#30 tag 24jam
Apakah Dosa Dilipatgandakan di Bulan Rajab? Begini Penjelasannya!
Apakah dosa dilipatgandakan di Bulan Rajab? Mengingat amalan-amalan baik di bulan Haram ini akan mendapat ganjaran pahala yang berlipat-lipat. Apakah dosa dilipatgandakan... | Halaman Lengkap [330] url asal
#dosa #dosa-dosa-manusia #amalan-yang-pahalanya-dilipatgandakan #keutamaan-bulan-rajab #bulan-rajab-bulan-haram
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 22/12/25 16:24
v/81370/
Apakah dosadilipatgandakan di Bulan Rajab? Mengingat amalan-amalan baik di bulan Haram ini akan mendapat ganjaran pahala yang berlipat-lipat.Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa dalam bulan-bulan haram, manusia diperintahkan untuk tidak menzalimi diri sendiri. Menzalimi diri sendiri mencakup segala bentuk maksiat, sehingga melakukan dosa pada bulan Rajab berarti melanggar perintah Allah dalam waktu yang sangat dihormati. Ulama seperti Syekh Wahbah Zuhaili juga menyebutkan:
Artinya, “Yang dimaksud (dari ayat larangan menzalimi diri sendiri), adalah larangan dari semua bentuk maksiat dengan sebab apa pun pada bulan-bulan haram ini, (hal itu) disebabkan besarnya pahala dan siksaan di dalamnya.” (Syekh Wahbah Zuhaili, Tafsir al-Munir fil Aqidati was Syari’ati wal Manhaji, [Damaskus, Beirut, Darul Fikr], juz X, halaman 202)
Namun, tidak ada dalil spesifik yang menyebutkan bahwa dosa akan dilipatgandakan secara kuantitatif di bulan Rajab. Meski begitu, dosa di bulan ini dianggap lebih berat karena dilakukan pada waktu yang penuh penghormatan.
Cara Menghindari Dosa di Bulan Rajab
Karena bulan Rajab memiliki keutamaan khusus, umat Islam dianjurkan untuk lebih berhati-hati agar tidak terjerumus dalam dosa.Berikut beberapa cara yang bisa dilakukan:
1. Perbanyak Ibadah: Mengisi waktu dengan ibadah seperti puasa sunnah, zikir, membaca Al-Qur'an, dan sedekah akan membantu menjauhi maksiat.
2. Menjaga Lisan: Hindari ghibah, fitnah, atau perkataan sia-sia. Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah ia berkata baik atau diam.” (HR. Bukhari dan Muslim)
3. Meningkatkan Ilmu Agama: Memahami hukum-hukum Islam akan membantu membedakan yang benar dan salah.
4. Memohon Ampunan Allah: Perbanyak istighfar dan doa untuk membersihkan diri dari dosa.
Pentingnya Tobat di Bulan Rajab
Jika seseorang terlanjur melakukan dosa, maka langkah yang harus diambil adalah bertaubat. Syekh Abdul Qadir Al-Jailani dalam kitab Al-Ghunyah menyebutkan tiga syarat diterimanya taubat:1. Menyesali Kesalahan: Mengakui dan merasa bersalah atas dosa yang telah dilakukan.
2. Meninggalkan Perbuatan Dosa: Berhenti sepenuhnya dari perbuatan dosa tersebut.
3. Berjanji Tidak Mengulanginya: Memiliki tekad kuat untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama.
Jangan Sepelekan Dosa Kecil, Ngeri Akibatnya
Setiap muslim hendaknya jangan pernah meremehkan sebuah dosa, meskipun dosa itu kecil sekalipun. Sebab dosa kecil ditambah dosa kecil ditambah dosa kecil lainnya... | Halaman Lengkap [946] url asal
#musibah #dosa #dosa-dosa-manusia #dosa-kecil #dampak-dosa-dan-maksiat
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 29/11/25 19:45
v/55071/
Setiap muslim hendaknya jangan pernah meremehkan dosa, meskipun dosa itu kecil sekalipun. Sebab dosa kecil ditambah dosa kecil ditambah dosa kecil lainnya dan seterusnya akan menjadi segunung dosa, bahkan bisa menjadi dosa besar.Ath Tahbarani rahimahullah berkata: "Sesungguhnya selalu melakukan dosa-dosa kecil maka hukumnya adalah hukum pelaku sebuah dosa besar, menurut pendapat yang terkenal (di antara para ulama)". (Lihat Kitab Al Mu'jam Al Awsath, karya Ath Thabrani).
