Tenggara, seperti Malaysia dan Singapura, yang dinilai memiliki pasar potensial karena tingginya minat konsumen di sana terhadap produk tahu Tahu Talaga.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56