Bisnis.com, JAKARTA — Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi berencana untuk mengoperasionalkan Advance Air Mobility (AAM) atau transportasi udara serupa drone, tetapi berukuran lebih besar.
Direktur Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Kemenhub Sokhib Al Rohman mengungkapkan hal tersebut dalam Media Briefing, Kamis (23/10/2025).
Sokhib menjelaskan bahwa saat ini terdapat teknologi baru bernama Unmanned Aircraft System (UAS) atau AAM.
“Kalau drone masih kecil, belum ada penumpangnya, tapi kalau sudah pakai bahasa UAS atau AMM, berarti drone besar yang sudah bisa angkut orang dan logistik,” jelasnya.
Dirinya bercerita bahwa Menhub menaruh perhatian besar terhadap operasional drone berukuran besar tersebut di sejumlah wilayah di Indonesia, utamanya Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T).
Berbeda dengan drone berukuran kecil, Kemenhub mencatat terdapat sekitar lebih dari 5.000 drone yang sudah terdaftar.
Selain itu, terdapat kurang lebih 11.000 Remote Pilot Certificate yang sudah diterbitkan untuk para penerbang drone.
Sokhib menegaskan, Kemenhub pun saat ini sudah menyusun peta jalan atau roadmap kesiapan Indonesia menyambut teknologi baru tersebut. Termasuk menyusun regulasinya.
“Harapannya Pak Menteri, ingin di Desember 2026 ada satu yang bisa beroperasi untuk komersil,” ujarnya.
Adapun, langkah-langkah dalam membangun peta jalan ini dimulai dengan membentuk satuan tugas/task forcedrone. Kemudian memetakan kebutuhan dan tantangan, diskusi, menetapkan sasaran dan tujuan yang akan dicapai.
Kemenhub juga melakukan identifikasi perumusan rencana, penyusunan rencana kerja, uji coba dan evaluasi, serta iterasi, pembaruan dan komitmen pimpinan dan tim Satgas.
Saat ini, produsen drone di Indonesia telah tersedia. Keduanya berada di Bandung, yakni PT Iter Aero Industri dan PT Vela Prima. Sementara untuk merek internasional pun telah mulai berdatangan melakukan demonstrasi.
Teranyar, Dreamfly Indonesia resmi melakukan uji coba terbang (test flight) perdana untuk drone kargo listrik DF-L100 di Bandara Internasional Kertajati, Jawa Barat, Senin (20/10/2025).
Adapun, drone tersebut merupakan kolaborasi antara Dreamfly Indonesia dan perusahaan asal China, Tsingfly, yang merupakan spin-off dari Tsinghua University.
Kolaborasi ini telah berjalan selama 1 tahun melalui joint venture yang fokus pada pengembangan teknologi drone untuk kebutuhan logistik dan operasi SAR di wilayah kepulauan Indonesia.
Drone TF-L100 memiliki berat lepas landas maksimum 650 kilogram dengan kapasitas muatan hingga 150 kilogram, sehingga mampu membawa berbagai peralatan misi maupun material penyelamatan.
Dengan jangkauan terbang maksimum 140 kilometer dan daya tahan hingga 90 menit, TF-L100 dirancang untuk beroperasi di berbagai kondisi lapangan, termasuk wilayah terpencil dan kepulauan.