Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait menyebut program gentengisasi yang dimulai di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, mampu menyerap ... [327] url asal
UMKM kita harus dididik punya daya saing yang tinggi, dan saya yakin bisa
Majalengka (ANTARA) - Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait menyebut program gentengisasi yang dimulai di Kabupaten Majalengka, Jawa Barat, mampu menyerap produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) dengan total komitmen transaksi sekitar Rp3 miliar.
Ia mengatakan sebagai langkah awal pelaksanaan program tersebut, sejumlah truk genteng dari sentra produksi di Jatiwangi sudah dikirim ke sejumlah proyek pembangunan perumahan pada Rabu (11/3) malam.
“Kita harus buat sesuatu yang real buat rakyat kita, dan UMKM kita harus dididik punya daya saing yang tinggi, dan saya yakin bisa,” kata Menteri PKP dalam keterangan yang diterima di Majalengka, Kamis.
Ia menyampaikan program tersebut merupakan implementasi dari arahan Presiden Prabowo Subianto, agar pembangunan perumahan rakyat juga memberikan dampak ekonomi bagi pelaku usaha kecil dan masyarakat.
Program gentengisasi, kata Maruarar, merupakan kebijakan yang mendorong penggunaan produk UMKM lokal dalam pembangunan rumah rakyat di berbagai daerah.
Ia mengemukakan total pemesanan genteng dari Jatiwangi mencapai 24 truk, yang nantinya dipakai untuk berbagai program pemerintah dan pengembang perumahan.
Ia menegaskan kebutuhan genteng untuk pembangunan perumahan rakyat ke depan, sangat besar sehingga pelaku UMKM perlu meningkatkan kualitas produknya agar mampu bersaing.
Produk genteng dari Jatiwangi, lanjut dia, merupakan salah satu kearifan lokal yang menjadi bagian dari ciri khas masyarakat di Kabupaten Majalengka.
“Jangan ragukan soal kebutuhan, karena kebutuhannya banyak sekali. Tapi bagaimana kualitas kita supaya bisa unggul dan terpercaya,” tuturnya.
Sementara itu, Bupati Majalengka Eman Suherman menyampaikan pemerintah daerah juga mengalokasikan program perbaikan rumah tidak layak huni sebanyak 1.715 unit pada 2026.
Menurut dia, program tersebut diperkirakan menyerap belanja genteng dari pengusaha lokal dengan nilai sekitar Rp1,5 miliar.
Selain itu, ia mengatakan melalui program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) dari pemerintah pusat, sebanyak 900 rumah di Kabupaten Majalengka direncanakan diperbaiki dengan potensi kebutuhan genteng sekitar Rp1 miliar.
"Tahun 2026, kami akan melaksanakan program perbaikan rumah tidak layak huni 1.715 unit,” katanya.
Program gentengisasi di Jatiwangi, Majalengka, menyerap genteng lokal senilai Rp3 miliar untuk proyek perbaikan rumah, mendukung industri kecil dan UMKM. [384] url asal
Bisnis.com, MAJALENGKA- Program gentengisasi yang digagas pemerintah pusat mulai menyerap produk industri kecil di sentra gentengJatiwangi, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.
Melalui sejumlah program perbaikan rumah rakyat, komitmen pembelian genteng dari berbagai pihak diperkirakan mencapai sekitar Rp3 miliar pada tahap awal tahun ini.
MenteriKementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman,Maruarar Siraitmengatakan, pemerintah ingin memastikan proyek pembangunan rumah tidak hanya berorientasi pada penyediaan hunian, tetapi juga membuka pasar bagi industri kecil di daerah.
Ia menilai industri genteng tradisional seperti yang berkembang di Jatiwangi memiliki potensi besar untuk menopang kebutuhan pembangunan perumahan di berbagai daerah.
"Permintaan genteng dari sentra industri Jatiwangi sebagian besar berasal dari program perbaikan rumah tidak layak huni yang dibiayai pemerintah pusat maupun daerah," kata Maruarar yang akrab disapa Ara, Kamis (12/3/2026).
Menurut Ara, Pemerintah Provinsi Jawa Barat melalui program perbaikan rumah tahap awal tahun ini mengalokasikan pembangunan untuk sekitar 250 unit rumah. Jika setiap unit membutuhkan genteng senilai sekitar Rp2 juta, maka potensi belanja genteng diperkirakan mencapai Rp500 juta.
