#30 tag 24jam
Merawat kepercayaan dunia pada gula kelapa asal Banyumas
Di balik manisnya gula kelapa asal Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, yang dinikmati konsumen di berbagai belahan dunia, tersimpan kerja keras ribuan penderes ... [1,057] url asal
Bagi Banyumas, mempertahankan reputasi sebagai pemasok utama gula semut dunia bukan sekadar menjaga angka ekspor. Di balik setiap butir gula kelapa terdapat harapan ribuan keluarga penderes yang menggantungkan hidupnya pada pohon kelapa.
Purwokerto (ANTARA) - Di balik manisnya gula kelapa asal Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, yang dinikmati konsumen di berbagai belahan dunia, tersimpan kerja keras ribuan penderes yang setiap hari memanjat pohon kelapa demi meneteskan nira berkualitas.
Namun di pasar global, rasa manis saja tidak cukup. Kepercayaan menjadi modal utama yang harus terus dijaga melalui kualitas, sertifikasi, tata kelola, hingga kolaborasi berbagai pihak.
Kabupaten Banyumas telah lama menjadi salah satu jantung industri gula kelapa Indonesia. Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono menyebut sekitar 90 persen kebutuhan gula semut dunia dipasok Indonesia, sedangkan sekitar 80 persen di antaranya berasal dari wilayah Banyumas Raya yang meliputi Kabupaten Banyumas, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegara. Dari kawasan inilah gula semut menembus pasar Asia, Eropa, Amerika Serikat, hingga Timur Tengah.
Kepercayaan pasar global itu kembali ditegaskan melalui pelepasan ekspor gula kelapa kristal atau gula semut senilai 46.000 dolar Amerika Serikat menuju Chicago, Amerika Serikat, dari pabrik PT Integral Mulia Cipta (IMC) di Desa Wiradadi, Kecamatan Sokaraja. Pabrik tersebut mengolah gula kelapa hasil produksi para petani Banyumas.
Namun, menurut Sadewo, mempertahankan pasar ekspor jauh lebih sulit dibandingkan membukanya.
Sadewo yang pernah berkecimpung sebagai pelaku ekspor bersama koperasi binaannya mengenang pengalaman pahit ketika empat kontainer gula semut yang dikirim ke Jerman pada masa pandemi COVID-19 ditolak karena hasil pengujian menunjukkan adanya campuran gula rafinasi.
Menurut dia, persoalan itu bukan berasal dari para penderes, melainkan diduga terjadi pada salah satu mata rantai perdagangan setelah produk dikumpulkan.
Peristiwa itu menjadi pelajaran penting bahwa satu kesalahan kecil dapat merusak kepercayaan yang dibangun selama bertahun-tahun. Oleh karena itu, pembenahan koperasi, pengawasan rantai pasok, serta penguatan sertifikasi organik menjadi kebutuhan yang tidak bisa ditawar.
Sertifikasi organik bahkan membawa manfaat ekonomi yang nyata. Melalui skema CSR Premium dari pembeli di Eropa, anggota koperasi yang telah mengantongi sertifikat organik memperoleh tambahan pendapatan sekitar Rp5.000 per kilogram gula semut. Insentif tersebut secara langsung meningkatkan penghasilan penderes sekaligus mendorong mereka terus menjaga mutu produk.
Meski demikian, masih ada pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Hingga kini Banyumas belum memiliki laboratorium yang mampu menguji kemurnian gula semut sesuai standar internasional. Selama ini pengujian masih dilakukan di Eropa sehingga membutuhkan biaya lebih besar dan waktu yang lebih lama.
Karena itu, Sadewo mengusulkan pembangunan laboratorium berstandar internasional dengan investasi sekitar Rp8 miliar. Selain mempercepat proses ekspor, keberadaan laboratorium tersebut diyakini akan memperkuat kepercayaan pasar sekaligus menjadi sumber pendapatan asli daerah melalui layanan pengujian.
