Bisnis.com, PALEMBANG — Gabungan Pengusaha Karet Indonesia (Gapkindo) Sumatra Selatan menyambut positif hasil perjanjian tarif resiprokal antara Indonesia dan Amerika Serikat yang mengamankan tarif 0% untuk 1.819 pos tarif produk termasuk komoditas karet.
Kebijakan tersebut dinilai menjadi angin segar bagi kinerja ekspor karet alam Sumatra Selatan (Sumsel) ke Negeri Paman Sam.
Ketua Gapkindo Sumsel Alex K. Eddy mengatakan bahwa penghapusan tarif untuk karet asal Indonesia diharapkan dapat diterapkan secara konsisten.
“Kami menyambut baik kebijakan tarif di AS, baik yang diperoleh melalui negosiasi maupun keputusan Mahkamah Agung AS,” ujarnya kepada Bisnis, dikutip Rabu (25/2/2026).
Kendati demikian, dia mengingatkan bahwa karet alam bukan satu-satunya bahan baku dalam industri ban di Amerika Serikat.
Selain karet alam, produksi ban juga membutuhkan bahan lain seperti karet sintetis, benang baja, dan carbon black.
Jika pembebasan tarif hanya berlaku untuk karet alam sementara bahan baku lain masih dikenakan tarif, kondisi tersebut berpotensi mendorong kenaikan harga ban di pasar AS.
“Apabila hanya karet alam yang dibebaskan, sedangkan komponen lain masih dikenakan tarif, harga ban di AS akan lebih mahal. Dampaknya tentu berpengaruh pada daya beli di sana dan pada akhirnya memengaruhi permintaan karet dari Sumsel,” jelasnya.
Namun, Alex menilai kesepakatan ini tetap memberi dampak positif bagi rantai usaha karet secara keseluruhan, mulai dari petani, pedagang, industri pengolahan, hingga sektor transportasi. “Seluruh pelaku usaha di rantai industri karet tentu kembali bersemangat,” katanya.
Di sisi lain, dia menekankan pentingnya perhatian pemerintah terhadap kondisi kebun karet yang sudah tua dan kurang produktif.
Program peremajaan (replanting) dinilai menjadi langkah strategis untuk meningkatkan produksi. Dengan penggunaan klon bibit unggul di lahan yang sama, produktivitas sadapan dapat meningkat sehingga berdampak langsung pada pendapatan petani.
“Kami berharap pemerintah terus mendorong program replanting. Karet alam Sumsel memiliki kualitas yang baik dan mampu bersaing dengan negara produsen lainnya,” tuturnya.
Berdasarkan data Gapkindo Sumsel, total ekspor karet asal Sumsel periode Januari hingga November 2025 mencapai 704,520 ton, sementara dari sisi produksinya sebanyak 738,091 ton.