Selain itu, Pemerintah Kabupaten Majalengka pada 2026 menargetkan perbaikan sekitar 1.715 rumah tidak layak huni. Program tersebut diperkirakan akan menyerap produk genteng lokal dengan nilai belanja sekitar Rp1,5 miliar.
Di sisi lain, pemerintah pusat melalui program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) merencanakan perbaikan sekitar 900 rumah di wilayah Kabupaten Majalengka. Kebutuhan genteng dari program ini diperkirakan mencapai sekitar Rp1 miliar.
"Jika seluruh program tersebut berjalan sesuai rencana, total komitmen pembelian genteng dari berbagai skema pembangunan rumah rakyat diperkirakan mencapai sekitar Rp3 miliar," katanya.
Selain berasal dari program pemerintah, permintaan genteng juga datang dari sektor swasta, khususnya pengembang rumah subsidi yang memanfaatkan produk UMKM untuk kebutuhan proyek mereka.
Dalam tahap awal distribusi, sebanyak 24 truk genteng diproyeksikan dikirim dari sentra produksi di Jatiwangi ke berbagai proyek pembangunan rumah di sejumlah daerah. Sebagian pengiriman ditujukan untuk proyek perumahan di wilayah Bogor dan Serang.
"Pengiriman tersebut menandai mulai bergeraknya kembali rantai produksi industri genteng lokal yang sempat mengalami perlambatan dalam beberapa tahun terakhir," ujarnya.
Pelaku usaha genteng di Jatiwangi, Riswan menilai, meningkatnya permintaan dari program perumahan pemerintah memberikan peluang bagi industri lokal untuk bangkit kembali.
Ia mengatakan dukungan kebijakan pemerintah membuka pasar baru bagi produk yang selama ini banyak bergantung pada permintaan regional.
"Selama beberapa tahun terakhir industri genteng tradisional menghadapi tantangan penurunan permintaan akibat perubahan material bangunan dan fluktuasi sektor konstruksi," tuturnya.
Di antara rak-rak bambu yang dipenuhi genteng, tampak tiga pekerja perempuan duduk merapat di sebuah meja. Jemari mereka lincah merapikan tepi tanah liat ... [1,256] url asal
Majalengka (ANTARA) - Di antara rak-rak bambu yang dipenuhi genteng, tampak tiga pekerja perempuan duduk merapat di sebuah meja. Jemari mereka lincah merapikan tepi tanah liat basah, mengikis sisa cetakan dengan gerak yang terlatih.
Beberapa genteng yang baru dibentuk diletakkan berderet di atas meja logam. Satu per satu dirapikan, dipulas tipis agar permukaannya halus, sebelum dipindahkan ke rak pengeringan di bagian belakang ruangan.
Setelahnya, cetakan tanah liat tersebut disiapkan menuju proses pengeringan hingga pembakaran.
Suasana di ruang produksi itu terlihat sibuk. Percakapan pendek para pekerja kerap terdengar. Sesekali, seseorang melintas membawa genteng basah, menuju rak bambu di bagian belakang ruangan.
Ritme kerja itu menjadi pemandangan sehari-hari di sentra genteng Jatiwangi, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat.
Geliat industri genteng
Di tengah hiruk-pikuk itu, Syamsul Maarif berdiri memperhatikan proses tersebut. Ia pemilik salah satu pabrik genteng rakyat yang masih beroperasi di kawasan Jatiwangi.
Di tempatnya, genteng selalu diproduksi. Bentuknya terlihat kokoh dengan warna merah alami, tipe yang lazim dipakai pada rumah-rumah di berbagai daerah di Pulau Jawa.
Menurut Syamsul, aktivitas produksi genteng di kawasan Jatiwangi masih terus berjalan, hingga sekarang. Meski jumlah pabrik tidak lagi sebanyak dulu, sejumlah perajin tetap bertahan menjalankan usaha mereka.
“Kalau kondisi pabrik genteng di Jatiwangi sekarang masih cukup ramai. Masih banyak yang bikin,” kata dia kepada ANTARA pada akhir Februari 2026.
Di pabriknya, kegiatan produksi hampir berlangsung saban hari. Para pekerja datang sejak pagi, menyiapkan bahan baku, sebelum masuk ke tahap pencetakan.
