Bisnis.com, JAKARTA — Preferensi Milenial hingga Generasi Z dalam menentukan pilihan tempat tinggal atau hunian mulai bergeser ke kawasan sub urban yang menawarkan hunian lebih terjangkau, dengan akses transportasi yang baik serta fasilitas kawasan yang memadai.
Marketing Director Agung Podomoro, Yenti Lokat mengatakan bagi pembeli rumah pertama, keseimbangan antara harga yang terjangkau, aksesibilitas, potensi kenaikan nilai properti dan rekam jejak pengembang menjadi pertimbangan utama dalam memilih hunian.
"Saat ini masyarakat semakin rasional dalam mengelola keuangan dan lebih memprioritaskan pemenuhan kebutuhan utama, termasuk memiliki rumah yang tidak hanya berfungsi sebagai tempat tinggal tetapi juga sebagai aset jangka panjang," kata Yenti dalam keterangannya, Kamis (19/3/2026).
Dia menambahkan tren ini juga tecermin dari sejumlah riset properti yang menunjukkan bahwa minat terhadap rumah tapak di kawasan penyangga kota besar masih akan terus meningkat.
Leads Property Services Indonesia memproyeksikan permintaan rumah tapak akan tumbuh sekitar 5–6% pada 2026, didorong insentif pemerintah seperti pajak pertambahan nilai ditanggung pemerintah (PPN DTP) serta suku bunga yang lebih kompetitif.
Sementara itu, CEO ERA Indonesia Darmadi Darmawangsa menyebut saat ini, banyak masyarakat terutama Milenial dan Gen Z yang masih ragu untuk membeli rumah. Sebagian bahkan memilih untuk menyewa hunian.
Menurutnya, jika keputusan membeli rumah terlalu lama ditangguhkan sementara harga properti terus meningkat, maka akan semakin sulit untuk mengejar kenaikan harga tersebut di masa depan.
“Nilai rupiah bisa tergerus oleh inflasi. Jika tidak dikonversikan ke dalam aset riil seperti properti, nilainya dapat semakin melemah. Properti menjadi salah satu aset yang relatif lebih terlindungi terhadap inflasi,” jelasnya.
Darmadi menambahkan, saat ini harga properti yang ditawarkan pengembang dinilai masih belum sepenuhnya mengikuti kenaikan nilai dolar yang cukup tinggi. Kondisi tersebut membuka peluang bagi masyarakat untuk memiliki aset properti dengan potensi kenaikan nilai di masa depan.
Yenti mengatakan APLN memiliki Kota Podomoro Tenjo dengan menghadirkan Midori at Cluster Mahogany yang mengusung nuansa hunian bergaya Jepang. Klaster terbaru ini dirancang untuk menjawab kebutuhan masyarakat urban dengan harga mulai dari Rp270 jutaan per unit.
Dia menjelaskan Kota Podomoro Tenjo dikembangkan di atas lahan lebih dari 650 hektare. Saat ini pihaknya sudah membuka 10 cluster dan secara total pengembangannya telah berjalan seluas 150 hektare.
“Hingga saat ini sekitar 5.400 unit rumah telah kami serah terimakan dan sekitar 1.000 unit di antaranya telah dihuni,” ujarnya.