Bilal bin Sa'ad seorang tabi'in rahimahullah berkata: "Janganlah kamu lihat kepada kecilnya sebuah maksiat akan tetapi lihatlah agungnya yang kamu maksiati".
Dr Syafik Riza Basalamah menukil riwayat bahwa ‘Abdullah bin ‘Abdil Wahhab, ia berkata: Khalid bin Al-Harits menceritakan kepada kami, ia berkata, ‘Abdurrahman Al-Mas’udi menceritakan kepada kami dari ‘Alqamah bin Martsad, dari Abur Rabi’, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Salah satu dari doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah:
“Ya Allah, ampunilah aku apa yang telah aku kerjakan sebelum ini dan apa yang belum aku lakukan. Dan apa yang aku sembunyikan dan apa yang aku kerjakan terang-terangan . Dan aku minta ampun dari segala dosa yang Engkau lebih tahu daripada aku. Sesungguhnya Engkau yang mendahulukan dan yang mengakhirkan. Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau Ya Allah.”
Ustad Syafik mengatakan, dalam doa tersebut apakah yang diminta oleh Nabi? Apakah minta jabatan di dunia? Minta kursinya supaya tidak disingkirkan? Tidak. Dalam doanya Nabi meminta ampun. Ini adalah doa yang biasa dibaca Nabi.
Penjelasan dari doa memohon ampunan tersebut adalah : “Ya Allah, ampunilah aku apa yang telah aku kerjakan sebelum ini”. Nabi meminta ampunan. Padahal beliau terjaga, ma’shum. Beliau memberikan contoh kepada kita, seakan-akan beliau berkata kepada kita: “Engkau jangan sok suci, wahai manusia. Banyak dosa dan kesalahan yang engkau perbuat. Dan engkau akan terus berbuat kesalahan, terus lagi melakukan dosa, terus lagi. Karena engkau sudah ditakdirkan berbuat dosa.”
Maka solusi dari seseorang banyak berbuat dosa adalah menjauhi dosa dan tatkala terjebak dalam dosa, ikuti dengan amal shalih dan minta ampun kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Nabi minta ampun dari apa yang telah terjadi.
Sebab Munculnya Musibah
Ketika Nabi mengatakan, “Dan apa yang belum aku lakukan,” hal itu menunjukkan kesadaran penuh seorang manusia, sekarang dia tidak berbuat dosa, tapi akan berbuat. Maka Beliau minta ampun. Dan di antara yang harus dikerjakan seorang muslim adalah minta ampun.“Bala itu tidak turun melainkan disebabkan dosa. Dan tidak diangkat kecuali dengan bertaubat.” Bala itu turun karena dosa dan diangkat karena taubat. Maka hendaknya manusia terus belajar doanya Nabi ”Alaihish Shalatu wassalam di atas. Kita memohon ampun atas semua dosa. Yang mungkin seluruh penduduk bumi ini tidak tahu dengan dosa kita. Maka kita minta ampun. Dan bisa jadi kita pernah berburuk sangka kepada Allah yang kita sendiri tidak tahu bahwa engkau telah berbuat dosa.
“Dan aku minta ampun dari segala dosa yang Engkau lebih tahu daripada aku.”
Ini termasuk doa yang pendek tapi mengandung permohonan ampunan kepada Allah yang sangat luas sekali. Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam mengajarkan kepada kita untuk membaca istighfar, beliau juga mengajarkan untuk membaca rabbigh firli, tapi beliau juga mengajarkan kepada kita doa-doa yang begitu indahnya.
Begitulah, sebagian kita saat ini mengerjakan dosa tapi beranggapan bahwa itu bukan perbuatan dosa. Ini parah sekali. Apa penyebabnya? Tidak punya ilmu, tidak mau belajar. Dia berfikir yang dia kerjakan itu tidak mengapa. Standarnya mengatakan boleh dan tidak boleh itu apa? Apakah perasaan kita? Akal kita? Atau logika kita? Atau tradisi dan budaya yang ada lalu firman Allah dikesampingkan dan sabda Nabi ”Alaihish Shalatu was Salam dicampakkan?
