Bisnis.com, JAKARTA — Emiten jasa keamanan siber, PT ITSEC Asia Tbk. (CYBR), bersama Asosiasi Digitalisasi dan Keamanan Siber Indonesia (ADIGSI) mendorong pelaku industri untuk mengadopsi matrik risiko keamanan siber guna mengetahui langkah konkret dalam menjaga sistem perusahaan dari serangan.
Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) mendeteksi lebih dari 5,16 miliar anomali trafik di ruang digital Indonesia sepanjang tahun lalu.
Fenomena ini memicu urgensi peralihan fokus industri, dari yang semula sekadar melakukan upaya pencegahan konvensional kini wajib menguasai tata cara merespons insiden secara cepat dan terukur.
President Director ITSEC Asia, Patrick Dannacher, mengungkapkan eskalasi ancaman siber saat ini sudah menyentuh level kritis sehingga wajib menjadi agenda pembahasan utama di tingkat direksi perusahaan.
Ketika sebuah insiden terjadi, tegasnya, dampaknya bisa meluas ke operasional bisnis, layanan kepada pelanggan, hingga reputasi organisasi.
“Karena itu, kesiapan menghadapi krisis siber tidak bisa hanya menjadi tanggung jawab tim IT saja. Para pengambil keputusan juga perlu memahami bagaimana merespons situasi tersebut dengan cepat dan tepat," ujar Patrick, dikutip Sabtu (27/6/2026).
Melalui program bertajuk Gerakan Nasional Ketahanan Siber (GNKS) 2026 ini, para pemimpin perusahaan tidak sekadar mendengarkan paparan teori, melainkan langsung dilibatkan dalam Executive Tabletop Exercise.
Metode interaktif ini membimbing jajaran manajemen melalui lima fase simulasi, mulai dari pemetaan konteks ancaman, penyusunan mitigasi bencana, hingga simulasi pengambilan keputusan krusial di tengah krisis.
Formulasi taktis tersebut sengaja disusun agar para pelaku industri memperoleh dokumen panduan konkret yang dapat diimplementasikan langsung di internal perusahaan masing-masing.
Output kepelatihan mencakup matriks risiko penentu prioritas pengamanan (Security Flow), konsep cetak biru alur otentikasi data (Security Design Concept), serta indikator penilaian kompetensi internal (Security Skills Assessment).
Pada kesempatan yang sama, Deputi Keamanan Siber dan Sandi Perekonomian BSSN, Slamet Aji Pamungkas, menilai peningkatan kapabilitas taktis para pemangku kepentingan di daerah merupakan pilar utama dalam menjaga stabilitas makroekonomi berbasis digital.
"Pemanfaatan teknologi digital yang semakin luas perlu diimbangi dengan peningkatan kemampuan dalam menghadapi berbagai risiko siber. Upaya ini membutuhkan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan agar ruang digital Indonesia dapat tumbuh secara sehat, aman, dan terpercaya," tutur Slamet.
Sementara itu, Ketua Umum ADIGSI, Firlie Ganinduto, menambahkan pemilihan Makassar sebagai lokasi roadshow kedua setelah Banten didasari oleh posisi wilayah ini sebagai hub pertumbuhan ekonomi utama di kawasan timur Indonesia. Kolaborasi ini dijadwalkan berlanjut ke beberapa kota besar lain seperti Pontianak, Bali, Yogyakarta, hingga Medan sepanjang tahun ini.