#30 tag 24jam
Hadapi Pemilu 2029, DPC PPP Lebak Bidik Gen Z lewat Strategi Kreatif dan Inklusif
Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kabupaten Lebak mulai menerapkan strategi baru untuk menarik minat Generasi Z (Gen Z) menjelang Pemilu... | Halaman Lengkap [408] url asal
#partai-persatuan-pembangunan #partai-politik #generasi-z #politikus-ppp #pemilu-2029
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 01/07/26 16:53
v/265307/
BANTEN - Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Kabupaten Lebak mulai menerapkan strategi baru untuk menarik minat Generasi Z (Gen Z) menjelang Pemilu 2029. Pendekatan yang disiapkan tidak lagi berfokus pada kegiatan politik formal, tetapi dikemas melalui aktivitas yang dekat dengan gaya hidup anak muda agar partisipasi politik semakin meningkat.Sekretaris DPC PPP Kabupaten Lebak Hanna Aulia Zein Adzmika, mengatakan generasi muda harus dirangkul dengan cara yang lebih relevan. Menurutnya, partai politik perlu menghadirkan ruang yang nyaman untuk berdiskusi, berkolaborasi, sekaligus belajar mengenai politik tanpa kesan kaku dan eksklusif.
"Kami ingin membuat kegiatan yang relatable dengan anak muda. Jadi mereka datang ke kegiatan partai bukan karena merasa diwajibkan, tetapi karena memang senang berkumpul, berdiskusi, dan belajar politik bersama," ujar Hanna, Rabu (1/7/2026).
Sebagai langkah awal, PPP Lebak berencana menggelar berbagai kegiatan yang mengikuti tren di kalangan Gen Z. Salah satunya memanfaatkan momentum Car Free Day dengan mengajak komunitas anak muda mengikuti kegiatan olahraga lari yang nantinya dapat berkembang menjadi agenda rutin hingga event berskala lebih besar.
"Sekarang yang sedang viral kan lari. Mungkin kita mulai dari Car Free Day, mengajak anak-anak muda ikut bersama. Kalau komunitasnya semakin besar, ke depan bisa dibuat event lari yang lebih serius," katanya.
Lulusan Binus University ini menyebut pendekatan tersebut menjadi pintu masuk untuk meningkatkan literasi politik generasi muda. Hanna menilai anak muda tidak boleh hanya menjadi objek politik saat pemilu, melainkan harus tampil sebagai subjek yang aktif memberikan gagasan dan berkontribusi dalam pembangunan daerah.
Lihat video: Dualisme PPP Berakhir, Mardiono Jadi Ketum dan Agus Suparmanto Waketum
Hanna juga mengakui masih banyak kalangan muda yang memandang partai politik dengan sikap skeptis. Namun, dirinya optimistis anggapan tersebut dapat berubah apabila partai mampu membuka ruang partisipasi yang nyata serta memberikan kesempatan kepada generasi muda untuk berkembang.
"Sebagai generasi muda kita harus melek politik dan mulai berperan sebagai subjek, bukan lagi objek. Karena itu saya mengajak teman-teman, terutama Gen Z, agar ikut terlibat dan masuk PPP," tegasnya.
Direktur Murtila Promosindo Bidang Kreatif ini berharap kepengurusan baru DPC PPP Kabupaten Lebak mampu memadukan pengalaman kader senior dengan kreativitas kader muda. Menurutnya, kolaborasi lintas generasi menjadi kunci untuk memperkuat organisasi sekaligus menjawab tantangan politik di masa depan.
Hanna menambahkan, Gen Z merupakan kelompok pemilih terbesar yang akan memiliki pengaruh signifikan pada Pemilu 2029. Karena itu, pendekatan yang kreatif, inklusif, dan mengikuti perkembangan zaman dinilai menjadi strategi penting agar semakin banyak anak muda merasa dekat dan mau berpartisipasi dalam kehidupan politik melalui PPP.
Ketika Gen Z Membawa Orang Tua ke Ruang Interview
Fenomena ini menjadi perbincangan setelah muncul laporan bahwa sekitar 40 persen Gen Z pernah melibatkan orang tua dalam proses pencarian kerja, termasuk saat wawancara... | Halaman Lengkap [696] url asal
#dunia-kerja #orang-tua #generasi-z #gen-z #interview
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 30/06/26 15:28
v/263885/
Faozan AmarAssociate Professor Fakultas Ekonomi dan Bisnis UHAMKA
ADA fenomena yang terasa asing bagi generasi milenial dan baby boomers: anak muda datang ke kantor untuk wawancara kerja, tapi ada yang menemani, yaitu orang tua yang ikut mendampingi, memberi motivasi, bahkan dalam beberapa kasus ikut terlibat dalam proses komunikasi dengan perusahaan.
Fenomena ini menjadi perbincangan setelah muncul laporan bahwa sekitar 40 persen Gen Z pernah melibatkan orang tua dalam proses pencarian kerja, termasuk saat wawancara dan negosiasi gaji. Fenomena tersebut kemudian memunculkan pertanyaan besar: apakah Gen Z kehilangan kemandirian atau justru sedang menghadapi dunia kerja yang semakin penuh tekanan? Jawabannya tidak sederhana.
Melihat fenomena ini hanya dari sudut pandang “ anak muda tidak mandiri” tentu terlalu menyederhanakan persoalan. Di baliknya ada perubahan pola keluarga, tekanan ekonomi, dan tantangan dunia kerja yang jauh berbeda dibandingkan generasi sebelumnya.
Dukungan Orang Tua dan Tantangan Perubahan Dunia Kerja
Bagi kebanyakan keluarga, anak bukan sekadar individu yang harus dilepas begitu saja ketika dewasa. Orang tua memiliki tanggung jawab untuk memastikan anak meraih masa depan terbaik. Setelah bertahun-tahun mendampingi pendidikan dan kehidupan anak, sangatlah beralasan jika sebagian orang tua masih ingin hadir ketika anak memasuki dunia kerja. Sebab pendampingan itu lahir dari kasih sayang. Namun, kasih sayang membutuhkan keseimbangan. Dukungan yang baik adalah ketika orang tua membantu anak mempersiapkan diri, bukan menggantikan anak menjalani prosesnya.Menurut psikolog perkembangan Jeffrey Jensen Arnett (2000), usia 18–29 tahun sebagai fase emerging adulthood, yaitu masa ketika seseorang sedang membangun identitas, menentukan arah hidup, dan belajar menjadi pribadi yang mandiri. Pada fase ini, pengalaman menghadapi tantangan menjadi bagian penting dari proses pendewasaan.
Seseorang tidak tumbuh kuat karena selalu diselamatkan dari masalah, tetapi karena diberi kesempatan untuk menyelesaikan masalah. Pada sisi lain, Gen Z memasuki dunia kerja dalam situasi yang penuh ketidakpastian. Menghadapi kompetisi yang lebih ketat, teknologi yang berubah cepat, serta biaya hidup yang semakin meningkat.
Laporan Deloitte Gen Z and Millennial Survey 2025 menunjukkan bahwa persoalan finansial menjadi salah satu tekanan utama generasi muda saat ini. Banyak Gen Z di berbagai negara merasa khawatir terhadap stabilitas ekonomi, keamanan pekerjaan, dan kemampuan mencapai kesejahteraan finansial.
Kondisi itu membuat sebagian anak muda masih membutuhkan dukungan lebih besar dari keluarga. Namun, rasa aman tidak boleh berubah menjadi ketergantungan. Dunia kerja tetap menuntut seseorang memiliki keberanian, tanggung jawab, dan kemampuan mengambil keputusan sendiri.
Membangun Gen Z yang Mandiri
Kemandirian bukan sesuatu yang bersifat instan dan otomatis muncul ketika seseorang memasuki usia dewasa. Kemandirian dibentuk melalui pengalaman. Gen Z perlu memahami bahwa dunia kerja membutuhkan lebih dari sekadar kemampuan akademik dan kecakapan teknologi. Dunia profesional memerlukan kemampuan berkomunikasi, membangun relasi, menerima kritik, menyelesaikan masalah, dan melakukan negosiasi.Dalam wawancara kerja, perusahaan tidak hanya melihat apa yang tertulis dalam CV, tetapi juga bagaimana seseorang menjelaskan kemampuan, menunjukkan sikap profesional, dan menghadapi tekanan. Karena itulah, strategi yang tepat bukan memisahkan orang tua, tetapi mengubah pola relasi. Orang tua tetap hadir sebagai mentor, bukan pengambil keputusan.
