Harga kelapa sawit di Sumbar mencapai Rp4.079/kg, tertinggi nasional, didorong kenaikan harga CPO global. Petani plasma gembira, berharap harga stabil. [342] url asal
Bisnis.com, PADANG - Tim Satuan Tugas Rumus Harga Tandan Buah Segar Provinsi Sumatra Barat menetapkan harga kelapa sawit di daerah itu mencapai Rp4.079 per kilogram pada pekan pertama April 2026 ini.
Dari keterangan Ketua Asosiasi Perkebunan Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Sumbar Jufri Nur mengatakan kenaikan harga sawit ini telah menghitung dari kondisi harga calm palm oil (CPO) di dunia yang kini juga mengalami kenaikan.
“Harga Rp4.079 per kilogram ini harga tertinggi sepanjang sejarah adanya perkebunan sawit di Sumbar. Bahkan, harga ini juga membuat harga sawit di Sumbar tertinggi secara nasional,” katanya, Selasa (7/4/2026).
Dia menyampaikan bahwa adanya kenaikan harga ini turut disambut gembira oleh petani sawit plasma yang ada di Sumbar, karena kondisi panen saat ini terbilang cukup bagus.
“Petani Sumbar berharap harga ini tetap minimal di level Rp4.000 per kilogram, dan saya sampaikan ke petani untuk bisa menabung, kemudian melakukan pemeliharaan kebun, sehingga produksi lebih tinggi dari sebelumnya,” ujar dia.
Jufri menyebutkan bahwa melihat kondisi ini, maka diperkirakan pada periode pekan depan, kenaikan harga masih terjadi. Artinya ada kemungkinan harga sawit masih bertengger di harga Rp4.000 per kilogram.
“Tapi harga ini hanya berlaku bagi perkebunan plasma atau bermitra dengan perusahaan. Kalau petani sawit rakyat, biasanya berada di bawah Rp4.000 per kilogram,” ungkapnya.
Menurutnya kenaikan ini cukup tinggi bila dibandingkan pada pekan-pekan lalu, di mana harga TBS resmi dari penetapan pemerintah itu Rp3.700 hingga Rp3.800 per kilogram.
“Jadi kondisi kabar baik bagi petani sawit,” tutupnya.
Salah seorang petani sawit rakyat di Kabupaten Pesisir Selatan, Zulbarni mengatakan bahwa pada Minggu (5/4) kemarin telah melakukan panen sawit perdana pascalebaran 2026.
Dikatakannya hal yang membuat dirinya kaget, harga TBS di tingkat petani mencapai Rp2.700 per kilogram, harga ini jauh mengalami kenaikan dibandingkan sebelum lebaran.
“Kalau dulu itu harga sawit di tingkat petani Rp1.500 hingga Rp1.800 per kilogram. Alhamdulillah sekarang naik sangat tinggi,” sebutnya.
Zulbarni berharap harga yang baik bisa terus bertahan pada masa-masa mendatang, karena bagi petani sawit rakyat dapat menikmati harga yang tinggi itu, turut berdampak kepada perekonomian keluarga.
Bisnis.com, PADANG -- Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Sumbar mencatat empat perusahaan hilirisasi komoditas kelapa sawit yang beroperasi di Ranah Minang.
Keempat perusahaan hilirisasi di Sumbar, yakni OT Wira Inno Mas, PT Wilmar Nabati Indonesia, PT Apical Group Indonesia, dan PT Incasi Raya. Kepala Bidang Industri Non Agro Disperindag Sumbar, Ridonal, keempat pabrik hilirisasi kelapa sawit ini berada di sejumlah daerah di Sumbar, termasuk di Kota Padang.
Dia menjelaskan dari empat perusahaan hilirisasi sawit ini, sebagian besar memproduksi minyak goreng, dan ada juga yang memproduksi bahan baku untuk diolah menjadi produk yang bisa dikonsumsi hingga berupa keperluan sehari-hari lainnya.
“Jadi di Sumbar sudah lama punya pabrik sawit yang memproduksi minyak goreng langsung. Bukan sekedar dalam bentuk bahan CPO saja, tapi sudah diolah jadi produk turunan seperti minyak goreng,” ujarnya, Rabu (29/10/2025).
Berdasarkan data 2023, tercatat luas perkebunan kelapa sawit di Sumbar mencapai 253.898,82 hektare. Dari luas lahan itu, kategori yang sudah menghasilkan itu 203.842,12 hektar, yang belum menghasilkan 25.618,83 hektare, dan yang tergolong sudah tua/rusak 24.437,85 hektare.