Maka tidak sedikit manusia-manusia yang menganggap orang lain berlebih-lebihan dalam beragama, padahal dia yang menyepelekan agama. Mereka menganggap orang lain fanatik, sedangkan dia sudah mulai meninggalkan agamanya.
“Apa saja yang kalian kehendaki, tidak bakal terjadi kecuali Allah menghendakinya. Allah pemilik alam semesta ini.” (QS. At-Takwir: 29)
Jika Allah mau menutup bumi ini? Bisa Allah Tutup! Jika Allah mau tenggelamkan bumi ini? Allah bisa tenggelamkan, Allah mau hapus sebuah negara dari peta dunia? Allah bisa hapus. Hal itu karena Dia adalah pemilik. Kita tahu bahwa kepemilikian manusia hanya sementara. Manusia hanya dititipkan, sedangkan yang berhak berbuat semaunya hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Allah berbuat apa yang Allah kehendaki.” (QS. Al-Buruj: 16)
Firman-Nya lagi :
“Allah tidak ditanya kenapa Allah melakukan ini. tapi kalian yang ditanya tentang apa yang kalian kerjakan selama ini.” (QS. Al-Anbiya: 23)
Maka di akhir doa ini, Nabi ”Alaihish Shalatu was Salam mengatakan: “Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau Ya Allah.” Semua sesembahan-sesembahan yang ada di muka bumi ini, baik itu terbuat dari batu, terbuat dari kayu, baik itu binatang, baik itu manusia yang dimuliakan, Nabi, Malaikat, ingatlah bahwa tiada yang berhak disembah kecuali Allah ‘Azza wa Jalla. Semua sesembahan-sesembahan itu batil.
Maka minta ampunlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sekaya apapun manusia, sehebat apapun kita, yang pasti semua manusia akan kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Pasti. Apapun ajaran yang dianut manusia maka akan kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena pemilik bumi ini satu, Allah Rabbul ‘Alamin.
Agar terhindar dari bencanayang lebih dahsyat, segera bertaubat. Solusinya adalah istighfar, meminta ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Nabi Nuh alaihissalam bagaimana menyuruh umatnya bertaubat dan kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Jangan bersandar dan jangan bergantung kepada diri sendiri atau makhluk. Jangan bersandar kepada kekayaan yang kau miliki, simpanan dan tabungan yang kita ada di brankas besi, jangan bergantung dengan semua itu. Karena semua itu bisa hilang kapan pun Allah menghendakinya.
Bertaubat dan memperbanyak istighfar menjadikan segala jalan yang buntu menjadi terbuka, kesulitan-kesulitan akan menjadi mudah. Apa yang akan terjadi tatkala memohon ampun kepada Allah ‘Azza wa Jalla? Allah akan meringankan beban hamba-Nya dan menghapus dosanya. Wallahu A'lam
Benarkah Musibah Datang Karena Meremehkan Dosa? Begini Penjelasannya!
Musibah yang terjadi pada diri seseorang, keluarga, masyarakat hingga bencana yang menimpa seluruh negeri, bisa jadi karena adanya dosa-dosa yang diremehkan oleh... | Halaman Lengkap [1,110] url asal
#musibah #dosa-yang-sering-diremehkan #hikmah-musibah #dosa-dosa-manusia #musibah-dalam-islam
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 04/11/25 16:40
v/27268/
Musibah yang terjadi pada diri seseorang, keluarga, masyarakat hingga bencana yang menimpa seluruh negeri, bisa jadi karena adanya dosa-dosayang diremehkan oleh manusia. Mereka lalai untuk senantiasa beristighfar atau bertobat kepada Allah Ta'ala. Sebagian orang bahkan terlalu percaya diri dengan banyaknya amalan. Mereka merasa aman dari ancaman siksa atas dosa-dosanya.Padahal, seharusnya seseorang tetaplah beramaldan berharap amalannya diterima dan takutlah sebuah dosa dan berharap Allah Ta'ala mengampuninya.
Artinya: "Ibnu 'Aun rahimahullah berkata: "Jangan terlalu yakin dengan banyaknya amal, karena sesungguhnya Anda tidak mengetahui, apakah amalan Anda diterima atau tidak?, dan jangan pula terlalu merasa aman dengan dosa-dosa Anda, karena sesungguhnya Anda tidak mengetahui, apakah diampuni dosa Anda atau tidak?, sesungguhnya amalan Anda gaib dari Anda, Anda tidak mengetahui apa yang Allah perbuat terhadap amalan Anda, apakah Allah jadikannya di dalam Sijjin (buku catatan dosa)? Ataukah dijadikan-Nya di dalam 'Illyyin (buku catatan amal shalih)?". Ini tercatat dalam Kitab 'Syu'ab Al Iman', karya Al Baihaqi.