Di sisi lain, keberlanjutan produksi juga menjadi perhatian. Mayoritas penderes masih memanjat pohon kelapa dalam yang tingginya mencapai belasan hingga puluhan meter sehingga risiko kecelakaan kerja masih tinggi.
Pemerintah Kabupaten Banyumas pun mulai mendorong penanaman kelapa genjah yang lebih pendek, lebih aman dipanen, dan tetap produktif. Bantuan 10.000 bibit dari Kementerian Pertanian menjadi langkah awal regenerasi kebun kelapa.
Upaya menjaga daya saing juga diperkuat dari sisi perdagangan. Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan kualitas produk harus diikuti dengan kelengkapan dokumen perdagangan, salah satunya Surat Keterangan Asal (SKA).
Menurut dia, SKA menjadi bukti bahwa suatu produk benar-benar berasal dari Indonesia sehingga eksportir dapat memperoleh tarif preferensi sesuai perjanjian dagang dengan negara tujuan. Dengan tarif bea masuk yang lebih rendah, harga produk Indonesia menjadi lebih kompetitif dibandingkan produk dari negara lain.
"Kalau biaya masuknya nol persen, harga produk kita menjadi lebih murah sehingga bisa bersaing dengan negara lain. Harapannya ekspor Indonesia semakin meningkat," katanya.
Kemudahan layanan tersebut diperkuat melalui peresmian tujuh Instansi Penerbit Surat Keterangan Asal (IPSKA) baru, termasuk di Kabupaten Banyumas. Direktur Jenderal Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan Tommy Andana mengatakan penambahan itu membuat jumlah IPSKA di Indonesia menjadi 103 unit.
Menurut Tommy, kehadiran IPSKA mendekatkan layanan kepada eksportir dan pelaku UMKM sehingga semakin banyak yang dapat memanfaatkan berbagai fasilitas perdagangan internasional. Bagi Banyumas, IPSKA diharapkan mampu mendukung peningkatan ekspor gula kelapa, kayu lapis, dan minyak atsiri dengan tetap menjaga kontinuitas pasokan serta kualitas produk.
Ia juga mengungkapkan bahwa tingkat pemanfaatan SKA oleh eksportir Indonesia dalam perdagangan dengan negara-negara mitra telah mencapai 75,6 persen. Ke depan, sistem penerbitan SKA akan terus didigitalisasi agar prosesnya semakin cepat dan efisien.
Penguatan ekspor juga tidak hanya berbicara mengenai perdagangan, tetapi menyangkut pemberdayaan masyarakat. Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar meluncurkan Pilot Project Ekosistem Pemberdayaan Masyarakat Terintegrasi Berbasis Kawasan Ekspor di Kecamatan Cilongok, Kabupaten Banyumas, sebagai model kolaborasi lintas sektor.
Menurut dia, pengembangan kawasan ekspor harus mampu menghubungkan petani, koperasi, pelaku usaha, perguruan tinggi, lembaga riset, perbankan, hingga pemerintah dalam satu ekosistem yang saling menguatkan. Salah satu kebutuhan paling mendesak adalah laboratorium pengujian organik agar proses sertifikasi tidak lagi bergantung pada negara tujuan ekspor.
"Kita akan berusaha menghadirkan laboratorium khusus untuk mengontrol kualitas gula organik yang menjadi syarat ekspor di beberapa negara. Pemerintah akan terus hadir mencari jalan keluar agar siklus ekonomi dan ekosistem ekspor bekerja lebih produktif," katanya.
Deputi Bidang Koordinasi Pemberdayaan Desa, Desa Tertinggal, dan Desa Tertentu Kemenko Pemberdayaan Masyarakat, Abdul Haris, mengatakan Cilongok dipilih sebagai lokasi percontohan karena memiliki sekitar 105.000 pohon kelapa dengan produksi sekitar 12.000 ton gula kelapa setiap tahun.