Sebaran perkebunan kelapa sawit di Sumbar ini, utamanya berada di Kabupaten Pesisir Selatan, Agam, Dharmasraya, Pasaman Barat, Solok Selatan, Sijunjung, dan Limapuluh Kota.
Untuk produksi perkebunan sawit rakyat adalah sebesar 699.390,35 ton dengan keterlibatan 142.992 KK tani yang mengusahakannya. Produksi kelapa sawit yang sebanyak itu, dihasilkan oleh 54 perusahaan perkebunan sawit, 38 diantaranya sudah masuk di Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas) dan baru 14 perusahaan yang sudah berproduksi menghasilkan crude palm oil (CPO).
"Produksi kelapa sawit ini, dikirim ke berbagai industri pengolahan lanjutan di dalam negeri, dan sebagian diekspor langsung dari Pelabuhan Teluk Bayur dan pelabuhan-pelabuhan lain ke beberapa negara tujuan ekspor," imbuhnya.
Kepala Dinas Perindag Provinsi Sumbar Novrial menambahkan komoditas kelapa sawit di Ranah Minang menjadi salah satu komoditas unggulan dalam mendongkrak perekonomian daerah, dan hal ini turut didorong adanya industri pengelolaannya. Disperindag mencatat secara umum perusahaan CPO yang beroperasi di sejumlah kabupaten di Sumbar.
"Dari data yang kami punya ada 35 unit industri, produksi mereka cukup besar," ucapnya.
Dia menjelaskan 35 perusahan industri kelapa sawit yang ada di Sumbar itu berada di Kabupaten Dharmasraya, Pasaman Barat, Pesisir Selatan, Sijunjung, Agam, Solok Selatan, dan Kota Padang.
"Yang paling banyak itu tersebar di Dharmasraya dan Pasaman Barat, karena memang dua daerah itu luas lahan kebun kelapa sawit," jelasnya.
Kemudian untuk 35 perusahaan industri kelapa sawit itu, merupakan perusahaan yang besar, mulai dari PT Incasi Raya hingga PT Wira Inno Mas. Dia mengaku cukup rutin melakukan pengawasan untuk memastikan operasi pabrik atau industri berjalan dengan baik tanpa ada memberikan dampak lainnya seperti soal limbah dan sebagainya.
"Sejauh ini kondisi industri berjalan dengan baik," ujarnya.
Menurutnya, 35 industri pengolahan kelapa sawit yang di Sumbar itu terbilang sudah cukup lama beroperasi. Hanya ada satu atau dua industri saja yang tergolong baru seperti yang ada di wilayah Kota Padang.
Pasalnya. investasi soal industri pengolahan sawit di Sumbar ini tidak begitu banyak bertambah lantaran statusnya industri lama yang tetap beroperasi.
Jika melihat dari data Dinas Tanaman Pangan Hortikultura dan Perkebunan Provinsi Sumbar, perkebunan kelapa sawit di Sumbar tersebar di Kabupaten Dharmasraya, Pasaman, Pasaman Barat, Sijunjung, Pesisir Selatan, Agam, Kabupaten Lima Puluh Kota, Padang Pariaman, Tanah Datar, Solok Selatan, dan Kabupaten Solok.
Untuk luas lahan perkebunan sawit di Sumbar untuk kebun rakyat 253.898 hektare dan untuk kebun perusahaan atau mitra 160.000 hektare. Dari luas lahan sawit itu, produksi CPO per tahun rata-rata 650.000 ton.
Harga kelapa sawit yang ditetapkan menjadi harga tertinggi secara nasional, dimana untuk rata-rata harga per pekannya itu mencapai Rp3.700 per kilogram untuk tandan buah segar (TBS) harga itu berlaku pekan kemarin.
Melihat cukup luas lahan perkebunan kelapa sawit itu dengan produksi yang mencapai 650.000 ton per tahun, merupakan sebuah potensi yang besar.
Oleh karena itu, pemerintah terus mendorong produktivitas kelapa sawit, dengan cara berharap pekebun melakukan replanting. Karena sawit yang berusia 25 tahun itu, mengalami penurunan produksi.
Pekerja menyusun minyak goreng yang telah dipacking di pabrik minyak goreng milik PT Incasi Raya, Kota Padang, Sumatra Barat, Minggu (7/8/2022). Bisnis/Muhammad Noli Hendra
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56