Dalam satu hari, pabrik tersebut dapat menghasilkan sekitar 1.800 hingga 2.000 keping genteng matang.
Jumlah tersebut, kata dia, dihitung dari genteng yang sudah melalui seluruh tahapan produksi hingga siap dijual.
Aktivitas produksi di salah satu pabrik di Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat. ANTARA/Fathnur Rohman.
“Setiap hari ada aktivitas produksi, dari Senin sampai Sabtu,” ujarnya.
Proses pembuatan genteng dimulai dari tanah liat yang diambil dari wilayah sekitar Jatiwangi. Tanah tersebut dicampur dengan bahan tambahan, sebelum digiling, hingga menjadi adonan, kemudian dimasukkan ke mesin atau cetakan untuk membentuk genteng.
Genteng yang baru keluar dari cetakan masih basah dan lunak. Pada tahap inilah para pekerja merapikan bagian tepinya agar bentuknya rapi dan presisi.
Setelah dirapikan, genteng disusun di rak bambu untuk pengeringan awal selama dua, hingga tiga hari. Proses ini bertujuan mengurangi kadar air di dalam tanah liat, sebelum dijemur di sinar Matahari.
Jika cuaca cerah, proses penjemuran biasanya berlangsung sekitar lima, hingga enam jam, namun jika hujan turun, penjemuran bisa tertunda dan memengaruhi jadwal produksi.
Ia menjelaskan genteng yang sudah kering kemudian dimasukkan ke dalam tungku pembakaran, yang oleh perajin setempat disebut hawu.
Di dalam tungku tersebut, genteng dibakar menggunakan kayu selama delapan, hingga dua belas jam. Lama pembakaran dapat berbeda, tergantung kondisi kayu dan suhu tungku.
Setelah pembakaran selesai, genteng dikeluarkan dari tungku dan didinginkan, sebelum disortir.
Sebagian besar genteng dari pabrik di daerah itu dipasarkan melalui toko material bangunan dan ada pula pembeli yang datang langsung untuk kebutuhan pembangunan rumah.
Dalam satu pekan, pengiriman bisa mencapai dua truk kecil. Pasarnya masih didominasi wilayah Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Harga genteng natural tanpa warna tambahan berkisar Rp2.300 hingga Rp2.500 per keping, sedangkan genteng berlapis glasir dijual dengan harga sekitar Rp3.800 hingga Rp4.000 per keping.
“Genteng Jatiwangi itu kuat, awet, dan bikin rumah kelihatan lebih estetik,” ujarnya.
Ikon Majalengka
Di sejumlah desa di Kecamatan Jatiwangi, Majalengka, aktivitas membuat genteng masih menggeliat. Dari kawasan inilah lahir genteng yang lama dikenal di berbagai daerah.
Bersama kecap Majalengka, produk genteng Jatiwangi ini menjadi dua nama yang sering disebut, ketika orang membicarakan daerah tersebut.
Dari data yang dihimpun ANTARA, pada masa kejayaannya, industri genteng di Jatiwangi berkembang sangat pesat.
Sekitar dekade 1980-an, hingga awal 2000-an, produksi genteng dari wilayah itu memasok berbagai kota, bahkan pernah menembus pasar luar negeri.
Jumlah pabrik genteng, saat itu mencapai lebih dari 600 jebor. Hampir setiap desa memiliki tempat produksi.
Truk-truk pengangkut genteng rutin keluar masuk kampung, membawa hasil produksi menuju berbagai daerah.
Warga setempat masih mengingat, masa, ketika halaman rumah dipenuhi tumpukan genteng yang dijemur di sinar Matahari. Banyak keluarga menggantungkan penghasilan dari usaha tersebut.
Perubahan mulai terasa ketika pembangunan infrastruktur besar hadir di sekitar Majalengka. Pabrik-pabrik manufaktur bermunculan dan menyerap banyak tenaga kerja.
Sebagian anak muda di daerah tersebut, kemudian memilih bekerja di sektor tersebut karena dianggap menawarkan penghasilan yang lebih stabil.
Perlahan, jumlah pabrik genteng menyusut. Kini diperkirakan hanya sekitar 120 pabrik di Jatiwangi yang masih bertahan menjalankan produksi.