Potensi tersebut, menurut dia, harus diperkuat melalui koperasi, ekonomi sirkular, pendampingan usaha, serta kolaborasi lintas kementerian dan perguruan tinggi agar mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Dukungan serupa datang dari Anggota Komisi VII DPR RI Siti Mukaromah. Ia menilai sekitar 28.000 hingga 29.000 penderes di Banyumas merupakan kekuatan besar yang dapat menopang ketahanan pangan nasional sekaligus memperkuat ekspor.
Gula kelapa atau brown sugar dinilai layak menjadi alternatif pengganti gula rafinasi sehingga memiliki nilai strategis, baik dari sisi ekonomi maupun kemandirian pangan.
Menurut dia, pengembangannya juga dapat dipadukan dengan potensi pertanian, UMKM, dan pariwisata berbasis ekosistem melalui program 1001 Sentra Pemberdayaan untuk Ketahanan Pangan yang dikembangkan Kementerian Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat.
Rangkaian berbagai kebijakan tersebut menunjukkan bahwa menjaga kepercayaan pasar internasional tidak cukup hanya dengan menghasilkan gula berkualitas. Dibutuhkan sebuah ekosistem yang utuh, mulai dari penderes, koperasi, sertifikasi organik, laboratorium pengujian, layanan perdagangan, hingga dukungan pemerintah dan dunia usaha.
Bagi Banyumas, mempertahankan reputasi sebagai pemasok utama gula semut dunia bukan sekadar menjaga angka ekspor. Di balik setiap butir gula kelapa terdapat harapan ribuan keluarga penderes yang menggantungkan hidupnya pada pohon kelapa.
Selama kepercayaan dunia terus dirawat, manisnya gula kelapa Banyumas akan tetap menjadi sumber kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat posisi Indonesia di pasar global.
Editor: Dadan Ramdani
Copyright © ANTARA 2026
Banyumas bidik pusat ekspor gula dari kelapa genjah
Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, menapaki jalur strategis untuk mengukuhkan diri sebagai pusat ekspor gula kelapa kristal (gula semut) dunia.Daerah yang ... [1,068] url asal
Purwokerto (ANTARA) - Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, menapaki jalur strategis untuk mengukuhkan diri sebagai pusat ekspor gula kelapa kristal (gula semut) dunia.
Daerah yang selama puluhan tahun dikenal sebagai lumbung gula kelapa nasional itu, kini bersiap melakukan transformasi besar dari hulu ke hilir, dengan bertumpu pada peremajaan pohon kelapa dalam (kelapa konvensional) dengan kelapa genjah, penguatan industri, serta peningkatan kesejahteraan dan keselamatan penderes.
Bupati Banyumas Sadewo Tri Lastiono mengatakan gagasan tersebut bukanlah rencana instan. Cita-cita menjadikan Banyumas sebagai episentrum gula kelapa dunia telah terpatri sejak dirinya menjabat sebagai Wakil Bupati Banyumas periode 2018-2023, dan mulai dieksekusi secara lebih terstruktur, setelah ia mengemban amanah sebagai kepala daerah.
“Kebutuhan dunia terhadap gula kelapa kristal atau gula semut itu sangat besar. Saat ini sekitar 90 persen pasokan dunia berasal dari Indonesia, dan 80 persennya disumbang Banyumas Raya (Banyumas, Cilacap, Purbalingga, dan Banjarnegara). Ini peluang yang luar biasa dan tidak boleh disia-siakan,” kata Sadewo.
Kekuatan Banyumas tidak hanya terletak pada volume produksi, juga pada jejaring penderes, pelaku usaha, dan eksportir yang telah tumbuh lama.
Modal sosial itu menjadi fondasi untuk mendorong Banyumas naik kelas, tidak lagi sekadar daerah penghasil, juga pusat ekspor dan rujukan industri gula kelapa berkelanjutan.
