Bisnis.com, JAKARTA — Anak usaha PT Garuda Indonesia Tbk. (GIAA), yakni PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk. (GMFI) akan menggelar aksi penambahan modal dengan hak memesan efek terlebih dahulu (PMHMETD) atau rights issue.
Direktur Utama atau Bos GMFI Andi Fahrurrozi pun optimistis aksi korporasi ini dapat membawa ekuitas perseroan ke teritori positif. Dia mengatakan dalam aksi rights issue, GMFI akan menawarkan sebanyak-banyaknya 90,05 miliar saham baru Seri B.
PT Angkasa Pura Indonesia (API) akan berpartisipasi dengan menyetorkan aset berupa lahan atau inbreng kepada GMFI seluas 972.123 meter persegi di kompleks GMF, Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang senilai Rp5,6 triliun.
Skema ini dilakukan dengan pengalihan HMETD milik GIAA selaku induk GMFI kepada API melalui perjanjian jual beli HMETD. Selanjutnya, Angkasa Pura akan melaksanakan rights issue tersebut dengan mekanisme setoran inbreng aset.
Dengan aksi korporasi itu, Andi optimistis kinerja keuangan GMFI bisa membaik. Ekuitas pun yang saat ini masih negatif, diproyeksikan akan menjadi positif.
"Aset bakal naik 68%, kemudian ekuitas akan membaik jadi positif," kata Andi dalam acara Investalk Series yang diselenggarakan BRI Danareksa Sekuritas pada beberapa waktu lalu.
GMFI memang masih berkutat dengan ekuitas negatif, di mana liabilitas melebihi jumlah asetnya. GMFI mencatatkan total aset sebesar US$409,98 juta dengan liabilitas sebesar US$658,98 juta per semester I/2025. Alhasil, ekuitas GMFI minus US$248,99 juta.
Andi menjelaskan usai rights issue, aset GMFI diproyeksikan menjadi US$689,74 juta. Ekuitas kemudian menjadi positif US$59,89 juta.
Dia menjelaskan bahwa hasil rights issue juga akan dimanfaatkan untuk bernegosiasi dengan beberapa supplier. Tujuannya agar GMFI mampu memperoleh harga terbaik.
Perseroan juga akan menggunakan dana untuk melakukan peremajaan tools dan equipment. Sebab, beberapa pesawat baru sudah mulai masuk.
Secara timeline, saat inbreng lahan API tuntas, GMFI akan memindahkan baling-baling pesawat atau propeller aircraft dari Cengkareng ke Pondok Cabe pada Januari 2026.
"Nanti bisa dipantau. Proyeksi di tahun depan akan lebih baik dari tahun ini," ujar Andi.
Adapun, dalam laporan keuangannya, GMFI telah mencetak laba bersih, setidaknya sampai semester I/2025 sebesar US$8,75 juta, meski turun 34,15% secara tahunan (year on year/YoY), dibandingkan laba bersih semester I/2024 sebesar US$13,3 juta.
Penurunan laba GMFI sejalan dengan pendapatan yang susut 17,33% YoY menjadi US$178,95 juta per semester I/2025, dari US$216,47 juta.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.