"Gentengisasi”
Di tengah kondisi itu, perhatian terhadap industri genteng kembali menguat, setelah pemerintah pusat mendorong penggunaan atap genteng pada bangunan, terutama fasilitas publik dan gedung pemerintahan.
Arahan tersebut disampaikan Presiden Prabowo Subianto dalam rapat koordinasi pemerintah daerah di Sentul, Bogor, Jawa Barat, beberapa waktu lalu.
Bagi daerah yang memiliki tradisi produksi genteng, seperti Majalengka, wacana tersebut dipandang dapat membuka peluang pasar baru.
Bupati Majalengka Eman Suherman mengatakan pemerintah daerah siap menindaklanjuti arahan tersebut. Sebab, penggunaan genteng juga dapat memberi dampak langsung bagi masyarakat yang selama ini menggantungkan hidup pada industri tersebut.
“Arahan presiden ini memberi manfaat ekonomi bagi masyarakat, khususnya pelaku usaha dan perajin lokal,” katanya.
Ia menjelaskan potensi industri genteng rakyat di Majalengka masih cukup besar dan tersebar di sejumlah kecamatan.
Pemerintah daerah mendorong penggunaan genteng pada pembangunan gedung pemerintahan, sekolah, fasilitas kesehatan, serta berbagai infrastruktur publik lainnya.
Produksi genteng di salah satu pabrik di Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat. ANTARA/Fathnur Rohman.
Eman menegaskan, implementasi kebijakan pemerintah pusat ini akan diselaraskan dengan perencanaan pembangunan daerah agar sejalan dengan fondasi pembangunan di Majalengka.
Selain lebih ramah lingkungan, penggunaan genteng untuk atap bangunan juga dianggap sesuai dengan karakter iklim tropis di Indonesia.
Melalui penyelarasan antara kebijakan pusat dan daerah, pemerintah kabupaten berharap Majalengka dapat terus tumbuh sebagai daerah yang mandiri secara ekonomi, kuat secara sosial, serta berkelanjutan dalam pembangunan lingkungan.
Membuka pasar
Upaya memperkuat pasar genteng juga mulai digerakkan oleh kalangan dunia usaha. Misalnya saja, Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Majalengka telah mempertemukan pengusaha genteng dengan pengembang perumahan serta lembaga perbankan.
Ketua Kadin Majalengka Raden Suryanatanagara mengatakan langkah tersebut dilakukan agar industri genteng dari daerahnya memiliki kepastian pasar.
Atas dasar tersebut, Kadin Majalengka mengundang sekitar 30 pengusaha genteng dan hampir 35 pengembang perumahan dalam satu forum bertajuk "Majalengka Housing Partnership Gentengisasi 2026".
Pertemuan tersebut melibatkan pula, perwakilan dari Himpunan Bank Milik Negara (Himbara) untuk membahas akses pembiayaan.
Dalam forum tersebut dilakukan penandatanganan nota kesepahaman dengan dinas terkait serta asosiasi pengembang di wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan (Ciayumajakuning).
"Artinya ketika perumahan berdiri di wilayah ini, mereka sudah punya jalinan kerja sama dengan pengusaha genteng di Jatiwangi," ujarnya.
Pekerja saat menjemur genteng basah di salah satu pabrik di Jatiwangi, Majalengka, Jawa Barat. ANTARA/Fathnur Rohman.
Untuk memperkuat tata niaga, pembelian genteng direncanakan dipusatkan melalui koperasi perajin genteng Jatiwangi yang baru dibentuk. Wadah ini diharapkan memudahkan distribusi, sekaligus memperkuat posisi tawar para perajin.
Dari sisi produksi, kapasitas industri genteng Majalengka masih tergolong besar yang diperkirakan mencapai sekitar satu juta genteng per hari.
Jumlah tersebut dinilai mampu memenuhi kebutuhan pembangunan perumahan di wilayah Ciayumajakuning, yang pada tahun ini ditargetkan mencapai sekitar 3.000 unit.
Meski begitu, persoalan regenerasi perajin masih menjadi tantangan tersendiri. Banyak perajin senior yang tetap bertahan menjalankan usaha, sementara generasi mudanya memilih bekerja di sektor industri lain.
Oleh karena itu, sejumlah pihak mulai mendorong modernisasi alat produksi agar pekerjaan membuat genteng, tidak lagi sepenuhnya bergantung pada cara-cara manual.
