Jakarta (ANTARA) - Studi program Sustainable Energy Transition in Indonesia (SETI) menemukan kepatuhan pelaporan manajemen energi bangunan gedung masih rendah, sehingga berpotensi menghambat upaya efisiensi energi dan penurunan emisi sektor bangunan.
Project Manager SETI dari Institute for Essential Services Reform (IESR) Malindo Wardana mengatakan dari 5.430 bangunan yang wajib melapor ke sistem pelaporan manajemen energi pemerintah, baru 90 atau sekitar 1,6 persen bangunan yang memenuhi ketentuan.
“Ketika pelaporan minim, data konsumsi energi tidak dapat dikelola dengan baik. Pelaporan adalah fondasi kebijakan efisiensi energi,” katanya dalam Diskusi dan Paparan Hasil Audit Energi di Industri dan Konsumsi Energi Bangunan Gedung di Jakarta, Kamis.
Ia menuturkan sektor bangunan menyerap 23 persen konsumsi energi nasional pada 2021 dan diproyeksikan meningkat mendekati 40 persen pada 2030 seiring ekspansi aktivitas komersial dan fasilitas publik.
Selain rendahnya pelaporan manajemen energi, ia menyebut jumlah bangunan bersertifikat gedung hijau juga masih terbatas. Padahal, bangunan yang telah bersertifikasi menunjukkan penghematan energi sekitar 20–68 persen. Namun, realisasi penerapan bangunan hijau secara nasional dinilai masih jauh dari target luasan bangunan hijau pada 2030 yang ditetapkan pemerintah
Malindo menilai diperlukan insentif dan kemudahan pembiayaan agar pemilik bangunan terdorong berinvestasi dalam pengelolaan energi dan teknologi rendah karbon.
“Investasi efisiensi energi dan energi surya akan meningkatkan daya saing sekaligus membantu pencapaian target emisi,” ujarnya.
Menurut Malindo, bangunan gedung publik maupun komersial juga memiliki potensi Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) atap yang signifikan apabila diadopsi lebih luas sebagai sumber energi terbarukan tambahan.
Untuk mengatasi hambatan implementasi, SETI menyiapkan pendampingan teknis melalui audit energi, pelatihan manajer energi, pemodelan konsumsi jangka panjang, hingga bangunan percontohan yang dapat menunjukkan manfaat finansial secara langsung.
“Semakin cepat efisiensi energi diterapkan, semakin rendah biaya transisinya,” kata dia.
Program SETI merupakan kolaborasi Indonesia-Jerman hingga 2028 untuk mendorong efisiensi energi dan penerapan teknologi rendah emisi di sektor industri serta bangunan, melalui pendampingan teknis, pelatihan, kebijakan, dan dukungan akses pembiayaan.
Pewarta: Aria Ananda
Editor: Biqwanto Situmorang
Copyright © ANTARA 2025