Karena itu, hendaknya setiap muslim jangan sekali-kali meremehkan sebuah dosa, meskipun dosa kecil. Sebab dosa kecil ditambah dosa kecil ditambah dosa kecil lainnya dan seterusnya akan menjadi segunung dosa, bahkan bisa menjadi dosa besar.
Ath Tahbarani rahimahullah berkata: "Sesungguhnya selalu melakukan dosa-dosa kecil maka hukumnya adalah hukum pelaku sebuah dosa besar, menurut pendapat yang terkenal (diantara para ulama)". (Lihat Kitab Al Mu'jam Al Awsath, karya Ath Thabrani).
Bilal bin Sa'ad seorang tabi'in rahimahullah berkata: "Janganlah kamu lihat kepada kecilnya sebuah maksiat akan tetapi lihatlah agungnya yang kamu maksiati".
Dr Syafik Riza Basalamah menukil riwayat bahwa ‘Abdullah bin ‘Abdil Wahhab, ia berkata: Khalid bin Al-Harits menceritakan kepada kami, ia berkata, ‘Abdurrahman Al-Mas’udi menceritakan kepada kami dari ‘Alqamah bin Martsad, dari Abur Rabi’, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Salah satu dari doa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah:
“Ya Allah, ampunilah aku apa yang telah aku kerjakan sebelum ini dan apa yang belum aku lakukan. Dan apa yang aku sembunyikan dan apa yang aku kerjakan terang-terangan . Dan aku minta ampun dari segala dosa yang Engkau lebih tahu daripada aku. Sesungguhnya Engkau yang mendahulukan dan yang mengakhirkan. Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau Ya Allah.”
Dalam uraian ceramahnya di Jakarta, pekan lalu, Ustad Syafik mengatakan, dalam doa tersebut apakah yang diminta oleh Nabi? Apakah minta jabatan di dunia? Minta kursinya supaya tidak disingkirkan? Tidak. Dalam doanya Nabi meminta ampun. Ini adalah doa yang biasa dibaca Nabi.
Penjelasan dari doa memohon ampunan tersebut adalah : “Ya Allah, ampunilah aku apa yang telah aku kerjakan sebelum ini”. Nabi meminta ampunan. Padahal beliau terjaga, ma’shum. Beliau memberikan contoh kepada kita, seakan-akan beliau berkata kepada kita: “Engkau jangan sok suci, wahai manusia. Banyak dosa dan kesalahan yang engkau perbuat. Dan engkau akan terus berbuat kesalahan, terus lagi melakukan dosa, terus lagi. Karena engkau sudah ditakdirkan berbuat dosa.”
Maka solusi dari seseorang banyak berbuat dosa adalah menjauhi dosa dan tatkala terjebak dalam dosa, ikuti dengan amal shalih dan minta ampun kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Nabi minta ampun dari apa yang telah terjadi.
Ketika Nabi mengatakan, “Dan apa yang belum aku lakukan,” hal itu menunjukkan kesadaran penuh seorang manusia, sekarang dia tidak berbuat dosa, tapi akan berbuat. Maka Beliau minta ampun. Dan di antara yang harus dikerjakan seorang muslim adalah minta ampun.
“Bala itu tidak turun melainkan disebabkan dosa. Dan tidak diangkat kecuali dengan bertaubat.” Bala itu turun karena dosa dan diangkat karena taubat. Maka hendaknya manusia terus belajar doanya Nabi ”Alaihish Shalatu was Salam di atas. Kita memohon ampun atas semua dosa. Yang mungkin seluruh penduduk bumi ini tidak tahu dengan dosa kita. Maka kita minta ampun. Dan bisa jadi kita pernah berburuk sangka kepada Allah yang kita sendiri tidak tahu bahwa engkau telah berbuat dosa.
