Bisnis.com, JAKARTA - Banyak orang tua saat ini yang menginginkan anaknya menjadi pribadi yang baik di masa depan, dengan pendidikan karakter sejak dini.
Namun, tidak dapat dipungkiri masih banyak orang tua yang bercita-cita anak mereka bertumbuh kembang dengan baik tetapi masih belum paham bagaimana caranya agar tujuan tersebut tercapai.
Tak jarang para orang tua juga terbentur masalah dari segi emosional sehingga semakin sulit untuk melakukan pendidikan karakter bagi anak-anak mereka sejak usia dini.
Belum lagi dengan berkembangnya teknologi saat ini justru semakin menjadi tantangan bagi orang tua, di mana sering kali peran orang tua di sekitar anak telah banyak tergantikan akibat minimnya waktu yang dapat diluangkan.
Namun, ada salah satu cara tradisional yang dapat dilakukan untuk membantu tumbuh kembang anak menjadi lebih baik, yakni dengan berdongeng.
Pakar psikolog tumbuh kembang anak, Nisfie Hoessein mengungkapkan jika dengan berdongeng, anak-anak dapat berimajinasi seakan-akan diajak berkelana dan belajar.
"Dengan dongeng, anak-anak seperti diajak berkelana, anak-anak senang kalau diajak bereksplorasi," tutur Nisfie saat diskusi dalam program Safari Dongeng Ramadan McDonald di Jakarta, Kamis (5/3/2026).
"Tanpa kita sadari, dalam bereksplorasi mereka bisa sembari belajar. Mereka bisa menjadi tahu apa yang mereka belum tahu dari merasakan dan berimajinasi," lanjutnya.
Dirinya juga menjelaskan bahwa usia anak sejak enam bulan adalah waktu yang tepat untuk pendidikan karakter dengan media dongeng.
"Kalau bisa sejak usia 6 bulan sudah diperkenalkan dengan dongeng, apalagi sekarang ada media seperti baby book. Orang tua hanya perlu sekreatif mungkin bagaimana menyampaikan dongengnya agar anak tidak bosan dan terus dekat dengan kita," ujarnya kepada Bisnis.
Ahli psikolog tumbuh kembang anak tersebut juga mengatakan bahwa cerita-cerita dongeng yang diulang-ulang bisa menjadi media kreatif bagi orang tua untuk memodifikasi ceritanya menjadi kisah yang inspiratif dan mengedukasi.
Dengan pengulangan cerita yang dimodifikasi dengan edukasi, anak-anak jadi lebih bisa bereksplorasi dengan berimajinasi dan belajar memahami maksud dari isi dongeng.
Dia menegaskan bahwa yang terpenting yakni bagaimana dongeng dikemas dengan baik.
"Bukan masalah dongeng, yang terpenting bagaimana cara kita mengemas dongengnya supaya anak-anak makin tertarik, bisa menggunakan media tambahan. Toh kita orang dewasa kalau diceritakan masih senang kan," tegasnya.
Nisfie juga menyarankan sebaiknya orang tua tidak memberikan gadget sebagai sarana pendidikan karakter.
Dia mengatakan bahwa anak-anak sebelum usia 12 tahun sebaiknya diajarkan dengan media-media lainnya, seperti lilin bentuk ataupun dibuat sibuk dengan diajarkan hal-hal positif jika sudah terlanjur terpapar gadget.
"Baiknya anak dikasih gadget saat usia remaja saja, tapi kita tidak bisa asal menjauhkan saja tanpa adanya substitusi," ungkapnya.
"Kita bisa mengajak mereka sibuk dengan belajar masak atau apa pun untuk hal yang positif, karena kalau lepas dari handphone mereka pasti jenuh dan bosan," sambungnya.
Dia juga menuturkan bahwa sebenarnya media dongeng bertujuan untuk membangun ikatan batin yang lebih kuat antara anak dan orang tua dengan mengobrol.
"Media dongeng bisa menjadi sarana untuk mendekatkan diri antara orang tua dengan anak, dan bisa jadi multi purpose atau banyak tujuan lainnya jika kedekatan dengan anak sudah terbangun dengan baik," ucapnya.
"Jika sudah dekat, kita bisa semakin mudah mengajarkan hal-hal baik ke anak kita, karena pastinya di dalam dongeng juga sudah banyak menceritakan hal-hal baik," imbuhnya.
*McDonald Indonesia Mengadakan Safari Dongeng Ramadan Sebagai Sarana Pendidikan Anak*
Selaras dengan hal tersebut, McDonald Indonesia mencoba memberikan sumbangsih terhadap masyarakat dengan mengadakan Safari Dongeng Ramadan (SADORA).
Associate Director of Marketing McDonald's Indonesia, Carolline Kurniadjadja mengungkapkan program SADORA telah diadakan selama 23 tahun sejak tahun 2003 karena dianggap dapat membantu orang tua mengedukasi anak-anak dengan hal-hal yang positif melalui media dongeng.
"SADORA ini merupakan program khusus untuk konsumen-konsumen kami di bulan Ramadan, dengan media dongeng yang kami selipkan pesan-pesan moral dan edukasi, yang dilakukan jelang berbuka puasa," ujar Carolline di kesempatan yang sama.
"Program ini sangat disambut positif oleh para orang tua sejak awal diadakan pada tahun 2003, karena terbukti dengan adanya permintaan dari konsumen kita, tahun depan apa tema SADORAnya," sambungnya.
"Itu tandanya program ini sangat didukung penuh oleh masyarakat, dan sangat bersyukur bila bisa membantu orang tua konsumen untuk mendidik karakter anak mereka," tutupnya.
Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, program SADORA tahun ini juga diadakan dengan seminar psikologi bagi orang tua untuk mengawasi tumbuh kembang anak-anak.
Sebagai info tambahan, program spesial Ramadan McDonald Indonesia ini berlangsung di 35 outlet di seluruh Indonesia dan akan berlangsung hingga 15 Maret mendatang.