Sebelum wawancara, orang tua boleh membantu latihan. Sebelum negosiasi gaji, orang tua boleh memberikan pandangan. Tetapi ketika pintu ruang interview terbuka, anak harus mampu masuk dengan keyakinannya sendiri. Perguruan tinggi juga memiliki peran penting. Pendidikan tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dengan nilai akademik tinggi, tetapi harus melahirkan individu yang siap memasuki dunia profesional. Karena itu, mahasiswa harus dibekali kemampuan career readiness: komunikasi, kepemimpinan, kerja sama, pemecahan masalah, dan kesiapan menghadapi dinamika pekerjaan.
Peter Senge (1990) melalui konsep learning organization menjelaskan bahwa kemampuan belajar dan beradaptasi merupakan kunci menghadapi perubahan. Prinsip ini relevan bagi Gen Z: mereka harus menjadi generasi yang tidak takut mencoba, tidak takut gagal, dan mampu belajar dari pengalaman.
Sebab, kegagalan dalam interview bukan akhir perjalanan. Ditolak perusahaan bukan berarti kehilangan masa depan. Justru dari proses tersebut seseorang belajar mengenali kemampuan dan memperbaiki diri.
Fenomena Gen Z membawa orang tua ke ruang interview layak untuk menjadi bahan refleksi bersama. Ini bukan untuk menghakimi generasi Z, tepatnya untuk memahami bahwa setiap zaman memiliki tantangannya berbeda. Orang tua tetap menjadi tempat pulang. Namun, anak harus belajar menjadi pribadi mandir yang siap melangkah.
Karena tujuan akhir pendidikan dan keluarga adalah menyiapkan manusia yang berdikari, meminjam istilah Bung Karno, yang suatu hari nanti mampu berdiri tegak dengan kemampuan dan keyakinannya sendiri, bukan membuat seseorang selalu ditemani dalam setiap langkahnya.
Bidik Suara Generasi Muda, DPD Partai Perindo TTS Genjot Rekrutmen Kader hingga Akar Rumput
DPD Partai Perindo Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) mempercepat pembentukan struktur hingga akar rumput sebagai fondasi menghadapi Pemilu 2029. Penguatan organisasi... | Halaman Lengkap [464] url asal
#partai-perindo #partai-politik #pemilu-2029 #generasi-muda #timor-tengah-selatan
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 29/06/26 09:49
v/262425/
NTT - Penguatan organisasi politik hingga tingkat desa dinilai menjadi faktor penting dalam menjaga keterhubungan partai dengan masyarakat sekaligus meningkatkan kualitas representasi politik di daerah. Menyadari hal tersebut, DPD Partai Perindo Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) mempercepat pembentukan struktur hingga akar rumput sebagai fondasi menghadapi Pemilu 2029.Ketua DPD Partai Perindo Kabupaten TTS Marthen Natonis, mengatakan struktur DPD dan DPC saat ini telah terbentuk secara lengkap. Fokus berikutnya adalah menuntaskan pembentukan Dewan Pimpinan Ranting (DPRt) di seluruh desa dan kelurahan di wilayah tersebut.
"Pemilu tidak bisa hanya mengandalkan figur. Struktur partai harus hidup sampai tingkat desa agar aspirasi masyarakat dapat dikawal secara berkelanjutan. Karena itu kami fokus menuntaskan DPRt dan memperkuat kaderisasi sebagai fondasi menghadapi Pemilu 2029," kata Marthen saat dihubungi, Senin (29/6/2026).
Saat ini, kata dia, DPRt telah terbentuk di lebih dari 100 desa dari total 266 desa dan 12 kelurahan di Kabupaten TTS. Proses pembentukan struktur terus berjalan bersamaan dengan pembuatan Kartu Tanda Anggota (KTA) elektronik dan penguatan administrasi kader.
Penguatan struktur dinilai menjadi langkah strategis untuk memperluas basis dukungan masyarakat sekaligus meningkatkan efektivitas kerja politik partai di tingkat lokal. Atas dasar itu, DPD Partai Perindo TTS menargetkan perolehan enam kursi DPRD pada Pemilu 2029.
Target tersebut dibarengi dengan agenda rekrutmen anggota secara masif. DPD Partai Perindo TTS menargetkan penambahan 2.200 anggota baru melalui keterlibatan seluruh pengurus dan anggota legislatif partai.
"Setiap anggota legislatif kami wajib merekrut 20 anggota per minggu, sedangkan setiap pengurus ditargetkan merekrut lima anggota setiap bulan. Langkah ini kami lakukan untuk memastikan mesin partai semakin kuat dan dekat dengan kebutuhan masyarakat," ujar Ketua Fraksi Partai Perindo DPRD Timor Tengah Selatan ini.
Lihat video: Konsolidasi dan Pendidikan Politik Partai Perindo
Menurut dia, keberadaan struktur hingga tingkat desa tidak hanya berfungsi untuk kepentingan elektoral, tetapi juga mempercepat penyerapan aspirasi warga, memperluas partisipasi masyarakat dalam proses politik, serta memperkuat pengawasan terhadap berbagai kebijakan pembangunan daerah.
Marthen menjelaskan, strategi penguatan partai juga dilakukan melalui rekrutmen tokoh-tokoh dari berbagai elemen masyarakat. Langkah tersebut mencakup perekrutan tokoh perempuan, penyandang disabilitas, tokoh pendidikan, tokoh agama, serta generasi muda dari berbagai latar belakang.
"Kami merekrut tokoh baru dari semua elemen masyarakat, baik perempuan, tokoh disabilitas, tokoh pendidikan, tokoh agama, tokoh muda, milenial, maupun lintas agama. Pada saat yang sama kami juga membangun tokoh dari internal yang memiliki kapabilitas, integritas tinggi, dan modal sosial yang kuat untuk menggerakkan mesin partai," kata dia.
Dia menilai suara pemilih muda masih menjadi salah satu faktor penentu dalam kontestasi politik. Karena itu, DPD Partai Perindo TTS terus mendorong keterlibatan generasi muda dan perempuan dalam struktur kepengurusan hingga tingkat DPC dan DPRt, sekaligus memfasilitasi berbagai kegiatan yang melibatkan kelompok tersebut.
Marthen menegaskan, konsolidasi struktur, kaderisasi, dan penguatan representasi kelompok muda akan menjadi fokus utama partai untuk memperluas dukungan masyarakat serta mencapai target enam kursi DPRD pada Pemilu 2029.
Prudential Syariah komitmen siapkan pelaku usaha muda mandiri
PT Prudential Sharia Life Assurance (Prudential Syariah) menyatakan komitmen untuk menyiapkan generasi muda sebagai entrepreneur atau pelaku usaha yang ... [431] url asal
Ia tidak hanya menjadi mandiri untuk dirinya sendiri, namun juga penopang bagi keluarganya, inspirasi bagi komunitasnya, dan kontributor bagi ekonomi bangsanya
Jakarta (ANTARA) - PT Prudential Sharia Life Assurance (Prudential Syariah) menyatakan komitmen untuk menyiapkan generasi muda sebagai entrepreneur atau pelaku usaha yang mandiri secara ekonomi.
Chief Customer & Marketing Officer Prudential Syariah Vivin Arbianti Gautama mengatakan Indonesia memiliki potensi besar generasi muda dalam bidang usaha, namun survei menunjukkan 60 persen generasi muda mengaku belum memiliki cukup dana untuk memulai usaha dan 41 persen merasa bingung harus mulai dari mana .
Padahal, lanjut dia dalam keterangannya di Jakarta, Sabtu, di sisi lain UMKM menyumbang lebih dari 60 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional dan menyerap 97 persen tenaga kerja Indonesia .