Dari potensi gula kelapa kristal itu, nilai ekonominya besar, tonasenya besar, dan multiplier effect-nya sangat terasa bagi masyarakat perdesaan.
Hanya saja, di balik potensi tersebut, Sadewo tidak menutup mata terhadap persoalan mendasar yang selama ini membayangi industri gula kelapa, yakni tingginya risiko kerja penderes.
Mayoritas penderes masih bergantung pada kelapa dengan tinggi pohon mencapai 15 meter lebih, yang harus dipanjat dua kali sehari.
Hampir setiap bulan ada penderes yang jatuh. Risikonya mulai dari patah tulang, lumpuh, sampai meninggal dunia, sehingga hal itu tidak bisa dibiarkan terus.
Dari keprihatinan itulah, Pemerintah Kabupaten Banyumas mendorong peralihan bertahap dari kelapa dalam ke kelapa genjah. Varietas ini memiliki tinggi batang hanya sekitar dua hingga tiga meter, sehingga jauh lebih aman bagi penderes dan memungkinkan peningkatan produktivitas.
Hasil analisis yang telah dilakukan oleh pemkab, dengan ritme kerja yang sama, penderes kelapa genjah mampu menyadap nira dari jumlah pohon yang jauh lebih banyak.
Kalau kelapa dalam, seorang penderes maksimal mengerjakan 25 pohon per hari, maka dengan kelapa genjah bisa sampai 100 pohon. Secara sederhana, produktivitasnya bisa empat kali lipat.
Meskipun volume nira per pohon kelapa genjah lebih kecil, hasil akumulatifnya tetap menguntungkan. Bahkan, jika hanya mencapai 75 persen dari volume nira kelapa dalam, pendapatan penderes masih berpotensi meningkat, hingga tiga kali lipat.
Dari sisi rasa dan kualitas, tidak ada perbedaan antara nira kelapa dalam dengan kelapa genjah. Hal yang berubah hanya volumenya, dan itu tertutup oleh jumlah pohon yang bisa dideres.
Transformasi tersebut juga dirancang sebagai bagian dari perwujudan 13 Program Unggulan (Trilas) yang diusung Bupati Sadewo Tri Lastiono bersama Wakil Bupati Dwi Asih Lintarti. Secara khusus, pengembangan gula kelapa berbasis kelapa genjah sejalan dengan Trilas ke-4 tentang pengembangan sentra pengusaha dan petani muda di setiap kecamatan, Trilas ke-6 mengenai percepatan pengentasan kemiskinan, serta Trilas ke-9 mewujudkan swasembada pangan lokal menuju kesejahteraan petani.
Melalui pendekatan tersebut, Pemkab Banyumas berupaya mendorong sektor pertanian tradisional agar lebih aman, produktif, dan bernilai tambah, sekaligus membuka ruang regenerasi petani dan memperkuat ekonomi perdesaan.
Guna menopang program itu, Banyumas telah menyiapkan lahan seluas 625 hektare yang telah terdata. Dengan kebutuhan sekitar 125 bibit per hektare, diperlukan ratusan ribu bibit kelapa genjah guna mendukung peremajaan secara bertahap.
Sadewo mengakui keterbatasan fiskal daerah menjadi tantangan tersendiri. Oleh karena itu, ia memilih strategi kolaborasi lintas sektor, mulai dari kementerian, hingga pemanfaatan program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).
Pemkab Banyumas menghindari penggunaan APBD, karena memang terbatas. Kuncinya data yang kuat, argumentasi yang jelas, dan pendekatan yang sungguh-sungguh.
Pendekatan tersebut mulai membuahkan hasil, salah satunya melalui dukungan CSR dari mitra internasional yang membantu penyediaan puluhan ribu bibit kelapa genjah secara bertahap.