“Dan aku minta ampun dari segala dosa yang Engkau lebih tahu daripada aku.” Ini termasuk doa yang pendek tapi mengandung permohonan ampunan kepada Allah yang sangat luas sekali. Nabi ‘Alaihish Shalatu was Salam mengajarkan kepada kita untuk membaca istighfar, beliau juga mengajarkan untuk membaca rabbigh firli, tapi beliau juga mengajarkan kepada kita doa-doa yang begitu indahnya.
Begitulah, sebagian kita saat ini mengerjakan dosa tapi beranggapan bahwa itu bukan perbuatan dosa. Ini parah sekali. Apa penyebabnya? Tidak punya ilmu, tidak mau belajar. Dia berfikir yang dia kerjakan itu tidak mengapa. Standarnya mengatakan boleh dan tidak boleh itu apa? Apakah perasaan kita? Akal kita? Atau logika kita? Atau tradisi dan budaya yang ada lalu firman Allah dikesampingkan dan sabda Nabi ”Alaihish Shalatu was Salam dicampakkan?
Maka tidak sedikit manusia-manusia yang menganggap orang lain berlebih-lebihan dalam beragama, padahal dia yang menyepelekan agama. Mereka menganggap orang lain fanatik, sedangkan dia sudah mulai meninggalkan agamanya.
“Apa saja yang kalian kehendaki, tidak bakal terjadi kecuali Allah menghendakinya. Allah pemilik alam semesta ini.” (QS. At-Takwir: 29)
Jika Allah mau menutup bumi ini? Bisa Allah Tutup! Jika Allah mau tenggelamkan bumi ini? Allah bisa tenggelamkan, Allah mau hapus sebuah negara dari peta dunia? Allah bisa hapus. Hal itu karena Dia adalah pemilik. Kita tahu bahwa kepemilikian manusia hanya sementara. Manusia hanya dititipkan, sedangkan yang berhak berbuat semaunya hanya Allah Subhanahu wa Ta’ala.
“Allah berbuat apa yang Allah kehendaki.” (QS. Al-Buruj: 16)
Firman-Nya lagi :
“Allah tidak ditanya kenapa Allah melakukan ini. tapi kalian yang ditanya tentang apa yang kalian kerjakan selama ini.” (QS. Al-Anbiya: 23)
Maka di akhir doa ini, Nabi ”Alaihish Shalatu was Salam mengatakan: “Tiada Tuhan yang berhak disembah kecuali Engkau Ya Allah.” Semua sesembahan-sesembahan yang ada di muka bumi ini, baik itu terbuat dari batu, terbuat dari kayu, baik itu binatang, baik itu manusia yang dimuliakan, Nabi, Malaikat, ingatlah bahwa tiada yang berhak disembah kecuali Allah ‘Azza wa Jalla. Semua sesembahan-sesembahan itu batil.
Maka minta ampunlah kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sekaya apapun manusia, sehebat apapun kita, yang pasti semua manusia akan kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Pasti. Apapun ajaran yang dianut manusia maka akan kembali kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Karena pemilik bumi ini satu, Allah Rabbul ‘Alamin.
Agar terhindar dari bencana yang lebih dahsyat, segera bertaubat. Solusinya adalah istighfar, meminta ampun kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Nabi Nuh alaihissalam bagaimana menyuruh umatnya bertaubat dan kembali kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Jangan bersandar dan jangan bergantung kepada diri sendiri atau makhluk. Jangan bersandar kepada kekayaan yang kau miliki, simpanan dan tabungan yang kita ada di brankas besi, jangan bergantung dengan semua itu. Karena semua itu bisa hilang kapan pun Allah menghendakinya.
Bertaubat dan memperbanyak istighfar menjadikan segala jalan yang buntu menjadi terbuka, kesulitan-kesulitan akan menjadi mudah. Apa yang akan terjadi tatkala memohon ampun kepada Allah ‘Azza wa Jalla? Allah akan meringankan beban hamba-Nya dan menghapus dosanya.
Apakah Musibah Bisa Jadi Penghapus Dosa? Begini Penjelasannya
Musibah adalah segala sesuatu yang menyakitkan, yakni semua yang menimpa berupa hal yang tidak kita sukai, yang menyakitkan dan membuat sedih. Namun, tahukah Anda... | Halaman Lengkap [540] url asal
#musibah #hikmah-musibah #dosa-dosa-manusia #amalan-penghapus-dosa #musibah-dalam-islam
(SINDOnews Ekbis - Terkini) 04/11/25 06:14
v/26337/
Benarkah musibahbisa menjadi penghapus dosaatau menggugurkan dosa-dosa? Begini penjelasannya menurut pandangan Islam. Seperti diketahui, musibah adalah segala sesuatu yang menyakitkan, yakni semua yang menimpa berupa hal yang tidak kita sukai, yang menyakitkan dan membuat sedih.Bahkan, bila ada seseorang yang tidak kita sukai datang bertamu ke rumah, sedangkan kita tidak suka dengan kunjungannya, maka oleh para ulama itu disebut sebagai musibahjuga.