Kondisi tersebut, menurut dia, menggerakkan Prudential Syariah dan Lembaga Amil dan Zakat (LAZ) Al-Azhar untuk hadir, bukan hanya sebagai pemberi modal, tetapi sebagai mitra perjalanan generasi muda menuju kemandirian ekonomi serta menjadi entrepreneur di masa depan.
"Pemberdayaan adalah bentuk perlindungan yang paling berkelanjutan. Ketika seorang anak muda memiliki keterampilan, modal dan jaringan, ia tidak hanya menjadi mandiri untuk dirinya sendiri, namun juga penopang bagi keluarganya, inspirasi bagi komunitasnya, dan kontributor bagi ekonomi bangsanya," ujarnya.
Terkait hal itu, kedua lembaga tersebut berkolaborasi meluncurkan program pemberdayaan Satu Inspirasi Generasi Berdampak (SIGAP) sebagai upaya pemberdayaan generasi muda untuk lebih mandiri secara ekonomi.
Selain itu juga program Satu Social Space, hub komunitas lintas generasi yang berfungsi sebagai titik edukasi keuangan syariah, ruang kolaborasi UMKM, dan pusat literasi bagi masyarakat.
"Melalui SIGAP dan Satu Social Space, kami ingin memastikan bahwa setiap generasi muda Indonesia, terutama yang selama ini menghadapi keterbatasan akses proteksi, memiliki ruang untuk bertumbuh dan keberanian untuk bermimpi lebih besar," ujar Vivin Arbianti.
Program SIGAP dirancang sebagai ekosistem pemberdayaan menyeluruh bagi para peserta terpilih baik dari masyarakat umum maupun alumni santri Rumah Gemilang Indonesia (RGI), pusat pemberdayaan pemuda produktif binaan LAZ Al-Azhar untuk mencetak ribuan generasi mandiri dari seluruh Indonesia.
Peserta akan mendapatkan pelatihan manajemen keuangan, literasi dan inklusi keuangan syariah, bantuan modal usaha, pelatihan kewirausahaan, pendampingan selama dua tahun ke depan.
Sementara itu Satu Social Space dirancang sebagai ruang aksi yang bermanfaat bagi siapa saja, tempat bekerja bagi profesional dan pekerja lepas, etalase bagi UMKM termasuk para penerima manfaat SIGAP untuk memasarkan hasil karya atau usaha-nya, ruang diskusi gratis bagi mahasiswa, titik konsultasi finansial bersama tenaga ahli hingga pusat edukasi literasi keuangan syariah yang berkelanjutan.
Ke depan, tambahnya, program SIGAP dan Satu Social Space dijadikan sebagai model pemberdayaan komunitas yang dapat direplikasi di berbagai wilayah, sekaligus memperkuat ekosistem ekonomi syariah Indonesia yang inklusif dan berkelanjutan.
Pewarta: Subagyo
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Patra Jasa terjunkan 53 Perwira untuk mengajar
PT Patra Jasa menerjunkan 53 perwira sebagai pengajar melalui program Patra Jasa Mengajar guna memperkuat kualitas pendidikan sekaligus mendukung terwujudnya ... [474] url asal
Jakarta (ANTARA) - PT Patra Jasa menerjunkan 53 perwira sebagai pengajar melalui program Patra Jasa Mengajar guna memperkuat kualitas pendidikan sekaligus mendukung terwujudnya Generasi Indonesia Emas 2045 yang berdaya saing.
Direktur Utama PT Patra Jasa, Ray SM Daulay mengatakan program yang kini memasuki tahun ketiga penyelenggaraan tersebut telah dilaksanakan secara berkelanjutan sejak 2024, setelah sebelumnya digelar di Bogor dan Bekasi, Jawa Barat.
"Pada tahun ini, sebanyak 53 Perwira Patra Jasa berpartisipasi sebagai pengajar dan fasilitator," kata Ray dalam keterangan di Jakarta, Jumat.
Program itu melibatkan Perwira Patra Jasa dari kantor pusat maupun unit bisnis untuk berbagi pengetahuan, pengalaman, dan wawasan yang diharapkan dapat memperluas perspektif generasi muda.
Adapun program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) perusahaan bertajuk Patra Jasa Mengajar itu diselenggarakan di SD Negeri Menteng Dalam 11 Pagi, Jakarta Selatan.
Ray menuturkan kegiatan sosial tersebut menjadi bagian peringatan HUT ke-51 Patra Jasa, yang dimaknai sebagai momentum memperkuat kontribusi nyata perusahaan bagi masyarakat melalui peningkatan kualitas pendidikan.
"Materi disampaikan melalui pendekatan yang interaktif dan partisipatif guna menciptakan pengalaman belajar yang lebih menyenangkan sekaligus menumbuhkan semangat belajar para siswa," ucap Ray.
Lebih lanjut, dia mengatakan program itu merupakan salah satu wujud komitmen perusahaan dalam menghadirkan manfaat yang berkelanjutan bagi masyarakat, khususnya melalui bidang pendidikan.
Menurutnya, investasi terbaik bagi masa depan tidak hanya diwujudkan melalui pengembangan bisnis, tetapi juga melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia sejak usia dini.
"Kami ingin berbagi tidak hanya pengetahuan, tetapi juga pengalaman, inspirasi, serta nilai-nilai positif kepada generasi muda. Kami percaya pendidikan merupakan fondasi utama dalam membangun masa depan bangsa," tegasnya.

Selain kegiatan edukasi, PT Patra Jasa juga menyerahkan bantuan sarana dan prasarana penunjang kegiatan belajar mengajar kepada SD Negeri Menteng Dalam 11 Pagi.
Bantuan tersebut meliputi speaker aktif, tempat sampah, printer multifungsi (print, scan, dan fotokopi), misty fan, jaring gawang, terpal, matras, serta peralatan tulis bagi 249 siswa.
Bantuan tersebut diharapkan dapat mendukung terciptanya lingkungan belajar yang lebih nyaman, sehat, dan kondusif. Sehingga proses pembelajaran dapat berlangsung secara optimal.
Melalui Patra Jasa Mengajar, Patra Jasa terus memperkuat komitmennya dalam menciptakan dampak sosial yang berkelanjutan melalui bidang pendidikan, sekaligus mendorong keterlibatan aktif perwira untuk tumbuh bersama dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Kepala SD Negeri Menteng Dalam 11 Pagi, Sri Restioningsih menilai kegiatan tersebut memberikan pengalaman belajar yang berbeda sekaligus menjadi motivasi bagi para siswa untuk terus belajar dan meraih cita-cita.
"Kehadiran para perwira Patra Jasa sebagai pengajar serta bantuan sarana dan prasarana pendidikan yang diberikan menghadirkan pengalaman baru dan menambah semangat belajar bagi anak-anak," kata Sri.
Dia berharap sinergi itu terus berlanjut sehingga semakin banyak peserta didik yang memperoleh manfaat dan termotivasi untuk meraih cita-cita sebagai generasi penerus bangsa.
Pewarta: Muhammad Harianto
Editor: Bayu Prasetyo
Copyright © ANTARA 2026
Danamon Gelar DIVE-Chapter Youth, Kenalkan Perbankan ke Generasi Muda
Bank Danamon menghadirkan program DIVE-Chapter Youth. Program ini merupakan bagian dari inisiatif DAYATARA yang mencerminkan penerapan prinsip DEI. PT Bank Danamon... | Halaman Lengkap [466] url asal
#bank-danamon #perbankan #industri-perbankan #generasi-muda
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 25/06/26 19:31
v/259996/
JAKARTA - PT Bank Danamon Indonesia Tbk ( Danamon ) menghadirkan program DIVE (Danamon Immersive Visit s Exploration) – Chapter Youth. Program ini merupakan bagian dari inisiatif DAYATARA (Danamon Berdaya Mengusung Kesetaraan) yang mencerminkan penerapan prinsip Diversity, Equity, and Inclusion (DEI).Memanfaatkan momentum musim liburan sekolah, program ini memberikan kesempatan bagi anak-anak Danamoners (sebutan bagi karyawan Danamon) yang berusia 13–18 tahun (SMP dan SMA) untuk mengenal dunia perbankan secara lebih dekat. Selain itu, program ini juga bertujuan membekali generasi muda dengan pemahaman awal mengenai dunia kerja serta memperluas wawasan karier mereka di masa depan.
