Bisnis.com, JAKARTA – Emiten produsen tembakau, PT Indonesian Tobacco Tbk. (ITIC) sepanjang Januari-September 2025 menorehkan koreksi penjualan yang signifikan untuk pasar ekspor. Sejalan dengan hal itu, laba perseroan sepanjang 9 bulan 2025 juga terkoreksi.
Berdasarkan laporan keuangan, penjualan ITIC sepanjang kuartal III 2025 turun 5,42% dari Rp243,07 miliar menjadi Rp229,89 miliar.
Secara terperinci, penjualan untuk pasar lokal mencapai Rp233,23 miliar dan untuk pasar ekspor sebesar Rp898,86 juta. Keduanya masing-masing terpangkas 5,24% year on year (YoY) dan 17,01% YoY.
Sedangkan, retur dan diskon penjualan sepanjang Januari-September 2025 mencapai Rp4,24 miliar, turun 3,92% dibanding Rp4,41 miliar pada periode yang sama di 2024.
Sementara itu, beban pokok penjualan ITIC dalam periode ini juga susut 38,10% YoY menjadi Rp117,44 miliar. Alhasil, laba bruto perseroan dalam kuartal III 2025 sebesar Rp52,45 miliar, atau turun 1,68% dibanding laba bruto periode yang sama di 2024 sebesar Rp53,35 miliar.
Sejalan dengan koreksi pada sisi top line, sepanjang Januari-September 2025, ITIC membukukan koreksi laba tahun berjalan 0,25% dari Rp16,94 miliar pada periode 2024 menjadi Rp16,89 miliar pada tahun ini.
Koreksi yang cukup dalam untuk segmen penjualan ekspor terjadi justru ketika manajemen Indonesian Tobacco sedang berupaya mengembangkan pasar ekspor tembakau.
Sebelumnya, Komisaris Utama ITIC Shirley Suwantinna menjelaskan perseroan tengah melakukan pengembangan terhadap pasar ekspor di Asia, seperti Singapura, Malaysia, dan Jepang hingga India.
”Pada 2025, kami masih fokus untuk mengembangkan pasar Singapura, Malaysia, dan Jepang. Dan pasar India ini, kami juga bekerja keras dengan tim riset kami dan segala upaya kami untuk mempertahankan bagaimana supaya pasar India ini semakin tereksplorasi juga,” katanya dalam paparan publik yang dilangsungkan daring, Kamis (15/5/2025).
Saat ini, penjualan ITIC masih terkonsentrasi di Indonesai Timur. Dalam laporan keuangan tercatat bahwa sebesar 73,47% atau Rp168,90 miliar penjualan perseroan berasal dari Papua. Berikutnya, ada Nusa Tenggara yang berkontribusi sebesar 17,57% atau Rp40,39 miliar.
Sementara itu, untuk pasar ekspor, penjualan ke Singapura sepanjang kuartal III/2025 sebesar Rp505,45 juta, naik dari Rp476,05 juta pada kuartal III/2024. Sedangkan, penjualan ke Malaysia turun dari Rp586,20 juta menjadi Rp372,36 juta.
Shirley menerangkan bahwa pada 2025 pihaknya juga berupaya melebarkan sayap penjualan produk tembakau mereka di pasar dalam negeri. "Kami juga mulai ekspansi di Sumatra, Kalimantan dan pulau Jawa juga," pungkasnya.