Bisnis.com, JAKARTA — PT Waskita Karya (Persero) Tbk. (WSKT) menyebut divestasi aset tol kepada Grup Bakrie diyakini mendorong likuiditas, serta memperkuat strategi restrukturisasi dan transformasi yang sedang berjalan.
Waskita melalui anak usahanya PT Waskita Toll Road telah melepas saham PT Cimanggis Cibitung Tollways kepada PT Bakrie Toll Indonesia senilai Rp3,28 triliun. Transaksi itu efektif sejak 28 November 2025 melalui penandatanganan akta jual beli saham dan akta pengalihan piutang di hadapan notaris di Jakarta.
Berdasarkan keterbukaan informasi, aksi korporasi ini meliputi penerimaan pengembalian shareholder loan dari PT Cimanggis Cibitung Tollways (CCT) senilai Rp1,92 triliun, pengalihan saham CCT kepada PT Bakrie Toll Indonesia (BTI) Rp388,89 miliar, dan pengalihan piutang senilai Rp970,75 miliar.
Manajemen Waskita menyatakan bahwa aksi korporasi ini menjadi bagian penting dari strategi restrukturisasi dan transformasi bisnis. Selain itu, langkah tersebut juga memperkuat strategi perseroan untuk kembali ke bisnis inti.
“Dana hasil divestasi akan menambah likuiditas, sekaligus arus kas bagi operasional perseroan,” ungkap manajemen Waskita Karya dalam keterbukaan informasi di Bursa Efek Indonesia, Selasa (2/12/2025).
Hingga kuartal III/2025, Waskita memiliki kas dan setara kas senilai Rp3 triliun. Jumlah ini melonjak dibandingkan periode sama tahun sebelumnya yang membukukan Rp1,36 triliun. Namun demikian, kas bersih untuk aktivitas operasi masih mencatatkan defisit sebesar Rp1,35 triliun.
Di sisi lain, nilai pengalihan saham dan piutang kepada BTI mencapai 74,98% dari ekuitas WTR di CCT per September 2025 dan setara 19,21% dari ekuitas konsolidasi. Manajemen menyatakan bahwa transaksi tidak menimbulkan benturan kepentingan dan seluruh informasi diungkapkan secara wajar.
Manajemen Waskita Karya juga menyampaikan bahwa transaksi masuk ke dalam transaksi material sesuai Peraturan OJK No. 17/POJK.04/2020.
Namun, transaksi tidak menggunakan penilai independen dan tidak memerlukan persetujuan rapat umum pemegang saham (RUPS) karena langkah tersebut merupakan bagian dari restrukturisasi yang disetujui pemerintah.
Dari sisi kinerja, Waskita mencatat rugi bersih sebesar Rp3,17 triliun selama sembilan bulan pertama tahun ini. Kerugian tersebut bertambah jika dibandingkan dengan kuartal III/2024 yang mencapai Rp3 triliun.
Adapun Waskita membukukan pendapatan usaha sebesar Rp5,28 triliun hingga kuartal III/2025 atau melemah 22,08% secara tahunan (year on year/YoY). Hampir semua segmen pendapatan mengalami kontraksi.
Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas kerugian atau keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.