Program ini dilaksanakan dalam 4 batch yang berlangsung pada 22–23 Juni 2026 di Menara Bank Danamon, Jakarta. Melalui pendekatan berbasis experiential learning, peserta diajak mengeksplorasi berbagai produk, layanan, serta digital application yang dimiliki oleh Danamon.
Dalam rangkaian kegiatan ini, peserta juga mendapatkan pemaparan mengenai visi, misi, nilai perusahaan, employee value proposition, serta fungsi kerja di dalamnya. Program ini termasuk office tour yang dikemas melalui pendekatan mission-based exploration yang dilengkapi dengan “Junior Banking Passport”.
Program ini turut menghadirkan berbagai sesi interaktif seperti Career in Danamon dan AI for Daily Life and Future Career, yang dirancang untuk membuka wawasan peserta terhadap beragam peluang karier di masa depan. Tidak hanya itu, literasi keuangan menjadi bagian penting dalam program ini guna mendorong peserta agar lebih bijak dalam mengelola keuangan (smart saver) sejak dini. Pemahaman ini kemudian diperkuat melalui berbagai aktivitas kolaboratif serta fun games yang melibatkan peserta secara aktif.
Chief Human Capital and Operations Officer Danamon, Evi Damayanti mengatakan, di Danamon dukungan terhadap keseimbangan antara kehidupan kerja dan keluarga merupakan salah satu bagian penting dalam menciptakan lingkungan kerja yang sehat. Melalui program DIVE-Chapter Youth, Danamon ingin menghadirkan pengalaman yang tidak hanya memperkenalkan dunia perbankan kepada generasi muda, tetapi juga membangun keterlibatan yang lebih erat antara perusahaan, karyawan, dan keluarga.
”Kami berharap, melalui pengalaman belajar yang interaktif dan sejak dini ini, para peserta dapat memperoleh wawasan yang lebih luas mengenai dunia kerja khususnya di bidang perbankan. Sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri dan kesiapan mereka dalam merencanakan karier di masa depan," katanya, Kamis (25/6/2026).
Melalui program DIVE-Chapter Youth ini, Danamon turut mendorong tumbuhnya early career awareness terhadap industri perbankan sejak usia sekolah. Termasuk memberikan kesempatan bagi anak-anak Danamoners untuk lebih memahami profesi serta lingkungan di perusahaan tempat orang tua mereka bekerja. Keterlibatan keluarga dalam program ini juga menjadi elemen penting dalam memperkuat kebanggaan dan keterlibatan karyawan, serta meningkatkan hubungan antara keluarga dan perusahaan. KPR Rumah Subsidi Bisa Dicicil hingga 40 Tahun, Bunga Tetap 5%
Komitmen tersebut tidak hanya diwujudkan melalui pengembangan karyawan, tetapi juga melalui berbagai upaya yang memberikan nilai tambah bagi keluarga karyawan dan generasi masa depan. Ke depan, Danamon akan memperkuat peran dalam mempersiapkan generasi yang adaptif, memiliki wawasan yang luas, serta siap menghadapi dinamika dunia kerja yang terus berkembang.
Peran aktif gen Z dinilai krusial bagi sektor energi nasional
Tenaga Ahli Menteri ESDM Satya Hangga Yudha menilai peran aktif generasi Z menjadi krusial bagi sektor energi nasional ke depan, khususnya menuju Indonesia ... [452] url asal
Jakarta (ANTARA) - Tenaga Ahli Menteri ESDM Satya Hangga Yudha menilai peran aktif generasi Z menjadi krusial bagi sektor energi nasional ke depan, khususnya menuju Indonesia Emas 2045.
"Mengingat energi merupakan fondasi vital bagi sektor industri, ekonomi, pendidikan, dan kesehatan, maka peran aktif gen Z sebagai inovator, profesional, akademisi, maupun pembuat kebijakan sangat krusial dalam menentukan arah kemandirian bangsa," ujarnya dalam keterangannya diterima di Jakarta, Senin.
Menurut dia, menuju momentum bersejarah 100 tahun Kemerdekaan RI pada visi Indonesia Emas 2045, target peningkatan pendapatan per kapita negara menjadi tidak berarti jika tidak diimbangi dengan pertumbuhan kualitas sumber daya manusia (SDM), yang unggul secara individu.
Ia melanjutkan sektor energi nasional, mulai dari industri minyak dan gas bumi, panas bumi, energi surya dan angin, hidrogen, hingga pengelolaan mineral kritis untuk rantai pasok kendaraan listrik, membuka peluang karier yang sangat luas bagi generasi muda.
Saat menjadi pembicara utama dalam perhelatan Education Festival Indonesia 2026 di Kemendiktisaintek, Jakarta, Minggu (21/6), Hangga memaparkan peta jalan strategis bagi generasi muda untuk bertransformasi menjadi calon pemimpin bangsa yang kompetitif di kancah global.
Ia pun mendorong generasi muda khususnya mahasiswa untuk mulai menyusun target capaian untuk jangka waktu 3, 5, hingga 10 tahun ke depan.
Langkah nyata tersebut dapat diinisiasi melalui keterlibatan aktif dalam organisasi, membangun jejaring profesional, magang, serta mencari mentor berpengalaman yang memiliki keselarasan visi dan misi.
"Dunia profesional memiliki budaya dan dinamikanya tersendiri yang sering kali tidak kita dapatkan di dalam ruang kelas perkuliahan. Ketimbang takut pada tantangan dan menganggapnya sebagai beban yang melelahkan, ubah cara pandang untuk melihat tantangan sebagai rintangan yang memacu diri menemukan solusi," jelasnya.
Ia menambahkan bahwa formula utama untuk menjadi pemimpin masa depan adalah kombinasi dari tiga pilar esensial, yakni pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill), dan karakter (character).
"Kompetensi teknis mungkin membuat kita diterima di suatu industri, namun integritas dan karakter kuatlah yang membuat kita dipercaya," ujar Hangga.
Lebih lanjut, Hangga menyoroti laju perubahan dunia yang bergerak jauh lebih cepat akibat intervensi artificial intelligence (AI) dan ekonomi digital.
Di lingkungan Kementerian ESDM, teknologi AI tingkat lanjut telah diadopsi secara nyata untuk memperkuat manajemen keselamatan kerja di lapangan hingga mendeteksi potensi kebocoran fasilitas kilang.
Tantangan pemerataan infrastruktur listrik dan internet yang masih dihadapi di berbagai daerah di Indonesia harus dijadikan pemacu bagi gen Z untuk terus berinovasi mengejar ketertinggalan teknologi global, sekaligus beradaptasi menghadapi dampak perubahan iklim dan pemanasan global melalui akselerasi energi baru dan terbarukan (EBT).
Hangga juga mengajak seluruh peserta untuk menerapkan prinsip learn, create, and shine, serta membangun personal branding dan reputasi positif melalui rekam jejak digital yang berintegritas.
"Generasi muda jangan takut gagal atau ragu melangkah keluar dari zona nyaman demi memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat dan kedaulatan NKRI," katanya.
Pewarta: Kelik Dewanto
Editor: Indra Arief Pribadi
Copyright © ANTARA 2026
Indonesia Emas 2045 Taruhannya: Ketika Pundak Gen Z Rapuh Tanpa Jangkar Moral
Data proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS) mengonfirmasi bahwa Generasi Z mendominasi struktur demografi Indonesia dengan proporsi mencapai 24,93 persen dari total... | Halaman Lengkap [1,239] url asal
#indonesia-emas #indonesia-emas-2045 #generasi-z #bonus-demografi
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 18/06/26 16:33
v/253583/
Penata Kependudukan dan Keluarga Berencana (Penata KKB) Ahli Madya Muktiani Asrie SuryaningrumIndonesia kini tengah berlayar di tengah ombak besar transformasi zaman yang menentukan. Sebagai negara dengan potensi bonus demografi yang melimpah, masa depan republik ini sepenuhnya digantungkan pada kualitas pundak generasi mudanya. Data proyeksi Badan Pusat Statistik (BPS) mengonfirmasi bahwa Generasi Z mendominasi struktur demografi Indonesia dengan proporsi mencapai 24,93 persen dari total populasi. Namun, perjalanan panjang menuju visi besar Indonesia Emas 2045 kini dibayangi oleh paradoks yang mencemaskan: krisis karakter, disorientasi moral, dan erosi budi pekerti yang akut di kalangan Gen Z dan Gen Alpha.