Dengan peralatan yang lebih efisien, diharapkan industri genteng rakyat bisa terus berjalan di tengah perubahan yang terjadi di Majalengka.
Pada intinya, selama masih ada rumah yang membutuhkan atap, maka produk genteng, termasuk dari Jatiwangi, tampaknya belum akan benar-benar hilang dari peta industri rakyat di Majalengka.
Kadin Majalengka menjamin pasar genteng Jatiwangi dengan menggandeng pengembang perumahan dan perbankan, memprioritaskan penggunaan genteng lokal. [412] url asal
Bisnis.com, MAJALENGKA- Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Majalengka menyiapkan langkah konkret untuk menjamin kepastian pasar bagi industri genteng lokal dengan menggandeng pengembang perumahan dan sektor perbankan.
Upaya tersebut diarahkan untuk menangkap peluang dari program pembangunan rumah yang digulirkan pemerintah pusat dan diintegrasikan dengan Pemerintah Kabupaten Majalengka.
Ketua Kadin Majalengka, Raden Suryanatanagara, mengatakan dunia usaha tidak ingin hanya berhenti pada pembinaan produksi. Menurutnya, persoalan utama perajin genteng selama ini bukan semata kapasitas, melainkan jaminan penyerapan pasar.
“Kalau produksi ada, tapi pasar tidak jelas, industri sulit tumbuh. Karena itu kami memastikan ada kemitraan yang konkret antara pengusaha genteng dan pengembang,” ujarnya, Rabu (5/3/2026).
Suryanatanagara mengatakan, langkah tersebut diwujudkan melalui forum Majalengka Housing Partnership Gentengisasi 2026 yang mempertemukan sekitar 30 pengusaha genteng dengan hampir 35 pengembang perumahan beberapa waktu lalu.
Forum tersebut sekaligus menjadi ruang konsolidasi rantai pasok bahan bangunan lokal, khususnya genteng produksi Jatiwangi yang selama ini dikenal sebagai sentra industri tradisional di Majalengka.
Dalam kesempatan itu, Kadin Majalengka turut memfasilitasi penandatanganan nota kesepahaman antara pengusaha genteng dengan Dinas Perumahan, Kawasan Permukiman dan Pertanahan setempat serta asosiasi pengembang dari wilayah Cirebon, Indramayu, Majalengka, dan Kuningan yang dikenal sebagai kawasan Ciayumajakuning.
"Melalui kesepakatan tersebut, setiap proyek perumahan yang dibangun di wilayah itu diarahkan untuk memprioritaskan penggunaan genteng produksi pengusaha Jatiwangi. Skema ini diharapkan menciptakan kepastian permintaan sekaligus memperpendek rantai distribusi," ujarnya.
Untuk memperkuat tata niaga, kata Suryanatanagara, pembelian genteng akan dipusatkan melalui koperasi perajin yang baru dibentuk. Koperasi ini berfungsi sebagai agregator produksi sekaligus pengendali harga dan kualitas, menggantikan asosiasi lama yang sebelumnya tidak aktif.
Dari sisi kapasitas, ia memastikan industri genteng Majalengka mampu memproduksi hingga satu juta unit per hari. Dengan target pembangunan sekitar 3.000 unit rumah di kawasan Ciayumajakuning sepanjang tahun ini, kebutuhan genteng dinilai dapat dipenuhi tanpa kendala berarti.
"Jika rata-rata satu rumah membutuhkan ribuan genteng, potensi serapan pasar dari sektor perumahan menjadi peluang signifikan bagi pelaku industri kecil dan menengah di daerah tersebut," katanya.
Meski demikian, tantangan struktural masih membayangi. Raden mengakui industri genteng menghadapi penurunan jumlah tenaga kerja dan minimnya regenerasi perajin muda. Banyak pekerja beralih ke sektor manufaktur modern yang menawarkan pendapatan lebih stabil.
Sebagai respons, Kadin mendorong pengembang yang berinvestasi di Majalengka untuk mengalokasikan dana tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) guna mendukung modernisasi peralatan produksi. Salah satu opsi yang diusulkan adalah pengadaan mesin cetak dinamo otomatis untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas.
“Modernisasi penting agar industri ini tidak tertinggal. Kalau produktivitas naik dan pasar jelas, generasi muda akan melihat prospek yang lebih menjanjikan,” katanya.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56