Di sisi industri, Managing Director PT Integral Mulia Cipta (IMC) Mario Ngensowidjaja menilai Banyumas sebagai wilayah strategis nasional dalam rantai pasok gula kelapa. Perusahaannya telah beroperasi di Banyumas sejak 2012 dan menyaksikan langsung tantangan regenerasi petani.
Waktu perusahaan itu melakukan sensus beberapa tahun silam, usia rata-rata petani berkisar 45-55 tahun. Akan tetapi, saat sekarang banyak yang sudah berusia di atas 60 tahun.
Karena itu, 10 tahun ke depan, siapa yang mau dan mampu memanjat pohon setinggi itu?
Generasi muda enggan melanjutkan profesi penderes karena risiko tinggi dan memerlukan keterampilan khusus yang tidak mudah diwariskan.
Dalam hal ini, keterampilan memanjat itu tidak bisa digantikan teknologi, sehingga jika tidak ada yang memanjat pohon kelapa untuk menderes nira berarti tidak ada gula.
Oleh karena itu, IMC mendukung penuh peralihan ke kelapa genjah yang lebih aman dan membuka peluang modernisasi budi daya serta standarisasi produksi. Selama ini, gula kelapa diproduksi secara tersebar di ribuan rumah tangga, dengan kualitas yang beragam.
“Saya sering bilang pabrik saya ada 20 ribu, karena setiap rumah petani adalah pabrik. Tantangannya adalah bagaimana menyatukan standar,” katanya.
Dari hasil riset, beberapa varietas kelapa genjah dinilai paling sesuai dengan kontur Banyumas, antara lain Genjah Kuning Bali, Genjah Nias, serta kelapa dalam jenis Bido yang relatif pendek dan produktif.
Dukungan internasional juga menguatkan langkah Banyumas. Implementation Manager proyek develoPPP Coconut Sugar dari Deutsche Gesellschaft für Internationale Zusammenarbeit (GIZ) GmbH, Dominik Schwab mengatakan kerja sama ini merupakan kemitraan publik-swasta antara Indonesia dan Jerman.
Mitra dari Jerman itu ingin meningkatkan rantai pasok gula kelapa dari Banyumas agar lebih berkelanjutan, baik untuk lingkungan maupun petani kecil.
Intervensi proyek meliputi peralihan ke kelapa genjah, peningkatan praktik budi daya ramah lingkungan, pengembangan agroforestri, hingga kerja sama riset dengan universitas lokal dan nasional.
Hal itu bertujuan meningkatkan pendapatan petani, sekaligus menjaga kelestarian lingkungan, sehingga kerja sama tersebut saling menguntungkan.
Perlindungan penderes
Selain aspek produksi dan ekspor, Pemkab Banyumas juga menaruh perhatian pada pelindungan sosial penderes. Bupati Sadewo mengimbau para eksportir gula kelapa untuk memberikan jaminan sosial ketenagakerjaan melalui BPJS Ketenagakerjaan.
Pemkab memandang penderes itu sebagai aset. Karena itu, Pamkab Banyumas mendorong para eksportir memberi pelindungan sosial. Hal itu mudah diwujudkan karena eksportir memiliki kemampuan, hanya tinggal kemauan.
Data Pemkab Banyumas mencatat jumlah penderes mencapai 21.910 orang, namun hingga pertengahan 2025 baru sekitar 6.699 orang yang terdaftar sebagai peserta BPJS Ketenagakerjaan. Angka itu menjadi pekerjaan rumah bersama.
Bagi pemkab, transformasi gula kelapa Banyumas bukan semata agenda ekonomi, melainkan upaya menjaga keselamatan, martabat, dan masa depan masyarakat perdesaan.
Dengan peremajaan kelapa, penguatan industri, dukungan internasional, serta pelindungan sosial, Banyumas diharapkan mampu mempertahankan posisinya sebagai tulang punggung gula kelapa dunia secara berkelanjutan.
Editor: Masuki M. Astro
Copyright © ANTARA 2026
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56