Kita sedang menyaksikan sebuah fenomena di mana anak-anak muda sangat lincah mengadopsi teknologi kecerdasan buatan, namun gagap dalam mengekspresikan empati dasar. Kecerdasan kognitif yang melesat tanpa ditopang oleh jangkar moral yang kokoh berisiko melahirkan ancaman sistemis. Menghadapi situasi ini, pembinaan karakter konvensional tidak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri atau sekadar menjadi pemadam kebakaran saat api masalah telanjur membesar. Kita membutuhkan pengentasan struktural yang holistik melalui sinkronisasi dan inovasi program kebijakan dari pemerintah.
Perubahan zaman membawa dampak bagi seluruh negara. Dengan adanya perubahan zaman, pola pikir manusiapun ikut berubah. Perubahan zaman membawa dampak positif maupun negatif. Perubahan ini terjadi karena adanya perubahan Globalisasi. Dahulu, moral anak Indonesia bisa diacungkan jempol. Dilihat dari tatakramanya, sopan santun dan tutur bahasanya yang baik. Tetapi kini, moral atau perilaku anak remaja di Indonesia sangat memprihatinkan. Banyak sekali perilaku-perilaku menyimpang yang kian marak terjadi di Indonesia. Permasalahan di Indonesia terkait program penguatan budi pekerti bagi generasi muda yang dapat menghalangi tercapainya Indonesia Emas 2045.
Krisis moral yang melanda generasi muda bukan sekadar kecemasan moralistik yang tanpa dasar. Statistik dari berbagai otoritas negara menyodorkan data yang wajib membuat kita terjaga. Laporan akhir tahun Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), sepanjang tahun 2025 secara resmi mencatat 2.031 kasus pelanggaran hak anak dan kekerasan. Angka ini mengalami kenaikan konstan sebesar 2 hingga 3 persen dibandingkan periode sebelumnya, menegaskan bahwa ekosistem perlindungan dan pembentukan watak anak di Indonesia masih berada dalam zona lampu kuning.
Fenomena penyimpangan karakter ini menyebar ke berbagai ranah. KPAI menyoroti lonjakan kasus perundungan (bullying) fisik dan psikis di sekolah, madrasah, bahkan pesantren, termasuk fenomena tragis anak-anak yang mengakhiri hidupnya akibat tekanan di lingkungan pendidikan. Saat data menunjukkan 9 persen ayah kandung dan 8,2 persen ibu kandung justru menjadi pelaku kekerasan terhadap anak mereka sendiri.
Sementara di ruang siber, data Kementerian Komunikasi dan Digital mengonfirmasi bahwa 48 persen anak Indonesia pernah menjadi korban perundungan siber (cyberbullying). Krisis ini berkelindan erat dengan jeratan lingkaran destruktif lainnya, seperti maraknya keterlibatan remaja dalam judi online, paparan pornografi, budaya instan, hingga fenomena peka sosial yang luntur.
Pengentasan Krisis Karakter pada Generasi Muda
Mengatasi krisis karakter dan memutus rantai kemiskinan struktural pada generasi muda (khususnya Gen Z dan Alpha). Strategi ini menekankan bahwa kerentanan sosial dan ekonomi tidak dapat diselesaikan secara parsial, melainkan harus diintervensi secara terintegrasi melalui pilar-pilar lingkungan utama yang membentuk kehidupan seseorang. Akar persoalan karakter bersifat multidimensi, sehingga penyelesaiannya wajib mengorkestrasikan pintu masuk utama yang secara bergantian membentuk cara berpikir, bersikap, dan bertindak generasi muda.
Pengentasan krisis karakter pada generasi muda yang pertama adalah ekosistem keluarga. Lingkungan keluarga merupakan fondasi paling awal dalam struktur psikologis anak. Mengingat tingginya persentase kekerasan domestik, pengasuhan beracun (toxic parenting) harus diputus. Orang tua wajib menggeser fokus dari sekadar pemenuhan materi menjadi penyedia keteladanan konkret. Internalisasi nilai kejujuran, pembatasan gawai secara disiplin, dan pembiasaan meminta maaf saat salah harus ditegakkan di bawah atap rumah melalui jalinan komunikasi yang empati.
Kedua yaitu ekosistem satuan pendidikan, habituasi integritas tanpa kompromi. Habituasi integritas tanpa kompromi merupakan proses pembentukan kebiasaan secara sadar, konsisten, dan berulang-ulang untuk selalu bersikap jujur, selaras antara ucapan dan perbuatan, serta teguh mempertahankan prinsip moral-etika tanpa celah toleransi sedikit pun terhadap pelanggaran. Istilah ini menggabungkan tiga konsep utama yang saling menguatkan, yaitu proses pembiasaan (habituasi), keselarasan moral (integritas), dan ketegasan mutlak (tanpa kompromi).
Lingkungan sekolah tidak boleh terjebak menjadi menara gading yang hanya mengejar nilai ujian kognitif. Sekolah tidak boleh sekadar menjadi pabrik nilai ujian akademis. Sesuai dengan esensi kurikulum satuan pendidikan harus mentransformasi diri menjadi laboratorium habituasi karakter.
Nilai budi pekerti tidak boleh hanya dihafal demi kelulusan ujian materi Pancasila atau Agama, melainkan diintegrasikan ke dalam seluruh iklim pembelajaran. Ini mencakup sanksi tegas bebas nepotisme terhadap plagiarisme, penguatan sistem deteksi dini perundungan di sekolah, serta penempatan guru sebagai figur pamong yang mengedepankan keteladanan. Budaya sekolah harus tegas menolak kecurangan akademik dan mengedepankan keteladanan guru sebagai figur pamong.
Untuk yang ketiga melalui ekosistem masyarakat, mengaktifkan kembali kontrol sosial kolektif. Krisis moral diperparah oleh sikap apatis lingkungan sekitar yang cenderung bersikap bukan urusan saya. Masyarakat harus kembali mengaktifkan fungsi kontrol sosial kolektifnya. Budaya komunal luhur seperti "saling menjaga antar-tetangga" yang sempat tergerus arus modernisasi harus dihidupkan kembali untuk mengikis sikap individualistis.
Masyarakat perlu menyediakan ruang publik yang aman dan positif bagi remaja. Menghidupkan kembali ruang-ruang interaksi positif. Mengaktifkan karang taruna modern, sanggar budaya lokal, dan komunitas olahraga kepemudaan menjadi strategi krusial untuk mengalihkan energi berlebih remaja dari aktivitas destruktif jalanan seperti tawuran dan balap liar. Masyarakat harus menjadi lingkungan yang aman, yang berani menegur dengan santun saat melihat penyimpangan remaja di ruang publik.
Selanjutnya yang keempat adalah ekosistem lingkungan ibadah sebagai jangkar spiritual yang kontekstual. Rumah ibadah baik masjid, gereja, pura, vihara, maupun klenteng memegang peran penting sebagai penyuplai nilai moral keimanan. Namun, pendekatan bimbingan keagamaan bagi Gen Z dan Alpha tidak boleh lagi bersifat doktriner kaku yang intimidatif.
Tokoh-tokoh agama sebagai pengelola rumah ibadah harus mampu mengemas internalisasi nilai ketakwaan secara dialogis, kontekstif, bersahabat, bukan doktrinal yang kaku. Relevan dengan dilema kehidupan modern remaja, sehingga menjadi imunitas internal. Ketika nilai ketakwaan dan toleransi telah mengakar kuat di dalam jiwa pemuda, mereka akan memiliki benteng internal yang kokoh untuk menolak paparan radikalisme maupun paham hedonisme ekstrem.