"Sehingga kalau kita sabar dalam menghadapi kunjungan orang yang tidak kita sukai ini, maka kita mendapatkan pahala di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala karena kesabaran. Dan hal itu juga bisa menggugurkan dosa-dosa dan maksiat,"ungkap Ustadz Anas Burhanuddin, MA dalam salah satu kajian tentang 'Wasiat Sughra Ibnu Taimiyah', di Jakarta baru-baru ini.
Dai alumni Universitas Madinah itu memberikan contoh mengapa musibah-musibah bisa menggugurkan dosa-dosa kita. Di antara contohnya adalah hal-hal yang membuat kita sakit seperti hamm (terbebani pikiran tentang masa depan). Ketika seseorang memikirkan masa depannya, memikirkan apa yang nanti dia makan di siang hari, memikirkan apa yang akan dia lakukan pada pekan yang akan datang, bagaimana pendidikan anak-anak dia nanti, maka ini semuanya bisa menggugurkan dosa seorang muslim yang baru saja berbuat maksiat.
Contoh yang lain adalah kesedihan. Kesediaan yang kita dapatkan saat kehilangan harta, saat diejek dan dihina, saat kehilangan orang-orang yang kita cintai, ini semuanya menimbulkan kesedihan bagi seorang muslim. Maka ini adalah musibah dan dia bisa mendapatkan pengampunan dosa ketika dihadapkan pada musibah ini.
Atau gangguan yang dihadapi oleh seorang muslim pada hartanya. Berupa ancaman untuk dicuri, dirampok, dijambret dan lain sebagainya. Demikian pula gangguan pada kehormatan. Baik itu dengan ghibah, namimah, atau dengan perkataan-perkataan yang buruk, gelar-gelar yang jelek, ini semuanya juga adalah gangguan pada kehormatan seseorang.
"Atau gangguan pada jasadnya diserang oleh musuh, terkena duri, terkilir, terjatuh, ini semuanya terhitung sebagai musibah,"paparnya dalam kajian Dakwah Sunnah itu.
Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari dan Muslim, dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha, beliau mengatakan, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
“Tidaklah ada suatu penyakit atau rasa sakit yang mengenai seorang mukmin kecuali hal itu akan menjadi penggugur dosa baginya. Bahkan kalau dia tertusuk duri atau tertimpa bencana, maka itu menjadi penggugur dosa baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Dalam hadis ini Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menjelaskan bahwasanya penyakit dan rasa sakit itu menggugurkan dosa. Jadi dibedakan antara penyakit dengan rasa sakit. Ketika seseorang tertusuk duri, dia merasakan sakit tapi tidak disebut sebagai penyakit. Ketika seseorang jatuh kemudian terkilir, maka itu adalah rasa sakit dan bukan penyakit. Tidaklah seorang muslim mengalami hal ini kecuali akan menjadi penggugur dosa baginya.
Di akhir hadis Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan: “Bahkan kalau dia tertusuk duri atau bencana yang menimpa dia.” Ini semuanya menggugurkan dosa.
Para ulama menjelaskan bahwasannya musibah-musibah ini menjadi penggugur dosa kalau kita menghadapi musibah-musibah ini dengan sabar dan ihtisab (mengharap pahala kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala).
Dalam redaksi hadis ‘Aisyah yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim ini tidak menyebutkan syarat harus sabar dan ihtisab. Tapi ini disebutkan dalam hadis-hadis yang lain. Misalnya dalam hadis Qudsi berikut:
“Kalau Aku menguji hambaKu dengan dua hal yang dia cintai (yakni kedua matanya), kemudian dia sabar, maka Aku akan menggantikan kedua mata itu dengan surga.” (HR. Bukhari)
#50 tag sepekan
Warning: foreach() argument must be of type array|object, null given in /home/u1731472/public_html/sub/ekbisblog/inc.dashboard.php on line 56