Terakhir yang kelima adalah ekosistem ruang digital: garis depan literasi berbasis moral. Ruang digital, garis depan literasi baru dengan tingkat penetrasi internet Indonesia yang masif, ruang digital kini menjelma menjadi ruang kelas kedua bagi generasi muda. Di sinilah pertempuran karakter yang sesungguhnya terjadi. Strategi pengentasan pada ekosistem ini wajib menyentuh aspek literasi digital yang berbasis moral (netiket).
Selain itu, regulasi digital yang tegas dan sistem moderasi konten yang proaktif dari regulator menjadi harga mati untuk melindungi anak-anak dari paparan judi online, pornografi, dan ujaran kebencian. Masyarakat dan kreator konten harus berkolaborasi secara masif untuk membanjiri lini masa dengan konten-konten edukatif demi mengimbangi banjir narasi toksik di ruang siber. Kita membutuhkan gerakan bersama untuk membanjiri lini masa dengan konten-konten edukatif dan inspiratif guna mengimbangi narasi toksik.
Menyelamatkan karakter generasi muda tidak bisa diselesaikan dengan jargon politik atau sekadar statistik kemajuan di atas kertas. Krisis ini menuntut kerja kolaboratif yang tersinkronisasi antara orang tua di rumah, guru di sekolah, tokoh agama di rumah ibadah, warga di lingkungan tetangga, hingga para kreator di ruang siber.
Hanya dengan orkestrasi yang kokoh antara keteladanan orang tua di rumah, ketegasan nilai di sekolah, kepedulian warga di masyarakat, jangkar moral di rumah ibadah, serta regulasi inovatif pemerintah di ruang digital, kita dapat memastikan bahwa jutaan pemuda yang kita miliki hari ini akan tumbuh menjadi tulang punggung bangsa yang kokoh, berintegritas, dan membawa Indonesia memimpin dunia dengan martabat yang luhur. Jutaan pemuda Indonesia akan tumbuh menjadi generasi emas yang cerdas sekaligus mulia budi pekertinya.
Penulis: Muktiani Asrie Suryaningrum, S.Sos., MPH
Penata Kependudukan dan Keluarga Berencana (Penata KKB) Ahli Madya,
Pengurus Pusat Koalissi Kependudukan Indonesia (KKI) dan,
Pengurus Pusat Ikatan Praktisi dan Ahli Demografi Indonesia (IPADI)
Menkomdigi Ajak Generasi Muda Jadi Duta Internet Sehat dan Lawan Kejahatan Digital
Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengajak generasi muda menjadi duta internet sehat dan berperan aktif menciptakan ruang digital yang lebih... | Halaman Lengkap [881] url asal
#menkomdigi #meutya-hafid #era-digital #generasi-muda-indonesia #badan-narkotika-nasional-bnn
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 14/06/26 13:20
v/249604/
JAKARTA - Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid mengajak generasi muda menjadi duta internet sehat dan berperan aktif menciptakan ruang digital yang lebih beretika. Ajakan tersebut disampaikan di tengah meningkatnya penyebaran hoaks, ujaran kebencian, konten provokatif, serta beragam bentuk kejahatan digital di media sosial.Dalam kegiatan Kumpul Komunitas Waspada Kejahatan Digital di Medan, Sabtu, 13 Juni 2026, Meutya menegaskan pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dalam menjaga ruang digital. Menurutnya, sebagian besar aktivitas penggunaan internet berlangsung secara personal dan berada di ruang privat masyarakat, sehingga membutuhkan partisipasi aktif publik, terutama generasi muda.
Meutya menekankan pentingnya peran komunitas muda dalam membangun ruang digital yang aman, beretika, dan bebas dari hoaks, ujaran kebencian, narkoba, serta kejahatan siber. “Kami mohon dibantu. Bagaimana adik-adik menjadi duta-duta untuk internet yang lebih baik, internet yang lebih sehat,” ujar Meutya.
Meutya menjelaskan, perkembangan teknologi digital membawa banyak manfaat bagi masyarakat, mulai dari perluasan akses informasi, pendidikan, ekonomi, hingga jejaring sosial. Namun, manfaat tersebut dapat berubah menjadi risiko apabila internet tidak digunakan secara bijak.
Meutya menilai ruang digital saat ini semakin dipenuhi konten yang mengandung hujatan, kebencian, fitnah, serta informasi tidak benar. Fenomena tersebut, lanjut Meutya, tidak terlepas dari cara kerja algoritma platform digital yang cenderung mendorong konten kontroversial karena lebih banyak menarik perhatian pengguna.
“Internet itu seperti pisau bermata dua. Banyak manfaatnya, tetapi juga banyak dampak buruknya jika tidak digunakan dengan bijak,” katanya.
Lihat video: Batasi Anak-anak Akses Medsos, Meutya Hafid Bicara Kemungkinan Pemerintah Terbitkan PP
Meutya juga mengingatkan ketergantungan terhadap media sosial dapat mengurangi minat generasi muda untuk berorganisasi dan berinteraksi secara langsung di masyarakat. Padahal, menurutnya, keterlibatan dalam komunitas dan organisasi merupakan ruang penting untuk membangun kepedulian sosial, daya kritis, dan tanggung jawab bersama.
Dalam kesempatan tersebut, Meutya turut menyinggung gangguan layanan Instagram yang sempat terjadi di sejumlah negara. Meutya menyebut, saat gangguan terjadi, muncul berbagai narasi menyesatkan yang mengaitkan persoalan teknis tersebut dengan kebijakan pemerintah. “Tidak betul Instagram ditutup. Gangguan itu terjadi di banyak negara di dunia, termasuk Amerika Serikat, Eropa, dan sejumlah negara ASEAN,” ujarnya.
Karena itu, Meutya mengimbau masyarakat agar tidak mudah mempercayai informasi yang beredar di media sosial tanpa melakukan verifikasi terlebih dahulu. Ia menekankan pentingnya literasi digital agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh hoaks maupun narasi provokatif yang sengaja disebarkan untuk menyesatkan publik.
Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi Sumatera Utara (BNNP Sumut) Brigjen Pol. Tatar Nugroho, yang diwakili Penyidik Madya BNNP Sumut Kombes Pol. M. Fadris Sangun Ratu Lana, mengingatkan perkembangan teknologi digital kini juga dimanfaatkan oleh jaringan peredaran narkotika untuk memperluas operasi mereka.
Menurutnya, transaksi narkoba saat ini tidak lagi harus dilakukan secara tatap muka. Para pelaku memanfaatkan media sosial, aplikasi digital, hingga berbagai platform daring untuk menghindari pengawasan aparat penegak hukum. “Kalangan muda menjadi sasaran utama para bandar narkoba,” katanya.
Ia menjelaskan, pelaku bahkan memanfaatkan komunitas digital dan game online untuk membangun kedekatan dengan calon pengguna sebelum melakukan pendekatan yang mengarah pada penyalahgunaan narkoba. Karena itu, pengawasan orang tua terhadap aktivitas anak di internet serta kepedulian antarteman sebaya menjadi bagian penting dalam upaya pencegahan.
BNN juga mengajak masyarakat menerapkan prinsip “Tiga Berani”, yakni berani menolak ajakan menggunakan narkoba, berani melapor jika mengetahui adanya penyalahgunaan atau peredaran narkoba, serta berani menjalani rehabilitasi bagi korban penyalahgunaan narkotika.
Kasubdit Ditressiber Polda Sumut AKBP Anggi A.P. Siahaan mengatakan perkembangan teknologi telah mengubah pola kejahatan menjadi semakin kompleks. Menurutnya, kemajuan peradaban selalu diikuti perubahan bentuk kejahatan yang harus diantisipasi secara serius.
“Crime is the shadow of civilization atau kejahatan adalah bayang-bayang peradaban. Semakin maju suatu peradaban, semakin kompleks pula kejahatan yang menyertainya,” ujarnya.
Anggi menjelaskan, tingginya penggunaan internet di Indonesia turut meningkatkan berbagai risiko kejahatan siber, mulai dari kebocoran data pribadi, penipuan daring, peretasan, hingga perjudian daring. Dunia siber yang bersifat tanpa batas membuat ancaman terhadap privasi dan keamanan data semakin besar.
Ia menambahkan, data hasil peretasan dapat diperjualbelikan melalui berbagai platform digital. Karena itu, Direktorat Siber Polda Sumut terus melakukan patroli siber untuk memantau dan menindak aktivitas maupun konten ilegal yang berpotensi melanggar hukum di ruang digital.
Miss Supranational Global Asia 2026 Nisa Ridania Harahap turut membagikan pengalaman dan tips praktis mengenai pentingnya menjaga keamanan akun digital serta bijak dalam menggunakan media sosial. Ia mendorong generasi muda untuk lebih berhati-hati dalam membagikan data pribadi, memperkuat keamanan akun, dan tidak ikut menyebarkan informasi yang belum terverifikasi.
Melalui kegiatan ini, pemerintah bersama unsur penegak hukum, BNN, komunitas, dan figur muda mengajak masyarakat memperkuat budaya literasi digital. Ruang digital yang sehat tidak hanya dibangun melalui regulasi dan pengawasan, tetapi juga melalui kesadaran, etika, dan partisipasi aktif setiap pengguna internet.
Sebagai penutup rangkaian kegiatan, seluruh peserta bersama komunitas yang hadir membacakan Deklarasi Anti Kejahatan Digital sebagai bentuk komitmen bersama dalam menciptakan ruang digital yang aman, sehat, dan bertanggung jawab. Deklarasi tersebut menegaskan pentingnya meningkatkan literasi digital, mengikuti perkembangan teknologi secara bijak, serta meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai bentuk kejahatan digital yang semakin berkembang.
Usai pembacaan deklarasi, dokumen deklarasi yang telah ditandatangani oleh perwakilan berbagai komunitas yang hadir diserahkan secara simbolis kepada Menteri Komunikasi dan Digital.
Penyerahan ini menjadi simbol dukungan dan komitmen bersama antara pemerintah dan masyarakat dalam memperkuat upaya pencegahan kejahatan digital serta membangun ekosistem digital yang aman bagi seluruh masyarakat Indonesia.
Melalui kegiatan tersebut, pemerintah, aparat penegak hukum, dan berbagai komunitas diharapkan dapat memperkuat kolaborasi dalam menciptakan ruang digital yang aman, sehat, dan bebas dari kejahatan siber maupun penyalahgunaan narkotika.
Pemilu 2029 Didominasi Pemilih Muda, PKB Jabar Siapkan Ribuan Pengurus Muda
DPW PKB Jawa Barat melakukan langkah strategis menyongsong Pemilu 2029 dengan menggelar PKB Jabar Fest di Kota Bandung, pada Minggu, (14.6.2026) mendatang. DPW... | Halaman Lengkap [527] url asal
#pkb #partai-politik #generasi-muda #pemilih-muda #pemilu-2029
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 12/06/26 15:46
v/248459/
JAKARTA - DPW Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jawa Barat melakukan langkah strategis menyongsong kontestasi politik di Pemilu 2029. Memanfaatkan momentum gelaran akbar PKB Jabar Fest yang akan dilaksanakan pada Minggu, (14/6/2026 di Youth Centre Arcamanik, Kota Bandung, mereka siap mengukuhkan ribuan pengurus muda dari seluruh pelosok wilayah.Ketua DPW PKB Jawa Barat, Syaiful Huda mengungkapkan dalam perhelatan politik 2029, konstelasi pemilih diproyeksikan bakal didominasi oleh generasi muda dari kalangan milenial dan Gen Z. Menurutnya pembacaan serta respons terhadap aspirasi dan kepentingan pemilih muda hanya akan berjalan tepat dan efektif jika diarsiteki langsung oleh para pengurus yang juga berasal dari kalangan muda.
"Anak muda itu paling tahu cara berkomunikasi dengan sesama anak muda. Kalau pemilih di 2029 nanti mayoritas diisi Gen Z dan milenial, maka tidak ada cara lain selain memercayakan mesin partai ini dipegang oleh anak muda juga. Kami tidak ingin sekadar mengklaim ramah anak muda, tapi kami berikan kunci dapurnya langsung kepada mereka," ujarnya, Jumat (12/6/2026).
Agenda pelantikan atau inagurasi massal ini akan melibatkan pengurus Dewan Pimpinan Anak Cabang (DPAC) yang mengomandoi struktur partai di level kecamatan. Saat ini, tercatat ada sekitar 627 DPAC PKB yang tersebar di seluruh wilayah Jawa Barat.
Menariknya, seluruh jajaran kepengurusan tersebut kini diisi oleh anak-anak muda, menyusul adanya kebijakan berani dari DPW PKB Jawa Barat yang membatasi usia maksimal pengurus DPAC di angka 35 tahun.
Huda mengakui bahwa penerapan pembatasan umur ini bukanlah perkara mudah dan sempat memicu resistensi dari sejumlah aktivis senior di internal partai. Kendati demikian, melalui pendekatan persuasif, kebijakan tersebut akhirnya dapat diterima demi menjamin keberlanjutan regenerasi partai.
Struktur organisasi perlu melakukan adaptasi atau adjustment dengan situasi kekinian agar dinamika di masyarakat dapat direspons secara cepat oleh energi progresif anak-anak muda.
"Awalnya banyak senior yang gelisah dan ragu. Itu wajar. Tapi saya yakinkan, politik hari ini butuh sat-set dan kecepatan adaptasi. Anak-anak muda usia di bawah 35 tahun ini punya energi itu. Mereka bukan menyingkirkan yang senior, melainkan melanjutkan tongkat estafet perjuangan dengan cara-cara baru yang lebih relevan dengan tantangan zaman," tambah Huda.
Terbentuknya gerbong kepengurusan baru di 627 kecamatan ini tidak terjadi secara instan, melainkan melalui proses rekrutmen yang sangat ketat. PKB Jabar menerapkan proses uji kelayakan (fit and proper test) untuk memastikan setiap anak muda memiliki kesadaran penuh atas pilihan politik mereka.
Hasil uji kelayakan tersebut menunjukkan fakta menarik bahwa mayoritas anak muda ini memilih berpartai bukan sekadar demi mengejar kekuasaan melalui Pemilu, melainkan karena kesadaran bahwa partai politik merupakan ruang strategis yang memiliki daya jangkau besar untuk berkiprah demi kepentingan masyarakat luas.
"Banyak yang mengira anak muda zaman sekarang apatis pada politik. Lewat uji kelayakan kemarin, kami justru menemukan kenyataan sebaliknya. Mereka rindu terlibat dalam perubahan publik. Mereka sadar, mengkritik dari luar saja tidak cukup, mereka ingin masuk ke dalam sistem untuk membawa manfaat nyata bagi orang banyak," tegas Huda.
Melalui perhelatan PKB Jabar Fest yang juga akan dihadiri oleh Ketua Umum DPP PKB Gus Muhaimin Iskandar ini, PKB Jabar ingin menegaskan pesan kuat kepada publik. Inagurasi DPAC ini diposisikan sebagai tonggak kesiapan serta mesin penggerak utama bagi ribuan pengurus muda di tingkat akar rumput untuk mengonsolidasikan kekuatan dan memenangkan PKB pada Pemilu 2029 mendatang.
Generasi Hijau dari Lereng Merapi: Pemuda Boyolali Pimpin Masa Depan Peternakan Berkelanjutan
Di tengah tantangan pemulihan ekonomi dan krisis iklim yang kian nyata, ChildFund Internasional di Indonesia bersama Yayasan Keluarga Sejahtera Boyolali (YKSB)... | Halaman Lengkap [521] url asal
#gunung-merapi #usaha-peternakan #generasi-muda #pemuda #boyolali
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 10/06/26 23:14
v/246564/
BOYOLALI - Di tengah tantangan pemulihan ekonomi dan krisis iklim yang kian nyata, ChildFund Internasional di Indonesia bersama Yayasan Keluarga Sejahtera Boyolali (YKSB) meluncurkan Green Recovery Initiative (GRI). Sebuah program yang mengubah peternakan domba dan kambing di Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, menjadi model bisnis hijau modern yang digerakkan oleh orang muda."Pemulihan ekonomi dan pemulihan lingkungan perlu berjalan seiring. Melalui GRI, ChildFund Internasional di Indonesia mendorong kewirausahaan anak muda, penurunan emisi, dan penguatan rantai nilai ekonomi hijau secara terpadu," ujar Meinrad Indra Cahya, Senior Specialist-Livelihood ChildFund Internasional di Indonesia.
Program Manager YKSB Ahmad Luthfy Mubarok mengatakan, GRI dirancang sebagai proses jangka menengah–panjang yang menempatkan masyarakat, termasuk pemuda, sebagai bagian penting dari perubahan. “Kami percaya dengan semangat kebersamaan, GRI tidak hanya memperkuat ketahanan ekonomi, tetapi juga menumbuhkan harapan baru bagi generasi mendatang," ungkapnya.
Wujud konkret dari GRI di tingkat komunitas adalah Agro Lestari Muda, kelompok ternak yang didirikan pada tahun 2024 dan dikelola orang muda Desa Suroteleng. Kelompok ini menjalankan sistem peternakan terintegrasi yang mencakup produksi pakan konsentrat mandiri, manajemen kandang panggung higienis, pengelolaan limbah menjadi pupuk organik bernilai ekonomi, serta penerapan sistem rainwater harvesting untuk efisiensi penggunaan air.
"Green business bagi kami berarti tidak ada limbah yang dibuang. Semua harus kembali menjadi nilai ekonomi," ujar Rinto, Direktur Agro Lestari Muda.
Program ini menjadi bukti bahwa desa dapat tumbuh menjadi pusat ekonomi baru apabila potensi lokalnya dikelola dengan strategi yang tepat.
Program GRI telah memberikan dampak yang dirasakan di berbagai lapisan. Di tingkat individu, orang muda seperti mahasiswi bernama Hanum memperoleh keterampilan teknis beternak, memahami pengelolaan limbah sebagai peluang bisnis, dan meningkatkan kesadaran terhadap isu perubahan iklim.
"Program ini membuat saya jauh lebih disiplin dan membuka wawasan saya bahwa peternakan modern bisa dikelola secara bersih, teratur, dan ramah lingkungan," ucapnya.
Di tingkat komunitas, Karang Taruna Desa Suroteleng dilibatkan aktif dalam pembuatan pakan ternak, studi banding ke peternakan modern, serta pengelolaan limbah kotoran ternak menjadi sumber pendapatan.
Peternak konvensional seperti Ari Nugroho pun bertransformasi. Kini dia mampu memproduksi pakan konsentrat dan mengelola limbah menjadi pupuk organik bernilai jual. "Rasanya bangga bisa bekerja profesional di desa sendiri sambil menjaga lingkungan," katanya.
Keberhasilan GRI didukung oleh kolaborasi erat antara ChildFund Internasional di Indonesia, YKSB, Karang Taruna Desa Suroteleng, Dinas Peternakan Kabupaten Boyolali (Disnakkan), serta komunitas lokal. Kunjungan Disnakkan ke Kandang Agro Lestari Muda membuka peluang jejaring antara praktik baik di tingkat desa dengan sistem pendukung di tingkat kabupaten, termasuk akses pasar dan layanan kesehatan hewan melalui UPT Puskeswan.
Pemerintah daerah melalui Bapperida Boyolali turut menyambut program ini. "Kami sangat mendukung kegiatan ini karena tujuannya menyejahterakan masyarakat dan menambah perekonomian. Ke depan sosialisasi kepada anak-anak muda perlu diperkuat karena peluangnya sangat besar," ujar Arif, perwakilan Bapperida Boyolali.
GRI juga membuktikan bahwa pemulihan ekonomi pascapandemi tidak harus mengorbankan lingkungan. Dengan memadukan penguatan kapasitas teknis, pengembangan model bisnis berkelanjutan, dan pemberdayaan orang muda sebagai aktor utama, program ini meletakkan fondasi bagi ekonomi desa yang lebih tangguh dan inklusif.
Ke depan, ChildFund Internasional di Indonesia bersama YKSB berharap model Agro Lestari Muda dapat menjadi rujukan dan direplikasi di wilayah lain sekaligus terus berkembang sebagai pusat pembelajaran, ekowisata berbasis peternakan, serta motor penggerak ekonomi desa yang berkelanjutan.
Kolaborasi Generasi Muda Jadi Penggerak Perubahan Lingkungan
Menyambut Hari Lingkungan Hidup Sedunia, pengelolaan sampah mulai menyasar perguruan tinggi. Langkah baik ini sebagai komitmen dalam menjaga bumi tetap pertiwi.... | Halaman Lengkap [385] url asal
#lingkungan #lingkungan-hidup #kolaborasi #generasi-muda
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 10/06/26 20:29
v/246460/
JAKARTA - Menyambut Hari Lingkungan Hidup Sedunia, pengelolaan sampah mulai menyasar perguruan tinggi. Langkah baik ini sebagai komitmen dalam menjaga bumi tetap pertiwi.Berlokasi di Universitas Bakrie, peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia dengan tema "Inspired by Nature. For Climate. For Our Future," yang dilakukan sejumlah perusahaan ini mengusung kampanye "Waste Wise Campus: Dari Kampus untuk Bumi".
Talkshow edukatif mempertemukan sejumlah akademisi, industri, dan komunitas dengan tema "Membangun Kesadaran dan Kolaborasi Generasi Muda untuk Pengelolaan Sampah Berkelanjutan" dilakukan sebagai tantangan pengelolaan dan mengubah perilaku masyarakat terhadap sampah.
Andrew Ferdinand Hallatu, Head of Corporate Public Relations PT Indofood Sukses Makmur Tbk melihat perubahan akan dapat tercipta melalui kontribusi nyata setiap elemen dalam sebuah ekosistem.
Karena itu, semangat yang terinspirasi dari alam ini menjadi pembelajaran bagi kita bahwa tantangan lingkungan juga membutuhkan sinergi positif, termasuk dunia industri, akademisi, komunitas, pemerintah, dan masyarakat.
"Kampus tidak hanya menjadi tempat lahirnya gagasan, tetapi juga wadah untuk menumbuhkan kebiasaan yang dapat memberikan dampak positif," ujarnya, Selasa (9/6/2026).
Andrew melihat kampus sebagai motor penggerak dalam mendukung kebijakan pengelolaan sampah berkelanjutan sebagai pusat pendidikan dan pengembangan karakter masa depan bangsa.
Inisiatif ini juga hadir sejalan dengan semakin kuatnya komitmen pemerintah, termasuk Pemprov DKI Jakarta yang tengah memperkuat implementasi pemilahan sampah dari sumber sebagai langkah mendasar dalam sistem pengelolaan sampah berkelanjutan.
Kaprodi Teknik Lingkungan Aqil Azizi mengatakan sebagai institusi pendidikan, pihaknya percaya bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.
"Kami ingin ikut membangun budaya peduli lingkungan dimulai dari kampus dan dijalankan bersama-sama dengan para pelaku industri serta komunitas sebagai bagian dari gerakan kolektif untuk masa depan yang lebih berkelanjutan,” ucapnya.
Tidak berhenti pada ruang diskusi, inisiator juga memberikan Dropbox Sampah Kemasan (DSK) sebagai wujud aksi nyata di lingkungan kampus. Ini memudahkan mahasiswa mempraktikkan pemilahan sampah dari sumber.
Founder Green Movement Indonesia Tasya Kamila menambahkan Waste Wise Campus merupakan gerakan kolaboratif yang mendorong generasi muda mengambil peran aktif dalam menciptakan perubahan lingkungan yang berkelanjutan.
Menurut dia, mahasiswa memiliki kekuatan untuk menjadi penggerak perubahan tidak hanya di kampus, tetapi juga di keluarga dan masyarakat. "Ketika generasi muda, kampus, industri, dan komunitas bergerak bersama, kita tidak hanya membangun kesadaran, tetapi juga menciptakan budaya peduli lingkungan yang dapat bertahan dalam jangka panjang. Pada akhirnya masa depan bumi yang lebih baik dimulai dari aksi nyata yang kita lakukan hari ini,” ujar Tasya.
#50 tag sepekan
Warning: file_get_contents(): php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: file_get_contents(http://ekbis.blog/adminv2/tag7day.json): Failed to open stream: php_network_getaddresses: getaddrinfo for ekbis.blog failed: Name or service not known in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 54
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56